Rizar Abran Maulana seorang pria tampan dan sholeh sudah jatuh cinta kepada seorang wanita cantik yang dia temui di sebuah pesta tapi wanita itu tidak menyadarinya, hingga suatu saat sahabatnya ingin menjodohkannya dengan adik kandungnya sendiri yang ternyata adalah wanita yang selama ini Rizar cari.
Jihan Addara Puteri seorang wanita cantik yang merupakan seorang artis dan model papan atas, Jihan yang biasa dipanggil Darra tidak menyangka kalau hidupnya sangat menyedihkan, disaat pacar yang dia cintai mengkhianatinya dan selingkuh dengan sahabatnya sendiri, sekarang Darra harus menerima perjodohan dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal.
Akankah Rizar bisa membuat Darra jatuh cinta kepadanya dan menerima Rizar sebagai suami seutuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Firasat
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Tujuh bulan kemudian....
Saat ini usia kandungan Darra sudah menginjak usia sembilan bulan, dan Dokter memprediksikan dua minggu lagi Darra akan melahirkan.
"Mas, temenin Darra jalan-jalan yuk ke taman komplek kata Dokter Darra harus sering jalan-jalan," seru Darra.
"Ayo...."
Darra dan Rizar pun terlihat sangat bersemangat, bahkan Rizar terus saja mengelus perut Darra di sela-sela jalan-jalannya.
"Mas, sudah ga sabar menunggu kelahiran anak kita."
"Sabar Mas, masih ada dua minggu lagi tapi Darra ingin pas Darra melahirkan nanti, Mas ada di samping Darra menemani Darra."
"Pasti dong, makannya lusa Mas berangkat tugas selama tiga hari dan sekalian mau cuti untuk menemani kamu melahirkan."
"Beneran ya Mas."
"Iya Sayang."
"Mas, kita duduk dulu yuk di sana."
Darra dan Rizar pun duduk di sebuah kursi taman.
"Sayang, kalau seandainya Mas tidak bisa menemani kamu melahirkan, kamu jangan sedih ya kamu harus tetap semangat demi anak kita," seru Rizar.
"Ih..kok Mas ngomongnya gitu sih, jangan buat Darra takut Mas."
"Bukannya buat kamu takut, cuma kalau seandainya Mas harus tugas dadakan bagaimana coba? kan Mas ga bisa nolak. Pokoknya kamu harus menjadi wanita yang kuat, jangan lemah demi anak kita."
"Ya mudah-mudahan saja, Mas tidak ada tugas dadakan dan bisa menemani kamu lahiran. Mas juga sudah siapkan nama untuk anak kita."
Rizar kembali mengelus perut Darra, dan mencium perut Darra yang saat ini sudah sangat besar.
"Sayang, jadi anak yang sehat dan kuat ya biar bisa jagain Mama kamu kalau Papa sedang tidak ada di samping kalian," seru Rizar.
Rizar dan Darra pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Setelah sama-sama membersihkan dirinya, keduanya duduk di depan tv menikmati kebersamaan mereka berdua.
"Mas, kok Darra merasa dada Darra sesak ya."
"Hah..kenapa? kamu sesak napas gitu? ya sudah, ayo kita ke rumah sakit," seru Rizar panik.
"Bukan sesak napas Mas, Darra merasa sesak saja ga tahu kenapa."
"Kamu jangan buat Mas khawatir, sayang."
"Darra hanya ingin selalu dekat sama Mas, selama Mas dekat dengan Darra, Darra tidak merasakan apa-apa tapi di saat Mas jauh, Darra merasa sangat khawatir."
"Jangan berpikiran macam-macam, ingat kamu itu mau melahirkan, Mas tidak mau sampai terjadi kenapa-napa pokoknya kamu dan anak kita harus sehat."
Rizar memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang, tidak di pungkiri sebenarnya Rizar juga merasakan hal yang sama dengan Darra tapi Rizar berusaha bersikap tenang dan tidak menunjukkan kekhawatirannya.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, hingga tiba waktunya Rizar pun harus berangkat tugas. Entah kenapa sejak semalam, Rizar tidak bisa tidur, Ia terus saja memperhatikan istrinya yang sudah terlelap dalam mimpinya.
Sesekali Rizar mengelus dan mencium perut buncit Darra, tapi Darra tidak sedikit pun tidak merasa terganggu. Ada perasaan sakit dan ngilu yang menjalar di seluruh tubuh Rizar tapi Rizar tidak tahu perasaan apa itu.
Hingga pagi menjelang, Rizar merasa sangat berat meninggalkan istri dan calon anaknya itu. Ingin rasanya Rizar membatalkan penerbangan kali ini, tapi kewajibannya tidak bisa di abaikan tugas tetap tugas dan Rizar harus melaksanakannya.
"Mas, kok melamun? di makan dong sarapannya."
"Ah...iya sayang."
Rizar pun kembali melahap sarapannya, setelah selesai sarapan Rizar memeluk istrinya sangat lama seolah-olah Rizar akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali lagi.
"Tolong jaga anak kita baik-baik, Mas yakin kamu adalah wanita yang kuat dan hebat."
"Darra pasti akan jaga anak kita Mas, jadi Mas jangan khawatir."
Rizar kembali menciumi seluruh wajah sang istri dan terakhir menciumi perut buncit Darra.
