Terkadang Tuhan mematahkan hatimu untuk menjauhkanmu dari jodoh yang salah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quemeela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
benci dan cinta
Hari ini aku ada kelas jam 10.00, namun aku pergi lebih awal karena ada buku yang belum ku foto copy, dan
aku mungkin akan dikeluarkan dari kelas oleh Pak Rahmat jika tidak punya buku sumber belajar, aku tidak tau kenapa dosen-dosen di prodiku terkenal killer, tidak terkecuali Pak Rahmat, dosen Elektronika, setiap ada kelas dengannya, segala sesuatu harus dipersiapkan, dan harus keluar kelas jika ada salah satu bahan belajar yang tidak lengkap
Aku melihat jam yang melingkar di tanganku, sudah jam 08:30 aku bergegas menuruni tangga, mengeluarkan motor dari garasi, aku menutup pintu garasi, pintu ini memang agak susah di tutup jadi aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menutupnya
AAAA,,
Aku berteriak kaget ketika ada seorang laki-laki yang duduk di motorku yang terparkir di luar pagar, laki-laki
itu tak lain adalah Arsan
“ada apa sih, aku mau kuliah?” ujarku ketus, kadang aku tidak ingin bicara ketus dengannya, namun aku sering
tiba-tiba emosi kalau melihat wajahnya
“ih, jangan galak-galak dong sayang” ujar Arsan santai
“udah kamu minggir, aku mau ke kampus” aku menarik tangan Arsan agar turun dari motorku
“hari ini temenin aku ya” ujar Arsan memohon
“kamu jangan gila deh, aku ada kuliah hari ini” aku makin kesal
“ya udah kalau kamu enggak mau nemenin aku, aku juga enggak mau pergi dari sini” tegas Arsan,
“aku tu mau kuliah Arsan” ujarku sambil mencubit lengannya agar turun dari motorku
“aawww” Arsan meringis, “kamu ya, aku khawatir dengan masa depan anak kita kalau kamu hobinya nyubit terus” keluh Arsan sambil mengelus-elus lengannya yang mulai membiru
“udahlah kamu turun cepat, aku mau kuliah” aku makin kesal,
“kamukan kuliah jam 10.00, ini baru jam 08:40, belum jam sembilan pun” ujar Arsan sambil menunjukkan jam di
tangannya
Aku memutar bola mataku, “aku mau ke foto copy dulu, aduh pokoknya aku mau pergi dulu sebelum ke kampus, udah kamu minggir”
“enggak mau, pokoknya kamu harus ikut aku, baru kamu boleh ke kampus” ujarnya tetap mau aku pergi bersamanya
Aku berkacak pinggang di depannya, dia sudah benar-benar membuatku kesal
“oke,,oke,, aku ikut kamu, habis itu kamu biarin aku pergi kuliah oke?” aku tidak punya cara lain, kalau terus berdebat dengan Arsan disini, kemungkinan aku tidak bisa kuliah hari ini, lagian aku malu jika dilihat tetangga
“hhmm,, kita lihat nanti” ujar Arsan, makhluk tuhan yang bernama Arsan ini memang sangat mengesalkan
Aku terpaksa ikut dengannya, karena Arsan adalah seorang yang keras kepala aku tidak akan bisa menang
berdebat dengannya, padahal aku ingin ke tempat foto copy entah apa yang akan terjadi dengan diriku dua jam kedepan
Kami sampai di rumah Arsan, tidak ada siapa-siapa dirumah, dia menarik tanganku untuk duduk di pangkuannya, aku berusaha meronta, namun tenagaku tidak ada apa-apanya dibanding laki-laki yang menguasai tiga jenis ilmu bela diri ini, dia mengunciku dalam pelukannya
Drrr,,drrr,,
Ponselku bergetar, ada pesan masuk, aku segera membukanya, aku belum sempat membaca pesan itu, tapi Arsan sudah merebutnya dariku
“Arsan balikin” ujarku berusaha merebut ponselku
Dia malah bermain-main denganku, aku masih berusaha meloncat-loncat meraih ponselku, dia tersenyum “sayang aku lapar, kamu masak ya”
“what, Arsan akukan udah rapi mau kuliah, nanti bau keringat lagi kalau masak”
Dia masih tersenyum ke arahku, “aduh manusia yang satu ini tidak tau diri, orang mau kuliah malah disuruh masak” umpatku dalam hati
“nih,,” Arsan menunjukkan pesan yang baru masuk tadi di ponselku, “kuliah di undur jadi jam 11.00”
Nah sekarang kamu enggak ada alasan lagikan, kuliahnya di undur jadi jam 11.00 sekarang baru jam 09.00 dan
untuk baju kamu bisa ganti pake baju aku buat masak
“nggak mau, baju kamu kebesaran” celetukku kesal
“makanya jangan terlalu kecil Ra” ejek Arsan
“tu kan udah maksa, ngejek lagi” aku benar-benar kesal
“iya, iya, maaf, jangan ngambek dong, nanti cantiknya luntur, ini kamu ganti pake baju ini ya” Arsan menyerahkan bajunya
Beberapa menit kemudian aku sudah mengganti baju yang kupakai dengan baju Arsan, aku segera keluar dari kamar, Arsan tertawa melihat penampilanku, baju yang sepinggang kalau di pake Arsan, jadi selutut di badanku
“masak yang enak ya nyonya koki” ujar Arsan sambil menahan tawa
Aku hanya mendengus kesal, menuju dapur
