Hanya karna melihat dari penampilan saja mereka sepakat untuk menikah karna perjodohan dari orang tua mereka.
Tanpa ada pendahuluan, awalan, pendekatan ataupun suatu ikatan cinta sebelumnya, tapi mereka dengan mantapnya menyetujui perjodohan itu.
Tata adalah seorang gadis yang sangat hyperaktif di segala kondisi dan cuaca serta kehidupannya yang sangat beruntung.
Sedangkan Bara, banyak hal yang dia rahasiakan tentang dirinya.
Mereka hanya melihat apa yang Bara perlihatkan sedangkan jauh disana, sebuah rahasia yang terjaga dengan baik sedang berada di ujung tanduk.
Akankah Bara mulai luluh kepada Tata? atau mungkin Bara yang mulai menceritakan tentang kebenaran dirinya kepada Tata? Apakah Tata bisa menerima semua ini setelah apa yang sudah terjadi?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Hutan.
Mungkin kata itulah yang pertama kalinya terlintas di pikiran Tata saat mobil berhenti berjalan.
Masih belum ada pembicaraan diantara mereka berdua sedari tadi.
Tata ikut keluar dari mobil tanpa ragu saat melihat Iden yang sudah keluar terlebih dahulu.
"Kau tidak berniat untuk membunuh ku bukan? " sergah Tata tak yakin, saat melihat gelapnya hutan ini di tengah teriknya matahari.
"Ckck. Jika aku ingin membunuhmu aku tidak akan mengotorinya dengan tanganku sendiri" Iden terkekeh pelan namun tatapan Tata masih menyusuri tempat ini.
Benar juga sih, saat itu juga Iden memiliki banyak anak buah atau apapun itu yang jelas dia tidak akan melakukan apapun langsung dengan sendirinya.
Jelas itu terasa asing bagi Tata karena dia belum pernah pergi ke hutan lebat seperti ini.
Karena memang untuk apa juga Tata harus pergi ke hutan, itu tidak pernah terpikirkan sedikit pun di kepala Tata untuk pergi ke tempat seperti ini.
"Ayo" Iden mengulurkan tangannya namun hanya di tatap oleh Tata.
"Kemana?" Jujur saja, Tata sangat takut berada disini apalagi hanya berdua dengan Iden.
"Kau akan tau nanti"
"Cepat tanganku sudah pegal"lanjut Iden.
Tata menerima uluran tangannya dan mengikuti setiap langkah Iden yang menuntunnya.
Jalanan sedikit curam jadi Tata mengusir jauh pikiran bodohnya yang sempat terlintas bahwa Iden hanya ingin mencari kesempatan saja.
Hutan yang rimbun dan sedikit gelap karna kurangnya sinar matahari perlahan sedikit terang di ujung sana membuat Tata langsung berjalan lebih cepat meninggalkan Iden di belakangnya.
"Bagaimana bisa..?" Tata terpukau melihat sesuatu yang sangat menarik di hadapannya ini.
Bagaimana bisa ada tempat secantik ini di tengah hutan, ia tidak pernah membayangkan bahwa hal seperti ini memang ada, Tata kira itu hanya ada di novel dan film yang sering dia tonton selama ini.
Benar-benar menguras pikirannya untuk menjadi tenang dan gelap seketika.
"Ini tempat yang bagus untuk berpikir" Iden berdiri tepat di samping Tata sembari menikmati indahnya danau dan pegunungan di tengah hutan belantara.
"Ayo" Ajak Iden lagi dengan denyuman kecil yang hinggap di bibirnya, mengisyaratkan dengan kepalanya agar dia mengikutinya.
Mereka berjalan mungkin memakan waktu sekitar lima menit dari tempat sebelumnya.
Tata tak kalah terpukau saat melihat sebuah rumah minimalis yang terbuat dari kayu di sana, walaupun sederhana tapi rumah itu sangat cantik dan terawat dengan begitu baik.
Tidak besar memang tapi entah kenapa sukses membuat Tata tersenyum cerah.
"Kau mau membukanya" Iden menyodorkan sebuah kunci kepada Tata yang langsung di angguki dengan semangat.
"Tunggu.. Tunggu.. Bagaimana bisa kau tau tempat ini" Tata menahan gagang pintu menunda untuk membukanya.
"Itu rahasia"
Tata menarik nafas nya pelan, masih dengan senyuman yang mengambang di bibirnya dia membuka pintu itu secara perlahan.
Ruangan terlihat sangat gelap disana, Iden melangkah masuk terlebih dahulu dan membuka jendela.
