Menjadi Ibu susu anak dari sepupu mantan suami!! sanggupkah Aeril bertahan menjadi ibu susu dari pria dingin dan kejam, apa lagi majikannya adalah sepupu dari mantan suami, dan itu membuat kenangan pahit hadir kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nafisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membujuk Aeril
Sore itu cuaca sedikit mendung dan angin bertiup cukup kencang membuat Abi menepikan mobilnya yang yang sudah sejak subuh mencari Aeril. Bahkan Abi sampai tak makan seharian demi mencari Aeril tapi tak juga ia temukan.
Ay kamu di mana, aku mohon pulanglah.
Abi menelungkupkan wajahnya di atas kemudi. Abi sudah merasa sangat lelah dan hampir putus asa dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
Karena hari sudah hampir gelap dan akan hujan Abi berniat untuk pulang dan akan mencari Aeril besok lagi. Lagi pula kasihan kepada Ibu mertua yang terus menjaga Naira di rumah sakit.
Baru saja akan melajukan mobilnya Abi melihat seseorang yang mirip dengan Aeril dari kejauhan sedang membeli sesuatu. Tanpa pikir panjang Abi mendekat dan ingin memastikan apakah itu Aeril atau bukan.
Saat semakin mendekat tak sengaja Aeril juga melihat ke arah Abi dan itu membuat Aeril ingin segera kabur dari hadapan Abi.
"Ay!!!!"
"Aeril, tunggu!" teriak Abi sembari mempercepat jalannya bahkan sedikit berlari.
Aeril juga mempercepat langkahnya karena sudah tak ingin lagi berurusan dengan Abi. Aeril ingin hidup bahagia tanpa gangguan siapa pun, dia sudah memutuskan akan hidup sendiri tanpa menyusahkan siapa pun lagi.
"Ay aku mohon tunggu sebentar, aku mau mau bicara tentang Naira."
Aeril terus berlari sembari menutup telinganya rapat-rapat, tak ingin tau apa pun lagi tentang Abi, cukup selama ini Abi memperlakukannya dengan tidak baik dan kali ini Aeril harus bisa bersikap tegas kepada siapa pun juga termasuk Abi.
Aeril masuk ke dalam kontrakan yang baru ia dapatkan kemarin untuk ia tinggali sementara waktu.
Abi mengikuti Aeril sampai di depan kontrakannya. Meski sedikit ragu Abi akhirnya mengetuk pintu Aeril beberapa kali tapi tak juga ada jawaban dari Aeril.
"Ay aku tahu kamu di dalam, aku minta maaf untuk semua yang terjadi kemarin. Aku salah dan aku mau kamu pulang, aku mau memperbaiki semuanya demi Naira." Abi terus mencoba membujuk Aeril meski Aeril tak juga membuka pintunya.
"Cukup untuk semua ini Pak Abi, aku tidak perduli," gumam Aeril.
"Apa yang Mas lakukan?" tanya seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan Abi di depan kontrakan Aeril.
"Oh ini Bu saya lagi membujuk istri saya yang lagi ngambek buat pulang ke rumah," kata Abi sembari tersenyum malu.
"Oh Mbak Aeril itu istri Masnya. Saya kira Aeril masih sendiri, ya udah selamat berjuang Mas, wanita memang seperti itu tapi Bapak harus tetap berjuang sampai istri Bapak kembali bahagia."
"Terima kasih Bu atas sarannya, saya akan berusaha membawa istri saya kembali ke rumah," ucap Abi dengan semangat.
"Semangat Mas!! Saya tinggal dulu ya."
"Iyya Bu." Wanita itu pun pergi dan tinggallah Abi yang terus berusaha meyakinkan Aeril untuk pulang meski tak ada tanda-tanda Aeril akan keluar dari dalam rumahnya.
Malam pun tiba dan sepertinya hujan akan segera turun tapi Aeril tetap tak ingin keluar dari dalam rumahnya.
"Aku pantas mendapatkan hukuman seperti ini Ay karena aku memang sangat keterlaluan," gumam Abi.
Hujan pun turun begitu derasnya. Aeril akhirnya bisa bernafas lega karena tak mendengar suara Abi lagi. Abi pasti pulang karena hujan sangat lebat, begitulah fikir Aeril.
Setelah menyantap makanan yang tadi ia pesan Aeril merebahkan dirinya di atas kasur dan akhirnya terlelap. Hawa dingin yang di sebabkan hujan membuat siapa saja akan tidur nyenyak malam ini.
sekitar pukul sepuluh malam hujan mulai mereda dan tinggal menyisakan gerimis di luar sana. Aeril terbangun dari tidurnya karena mendengar suara seorang wanita memanggilnya berkali-kali.
