Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesabaran
Hari pernikahan Eric dan Laura semakin mendekat, semakin banyak persiapan yang telah dilakukan, namun.. Alice masih belum mengetahui perihal pernikahan ini. Gara belum mengatakan bahwa Eric akan menikah dengan Putri Laura beberapa hari lagi. Semua pelayan dilarang bergosip didekat Alice, Gara tidak segan-segan untuk memberhentikan mereka jika Gara mengetahui ada yang bergosip didalam istana.
Hari itu seperti biasa, Alice berjalan-jalan ditaman kerajaan yang dulu pernah ditunjukkan oleh yang mulia Raja. Gara sedang rapat dengan beberapa Mentri di ruang kerjanya. Gara tidak mengatakan permasalahannya, namun dia selalu sibuk setelah pulang bulan madu. Alice tidak mempersalahkan apapun, karena Gara selalu mengabari Alice setiap waktu.
Dia berjalan tanpa pendamping, menyusuri taman-taman bunga, semak belukar, labirin kecil dan melihat kolam ikan. Udara terasa sejuk, burung-burung bersahut-sahutan, dan kupu-kupu terbang kesana-kemari. Alice menengadahkan kepalanya, lalu menutup sebagian matanya, awan terlihat biru, tanpa kehadiran awan, matahari terasa bersahabat pagi itu.
Dari kejauhan Alice melihat seorang wanita cantik, dengan gaun berwana salmon. Dia memegang sebuah kipas ditangan kanannya.
Alice belum pernah melihat wanita itu sebelumnya, dia bejalan kearahnya untuk sekedar menyapa.
Perempuan itu menyadari kehadiran Alice, dia bersikap siaga dan tanpa disadarinya perempuan itu menutup hidungnya.
"Kau..
"Berani-beraninya seorang vampire kotor seperti mu berada disini!"
Perempuan itu mencibir Alice, dia memanggil penjaga untuk mengusirnya keluar.
"Penjaga!
"Bawa perempuan kotor ini!
"Aku tidak mau melihatnya!"
Penjaga berdatangan dari berbagai sudut, mereka saling memandang satu sama lain, namun tidak ada yang berani menyentuh Alice.
Mereka menundukkan kepala melihat Alice lalu pergi.
Alice tidak berkata apa-apa, dia hanya memandang perempuan itu, Alice kemudian sadar kalau perut perempuan itu sedikit membuncit, dia bingung ingin bertanya, namun dia enggan, sepertinya perempuan itu tidak menyukainya, dari cara dia memandang Alice, seperti merasa jijik.
"Aku tidak tau kau siapa!
"Tapi kau harus pergi!
"Vampire kotor seperti mu tidak pantas berada disini!"
Alice mengepalkan kedua tangannya, dia menahan emosinya, Alice tidak mau membuat masalah yang akan mengganggu Gara, apalagi sekarang Gara sedang sibuk, dan seperti nya dia tidak ada waktu untuk mengurusi hal-hal kecil seperti ini. Alice mencoba bertahan dan tersenyum.
Namun, kemudian perempuan itu melempar kipas nya ke arah wajah Alice, salah satu ujung kipas yang tajam melukai pipi kiri Alice, Alice mengusapnya dan pergi dari sana dengan perasaan kecewa, kesal dan marah.
Buuugh
Alice menabrak seseorang yang berjalan ke arahnya, lelaki itu sudah memperhatikan Alice dari sejak Alice memasuki taman sampai kejadian barusan.
Alice menatap wajah pria itu, dia William. William terlihat marah, emosinya terlihat jelas oleh Alice.
"My Lady...
"Apakah anda baik-baik saja?
"Aroma tubuh anda begitu kuat Ma'am.." William mencoba menyentuh luka di wajah Alice, namun dengan cepat Alice menutup mukanya.
"Aku..
"Aku baik-baik saja Will.." Alice mencoba bersikap tidak terjadi apapun, dia tersenyum.
William berjalan ke arah perempuan itu, lalu menampar nya dengan kencang.
Plaaak..!
"Aaaw..."
"Willi.. apa yang kah lakukan?? aku baik-baik saja Will, sungguh.." Alice menarik William dari sana, kemudian meminta maaf pada perempuan itu.
"Maafkan William nyonya, dia tidak bermaksud seperti itu.." Alice menundukkan kepalanya.
"Kau!
"Perempuan hina!
"Berani-beraninya kau!" Perempuan itu mengelus pipinya yang terasa perih.
"Seharusnya kau malu!
"Kau tidak tau berbicara dengan siapa!" William membentak perempuan itu dan bersiap menamparnya lagi, namun dengan cepat Alice menahannya.
"Willi.. hentikan..." Alice memohon, dia tidak mau membuat keributan diistana dan membuat Gara khawatir.
