Kemala seorang wanita belia, yang sudah menjanda dua kali, semua suaminya meninggal secara misterius.
Takdir mempertemukan dia dengan seorang pria dikala hatinya masih merasakan sakit dan trauma terhadap pernikahan. Serta bayang bayang dari masa lalu yang masih terus mengejarnya.
Akankah cinta pria itu dapat menyembuhkan lukanya atau Kemala akan menjada untuk ketiga kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First night
Hujan sangat deras menemani malam yang kelam. Seorang pria sedang duduk berselonjor di atasnya ranjang. Wajahnya tertunduk pada layar laptop di hadapannya. Dengan serius dia memeriksa angka angka yang berjajar rapi di layar itu.
Sesekali ia melirik kearah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemericik air terdengar jelas dari dalam kamar mandi. Damar mengangkat wajahnya dari layar laptop, lalu menutup benda elektronik itu perlahan. Damar menatap kelopak bunga mawar yang tersebar di seluruh kamarnya.
Pria berambut hitam itu menghela nafas panjang. Sungguh sangat di sayangkan, kamar yang begitu romantis dengan beberapa lilin aromatik yang di nyalakan di beberapa sudut kamar. Bunga mawar yang di tebarkan dan di atur sedemikian rupa hingga membentuk hati.Indah. tapi tidak dengan penghuninya.
Haruskah dia meminta haknya sebagai suami. Damar mulai menimang pikiran itu, Irna adalah istrinya sekarang. Apa salahnya, akan tetapi bukankah lebih indah jika dia bermain terlebih dahulu dengan istrinya itu. Damar menyeringai tipis, lalu turun dari ranjangnya, dan berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Irna cepatlah, aku juga mau mandi!" pekik Damar, sambil terus mengetuk pintu.
"Iya iya sebentar, nanggung nih!" sahut Irna dari dalam.
Gadis itu masih memakai baju kebaya lengkap. Sedari tadi ia hanya mondar mandir di dalam kamar mandi. Tak ada niat sedikit pun untuk segera membersihkan dirinya. Takut, cemas. Ia bahkan mengigit ujung kukunya dengan kuat.
"Gimana kalau dia minta itu."
"Issh... gini banget sih jadi istri," keluh Irna pada air yang terus mengalir turun dari shower.
Kata kata Damar masih terngiang di telinganya.
Setelah menikah loe milik gua, gua bebas melakuin apa aja. Termasuk bikin loe hamil anak gua.
Kata kata itu terus berulang dan berputar seperti kaset rusak di telinga Irna. Belum lagi nasihat Mama Lia yang mengingatkan Irna untuk patuh sebagai seorang istri. Dosa hukumnya kalau Irna membantah ucapan dari seorang suami. Selama suaminya adalah seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab atas istrinya.
"Irna, kau mau keluar atau aku mendobrak pintunya!" teriak Damar yang mulai merasa tidak sabar.
Sudah dua jam Irna berada dalam kamar mandi. Meskipun demikian Irna belum basah sama sekali. Ia hanya ingin sembunyi di malam pengantinnya. Irna belum siap kalau harus beriya iya, dan melepaskan keperawanannya.
Mendengar teriakkan Damar membuat Irna panik, ia pun bergegas membuka pintu.
Mata Damar membulat saat melihat Irna masih memakai pakaian lengkap. Irna pun menunduk sambil mengucek ujung kebayanya. Entah lari kemana sifat Irna yang bar bar itu. Gadis di hadapan Damar ini sungguh berbeda, ia tampak tegang dan gugup.
"Kamu ngapain aja, hah! dua jam di sana dan bahkan kamu belum melepaskan baju mu!"
"Cepat bersihkan dirimu dalam lima belas menit. Kalau lebih dari satu. Aku akan mendobrak pintunya!" imbuh Damar dengan kesal. Jujur saja Damar merasa tubuhnya saat lengket dan lelah.
Ia membiarkan Irna lebih dulu mandi karena ia harus mengecek perkerjaannya.
"Iya, galak amat," ketus Irna sebelum menutup pintu kamar mandinya.
"Gua denger itu," sahut Damar.
Damar pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan terlentang. Ia mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri hingga menimbulkan sebuah bunyi.
Sementara di dalam kamar mandi, Irna pun bergegas membersihkan dirinya dengan kecepatan kilat. Ia tidak tahu Damar bercanda atau tidak, tapi akan sangat memalukan bila damar benar benar mendobrak pintu dan ia belum menyelesaikan mandinya.
Setelah empat belas lebih setengah menit akhirnya Irna pun menyelesaikan ritual mandinya. Setelah membuka pintu, ia pun keluar dengan perlahan, sambil memegang erat handuk yang melilit tubuhnya. Melihat Damar yang tak bergeming di tempat tidur Irna pun bergegas mengambil baju ganti di ranselnya.
