Selama 10 tahun menjalin ikatan pernikahan, Farel dan Amira belum juga di karuniai seorang anak hingga sebuah tragedi kecelakaan menimpa Amira yang membuatnya hilang tanpa jejak.
Di tengah keterpurukannya, Hana yang merupakan sahabat baik Amira datang ke dalam kehidupan Farel. Sinta menggunakan kesempatan itu untuk menyatukan Farel dan Hana agar ia segera mendapatkan seorang cucu.
Satu tahun pernikahan Farel dan Hana, Amira kembali ke dalam kehidupan Farel dibantu oleh Raihan. Amira semakin berani melawan orang - orang yang telah merebut semua kebahagiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DianPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Halusinasi
Amira berjalan menuju ke Rumah Pavilliun dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat banyak sekali makanan. Sesampainya di Rumah Pavilliun, Amira langsung mengetuk pintu Rumah Pavilliun tersebut. Tak lama kemudian, Pintu Rumah Pavilliun tersebut pun terbuka dan ternyata yang membukakan pintu Rumah Pavilliun tersebut adalah Raihan.
"Mau apa kesini, Amira,"
"Aku hanya ingin memberikanmu makanan ini untuk makan malam saja soalnya kamu kan tadi tidak ikut makan malam bersama dengan kami semua,"
Amira pun berjalan masuk begitu saja melewati Raihan dan langsung meletakkan nampan berisi makanan tersebut di atas meja yang terdapat di situ.
"Sudah selesai,"
"Sudah," Amira membalikkan tubuhnya dan tersenyum kepada Raihan.
"Sekarang kamu pergilah dari sini, Amira. Soalnya gak enak kalau sampai Farel tau istrinya ada di Rumah Pavilliun bersama Bodyguardnya,"
"Mau sampai kapan kamu terus berbicara formal seperti ini padaku, Raihan,"
"Bukannya ini yang kamu mau, Amira,"
"Kamu kan yang mau aku menghindar dan menjauh darimu,"
"Raihan, aku cuma mau kamu mengerti posisiku sekarang ini bukan mau kamu menjauh dariku,"
"Amira, aku terkadang bingung dengan dirimu,"
"Apa sih yang kamu harapkan dari suami kamu yang sudah mengkhianatimu itu,"
"Dan apa yang kamu harapankan dari suami pengecut seperti dia,"
"Kalau kamu memang punya perasaan denganku juga,"
"Kenapa kita gak pergi saja dari rumah ini dan kamu menikah saja denganku, kamu ceraikan Farel. Lagipula kan kamu juga sudah mendapatkan perusahaanmu kembali,"
"Gak semudah itu, Raihan,"
"Gak semudah itu. Walaupun aku punya perasaan sama kamu tapi kenanganku dengan Farel lebih banyak daripada kenanganku bersama denganmu, Raihan,"
"Sepuluh tahun aku menikah dengannya, sepuluh tahun juga aku berjuang bersama untuk mendapatkan seorang anak, sepuluh tahun juga Raihan, Farel selalu membelaku di depan ibunya,"
"Jadi gak akan semudah itu untuk aku bisa meninggalkan semua kenangan itu,"
"Aku memang tidak mau di madu. Tapi ini sudah takdirku,"
"Aku benar - benar gak habis pikir lagi sama kamu, Amira,"
"Kamu itu wanita macam apa sih, kamu itu berhak loh untuk bahagia,"
"Dan kebahagiaanku itu bersama dengan Farel, Raihan,"
"Kebahagiaanmu dengan Farel itu semua semu, Amira,"
"Kamu gak mungkin bisa bahagia ketika kamu harus berbagi suami dengan sahabat kamu sendiri,"
"Hanya wanita munafik lah yang bilang bahwa dia akan baik - baik saja ketika melihat suami memiliki istri lain,"
...*******************...
Di tengah - tengah keributan Raihan dan Amira, Sinta yang sedang memikirkan cara lain untuk menyingkirkan Amira dari rumah itu pun tiba - tiba merasakan sakit yang sangat dahsyat di kepalanya.
"Aaahhhhhh, sakit sekali," Teriak Sinta sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Karena sakit di kepalanya yang tidak tertahankan, Sinta pun akhirnya jatuh terduduk di atas tempat tidurnya. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya sakit di kepalanya itu mulai sedikit reda. Sinta pun kembali mencoba untuk bangkit berdiri.
"Sintaaa," Suara bisikan misterius terdengar sayup - sayup di telinganya.
Sinta yang sudah mulai berhalusinasi pun mulai mendengar suara bisikan - bisikan misterius yang sangat mengerikan.
"Siapa itu," Teriak Sinta.
"Sintaaa," Suara bisikan misterius tersebut semakin dekat.
"Siapa itu," Teriak Sinta.
Sinta mulai ketakutan dan kebingungan karena halusinasinya itu.
"Sinta," Suara bisikan misterius tersebut terdengar semakin dekat dan sekarang seperti terdengar di belakangnya.
Sinta dengan perasaan yang sangat takut pun memberanikan dirinya untuk melihat ke arah belakang. Dan ketika ia melihat ke belakang tidak ada satu orang pun di belakangnya. Sinta pun mulai bisa bernafas lega dan kembali melihat ke arah depan. Dan betapa terkejutnya ia melihat sesosok wanita bergaun putih dengan wajah yang sepertinya di kenal oleh Sinta.
"Sinta," Sosok itu tersenyum memanggil nama Sinta.
"Monica," Panggil Sinta dengan terkejut.
"Enggak, gak. Ini gak mungkin kamu,"
"Kamu kan sudah mati,"
"Dan sekarang giliran kamu yang harus mati, Sinta," Sosok Monica berjalan perlahan mendekati Sinta dan Sinta pun mulai panik. Ia mulai berteriak histeris seperti orang gila.
"Pergi, pergi, pergi,"
"Pergi kamu dari sini, Monica,"
"Kamu sudah mati,"
Sinta terus berteriak sambil melemparkan barang - barang apapun yang ada di dekatnya. Sinta semakin ketakutan ketika melihat sosok Monica tidak hilang dari pandangannya hingga ia pun terduduk di sudut kamar dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetaran.
...********************...
Suara teriakan Amira terdengar hingga ke Rumah Pavilliun. Amira yang mendengar suara teriakan dari Sinta pun menjadi panik.
"Pergi, pergi, pergi," teriakan Sinta yang terdengar hingga ke Rumah Pavilliun.
"Raihan, Mama Sinta kenapa ya kok dia berteriak histeris seperti itu sih,"
"Kita lihat dia yuk, Raihan,"
"Iya, ayuk Amira,"
Raihan dan Amira pun langsung berlari menuju ke Rumah Utama. Sesampainya di Rumah Utama, Raihan dan Amira pun langsung bergegas pergi ke kamar Sinta setelah mendengar beberapa keributan dari sana. Sesampainya di depan Kamar Sinta, terlihat Hana dan Farel yang sudah berdiri di depan Kamar Sinta sambil mencoba membuka pintu Kamar Sinta yang terkunci. Amira yang panik melihat semua kejadian ini pun langsung berjalan mendekati Farel dan Hana.
"Mas, Mama kenapa?,"
"Aku juga gak tau sayang, aku kesini itu setelah mendengar teriakan dari Mama,"
Raihan yang berdiri agak jauh di belakang Amira, Hana, dan Farel pun tersenyum melihat mereka semua yang tengah panik dengan keadaan Sinta.
"Aku senang melihat keluarga ini panik seperti ini. Tapi malam ini aku lebih senang lagi karena melihat penderitaan yang di rasakan oleh Sinta," Pinta Raihan dalam hatinya sambil tersenyum puas.
Setelah beberapa lama Farel berusaha mencoba untuk membuka pintu Kamar Sinta pun akhirnya berhasil juga. Setelah Pintu Kamar Sinta terbuka pun mereka semua langsung bergegas masuk ke dalam kamar sementara Raihan tidak seperti yang lainnya, ia berjalan dengan santai masuk ke dalam Kamar Sinta.
Di dalam Kamar Sinta, terlihat Sinta yang terduduk di sudut kamarnya seperti orang yang ketakutan. Wajahnya yang pucat dan seluruh tubuhnya yang gemetaran menandakan bahwa ia benar - benar sangat ketakutan dan tidak sedang bersandiwara.
Farel yang merasa khawatir dengan keadaan Sinta pun langsung berjalan mendekati Sinta yang sedang ketakutan terduduk di sudut kamarnya.
"Tante Sinta kenapa ya kok tiba - tiba kelakuannya jadi aneh gitu perasaan tadi pas makan malam baik - baik aja," Pinta Hana dalam hatinya.
"Ma, Mama kenapa sih kok jadi kayak ketakutan begini,"
"Pergi, Pergi, Pergi,"
Farel mulai menurunkan posisi tubuhnya dengan melipat kedua lututnya dan bertumpu pada kedua telapak kakinya.
"Ma, Ini Farel Ma,"
"Pergi, pergi, pergi,"
"Istighfar Ma, Istighfar. Ini Farel Ma,"
"Anak Mama,"
"Enggak, Gak. Kamu bukan Farel anakku, pergi. Kamu itu hantu jahat," Sinta mendorong Farel dengan keras hingga ia terjatuh.
Sinta pun bangkit berdiri dan ingin berlari keluar kamarnya tetapi langkah kakinya terhenti seketika melihat Amira yang di dalam bayangannya ada sosok Monica yang dengan wujud yang menyeramkan. Sinta pun semakin ketakutan hingga ia pun sudah mulai hilang kendali. Ia mengambil Vas bunga yang berada tepat di atas meja di sebelahnya dan melemparkannya tepat ke arah Amira.
"Pergi kamu dari sini, Kamu itu sudah mati," Teriak Sinta sambil melemparkan Vas bunga yang ia pegang ke arah Amira.
Raihan yang tau Amira sedang dalam bahaya pun langsung melindunginya dengan cara memeluknya dan akhirnya kepala Raihan lah yang terkena Vas bunga yang di lemparkan oleh Sinta. Amira pun sangat terkejut melihat Raihan yang rela terluka untuk kedua kalinya demi untuk melindungi dirinya hingga ia hanya bisa berdiri terdiam kaku di dalam pelukan Raihan.
"Raihan," Ucap Amira yang terlihat terkejut melihat semua kejadian itu dan Raihan pun hanya menjawabnya dengan senyuman.
Lalu, tubuh Raihan pun mulai melemah hingga ia pun akan terjatuh ke lantai. Tetapi Amira dengan sigap langsung menangkapnya dan ia pun langsung meletakkan kepala Raihan di atas pangkuannya. Amira pun mulai menangis histeris melihat Raihan yang sudah mulai kehilangan kesadarannya.
"Raihan,"
"Bangun, Raihan,"
"Raihan,"
Amira mulai semakin panik melihat darah yang terus keluar semakin banyak dari kepala Raihan.
"Raihan, bangun,"
"Bangun, Raihan,"
"Raihaaannn," teriak Amira sambil menangis histeris.
Teriakan dan tangisan Amira menggema di seluruh ruangan tersebut. Farel dan Hana pun hanya bisa berdiri terdiam tanpa bisa melakukan apapun melihat Amira yang menangis histeris di atas tubuh Raihan yang sudah terbaring lemah tak berdaya di atas pangkuannya.
"Hallo Readers, ini adalah novel pertama author. Mohon maaf kalau ada typo dan kesalahan yang lainnya. Berikan like dan pilih episode favorite kalian, dukungan kalian sangat berarti untuk melanjutkan Novel ini"
Terima Kasih🥰🤗🤩