"Laura, kau harus berterima kasih pada Alice!" William meninggalkan Laura dan menggandeng Alice pergi.
Dia hanya menatap punggung William dan Alice yang pergi menjauh sambil mengelus pipinya yang terasa sangat perih.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Laura.
"Laura..
Dia menyentuh punggung Laura, Laura terkejut dan langsung berbalik.
"Eric.." Dia memegang pipinya dan terlihat akan menangis.
"Ada apa?" Laura memeluk Eric dengan erat.
"William menamparku sayang..." Laura menggelayut manja di dada Eric.
"Tidak mungkin, Willi bukan orang yang seperti itu.." Jawab Eric tenang.
"Aku bersungguh-sungguh sayang...
"Lihat saja pipiku, sangat perih dan panas..
"Aku jujur, William menamparku barusan." Ucap Laura dengan meneteskan air mata.
"Jangan menangis, katakan..
"Apa yang sebenarnya terjadi.." Eric membelai rambut Laura yang panjang dan bergelombang.
"Aku, mengusir wanita vampir kotor yang datang menemui ku, lalu aku melempar kipas kewajahnya, dan William datang membela wanita itu.." Air mata Laura semakin mengalir deras, dia yakin Eric akan sangat marah dan membelanya.
Namun mendengar hal tersebut membuat wajah Eric pucat, otot wajahnya menegang, dia dapat dengan mudah mengenali siapa wanita yang dimaksud oleh Laura, Eric berlari dengan cepat ke arah Istana dan meninggalkan Laura yang tampak bingung.
Eric berlari sangat cepat, seperti melayang di udara, dia langsung menemukan Alice sedang berjalan bersama William ke arah kamarnya.
"Alice..
"Tunggu..
Eric memanggil Alice, nafasnya tidak teratur, dia sangat tegang sampai tidak menyadari sepatunya telah lepas sebelah.
Alice berbalik kearah suara yang memanggilnya, terlihat Eric sedang mencoba bernafas, dia memegang dadanya yang sakit karena tertarik saat sedang berlari.
"Eric??.." Alice menatap ke arah William dengan bingung. William terlihat tidak peduli dan mengajak Alice pergi. Namun, Eric menahan tangan Alice.
"Willi, kau bisa pergi.. aku akan mengantar Alice ke kamarnya, iya kan Alice?" Eric menatap mata Alice dengan penuh harap.
Alice tidak mengerti mengapa Eric repot-repot mengejarnya, terlihat kaki Eric hanya mengenakan sebelah sepatu, mau tidak mau Alice menyetujuinya.
"Hmm.. Willi, kau bisa pergi..
"Seperti nya Eric ada perlu denganku..
"Dan..
"Tadi, terimakasih..." Alice tersenyum, William mencoba bersikap tidak peduli dan pergi.
Setelah William pergi, Alice menatap Eric dengan bingung, dia sangat penasaran kenapa Eric sangat terburu-buru mengejarnya.
"Kenapa?" Tanya Alice bingung.
Eric menatap wajah Alice, terlihat bekas luka tajam dan masih berdarah di pipi sebelah kirinya, dia tidak sanggup menatap Alice.
"Maafkan Laura Alice..
"Dia adalah calon istriku..
"Sekarang sedang mengandung lima bulan.."
Eric mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang tidak akan membuat situasi semakin buruk.
Alice merenggut, dia mencoba mencerna kata-kata Eric dengan perlahan. Raut mukanya berubah pucat, dia sekarang tau apa yang dikatakan Eric.
Alice masih mengingat dengan jelas perlakuan Laura kepadanya, bahkan darah dilukanya masih belum kering. Alice mencoba mengendalikan emosinya, dia mengepalkan telapak tangannya dan menutup kedua matanya, menarik nafas lewat hidung dan menghembuskan nya perlahan lewat mulut. Untuk saat ini dia merasa jauh lebih baik, dia melepaskan kepalan tangan dan membuka matanya, Alice tersenyum, dia menepuk pundak Eric dengan cukup keras, lalu Eric menatapnya penuh harap.
"Eric, aku baik-baik saja..
"Kau tidak melakukan kesalahan, kau tau..
"Kau sudah seperti adik bagiku,
"Aku baik-baik saja.." Alice menatap Eric, meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
Eric merasa beban dipundaknya lepas begitu saja, dia menarik Alice kepelukannya dengan cepat dan mengucapkan terimakasih padanya, lalu Eric berlari ke arah taman.
Dari kejauhan seseorang memperhatikan Alice dan Eric, dia menggertakan giginya.
Alice berjalan menyusuri lorong yang panjang, setiap penjaga yang berpapasan dengannya menundukan kepala menghormatinya.
'Sepertinya Eric lupa dengan janji nya, dia bilang akan mengantarkan ku kekamar.. ya sudahlah. Tapi, Aku lupa dimana kamar Gara..'
Alice berjalan, lalu berlari, berjalan lagi kemudian berlari lagi. Dia membuka setiap pintu yang dia lewati, berharap dapat menemukan nya. Namun setelah sekian puluh pintu yang dibuka, dia tidak menemukan salah satupun yang benar. Alice sudah hampir menyerah.
'Sepertinya Aku sejak tadi hanya berputar-putar saja Seharusnya Aku bertanya pada pelayan.'
Alice melewati sebuah ruangan yang cukup besar, disana tersimpan banyak sekali Guci dengan berbagai ukuran.
"Permisi.."
Alice masuk, kemudian dia menemukan seorang pelayan wanita sedang membersihkan salah satu Guci yang berukuran besar.
"My Lady..
"Apa yang membawa anda keruangan ini?" Tanya pelayan itu sopan.
"Aah..
"Aku tersesat. Dapatkah anda mengantar saya ke ruangan Gara?"
"Dengan senang hati My Lady.."
Pelayan itu dengan segera mengantarkan Alice kekamar Gara yang berada sangat jauh dengan ruangan Guci itu. Alice merasa menyesal telah membuat repot pelayan itu.
Alice membuka pintu, kemudian masuk dan menutup lagi pintunya dengan perlahan. Seseorang menutup matanya dari belakang.
"Gaara..." Gumam Alice, dia memaksa membuka tangan yang menutup matanya lalu berbalik. Seorang pria yang sangat ia kenal baik sedang tersenyum kearahnya.
"Ya Tuhan...
"Kent...!"
Alice memeluk pinggang Kent dengan erat, Kent balas memeluknya, lalu mencium keningnya.
"Aku merindukanmu, Alice.." Kent tersenyum, wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Aku juga..
"Apakah kau baik-baik saja?
"Mengapa kau tidak datang kepernikahanku?
"Kau tau, aku sangat kesal kau tidak ada.." Alice melepaskan pelukannya dan memukul dada Kent dengan cukup keras.
"Aku datang My Alice..
"Aku melihatmu,
"Kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu..
"Dan aku juga melihat vampire itu." Raut muka Kent berubah kesal saat menyebutkan sesuatu tentang Gara.
"Aah.. aku tidak melihatmu,
"Tapi, terimakasih telah datang..
"Lalu, apa yang kau lakukan disini?" Alice menatap Kent dengan serius.
"Aku merindukanmu, aku sudah mengatakan nya tadi.."
"Seharusnya kau tidak berada disini Kent, ini kamar Gara.." Alice memandang wajah Kent, matanya berkilau-kilau seperti anjing besar yang kehujanan, dia tidak tega untuk mengusir Kent.
"Ahh..
"Hentikan tatapan itu..
"Aku mengerti, aku juga merindukanmu.."
"Aku akan pergi sekarang.." Kent memeluk Alice lagi, dia enggan untuk melepaskan Alice, namun dia tidak mau membuat masalah untuk Alice.
"Mengapa? sebentar lagi makan siang..
"Ikutlah denganku.." Ajak Alice penuh harap.
"Aku tidak bisa Alice, mungkin lain kali.." Kent menatap Alice lalu mencium pipinya, saat itu dia sadar Alice terluka.
"Alice..!!
"Pipimu..!!"
"Aah.. kau menyadarinya..
"Biarkan saja seperti itu, aku ingin melihatnya sendiri dicermin, aku harap tidak berbekas.." ucap Alice, dia berjalan menuju cermin didekat tempat tidur.
"Biarkan aku mengobatinya.." Namun saat Kent mendekat, terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Kent menghilang.
Alice menatap ke arah pintu, Gara berdiri disana dengan raut wajah kesal.
"Aah.. Gara..." Alice berjalan ke arah Gara.
Gara memandang Alice dengan lembut, dia tidak mau menunjukkan kekesalannya dihadapan Alice, dia takut Alice akan ketakutan melihat sosoknya yang seperti itu. Namun ketenangan Gara terusik, dia melihat darah dipipi Alice, dengan mata yang membesar dan semakin merah Gara mencengkram bahu Alice.
"Perbuatan siapa ini!"
Alice menggeliat, mencoba melepaskan tangan Gara di bahunya.
'Seharusnya aku membiarkan Kent untuk mengobati ku, aku harus menjelaskannya seperti tidak ada hal penting apapun. Ku harap Gara percaya.'
"Gara..
"Bahuku..
"Sakit..
Reflek Gara melepaskan bahu Alice, dia meminta maaf, Gara tidak sadar dengan perbuatannya.
"Aku baik-baik saja..
"Gara..
"Tatap aku. .
Gara menatap mata Alice, wajahnya penuh penyesalan.
"Maafkan aku Alice..
"Aku hanya merasa tidak bisa melindungi mu..
"Apa yang terjadi?
"Katakanlah padaku..
Gara memeluk Alice dengan lembut, dia tidak ingin lagi menyakiti Alice.
"Aku akan mengatakannya, namun..
"Kau harus jujur padaku..
Gara melepaskan pelukannya dan menatap Alice..
"Gara..
"Eric akan menikah?
"Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?
"Aku tampak seperti orang bodoh..
"Aku sedih sekali, adik iparku akan menikah dan aku tidak tau, padahal kita berada di atap yang sama..
Alice mengepalkan kedua tangannya, dia mencoba menahan tangisannya, Alice teringat kembali kejadian sore tadi, saat dia bertemu Laura, namun Alice tidak akan mengatakan hal itu pada Gara, dia tau Gara tidak akan membiarkan Laura begitu saja, meskipun dia calon istri Eric.
Gara mengamati ekspresi Alice, dia tau Alice menyembunyikan sesuatu darinya, namun dia tidak mau memaksa Alice mengatakan sesuatu yang tidak ia inginkan. Gara hanya tersenyum, kemudian memeluknya lagi dengan lembut, mengusap kepalanya dan mencium keningnya.
"Baiklah..
"Namun Alice, sebenarnya aku sudah menahan nya dari tadi, tapi baumu benar-benar menjijikan sayang, maafkan aku.." Gara berbisik.
Sontak Alice melepaskan pelukannya dan tertawa terbahak-bahak.
"Ahh Garaaaa..
"Terimakasih karena telah membuat ku tersenyum lagi..
"Kent datang berkunjung sebelum kau datang.."
Gara sudah mengetahuinya sejak tadi, dia melihat sekilas bayangan Werewolf keluar dari kamarnya.
"Oh, bajingan itu.
"Untuk saat ini aku akan membiarkannya.." Ucap Gara.
"Namun kau harus membayarnya.." Gara menyelipkan tangannya keleher Alice, rasa dingin menyebar di tengkuknya, Alice terkejut dan sedikit melonjak, dengan cepat Gara menangkap tubuhnya yang mungil dan menggendong nya ke atas tempat tidur.
"Aah.. kau mengalihkan pembicaraan sayang..." Alice memukul dada Gara yang sekeras batu berulang kali.
Gara tertawa lagi.
"Aku akan mengatakannya, aku janji. Tapi, kau harus membayarnya terlebih dulu." Seringai yang licik terlihat dari sudut bibir Gara. Alice mencubit hidung Gara dengan kencang.
"Aww
"Aww
"Aww
"Lepaskan sayang, aku akan mengatakannya..." Hidung Gara terlihat sangat merah, namun tidak ada penyesalan terlihat dari raut wajah Alice, dia merasa puas.
Gara mendudukkan Alice ditepi tempat tidurnya, dia duduk di kursi yang menghadap ke arah Alice. Gara menggenggam tangannya dengan lembut, mencoba tersenyum dan mulai mengambil nafas.
"My Lady..
"Dengarkan baik-baik sayang.
"Eric akan menikah tiga hari lagi.
"Dengan Putri yang bernama Laura. Dia merupakan vampire murni dari Kerajaan Yessel." Gara memandang Alice. Tidak ada perasaan kesal dan kecewa pada raut wajahnya, Alice hanya tersenyum bahagia.
"My Alice??
"Kau baik-baik saja sayang?
"Kau terlihat bahagia, namun aku tidak tau mengapa.." Gara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku bahagia Gara..
"Aku tau Laura telah mengandung..
"Aku akan mempunyai seorang keponakan. Apakah aku benar? "
Seperti tersambar petir, Gara sangat terkejut mendengar Alice mengetahui keadaan Laura yang sebenarnya.
"Ada apa Gara? kau sepertinya terkejut.." Alice menatap wajah Gara yang hanya beberapa senti saja dari wajahnya.
'Sepertinya Alice tidak mengetahui, jika hamil sebelum menikah adalah Aib besar bagi kerajaan, namun aku tidak harus memberitahu Alice kebenaran ini. Aku takut merusak perasaan bahagia Alice.'
"Ah yaa, itu detail nya .
"Sepertinya kau sudah tau, padahal ini kejutan." Gara mencoba mengeluarkan senyum terbaiknya.
"Aah Gara..
"Tolong, jangan tersenyum.
"Kau terlihat mengerikan.." Alice menutup wajahnya.
"Ini senyum terbaikku sayang..." Gara pura-pura terlihat kecewa.
Alice membuka matanya dan memeluk Gara.
"Ah dasar kau Vampire kejam...!!" Alice menarik kerah Gara dan mencium bibirnya dengan cepat, lalu melepaskan nya.
Gara terkejut dengan perbuatan Alice padanya, dia senang mendapat kecupan dari Alice, segera dia menaikan Alice ketempat tidur dan menciumnya dengan brutal.
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...