Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 ( Pergi )
Benazir hanya menatap sinis kearah Maher. Ia tak mengerti, walau mulut Maher mengatakan tak pernah bisa mencintai istrinya, tapi ada dua orang anak yang hadir dalam pernikahannya dengan Mutia.
" Ga cinta tapi bisa lahir dua Anak. Aneh...," kata Benazir sinis sambil melengos.
" Mmm, soal itu Aku minta maaf. Aku laki-laki normal, Aku pasti tertarik lah kalo disuguhin yang kaya gitu setiap hari...," kata Maher membela diri.
" Kamu pikir apa Istri dan dua Anakmu itu Kak. Apa Kamu ga punya hati nurani ngomong kaya gitu barusan. Aku ga kenal kepribadian Kamu yang kaya gini Kak. Ternyata Aku udah salah menilai Kamu selama ini...," kata Benazir gusar sambil menggelengkan kepalanya. Kekecewaan terpatri jelas di wajahnya.
" Tolong kasih Aku kesempatan buat ngurus semuanya Sayang. Tapi tolong jangan tinggalin Aku ya. Aku cinta sama Kamu...," kata Maher sambil berusaha meraih tangan Benazir.
" Apa maksud Kamu ngurus semuanya. Apa Kamu bakal menceraikan dia terus nikah sama Aku. Aku ga mau Kak. Aku sakit hati saat mantan Suamiku mendua dengan perempuan lain dan Aku benci pelakor itu. Makanya sampe kapan pun Aku ga mau jadi pelakor...!" kata Benazir tegas sambil menepis tangan Maher.
" Ok, Aku tau Aku salah. Tapi Kamu juga harus mengerti posisi Aku Naz. Aku...," ucapan Maher terputus karena dengan cepat Benazir menyambung ucapannya.
" Sejak awal hubungan Kita ini emang salah Kak. Aku ga teliti dan nerima Kamu begitu aja. Dan Kamu, Kamu dengan kebohonganmu itu memanfaatkan keadaanku untuk masuk ke dalam hidupku. Dasar jahat. Mulai sekarang jangan temui Aku lagi...!" kata Benazir sambil berdiri dan bersiap melangkah.
Maher berniat mengejar tapi Benazir mencegahnya dengan mengembangkan telapak tangannya ke hadapan Maher.
" Ga usah kejar Aku kalo Kamu mau tetap utuh dan selamat. Aku datang sama Kakakku dan Kamu udah tau gimana dia kan...," ancam Benazir lalu kembali melangkah meninggalkan kafe itu dengan perasaan tenang.
Dari tempatnya berdiri Maher melihat Gama sedang berdiri di samping mobil dan tengah memperhatikan dirinya. Maher mengenal karakter Gama yang keras sejak masih sekolah dulu. Dia juga ingat ada beberapa teman sekolahnya yang babak belur saat mencoba mengganggu Benazir. Dan Maher hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menahan kesal karena gagal mempersunting Benazir, wanita yang dicintainya sejak ia remaja.
\=\=\=\=\=
Mutia nampak melamun di kamarnya. Ia menatap keluar jendela dengan perasaan sakit yang mendalam. Setelah mendengar pengakuan suaminya di kafe tadi, Mutia merasa menjadi wanita yang tak berharga.
" Serendah itu Aku di matamu Kak. Pengorbananku selama ini ga ada artinya sama sekali. Kamu juga nyalahin Aku atas kehadiran Anak-anak. Aku kecewa Kamu ga mau mengakui mereka...," gumam Mutia sambil menangis.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan di luar kamar. Rupanya kedua anak lelaki Mutia sedang bertengkar meributkan sesuatu. Hingga akhirnya sang adik menangis seperti biasa. Mutia segera menghapus air matanya dan menghampiri anaknya.
" Ada apaan sih, kok pake nangis lagi. Bukannya tadi Mama liat baik-baik aja ya...," kata Mutia melerai anaknya Miko dan Marshel.
" Abang nakal Ma. Robot Aku di tarik tangannya sampe patah...," adu Marshel.
" Ga sengaja Ma. Tapi Marshel malah mukulin Aku pake pedang, kan sakit. Makanya Aku balas...," sahut Miko sambil menepi.
" Kalian ini kan cuma berdua. Kenapa ribut terus sih. Coba liat Ahmad sama lima Adiknya, dia aja bisa hidup rukun tapi kenapa Kalian ga bisa...," keluh Mutia sambil memijit kepalanya.
" Karena Adiknya Ahmad ga nakal Ma. Ga kaya Marshel...," kata Miko cepat.
" Tapi Bang Ahmad juga sayang sama Adiknya makanya mereka ga pernah ribut...," sahut Marshel tak mau kalah.
" Nah itu Kalian udah tau jawabnya. Ya udah tinggal praktekin aja kan. Udah besar, kaya gini aja mesti diajarin...," gerutu Mutia sambil melangkah ke dapur.
Miko dan Marshel terdiam dan saling menatap. Mereka melihat wajah sang mama yang berbeda dari biasanya. Lalu mereka berlari mengejar sang mama dan memeluknya erat.
" Maaf Mama...," kata Miko dan Marshel bersamaan.
Mutia terdiam sambil meresapi pelukan kedua anaknya. Air mata tak lagi terbendung. Mutia pun menangis dan membuat kedua anaknya panik. Mutia terisak dengan air mata yang menderas di wajahnya. Rasa sakit hati, kecewa, marah, semua berkumpul menjadi satu hingga membuat Mutia terduduk sambil menangis di pelukan kedua anaknya.
" Mama kenapa Bang. Aku nakal banget ya sampe bikin Mama nangis kaya gini...?" tanya Marshel sedih.
" Kayanya Kita udah keterlaluan deh. Makanya Mama nangis karena capek bilangin Kita...," sahut Miko sambil mempererat pelukannya pada sang mama.
Mendengar ucapan kedua anaknya membuat hati Mutia seperti teriris. Ia teringat ucapan suaminya yang seolah menyalahkan dirinya hingga membuat kedua jagoan ciliknya itu lahir ke dunia. Mutia balas memeluk kedua anaknya.
" Jangan berantem lagi ya. Kita cuma bertiga sekarang. Kalo Kalian kaya gini terus, gimana Mama bisa bertahan...," bisik Mutia parau.
" Emang Papa kenapa Ma. Apa Papa mau pergi...?" tanya Miko.
" Bukan, tapi Kita yang bakal pergi. Papa ga bahagia hidup sama Kita karena Papa ga sayang sama Kita. Lebih baik Kita pergi dan kasih kesempatan Papa buat bahagia sama orang lain. Setuju...?" tanya Mutia lembut dan diangguki kedua anaknya.
" Iya Ma. Gapapa Kita bertiga aja. Nanti Aku bantuin Mama cari uang ya. Mama tenang aja...," sahut Marshel.
" Aku juga Ma. Aku bakal jadi Bos nanti biar Mama ga usah capek kerja...," sambung Miko semangat.
" Asal Kalian sehat dan terus sekolah, Mama udah senang kok. Jadi Anak baik dan rajin biar Kita bisa hadapi semua sama-sama nanti...," kata Mutia lagi.
" Ok Ma. Sekarang Aku mau beresin baju dulu ya Ma...," kata Miko diikuti sang adik.
Mutia mengangguk. Ia bersyukur karena kedua anaknya mengerti kondisinya saat ini. Kedua anaknya sudah tahu jika kedua orangtuanya bukan lah pasangan harmonis. Mereka sering mendengar keributan kedua orangtuanya saat mereka di rumah. Dan mereka mengetahui pangkal masalah yang membuat keributan itu adalah sikap tak puas Maher dengan apa pun yang dilakukan Mutia. Dan mereka lah yang menghibur Mutia setelah Maher pergi meninggalkan ruangan yang berantakan seperti kapal pecah.
Mutia beranjak ke kamar untuk membantu kedua anaknya berkemas. Ia membantu memilah barang apa saja yang mereka perlukan nanti.
" Apa Aku masih boleh sekolah nanti Ma...?" tanya Marshel polos.
" Tentu dong Sayang. Nih Mama udah siapin dokumen Kalian biar bisa daftar ke sekolah yang baru nanti...," sahut Mutia sambil tersenyum.
" Udah segini aja Ma...?" tanya Miko.
" Iya...," sahut Mutia.
" Terus Mama ga siapin baju sama dokumen Mama...?" tanya Miko.
" Udah. Tinggal bawa aja. Yuk Kita pergi sekarang...," ajak Mutia yang memang telah mempersiapkan segalanya sejak ia mengetahui skandal suaminya itu beberapa hari yang lalu.
Mutia pun membawa kedua anaknya pergi meninggalkan Maher tanpa pamit. Setelah bertahun-tahun mencoba bersabar menghadapi Maher, akhirnya Mutia memutuskan tak akan menghabiskan hidupnya dan kedua anaknya bersama pria yang hanya menorehkan derita untuk mereka.
Mutia menoleh sekali lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam Taxi. Ia berharap hidupnya dan kedua anaknya akan lebih baik setelah keluar dari rumah itu.
bersambung