Terlahir serupa tidak membuat kehidupan Mawar Atmaja dan Melati Atmaja memiliki kisah yang sama, karena setelah kelahiran mereka, kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, sehingga kedua saudara kembar itu harus hidup terpisah.
Sang kakak Melati dibawa Ibunya merantau di kota besar, sementara Mawar harus tinggal bersama ayahnya yang seorang petani di desa nya.
Sampai akhirnya keduanya sudah dewasa dan dipertemukan kembali, saudara kembar itu terlibat dalam cinta segitiga, sang adik kembar yang diam-diam mencintai suami dari kakak kembarnya, berniat ingin merebut Rafael Kusuma Hadinata, segala cara telah Mawar lakukan supaya Rafael tertarik padanya, karena iri dengan kehidupan Melati yang berkecukupan, serta memiliki suami yang tampan dan kaya raya, Rafael adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar batu bara, membuat Mawar semakin berambisi untuk memiliki apa yang saudara kembarnya miliki, sampai pada suatu malam semuanya terjadi begitu saja, Rafael dijebak oleh Mawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA PERASAAN LAIN???
Sontak saja Aldino dan Liliana berlari panik menghampiri Melati, ternyata Melati sedang memegangi kepalanya yang pusing, seluruh tubuhnya gemetar, hampir saja Melati jatuh tersungkur ke lantai, tapi Aldino dengan cepat mendekap nya.
"Apa kau sakit, kenapa tidak menelpon ku untuk datang, kau masih lemah dan harus banyak istirahat, apalagi kau pasti sangat terguncang, biarkan aku yang membopongmu ke mobil." Ucap Aldino dengan wajah cemas.
Aurelia berjalan dibelakang mereka dengan digandeng Liliana, nampak Liliana memperhatikan sikap Aldino pada Melati, dia tersenyum melihat perhatian Aldino pada sahabat nya. Aurelia berjalan dengan menanyakan kondisi ibu peri nya, Liliana pun menjelaskan jika ibu peri nya hanya kurang istirahat saja.
"Oh iya Aurel sayang, ngomong-ngomong mama mu dimana, kenapa setiap harinya kau bermain di rumah ibu peri, apa mama mu juga bekerja seperti papa mu?." Tanya nya penasaran.
Sama seperti penjelasan nya pada Melati waktu itu, Aurelia juga mengatakan jika mama nya sudah berada di surga.
Apakah ini sebuah pertanda, jika Tuhan sudah mempertemukan mereka dengan cara seperti ini, semoga saja mereka bisa lebih dekat lagi, aku ingin Melati bahagia memiliki keluarganya sendiri, batin Liliana terenyuh.
Melati sudah duduk di mobil, Aldino menawarkan untuk mengantar Liliana, tapi Liliana menolak dengan alasan membawa mobil sendiri, padahal dia sengaja mengatakan itu, untuk memberikan keduanya waktu bersama.
"Terima kasih, aku bawa mobil sendiri kok, titip Melati saja ya, antarkan dia ke kontrakan nya." Liliana berpamitan pada mereka dan bergegas pergi.
Disepanjang perjalanan Melati hanya terdiam dengan membayangkan masa depan bayi yang ada didalam rahimnya, sementara Aurelia sudah tertidur di jok belakang. Aldino menatap wajah cantik Melati, wajahnya terlihat sendu, dengan mata yang sembab.
Aldino tidak bisa membayangkan betapa pahitnya hidup seorang Melati, hingga akhirnya dia terkejut karena sesuatu jatuh dipundak nya. Melati terlelap dan memejamkan matanya, hingga kepalanya jatuh tepat dipundak lelaki yang ada disamping nya. Dia tetap membiarkan Melati dengan posisi tidurnya, hingga mobil itu sudah sampai di depan gang kontrakan nya. Karena tidak tega membangunkan Melati, dia menunggu hingga perempuan itu bangun dari lelapnya.
Tiga puluh menit berlalu, Melati terbangun dari tidurnya, dia sangat terkejut mengetahui ketika dia membuka kedua matanya, dia terlelap di pundak Aldino sepanjang perjalanan pulang.
"Maaf aku tertidur, kenapa kau tidak membangunkanku saja." Melati salah tingkah dengan wajah yang memerah.
"Aah tidak apa-apa, mari ku antar sampai depan rumah."
Sempat menolak tawaran Aldino, tapi lelaki itu bersikeras mengantarkan nya karena hawatir. "Kalau ada yang kau butuhkan hubungi aku saja ya, dan kalau kau tidak bisa membantu menjaga Aurelia lagi tidak apa-apa, aku mengerti jika kau harus banyak istirahat."
"Terima kasih banyak, tapi aku bisa melakukan semuanya sendiri, dan aku tidak merasa repot untuk menjaga Aurelia, lagipula dia anak yang manis dan baik, aku akan sangat senang bisa bersamanya sepanjang hari, apalagi aku juga membutuhkan uang lebih untuk masa depan bayiku kelak, tentu aku membutuhkan pekerjaan sambilan." Jelas Melati dengan tersenyum kecil.
"Baiklah ibu perinya Aurelia, besok setelah pulang sekolah, Aurelia akan tetap menemani ibu perinya, tapi besok kau harus libur dulu dari Play Group selama beberapa hari, karena Dokter memintamu untuk banyak istirahat dulu, bagaimana ibu peei, apakah kau setuju dengan saranku."
Keduanya tersenyum dengan saling menatap, malam itu ada perasaan lain didalam hati Aldino, entah perasaan iba atau sekedar perduli dengan kisah hidup Melati, karena sepulangnya dari kontrakan Melati, Aldino jadi sering memikirkan perempuan yang sangat disayangi putrinya.
...Bersambung....