NovelToon NovelToon
Danke, Häschen !!!

Danke, Häschen !!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Erie, seorang gadis berusia 19 tahun yang mempunyai nasib malang, secara tiba-tiba dinikahkan oleh bibi angkatnya dengan pria bernama Elden. Tidak hanya bersikap dingin, pria tampan nan kaya raya itu juga terkesan misterius seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Erie. Kira-kira bagaimana cara Erie bertahan di dalam pernikahannya? Apakah Erie bisa merebut hati sang suami ketika ia tahu ternyata ada wanita lain yang menempati posisi istimewa di dalam hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wrecked

Perhatian, part ini mengandung teks dewasa. Harap dapat bijak membacanya. Terima kasih.

Sudah lima hari sejak kematian Dicken, hubungan Elden dan Erie semakin memburuk. Erie tidak pergi bekerja bahkan ia pun enggan untuk keluar dari kamarnya. Begitu pula dengan Elden. Pria itu lebih memilih untuk menghabiskan seluruh waktunya di luar rumah. Pagi hingga malam ia bekerja. Baru setelah dini hari ia pulang ke rumahnya. Itu pun setelah ia menghabiskan beberapa gelas wine di salah satu bar di tengah perkotaan.

Tepat pukul 2 malam, Elden pulang ke rumahnya. Situasi di dalam rumah mewahnya itu sangat sepi. Hanya Marline dan beberapa pelayan yang masih setia terjaga dan menunggunya untuk pulang.

Elden melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Kepalanya mulai terasa berat. Mungkin karena ia meminum wine lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. Dan juga sudah beberapa tahun belakangan ini, Elden telah memutuskan lebih sedikit menyentuh minuman beralkohol tersebut. Terakhir kali pria itu menikmati minuman-minuman seperti tersebut dalam jumlah yang sangat banyak adalah saat ia masih menjadi mahasiswa.

Elden membuka jas hitamnya dan melepaskan dasi yang melekat di kerah kemejanya. Ia menghempaskan pantatnya di atas kursi kerjanya. Elden menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan kepalanya. Ruangan itu merupakan tempat yang paling menenangkan dibandingkan semua tempat di rumahnya.

Sejenak Elden memejamkan matanya. Pikiran melayang-layang di udara. Bayangan tentang kematian Dicken muncul di dalam pikirannya. Tidak hanya tentang kematian salah satu pekerjanya saja yang ada, namun sorotan tajam dari mata cokelat Erie juga muncul di sana. Pilu dan menyayat hati sekaligus benci. Itulah yang Elden rasakan saat melihat kedua bola mata milik istrinya itu.

Elden memperbaiki posisi tubuhnya. Segera ia menghidupkan laptop dan mengerjakan sesuatu di sana. Sejauh ini, bekerja merupakan obat yang paling ampuh baginya. Setelah beberapa menit, tangan Elden meraih gagang telpon yang berada di depannya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, orang yang dihubungi Elden pun datang ke ruang kerjanya.

"Apakah Tuan memanggil saya?" Orang itu adalah Marline, seorang pelayan yang telah merawat Elden dengan baik. Oleh karena itulah Elden yakin Marline juga akan mengurus Erie dengan baik.

"Iya, masuklah Marline."

Marline yang awalnya berdiri di ambang pintu, masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan ke depan meja Elden.

"Bagaimana keadaannya Marline?" tanya Elden dengan tangannya sibuk mengetikkan beberapa kata di laptopnya.

Tanpa bertanya, Marline sudah mengerti siapa yang dimaksud oleh Elden. Erie, satu-satunya orang yang selalu menjadi alasan mengapa Elden ingin menemuinya. "Masih sama, Tuan. Nyonya sama sekali tidak mau keluar dari kamar. Bahkan beliau juga tidak mau makan."

Elden menghentikan aktivitasnya. "Kau boleh pergi," ucapnya singkat kepada Marline. Wanita tua itu menunduk hormat kepada Elden dan meninggalkan tuannya itu di ruangannya.