Perlahan semuanya terlihat dengan jelas, ruangan ini tidak cukup besar mungkin berukuran 15 x 10m, disana ada kasur serta satu sofa beserta tv dan kulkas sisanya hanya beberapa buah hiasan ruangan seperti nakas, gitar, beberapa pot bunga, miniatur patung kecil dan satu rak baju gantung di sana.
Tata berjalan kearah jendela yang tadi Iden buka, suasana disana menghadap langsung dengan sempurna kearah danau dan pegunungan.
Iden duduk di kasur setelah menyimpan barang miliknya dan menyulutkan satu batang rokok untuknya.
Pandangan Iden tertuju kepada Tata yang masih berdiri di pagar mengamati pemandangan di sana ia tersenyum kecil saat melihat Tata yang tengah tersenyum.
"Apa kau menyukai tempat ini? " Tanya Iden saat dia berdiri di samping Tata.
"Ya, ini terasa nyaman untukku"
"Aku juga merasakan hal yang sama"
"Maksudnya? " Tata menatap kearah Iden membuat Iden mau tak mau membuang rokoknya yang masih tersisa banyak hanya untuk berbicara berhadapan dengan Tata.
"Aku tidak bisa membicarakannya sekarang"
Iden membenarkan rambut Tata yang terlepas dari kuncirannya dan menyelinapkan beberapa anak rambut kebelakang telinganya.
"Aku merasa nyaman disini" ucap Iden pelan sembari menatap Tata yang berada di hadapannya.
"Kau sangat cantik"
Iden mengusap pipi Tata namun dia langsung menghindar, terasa tak nyaman baginya saat ini.
"Apa kau menyukaiku? " Tanya Tata to the point yang membuat Iden langsung tertawa saat mendengarnya.
Tata mengkerutkan keningnya heran melihat Iden yang malah tertawa, sepertinya ini kali pertama Tata melihat Iden tertawa.
"Apa ada yang lucu" tanya Tata lagi.
"Ya, kau sangat lucu" Iden memegang perutnya sembari berjalan masuk dan mengambil dua kaleng beer dari dalam kulkas.
Tata duduk di pinggir kasur dan menerima beer dari Iden, namun Tata masih menatap aneh kearah Iden, kenapa dia tertawa bukankah memang seperti itu?.
"Ada kalanya orang memujimu bukan karna dia menyukaimu, tapi mengagumimu lebih tepatnya"
"Jangan sampai kau berbicara seperti itu kepada semua orang, itu akan menjadi masalah untukmu"
"Aku tidak keberatan" timpal Tata setelah menenggak minumannya.
"Jika orang itu menyukaiku, aku tidak masalah itu hak mereka untuk menyukaiku"
"Termasuk aku"
Tata menghentikan pergerakan tangannya saat ia akan menenggak lagi minumannya, Tata menatap kearah Iden yang duduk di kursi tepat di hadapannya.
"Ya termasuk kau" lanjut Tata sesaat kemudian, dia juga menenggak lagi minumannya menyisakan sedikit sisa di dalamnya.
"Bagaimana jika aku menyukaimu"tanya Iden.
"Tak masalah, hanya saja aku tidak bisa membalasnya"
"Apa karna kau sudah menikah?"
"Ya, dan karena kau juga sudah memiliki kekasih"
"Aku? Aku tidak memiliki kekasih"
"Ya apapun dia bagimu aku tidak peduli, biarkan aku tidur sebentar jangan menggangguku" Tata merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya perlahan.
Suasana disini terasa begitu nyaman, sudah lama ia tidak tertidur dengan nyenyak selama ini.
Tidak perlu waktu lama untuk membuat Tata masuk ke alam mimpinya, menyisakan Iden yang masih duduk di tempatnya semula masih dengan tatapan yang tertuju kepada gadis yang sudah tertidur lelap di hadapannya.
Iden sempat berfikir kenapa dia bisa tertidur pulas di sini dengan seorang pria di hadapannya, apalagi pakaian yang Tata kenakan berupa gaun berwarna hitam sepaha.
Jelas jika Tata memiringkan sedikit saja pahanya itu akan memperlihatkan segala isi di dalamnya.
Iden juga tidak berniat untuk menutupi pahanya, tidak ada kesempatan yang dia tolak selama ini.
Sebagai seorang pria lurus jelas Iden merasa tergoda apalagi dia tertidur begitu pulasnya.
Iden beranjak untuk menghidupkan ac saat melihat Tata yang mulai berkeringat, dia juga menutup kaca jendela agar Tata lebih nyenyak lagi.
Iden duduk di samping tempat Tata tertidur dan mengamati dari ujung rambut hingga ujung kakinya, terasa sempurna di pandang.
"Kau membuatku sulit" gumam Iden pelan.
jangan lupa mampir di karya aku juga ya kk
🥰
My Little Prince dan VCPD
terimakasih 🙏