Reina tak menyangka kalau pria bernama Gerald itu berani melamarnya, Pria abg itu berani melamar wanita itu di depan teman-teman sekolahnya.
Gerald memang tergila-gila pada Reina,Tetangga nya yang bekerja sebagai notaris di kantor pemasaran Grand wisata Bekasi.
Siapa yang gak tertarik pada Reina? Cantik, baik, pintar, dan lembut hal itulah yang membuat Gerald jatuh cinta pada Reina.
Awal nya Gerald dapat penolakan dari Reina tapi tak menyerah dan pantang mundur.
Pada akhir nya, Reina luluh juga oleh kekuatan cinta abg tampan itu dan mau menerima lamaran pria muda itu dengan hati bahagia.
Tapi kebahagiaan itu tidak di rasa oleh Risa gadis abg yang memiliki hati buat Gerald.
Diam-diam dia ingin menyingkirkan Reina dari kehidupan Gerald.
Bagaimana nasib Reina selanjutnya? Kebahagiaan apa yang di rasa Reina setelah menikah dengan abg? Apa yang membuat Reina kagum pada Gerald?
Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmanika Kumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendekati Perkawinan
"Aku rela meraba dalam kegelapan tuk memberimu cahaya.
Cintaku memang tak teraba dan terbentuk namun kurasakan dekapan nya.
Kau lah sekuntum mawarku
napas hidupku
senyummu menari indah di pelupuk.mataku
di balik langit biru.
Kediaman keluarga Wira.
"Bu, maafkan Gerald ya." ucap Gerald, hati-hati.
Tetapi bu Wira tak bergeming tak menatap Gerald, Gerald pun menjadi resah di garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Ibu, marah sama Gerald?maafkan Gerald bu, tadi itu mendadak ada yang penting banget." ucap Gerald, lembut.
Bu Wira menghela napas...kesal, lalu membalik kan tubuhnya yang masih ramping dan menatap tajam sang putra.
"Oh...mendadak ya? sekarang pilih, lebih penting mana?perkawinanmu.apa temanmu?" tanya bu Wira dengan suara tinggi.
Gerald menelan ludah, bingung harus memulai.dari mana?ini.juga masalah Rheina, apa dia harus menceritakan ini pada sang ibu?oh...no! karena dia sudah berjanji sama Silwi untuk merahasiakan ini semua, karena tak ingin membuat siapapun jadi panik termasuk sang ibu.
"Ingat ya...kamu sudah mau menikah, dalam tahap pendewasaan kamu tak bisa terus keluyuran kesana kemari, apalagi tadi gak pamit apa teman-temanmu itu lebih penting di banding istrimu, nanti?" tekan bu Wira sambil mendekat kan wajah nya ke wajah sang putra yang sedang menunduk.
"Maaf, bu." lirih Gerald.
Di luar...
"Pak, ibu mana?" tanya Rendi.sepulang sekolah.
Pak Wira yang sedang mencuci mobil menghentikan kegiatan nya.
"Tuh..di kamar sama mas mu." jawab pak Wira, santai.
"Oke deh..pak."
"Rendi." panggil sang ayah.
Rendi menghentikan langkah nya untuk masuk rumah dan menoleh ke arah sang ayah.
"Inggih, pak."
"Kamu.jangan masuk kamar mas mu dulu, biarkan mereka bicara empat mata." titah pak Wira.
Rendi menghela napas, dia tahu benar sifat ibu nya yaitu mudah naik darah sedangkan sang ayah, dia sangat santai dan penyabar.
"Ibu marah lagi pak?" selidik Rendi.
"Ya..begitu lah, sifat ibu kalian tetapi.seorang ibu marah karena ibu sayang sama kalian." pak Wira tetap membela sang istri.
"Iya, pak aku ngerti."
Di hotel red Velvet.
Dikamar 202 tempat bude Tria.dan pakde Tria menginap semalam.
"Pa, adikku, Handoyo nanya in kamu lho." bude Tria memulai.pembicaraan sambil menyeduhkan teh buat sang suami.
"Oh..ya?" tanya pakde Wisnu, antusias.
Bude Tria mengangguk, mantap.
"Sebenar nya papa bukan nya gak mau hadir, ma, papa.gak mau merepotkan keluarga Handoyo, papa juga harus kurangi makan nasi yang berlebih di acara pengantin Rheina kan ada makanan nya juga." jawab beliau menjelaskan.
"Bener juga ya..pa, mama tadi makan tapi nasi nya juga mama kurangi karena mengandung kolesterol kan?"
"Bener, ma, karena kalau gak dari sekarang mau kapan lagi." sahut pakde Wira sambil merangkul sang istri.
"Iya, kita terapkan ini dari dulu ke Fika dan Danu kan, pa?" bude Tria mengingat masa lalu.
"Bener, apalagi Danu yang memang jago nya makan, bayangin aja waktu kecil dengan tubuh yang tidak tambun tapi makan nya tiga kali?" imbuh pakde Wisnu sambil tertawa kecil mengingat sang putra dulu.
"Papa, masih inget aja." puji sang istri.
"Iya dong."
"Sebenarnya hampir, pa tapi kalau gak aku hentikan, dia akan makan sampai tiga kali itu kan gak boleh, awal nya dia menangis tapi lama-lama gak juga dan sedikit mama kasih pengertian."
"Menang harus di biasakan dari kecil, ma untuk mencegah dari diabetes, kasihan kan sudah dewasa atau tua sudah terjangkit penyakit itu." pakde Wira bergidik.
"Iya, pa karena mencegah lebih baik dari pada mengobati." sahut bude Tria.
"Tapi aku.bersyukur, ma anak-anak kita gak ada masalah hidup, Danu gak merokok dan Fika gak suka keluyuran sampai malam."
"Iya, pa, sekarang mereka bekerja dan dengan sendiri nya membiayai perjalanan kita." bude Tria, bangga.
"Bener sih...tapi gak usah di umumkan di depan publik, cukup kita saja yang tahu kelebihan dan kekurangan anak-anak kita."
Di apartemen...
"Sudah mendekati perkawinan mu rupa.nya, aku tak sabar membawa mu lari, Rhei." tekan Dani dengan senyuman mantap nya.
Di tempat lain...
"Jangan lupa letak kan asap.tidur nya di.dalam rumah, awas! jangan sampai salah rumah." celutuk Risa.
"Baik, mbak."
"Bagus." Risa tersenyum bahagia.
Dia bernapas lega.
"Sekarang kalian.bisa bubar." titah Risa.
"Fiuh, kau akan kudapat kan, Gerald." ucap Risa sambil tersenyum penuh misteri.
Kediaman keluarga Handoyo.
Rheina sibuk berkutak dengan hp, membalas wa dari teman-teman sekolahnya dulu.dan rekan-rekan kerja nya.
"Rhei, istirahat dulu, entar kamu capek lho resepsi nanti." pesan Ivran.
"Iya, mas, aku sudah mau tidur kok, tenang saja." sahut Rheina sambill merentangkan tangan nya.
Kediaman keluarga Wira.
"Mas, coba cerita sebenar nya ada apa?" tanya Rendi, berbisik.
"Gak ada apa-apa, Rend, cuma aku lakuin kesalahan pergi gak pamit, sudah gitu.aja membuat ibu jadi marah." jawab Gerald, seadanya.
Rendi merasa ada yang salah.dengan sang abang, dia merasa Gerald tidak jujur dan merasakan ada yang ganjal dari abang.nya itu.
"Jujur, mas, ada apa sebenar nya?" selidik Rendi, tegas dan serius.
Bersambung..