“masak itu harus dengan perasaan bahagia dan penuh cinta sayang, biar masakannya enak” sahut Arsan
“biarin, kalau perlu aku tambahin racun sekalian” celetukku kesal
“jangan sayang, nanti kalau aku mati kamu jadi janda dong” tambah Arsan lagi
“aarrch, udahlah kamu diam, kalau enggak aku pulang ni” aku jadi semakin kesal, dan dia malah semakin menggodaku
“jangan-jangan, iya,,iya aku diam” sekarang memang tidak ada lagi suara dari Arsan, aku mengintip ke arahnya dia
sedang memainkan ponselnya
Aku membawa masakanku keluar dapur dan memberikannya pada Arsan, biar cepat aku hanya memasak nasi goreng,
“suapin” ucap Arsan manja
Aku mengernyit melihat tingkahnya, dengan terpaksa aku menuruti keinginannya, “dasar manja” gumamku dalam hati
Dulu aku senang dia manja kepadaku, tetapi sekarang tingkahnya ini agak terasa menjijikkan
“nih terakhir” Arsan membuka mulutnya, aku sedang merawat bayi besar sekarang, Arsan membuka mulutnya
“habiis, anak pintar” bukannya sadar dia seperti anak kecil, dia malah tersenyum padaku, layaknya anak balita yang berhasil menghabiskan makanannya
ponselnya berbunyi, dia senyum-senyum saat menatap ke layar ponsel, aku curiga Jelita yang menghubunginya, aku padahal sudah menahan ponselnya agar dia tidak berhubungan dengan gadis lain, tapi ternyata dia punya ponsel cadangan, aku merasa sia-sia saja menahan ponselnya berhari-hari
“kenapa sih senyum-senyum” tanyaku ketus
“haa, enggak ada” dia menjawab pertanyaanku tampa memalingkan matanya dari layar ponsel dan tangannya masih asik mengetik
“kamu lagi chatingan sama siapa, kok senyum-senyum” tanyaku curiga
“enggak ada” Arsan berusaha menghindar saat aku ingin melihat apa yang ada di ponselnya
Aku tetap ingin melihat siapa teman chatingnya, tapi Arsan tetap tidak membiarkanku melihatnya, aku kesal
sampai menangis
“kamu kenapa sayang, jangan nangis dong?” ujar Arsan mengusap air mataku
“kamu lagi chatingan sama siapa
kenapa aku enggak boleh lihat?” aku bertanya sambil menangis
Aku tidak bisa menahan tangisku, dia masih memikirkan wanita lain saat aku ada di sampingnya
“aku enggak chatingan sama siapa-siapa kok” Arsan menyimpan ponselnya
“aku tau kamu pasti chatingan sama dia kan” tuduhku tampa bisa menahan tangis
“dia siapa?” tanya Arsan sambil tertawa
“Jelita” Arsan terdiam dan hanya tertawa kecil
“kamu kapan putus sama dia, aku mohon kamu putus aja sama dia” aku memohon
Arsan menarik tengkukku, dia memaksa ingin menciumku, aku berusaha mengelak dan mendorongnya
“kamu enggak mau kan kalau aku ngelakuin ini ke kamu, makanya kamu biarin aku pacaran sama dia, supaya aku
enggak nakal sama kamu”
“enggak aku enggak mau, tolonglah kamu putus sama dia, enggak usah berhubungan sama dia lagi” tangisku makin menjadi-jadi, aku benar-benar tidak ingin Arsan berhubungan dengan Jelita
“iya iya” jawaban Arsan kurang menyakinkan, tapi aku tidak bisa memaksanya
Aku mengusap air matiku, aku mengeluarkan ponselnya yang ku tahan beberapa hari yang lalu dan mengembalikan kepadanya
“udah enggak butuh lagi?” tanya Arsan mengambil ponselnya
Aku menggelengkan kepalaku, aku melihat kecermin mataku sembab
Sekarang jam 10.45, aku bergegas mengganti baju, lima belas menit lagi kelas dengan pak Rahmat dimulai, air
mataku lagi-lagi menetes, rasanya aku tidak ingin kuliah hari ini, tapi kalau absenku kurang nilaiku akan jelek nantinya
Aku mengambil kunci motorku dan segera melajukan sekencang mungkin, aku baru ingat aku belum mengcopy buku sumber belajar, tidak akan sempat jika aku ke foto copy sekarang, aku pasrah jika nantinya aku akan di
keluarkan dari kelas
aku sampai di kampus, kulihat pak Rahmat sedang mengobrol dengan bu Frida dosen Gelombang & Optik di lorong menuju kelasku, “terima kasih bu, gara-gara ibu aku bisa tiba dikelas lebih dulu dari pak Rahmat” gumamku dalam hati
aku segera berlari menuju kelas, aku mengambil tempat paling belakang sebelah Aina
“kamu kenapa Ra?” tanya Aina
Aku menggelengkan kepala, “aku lupa mengcopy sumber belajar” bisikku pada Aina, nafasku terengah-engah, karena berlari dari perkiran hingga ke lantai 2 ini
“aduh Ra, kok bisa, sini deh kamu berdua sama aku aja” Aina mendekatkan kursinya padaku
Pak Rahmat pun masuk kelas, dan langsung memulai pembejaran, tidak seperti biasanya dia memeriksa sumber
belajar dulu baru memulai pembelajaran, mungkin karena waktunya terbuang karena mengobrol dengan bu Frida
“oh bu, lagi-lagi ibu menyelamatkanku, aku janji aku pasti akan memperhatikan pembelajaran dengan baik di kelas ibu” bisikku dalam hati