Elden memijat kepalanya. Rasa pusing di kepalanya semakin bertambah mendengar pengakuan dari Marline. Sudah berhari-hari berlalu sejak kejadian itu. Jangankan untuk bertemu dengannya, istrinya bahkan tidak mau keluar dari kamarnya sedetikpun. Dari laporan yang Elden dapatkan dari Marline, Erie hanya menghabiskan waktunya di balkon kamar sambil sesekali menangis.

Elden menutup laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya menuju kamar Erie. Ia mencoba membuka pintu kamar Erie, tetapi perempuan itu menguncinya dari dalam. Elden merogoh saku celananya dan mengambil sebuah kunci cadangan dari sana. Setelah berhasil membuka pintu, pria itu bergegas masuk ke dalamnya.

Hening, hampa dan gelap. Hanya satu lampu hias yang berada di atas nakas yang menerangi ruangan itu dengan cahaya redup. Biasanya Erie sangat tidak suka dengan keadaan seperti itu. Perempuan itu sangat tidak menyukai ruangan yang gelap karena akan membuat ia bermimpi buruk. Tak jarang Erie juga akan menghidupkan musik dan mendengarkan lagu-lagu instrumen sebagai penghantar tidurnya jika ia kesulitan tidur.

Elden berjalan mendekati ranjang Erie. Perempuan itu tak ada di sana. Makanan yang berada di atas nakas juga masih utuh dan tidak terlihat tanda-tanda bahwa Erie telah menyentuhnya. Sama halnya dengan makanan manis yang biasanya Erie sukai yang terbengkalai begitu saja di atas meja. Hanya gelas air mineral itu saja yang kandas. Setidaknya, Erie masih menjaga tubuhnya untuk terhidrasi.

Elden melihat sekelilingnya dan mendapati cahaya remang dari pintu ke arah balkon. Ia berjalan ke arah cahaya itu. Ternyata benar. Erie berada di atas balkon kamarnya.

Dari depan pintu, Elden melihat Erie yang memandang langit malam dalam keheningan. Tubuh perempuan itu sangat kurus dan lemah. Elden sama sekali tak habis pikir dengan apa yang Erie lakukan. Di waktu yang selarut ini, perempuan itu justru berdiri di atas balkon dengan menggunakan gaun tidurnya yang tipis. Angin malam yang kencang tentu saja dapat menembus pakaiannya itu.

Elden memegang keningnya. Rasa pusing di kepalanya datang kembali dan sekarang malah bertambah parah. Apakah yang Elden lakukan saat itu begitu salah hingga membuat perempuan itu sangat bersedih? Elden menurunkan tangannya dari kepalanya. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakit di kepalanya dan berjalan mendekati Erie.

Dengan suara pelan dan parau Elden berbicara kepada Erie, "Kenapa kau ada di sini?"

Erie terkejut mendengar perkataan Elden. Namun, perempuan itu enggan menjawab. Jangankan untuk bersuara, menoleh ke arahnya saja, Erie tidak mau.

Kenapa jam segini kau belum tidur? Elden kembali bertanya tapi sama seperti tadi, Erie hanya terdiam.

Melihat hal itu membuat Elden mulai merasa kesal. Ia benci diabaikan dan tak diacuhkan seperti itu. Elden berjalan mendekati Erie. Ia memegang tangannya untuk membuat perempuan itu memandangnya.

"Jawab perkataanku Vallerie! Kenapa kau berada di sini?" kata Elden dengan suara lebih kencang.

Erie menatap Elden dengan tajam. Kemudian ia tersenyum sinis. "Bukankah ini kamarku? Wajar saja aku berada di sini," ucapnya pada akhirnya meskipun dengan nada yang menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran Elden.

"Tapi ini sudah terlalu larut. Masuklah ke dalam," tutur Elden mencoba melembut.