"Sehat-sehat ya Nak sampai lahir nanti, jangan lupa kamu harus menjadi anak yang hebat biar bisa jagain Mama. Papa sayang kamu, dan kamu harus janji sama Papa jagain Mama dan jangan buat Mama menangis," seru Rizar.
Entah kenapa Darra merasa sangat sakit mendengar ucapan Rizar, dan tanpa terasa airmata Darra pun menetes tapi dengan cepat Darra langsung menghapusnya takut Rizar melihatnya dan merasa khawatir.
"Sayang, Mas pergi dulu ya jaga kesehatan jangan lupa makan, istirahat yang cukup, pokoknya sampai kapan pun Mas akan tetap mencintaimu, tunggu Mas pulang."
"Iya Mas."
Rizar kembali mencium kening Darra begitu sangat lama.
"Mas berangkat sekarang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rizar dan Darra melangkahkan kakinya menuju teras, Rizar segera masuk ke dalam mobil yang sudah siapkan oleh Pak Agus. Darra tampak melambaikan tangannya, sampai mobil yang di tumpangi Rizar pun menghilang tak terlihat.
Darra tampak kembali masuk ke dalam rumah, ia hendak mengambil minum karena merasa haus tapi di saat Darra mengambil gelas yang sudah berisi air tiba-tiba gelas itu jatuh.
Praaaannngggg....
"Astagfirullahaladzim."
"Ya Alloh Non, ada apa? Non ga apa-apa kan?" tanya Mbok Nur.
"Ah iya Mbok, Darra tidak apa-apa tadi tangan Darra licin dan akhirnya jatuh."
"Ya sudah, Non duduk saja biar Mbok yang bereskan semuanya. Lain kali kalau Nona butuh sesuatu, bilang sama Mbok biar Mbok yang ambilkan."
"Iya Mbok, terima kasih."
Darra mendudukan tubuhnya di sofa, tangannya memegang dadanya. Rasa sesak itu kembali hadir, perasaan Darra pun menjadi tak menentu membuat Darra merasa sangat gelisah dan khawatir.
"Ya Alloh, semoga saja tidak terjadi apa-apa," gumam Darra.
Sementara itu di sisi lain, Rizar sudah sampai di Bandara tapi tidak seperti biasanya Rizar terlihat melamun dan tidak fokus.
"Kapten kenapa? apa ada masalah?" tanya Guntur yang saat ini menjadi Co-Pilot bersama Rizar.
"Ah tidak apa-apa, Tur."
"Tenangin dulu Kapten jangan banyak pikiran, ingat pekerjaan kita sangat penting karena ada ratusan nyawa yang akan kita bawa," seru Guntur.
"Astagfirullahaladzim."
Rizar mengusap wajahnya, apa yang dikatakan Gubtur benar tidak seharusnya Rizar memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Kamu benar, Tur. Sekarang kita harus fokus."
Tidak lama kemudian, waktu take off pun tiba.
"Bismillahirohmannirohim."
Rizar mulai mengendalikan burung besi itu, awalnya perjalanan berjalan dengan lancar hingga akhirnya setelah sekian lama terbang cuaca sangat tidak bisa di prediksi.
"Kapten, sepertinya di depan bakalan ada badai," seru Guntur.
"Iya Tur, tolong kamu informasikan ke pusat."
"Baik Kapten."
Baru saja Guntur akan menghubungi pusat, tiba-tiba sebuah angin kencang menerjang pesawat yang Rizar kendalikan. Saking kuatnya angin itu, pesawat yang Rizar kendalikan sampai oleng dan mengakibatkan kepanikan pada seluruh kru dan penumpang.
Pramugari sudah menyarankan untuk memakai pelampung dan bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk. Kantor pusat langsung panik seketika karena pesawat yang di kendalikan Rizar hilang koordinasi dan kontak.
"Allohuakbar, ya Alloh selamatkan kami Darra maafkan Mas, Mas sayang kamu dan anak kita," gumam Rizar dalam kepanikannya.
Rizar berusaha mengendalikan pesawatnya tapi badai yang menghadang semakin kuat, membuat Guntur dan Rizar saling pandang dengan tatapan sendunya.
Guntur menggelengkan kepalanya...
"Maafkan saya Guntur," seru Rizar.
"Aku ikhlas Kapten," sahut Guntur dengan senyumannya.
"Darra...Darra...Darra...."
Duuuaaaarrrrrr.....
Pesawat yang Rizar kendalikan menabrak tebing pegunungan, pesawat langsung hancur dan terdengar suara ledakkan yang sangat luar biasa.
"Mas Rizaaaaarrrrr!" teriak Darra.
Darra terbangun di tengah malam dengan keringat penuh di sekujur tubuhnya. Perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak, jantungnya berdetak tak karuan.
"Mas Rizar..." gumam Darra.
Darra melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu subuh.
"Sepertinya Mas Rizar sudah sampai, tapi kok tumben Mas Rizar belum menghungiku," gumam Darra.
Darra pun mengambil ponselnya dan dengan cepat menghubungi nomor Rizar tapi sayang hanya suara operator yang Darra dengar.
"Loh, kok ga aktif."
Darra semakin gelisah dan khawatir, Darra hanya bisa mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia sudah tidak bisa tidur lagi, pikirannya melayang kemana-mana.
✈️
✈️
✈️
✈️
✈️
Hayo loh, bagaimana nasib Rizar selanjutnya? jangan pada baper ya🤧🤧
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU