Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
“Kamu tau gak suaminya teman kamu mulai kerja di kantorku hari ini.”
“Temenku siapa?” Nisa menautkan kedua alisnya.
“Temen kamu orang Bandung yang nusuk kamu dari belakang tuh.”
“Hah? Gita?”
“Iya. Aku sendiri lupa dulu waktu kita ke Bandung pernah nawarin kerjaan ke mereka. Dia sarjana ekonomi, dan aku tempatkan dia di divisi keuangan.”
“Syukur, deh. Kasian aku sama mereka.”
“Iya, Nis. Dia cerita anaknya yang sulung sakit-sakitan. Gak tau sakit apaan, dia gak cerita.”
Nisa terdiam. Apakah ini karma yang harus Gita tanggung atas perlakuan terhadapnya dan terutama pada Viko? Nisa menggeleng pelan. Dia tidak mau berpikir seperti itu.
“Gimana hari pertama masuk kerja lagi, Sayang?” Seno menghampiri Nisa dan memeluknya dari belakang yang sedang menghapus makeupnya di meja rias.
“Aku diledekin abis-abisan sama mereka tau gak. Nyebelin banget.”
“Biasa kalo itu, cuekin aja.” Setelah berucap seperti itu, Seno mencium pundak Nisa lalu ke leher. Nisa sampai bergidik geli.
“Sen, kamu apaan, sih. Aku lagi bersihin muka.”
“Gak apa-apa kamu lanjutin aja bersihin mukanya, jangan ngerasa keganggu.”
Jelas aku keganggu, geli tauk! Sungut.Nisa dalam hati.
“Sekarang gak ada yang bisa gangguin kita lagi, si Angga udah aku suruh tinggal di apartemenku.”
“Hah? Serius?”
Seno berdiri dengan lutut di samping Nisa. “Serius. Dia tinggal di sana aja, biar gak kosong juga kan? Oh iya, kode pintu apartemen kamu udah aku ganti jadi tanggal pernikahan kita.”
Nisa tersenyum geli. “Kamu trauma ya, tiba-tiba si Angga mergokin kita?”
Seno berdiri, lalu memeluk Nisa lagi dari belakang lagi. “Iya, malu banget tau, biar kata si Angga adik kamu, tetep aja malu kan?”
“Hehehe iya, aku juga malu.”
“Hm, Nis, malam ini boleh?”
“Apaan?” Nisa pura-pura polos. Hari ini sebenarnya dia capek banget pengen cepat-cepat istirahat.
“Kamu jangan pura-pura gak ngerti deh, kemarin kan belum gol. Kamu masih perawan dikit tuh.”
Nisa tergelak. “Ya Ampun.”
“Besok aku mau meeting ama klien kelas kakap nih.”
“Loh, apa hubungannya?”
“Aku kasih tau ya, Nis. Bagi semua cowok, s*x itu penting banget, mereka akan senewen seharian, sakit kepala kalau hasratnya itu enggak tersalurkan, nah biar besok lancar, dan aku enggak senewen seharian, jadi bolehkan malam ini aku lanjutin yang kemarin belum gol?”
Sepenting itu kan s*x buat cowok? Aduh gue capek banget nih, padahal.
Nisa balik badan menghadap suaminya. Dan Seno berdiri dengan kedua lututnya mensejajarkan tingginya dengan Nisa “Jika ini ladang pahala buat aku, boleh deh,” ucap Nisa sambil mengulum senyum.
“Kok ada dehnya?”
“Boleh, Sayangku.” Nisa mengedipkan matanya. Seno dibuat gemas lantas memencet hidung istrinya itu.
“Kamu inget gak waktu di Singapore dulu?” tanya Nisa.
“Apa?”
“Kamu itu, suka banget mencetin idung aku gini, katanya hidung aku bagus. Dan kamu mengetesnya dengan mencet-mencet hidung aku takutnya palsu hasil operasi plastik. Hahaha. Inget gak?”
“Hehe iya aku inget. Hidung kamu asli ternyata.” Seno tergelak.
“Hei, semua yang melekat di diri aku itu original, Sukabumi punya.”
“Dan aku adalah orang yang paling beruntung bisa ngedapetin si original itu,” ucap Seno pelan.
Tatapan Seno tiba-tiba meredup, terasa syahdu, tatapan penuh cinta seorang laki-laki yang menghamba pada seorang wanita. Nisa merasa terbang ditatap seperti itu. Kupu-kupu pun seperti menari-nari di perutnya, bikin dia mulas namun juga senang. Selama dua belas tahun mengenalnya, baru beberapa kali Nisa melihat tatapan Seno seperti itu. Dan dia merasa paling beruntung menjadi satu-satunya wanita yang ditatapnya seperti itu.
Ya ampun, Sen, gue klepek-klepek nih. Ternyata tatapan maut lo kayak gini. Gak kuat banget! tutur Nisa dalam hati.
“Mau aku gendong ke kasur?” tanya Seno. Jantung Nisa kembali berdetak cepat. “Hah? E_enggak deh, jalan aja,” ucap Nisa gugup.
Seno bangkit berdiri, tanpa konfirmasi lagi dia mengangkat tubuh istrinya. Kaget dan senang bercampur dalam hati Nisa. Dia pun pasrah. Perlahan tangannya melingkar ke leher Seno dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
Seno meletakan tubuh istrinya di tempat tidur. Setelah itu, Seno mencium Nisa tanpa ampun, tanpa dia berikan kesempatan bernapas sedetik pun. Namun, Nisa senang. Tidak ada satu pun alat yang bisa mengukur kebahagiannya saat ini. Menikah dengan sahabat sendiri itu sangat menyenangkan. Sungguh!
Selamanya dia ingin seperti ini, dicintai setengah mati oleh laki-laki bernama Senopati. Semoga kedepannya tidak ada hal yang bisa memudarkan rasa cintanya.
***
Suasana kantor North Oil, siang itu sedikit lengang karena para karyawan sedang istirahat makan siang. Seno dan Aldi disuruh datang buat meeting final saat jam istirahat sekalian makan siang bersama mereka.
Setelah makan siang, meeting pun dimulai. Seno tidak menyangka, Bos besar dari perusahaan itu ternyata seorang wanita cantik berumur empat puluhan, dan kabarnya dia seorang janda. Desas desus yang Seno dengar, suaminya yang seorang bule kepincut artis ibu kota. Gila ya, bini cantik bening kayak gini, pinter pula, masih aja cari yang lain, batin Seno.
“Oke saya setuju dengan konsepnya. Jadi kapan mulai produksi iklannya?” tanya Bos North Oil, bernama Martha Dhup itu.
“Besok kita mulai cari cast-nya, Bu, sebenarnya sudah ada artis yang kita targetkan, mudah-mudahan kita bisa bekerja sama dengan dia,” ucap Seno.
“Jangan pangil Bu, dong, Tata aja.”
“Hah?” Seno terlohok. Dia dan Aldi saling pandang.
Feeling kuat Seno bekerja. Dia merasa wanita itu menyukainya. Terlihat dari tadi dia berusaha mengorek-ngorek hal pribadinya.
“Oh, iya, Ta_ta.” Seno berucap canggung.
“Nah, gitu dong. Mas Seno udah nikah?”
Seno terkejut mendengar pertanyaan itu, si Aldi juga kayaknya.
“Alhamdulillah sudah,” jawab Seno.
“Beruntungnya yang jadi istrimu, kamu keren, ganteng, pinter, seorang Bos pula.”
Seno menunduk sambil tersenyum kaku. Wah, kagak beres nih, kenapa jadi melebar gini urusannye?
“Kalau Mas Seno ada waktu, nanti kapan-kapan boleh kita makan siang bersama lagi?”
“Apa? Hm, maaf Tata, sepertinya tidak bisa. Saya sibuk, harus menangani klien yang lain juga.”
“Wow, kamu sibuk banget ya ternyata.”
What kamu? Dia sudah berani menyebut Seno kamu. Padahal pertama bertemu masih menyebut Anda. Aldi melirik-lirik bosnya antara geli dan kasihan.
“Iya. Saya sibuk terus tiap hari.”
“Ya sudah kalau gitu. Nanti saya hubungin lagi buat ngebahas iklan produk kami,” ucapnya sedikit kecewa. Martha bangkit berdiri disusul Seno dan Aldi.
Setelah bersalaman, tanpa diduga Martha mencium pipi Seno. Dan itu sukses membuat Seno kaget setengah mati dan membeku di tempatnya berdiri. Aldi menganga tidak kalah kagetnya dengan Seno.
***
“Al, kalo adegan tadi dipergokin bini gue, saat itu juga gue the end! Gila ya, baru tau gue, ternyata Bu Martha janda genit.”
“Janda gatel. Hahaha.” Aldi tergelak-gelak.
“Gue jadi takut ketemu dia lagi.”
“Kalau menurut gue, Bu Martha itu klien kita yang naksir Bos paling berani. Gila, ampe kiss pipi segala.”
Ucapan Aldi memang benar. Selama ini, Seno sudah beberapa kali ditaksir kliennya sendiri, Nisa tidak tahu hal itu. Menurut Seno itu tidak penting buat diceritain.
“Udahlah, kita stop bahas janda gatel itu. Besok kita mulai produksi proyek ini, siapin semuanya Al. Gue nanti yang akan ngehubungin artis itu.”
“Siap, Bos.”
“Oh iya, Al, bulan depan gue mau ke Manchester lagi buat wisuda, entar biasa elo yang hendel semuanya. Dan__”
“Dan apa, Bos?”
“Dan saat gue ke Swiss juga.”
“Swiss?” Aldi bertanya bingung, mau ngapain bosnya pergi ke sana.
“Istri gue pengen bulan madu ke sana.”
“Widih, keren. Swiss kan dingin tuh, entar pulang-pulang harus dapet oleh-oleh, Bos.”
“Oleh-oleh apaan?” Seno menautkan kedua alis tebalnya.
“Oleh-oleh adek bayi.”
Seno tergelak. “Doain.”
***
sumpah
lanjutt thorr