Erie tak acuh. Ia bahkan membalikkan tubuhnya menghadap ke perkebunan. Ia sangat membenci Elden. Kenyataan pria itu telah membunuh kakak dari sahabatnya terus berputar-putar di kepalanya. Kenyataan itu sangat menyakitkan baginya.

"Vallerie Leontyne," panggil Elden. Lagi, Erie mengabaikan ucapan Elden. Rasanya Erie tak peduli lagi dengan kehadiran orang lain di sekitarnya apa lagi pada pria yang ada di sebelahnya itu.

Kesabaran Elden sudah habis. "Ikut aku!" perintahnya. Dengan kasar Elden menarik tangan Erie dan membawanya ke dalam kamar. Kemudian ia mengunci pintu kaca itu dan menutupnya gorden. "Kenapa kau tidak memakan makananmu?" katanya lagi sembari menunjuk ke arah makanan yang ada di atas nakas.

Erie menatap Elden dengan tatapan penuh amarah. Ia masih enggan berbicara dan mengunci bibirnya rapat-rapat.

Elden meninggikan suaranya lagi. "Kau tahu kan aku tidak suka dibantah! Jadi jawabl pertanyaanku! Kalau tidak---" Ucapannya terhenti. Nyaris saja ia mengucapkan perkataan kasar kepada istrinya yang itu justru akan memperunyam masalah.

Erie mengangkat sudut bibirnya sebentar. Ia tersenyum sinis lalu berucap, "Kalau tidak apa? Kau akan menghukumku? Atau..." Erie memutar bola matanya. "Membunuhku?" lanjutnya sarkastis dengan jemari tangan membentuk pistol yang ditempelkan ke pelipis kirinya, seolah-olah menggambarkan tempat yang sama seperti luka tembak yang menewaskan Dicken.

Elden tertawa renyah melihat tingkah perempuan di depannya tersebut. "Kau ingin bermain-main denganku rupanya," katanya sambil membuka dua kancing kemeja atasnya. Elden mendekati Erie. Menyetuh wajah perempuan itu dengan penggung jemarinya. "Kau sangat tahu aku tak mungkin melukaimu..." Elden menundukkan kepalanya. "Tapi aku bisa menyentuhmu," bisiknya di telinga Erie.

Erie tersentak. Perlahan-lahan ia melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kamarnya. "Aap..apa yang ingin kau lakukan Elden?" tanyanya dengan terbata-bata. Tubuhnya juga mulai gemetar. Perempuan itu tengah ketakutan sekarang.

Elden tak menjawab. Ia hanya berjalan hingga tubuhnya berdekatan dengan tubuh Erie. Pria itu mendekap Erie dan membawa perempuan itu dalam pelukannya. Erie mencoba memberontak. Tangannya memukul-mukul bahu Elden. Namun, semakin Erie meronta, maka pria itu akan semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat perempuan itu kelelahan.

Elden melonggarkan pelukannya. Dengan kedua tangannya masih ada di tubuh Erie, Elden menatap istrinya dengan lekat. Ia menelisik kedua mata Erie yang ketakukan, turun ke hidungnya dan berakhir di bibir perempuan itu. Elden menatap lekuk halus di bibir Erie, sisi atasnya yang lembut, dengan sapuan warna merah muda yang meskipun sedikit pucat, namun tidak menghilangkan keindahan bibir mungil perempuan itu.

Elden tidak tahan lagi. Ia langsung mendaratkan bibirnya di bibir Erie dan mengecup lembut bibir istrinya itu. Semakin lama ciuman Elden semakin dalam dan menuntut. Dekapannya juga ikut mengerat sejalan dengan semakin intimnya Elden merasakan bibir Erie.

Erie menangis di dalam hatinya. Ia berharap Elden tidak melakukan tindakan yang lebih jauh lagi. Kedua matanya memanas dan ia tak kuasa untuk menahan air matanya lagi hingga membasahi pipinya.