Aeril bangun dan mengucek matanya melihat jam pada dinding lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu perlahan.
"Iyya Bu," ucap Aeril.
"Mbak Aeril tega banget sama suaminya," Kata Ibu itu.
"Maksudnya Bu?" tanya Aeril tak mengerti.
"Itu loh Mbak, masa Suaminya di biarin ujan-ujanan di luar dari tadi. Lihat badannya sampai gemetaran pasti karena kedinginan." tetangga Aeril itu menunjuk ke arah Abi yang masih berdiri di depan rumah Aeril. Meski kedinginan Abi tak menyerah menunggu Aeril keluar dari dalam rumah.
Aeril membelalakkan mata saat melihat Abi yang basah kuyup dan menggigil kedinginan di depan rumahnya.
"Ya Allah," pekik Aeril.
"Ya sudah saya permisi ya Mbak, tolong maafkan suaminya. Mungkin dia memang melakukan kesalahan tapi sepertinya dia sudah menyesalinya kalau enggak, nggak mungkin dia mau berdiri di bawah hujan sampai berjam-jam."
"Iyya Bu terima kasih karena sudah memberi tahu."
"Iyya sama-sama Mbak."
Setelah Ibu itu pergi Aeril buru-buru mendekati Abi. Meski masih kesal tapi ia tak tega melihat keadaan Abi sekarang.
"Apa yang Pak Abi lakukan di sini? Harusnya Bapak pulang saja, kenapa malah hujan-hujanan di sini."
Abi tak menjawab karena dia merasa sangat kedinginan sampai tak mampu mengeluarkan suara. Tak lama karena tak lagi mampu menahan dingin, akhirnya Abi ambruk ke depan dan hampir saja jatuh tersungkur jika saja Aeril tak menahan tubuhnya.
Karena tak mungkin meninggalkan Abi sendirian di luar akhirnya Aeril memapahnya masuk ke dalam. Setelah melepas pakaian Abi Aeril menyelimuti Abi dengan selimutnya.
Di luar kembali hujan turun begtu derasnya dan membuat hawa menjadi semakin dingin. Jangankan Abi, Aeril saja yang tak terkena hujan merasa sangat kedinginan apa lagi Abi yang sejak tadi sudah terkena hujan.
Abi terus meracau dalam tidurnya dan membuat Aeril semakin khawatir. Aeril meraba kening Abi dan merasakan hawa dingin di sana, bibirnya pun sangat pucat.
''Ay dingin, dingin sekali. Apa tak ada selimut lagi? Aku merasa sangat dingin," ucap Abi dengan mata yang masih terpejam.
"Saya nggak punya selimut lagi Pak, cuma itu satu-satunya," kata Aeril bingung.
"Dingin," rintih Abi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang." Aeril begitu bingung dengan situasinya sekarang.
Apa harus pinjam ke tetangga? Tapi ini hampir tengah malam dan tak mungkin Aeril membangunkan tetangganya di tengah malam begini apa lagi sedang hujan deras.
Aeril meraih tangan Abi yang sudah sedingin es lalu menggosoknya dengan kedua tangannya berharap hawa panas akan tersalurkan ke tubuhnya.
''Dingin Ay, dingin banget." Abi terus meracau dan membuat Aeril semakin bingung.
Di tengah kebingungannya Abi tiba-tiba menarik Aeril ke dalam pelukannya dan itu membuat Aeril kaget dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Abi tapi pelukan Abi begitu erat sehingga sekeras apa pun Aeril berusaha melepaskannya tidak akan berhasil.
''Pak jangan seperti ini,'' ucap Aeril pelan dan masih terus berusaha melepaskan diri.
"Biarkan seperti ini sebentar Ay, dingin sekali," ucap Abi meski matanya terpejam.
Tak memiliki pilihan lain akhirnya Aeril membiarkan Abi memeluknya karena merasa tak tega melihatnya menggigil kedinginan.
"Terima kasih," lirih Abi dan makin mengeratkan pelukannya.
*
*
*
*
Huaaaaa, aku juga mau di peluk.
Kesempatan banget si Abi mah, bikin orang nggak jadi marah aja, dasar!!!
Like dan komen ya, wajib!!!!
karena Author selalu antusias baca komenan para readers yang paling kece.