Sebuah celana longgar pendek dan kaos oblong. Setelah selesai menganti bajunya di kamar mandi. Irna pun berjalan mendekati Damar yang terlelap dengan tangan terlentang di tengah ranjang.
Irna merasa lega, setidaknya Damar tidak akan melakukan hal yang aneh aneh jika dia tidur. Irna mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tak ada sofa, hanya sebuah kursi kayu dan meja bundar di sudut ruangan.
"Di mana aku akan tidur, masa di lantai," gumam Irna.
Damar telah mendominasi seluruh kasur dengan tidur terlentang dan kedua tangannya yang terbuka. Irna sama sekali tidak ingin membangunkannya. Ia merasa takut Damar akan meminta haknya sebagai seorang suami. Irna memandang kakinya sendiri, lantai yang terbuat dari bahan kayu itu mungkin tidak akan terasa dingin. Lagi pula ada karpet yang bisa di jadikan alas.
"Ok, coba aja dulu," ujar Irna meyakinkan dirinya.
Irna berjalan mengelilingi ranjang untuk mengambil satu bantal yang tidak di tindih kepada Damar.
Puk
Irna melempar bantal itu ke atas karpet tipis berbulu, lalu merebahkan tubuhnya di atas karpet yang terhampar di kamar itu.
Satu menit...
Sepuluh menit....
Tiga puluh menit...
Irna membuka mata yang tadinya di paksakan terpejam. Tubuhnya terasa sakit dan tidak nyaman. Berkali kali dia mengubah posisi tidurnya.
"Enakan di kasur ternyata. Udah keras dingin lagi," keluh Irna lagi dan lagi. Ia terus mengomel membandingkan hangatnya kasur dan kerasnya lantai kamar.
Damar mengeliat, telinganya terasa gatal mendengar Irna yang mengoceh tiada henti.
"Assssh.. bisa diam ga sih!"
Irna terjingkat duduk saat mendengar suara suaminya. Damar bangun dan duduk di tepi ranjang sambil menatap Irna yang duduk bersila di lantai.
Damar mengerutkan keningnya.
"Ngapain loe di situ." Damar melirik bantal yang ada di belakang Irna." loe mau tidur di situ?"
"Iya, emang kenapa ga boleh?" kilah Irna.
"Boleh boleh boleh, tidur aja di situ sampe pagi."
Damar pun bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Irna mengerucut bibirnya kesal. Ia pun bangkit dan menyusup ke dalam selimut, membungkuk dirinya dengan selimut tebal.
Setelah beberapa saat damar pun keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai boxer dia pun naik ke atas ranjang. Berbaring di sebelah istrinya.
"Hoe...bangun!" Damar mengerakkan gerakan tubuh Irna dengan kakinya. Irna menutup seluruh tubuhnya yang selimut dan tidur membelakangi Damar.
Irna berusaha untuk tidak merespon Damar dengan berpura-pura tidur. Damar pun semakin menyentak tubuh Irna dengan kakinya.
"Gua tau loe ga tidur. Bangun sekarang atau ... loe mau gua bangunin dengan cara lain."
Mendengar itu Irna pun membalikkan tubuhnya, perlahan ia menyibakkan selimut yang menutupi kepalanya.
Damar menyeringai tipis lalu mendekatkan wajahnya, Irna beringsut mundur. Namun, tangan Damar meraih tubuhnya hingga membuat mereka tak berjarak. Hanya selimut tebal yang menghalangi mereka.
Melihat Damar yang bertel*njang dada membuat Irna semakin gugup.
"Loe mau ngapain?" tanya Irna dengan tergagap.
"Coba tebak." Damar semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan macem-macem.. atau gua bakalan teriak!" ancam Irna. Ia meremas selimut yang membungkus tubuhnya.
Damar tersenyum tipis, rasanya menyenangkan melihat wajah gugup Irna. Membuatnya semakin ingin untuk menggodanya.
"Teriak aja, ga ada yang datang. Kau tau kamar ini kedap suara." Irna pun semakin panik, ingin rasanya dia segera berlari dan mengunci dirinya di kamar mandi.
Damar semakin mendekatkan wajahnya hingga pipi keduanya saling menempel. Hembusan nafas hangat di telinga Irna membuatnya merinding.
"Aku mau kamu sekarang," bisik Damar lirih tepat di telinga Irna.
Gadis itu menelan ludahnya kasar, saat Damar menarik wajahnya. Membuat mereka bersitatap. Damar tersenyum tipis. Irna yang melihat senyuman itu semakin merinding disko.