Elden merasakan isakkan yang tertahan dari Erie. Ia melepaskan ciumannya lalu memeluk Erie dan menghirup aroma perempuan itu di tengkuknya. "Aku merindukanmu," racaunya yang tidak begitu jelas didengar Erie. Pria itu menenggelamkan wajahnya di leher Erie. Ia menghisap dan menggigit dengan keras untuk memberikan tanda kepemilikan di sana.

Erie kembali memberontak, ia mencoba menjauhi Elden. Namun, usahanya kembali sia-sia. Dengan kondisinya saat ini, tentu saja tenaga pria itu jauh lebih kuat.

Setelah puas memberikan beberapa tanda di leher Erie, Elden memandang wajah istrinya. Lagi-lagi pandangan Elden jatuh pada bibir Erie yang sedikit bengkak akibat perbuatannya. Dari sudut pandangnya, bibir Erie yang seperti itu terlihat sangat menggoda. Membuatnya tidak tahan dan kembali menyambar bibir seksi Erie itu dengan kasar. Kali ini lebih dalam lagi dan penuh gairah. Ia mengecap dan menghisap bibir perempuan itu. Elden terus mengeksplorasi bibir Erie meskipun perempuan itu sama sekali tak membalasnya. Erie hanya terdiam dengan air mata yang terus menetes.

Sambil terus mencium Erie, salah satu tangan Elden dengan cepat merobek gaun tidur tipis milik Erie dan melemparkannya sembarangan, sementara sebelah tangannya lagi menahan tubuh Erie agar tidak memberontak. Lalu pria itu membawa Erie ke tempat tidur dan menghempaskan Erie dengan kasar.

Elden melepaskan kemejanya sambil menatap tubuh polos Erie. Pria itu menyeringai melihat lekuk-lekuk tubuh Erie, menaiki tubuh perempuan itu. Tangan kirinya mencengkram kedua tangan Erie di atas kepala perempuan itu lalu mencium bibir Erie. Ciuman Elden semakin menggila. Gigitan dan lumatan di bibirnya, membuat air mata Erie semakin deras keluar.

Erie merasakan darahnya mengalir begitu cepat dan jantungnya berdegup sangat kencang. Tubuhnya gemetar dan air matanya tak mau berhenti. Ia benar-benar ketakutan sekarang. "To..tolong hentikan Elden," kata Erie sambil menangis. Ia memohon kepada Elden.

Elden diam sejenak. Pria itu mengecup kedua mata Erie dan menjilat air matanya yang membasahi pipi perempuan itu. Elden kemudian menyentuh seluruh tubuh Erie. Ia benar-benar sudah kehilangan kesadarannya sekarang. Yang ia tahu, ia ingin menyentuh Erie lebih dalam. Ia ingin merasakan seluruh kelembutan kulit istrinya itu. Menciptakan tanda untuk memberitahu bahwa Erie adalah istrinya, perempuan yang selalu menghantui pikirannya, dan akan selalu menjadi miliknya.

Erie menegang dan darahnya berdesir. Berkali-kali otaknya mengeluarkan peringatan tetapi tubuhnya berkata lain. Tanpa sadar Erie mendesah menikmati apa yang Elden lakukan. Bahkan saat penyatuan mereka, Erie mendesah hebat yang diikuti dengan linangan air mata yang mengalir deras.

Erie sudah pasrah. Keperawanan dan kesuciannya telah hancur begitu saja. Memang Elden adalah suaminya, tapi ia tak menyangka pria itu merenggut harta paling berharganya seperti ini. Hatinya semakin sakit dan kebenciannya akan pria itu menjadi semakin bertambah.

XXXXX

Keesokan harinya Elden mulai merasa gelisah dalam tidurnya. Ia memegang kepalanya. Rasa pusing masih melandanya hingga sekarang. Namun, ia merasakan ada yang aneh. Baru kali ini ia bisa tertidur dengan lelap. Sudah bertahun-tahun ia tidak merasakan tidur senyaman ini.

Perlahan-lahan, Elden membuka matanya. Dan alangkah terkejutnya pria itu ketika melihat dirinya tertidur hanya ditutupi dengan selembar selimut sementara Erie tertidur di sampingnya. Ia melihat tubuh polos Erie yang penuh dengan kecupan-kecupan panas. Dari hal itu saja Elden bisa mengerti apa yang terjadi pada perempuan itu dan semuanya adalah perbuatannya.

"Oh sial!" umpat Elden kencang sambil mengacak-ngacak rambutnya. Dengan cepat ia memakai pakaiannya dan meninggalkan Erie yang tanpa pria itu sadari telah bangun dari tidurnya.

Erie mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang menembus gorden kamarnya. Ketika matanya sudah mulai terbiasa, Erie menatap jam dinding yang menempel di dinding kamarnya. Ternyata sudah pukul 11 siang.

Erie bergerak. Rasa sakit langsung menghantam seluruh tubuhnya. Ia seperti baru diremukkan oleh benda yang sangat berat. Erie memaksakan dirinya untuk beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Ia berjalan sambil menahan rasa perih dan sakit di titik sensitifnya akibat kejadian semalam.

Setelah bersusah payah berjalan, akhirnya Erie tiba di dalam kamar mandi. Di sana ia berdiri sejenak dan terdiam. Perempuan itu tengah memandangi bayangan tubuhnya yang terpantul di cermin kamar mandi. Napasnya sesak melihat bekas merah di seluruh tubuhnya. Ia benar-benar muak melihat tubuhnya yang dihiasi jejak kepemilikan Elden. Ia merutuki dirinya yang sempat mengeluarkan suara desahan dalam kejadian semalam. Erie merasa jijik. Bayangan dirinya di dalam cermin itu terlihat seperti wanita murahan.

Erie tersenyum getir. Ia tidak bisa menangis lagi saat ini karena matanya yang bengkak itu sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata. Erie berjalan menuju ke bathup. Namun, di tengah jalan, perempuan itu merasa tubuhnya benar-benar lemas dan lunglai. Kepalanya yang berkunang membuatnya tak sanggup lagi berdiri dan akhirnya ia terjatuh dan pingsan.

****XXXXX

Dukung novel ini dengan tinggalkan like, comment dan vote... 😍

Danke ♥️

By: Mei Shin Manalu****

1
sakura
...
Virgo Girl
Baru mampir Kak. Awal yg cukup menarik ❤❤
refi Tanjungpinang
amazing proud off u
Youleannaa
bagus
Rieenee
ini tahun 2020 skrg aku datang lagi di tahun 2024 tuk baca kembali novel ini
Rieenee
terima kasih mei sudah membuat novel yg bagus ini aku mampir lagi k sini setelah cukup lama ga buka aplikasi ini
Aerik_chan
Kak aku tunggu karya kakak di platform ini
Almeera
elden juga suka nyelup sm jessi padahal sudh ada istri nya si eri
katanya bucin
Mina Rasi
aku kalau punya tante macam betty tu, udah ku kasih racun dia 😭😭
Ibu Endang
keren thor dr awal baca sampai akhir cerita sangat menarik, banyak rasa greget dihati dlm setiap babnya. menarik dan untuk mu thor semangat dalam menulis novel💪💪💪
Ibu Endang
membaca sampai bab ini sungguh menguras air mata thor,
Aba Bidol
💐
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Sekar Nur Noviyanti
woooow keren
Liliana
Mereka bersaudara
Idasesoega
jika suatu saat kau tdk... pistolku dst

apa BAWA ya...
Allessha Nayyaka
Mantap karyamu othor
Kl diangkat ke layar lebar pasti penonton nya kyk semut antrinya
Allessha Nayyaka
satu kata untuk karyamu thoor

kereeen
Fawas Aficieanna
penggambaran yg sangat menyentuh untuk cinta elden yg luar biasa ke erie😍
Fawas Aficieanna
bagus banget ceritanya menyentuh hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!