Cerita 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Haidar Wiratama, pemuda berumur 22 tahun. Ia yang lahir di keluarga biasa mungkin tidak bisa menikmati hidup layaknya anak lain. Namun, Haidar tidak pernah menyerah untuk membahagiakan sang ibu yang sudah merawatnya, kenakalannya saat kecil membawanya pada Audrey, ibu dua anak di mana salah satu anaknya yang satu kelas dengan Haidar sering bertengkar dengan pemuda itu.
Lavina Aurora Mahavir, putri Audrey sering bertengkar dengan Haidar saat kecil. Namun, siapa sangka di balik kenakalan gadis kecil itu, ia hanya ingin diperhatikan Haidar karena bocah itu dulu sering di puja-puja para gadis seumurannya.
Lalu, akankah Haidar mencintai Nana dan juga sebaliknya? Cari jawabannya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencuri Ciuman
Haidar berjalan di lorong rumah sakit, ia baru saja bertemu dengan dokter yang memeriksa keadaan ibunya. Dokter mengatakan jika Linda harus melakukan serangkaian tes untuk memastika penyakit wanita itu. Haidar terlihat mendesah kasar, ia paling tidak bisa melihat ibunya itu sakit.
Pemuda itu menarik napas panjang sebelum membuka gagang pintu kamar inap Linda. Namun, tangannya terhenti ketika mendengar suara dari dalam. Haidar pun mengurungkan niat membuka pintu dan menengok dari kaca yang terdapat di pintu.
"Oh jadi kamu Nana yang dulu sering bertengkar dengan Haidar," kata Linda.
Nana mengatakan jika dirinya adalah teman Haidar sewaktu sekolah dulu.
"Berarti kamu majikannya sekarang, 'kan?" tanya Linda.
"Anda kok tahu?" tanya Nana balik.
Linda tertawa kecil, ia lantas mengatakan jika Haidar pernah bercerita jika majikannya adalah Nana temannya saat sekolah dasar.
"Bocah itu! Ternyata dia ingat!" gerutu Nana dalam hati.
"Maaf, jika dulu Haidar sangat nakal," ucap Linda kemudian.
Nana terdiam, ia bisa melihat kesedihan di wajah wanita itu. Dulu dia sering sekali menjahili dan mengatakan hal yang menyakiti hati Haidar, kini Nana merasa menyesal.
Haidar yang merasa jika Linda akan bicara lebih banyak lagi pun kembali meraih gagag pintu hendak masuk. Namun, gerakan tangannya terhenti lagi saat Nana bicara.
"Sebenarnya Haidar tidak nakal, dia baik. Mungkin aku saja yang merasa iri hingga akhirnya membuat masalah untuknya. Aku juga minta maaf, Bu!" tutur Nana penuh penyesalan.
Linda tersenyum, ia senang karena Haidar masih memiliki teman yang mengerti kondisinya dan bisa menerima pemuda itu.
Haidar tersenyum tipis mendengar penuturan Nana, ia membuka pintu perlahan dan berjalan masuk. Haidar sedikit berdeham, hingga membuat Nana terkejut. Gadis itu secra impulsif berdiri bahkan kakinya sampai membentur lemari kecil yang terdapat di sisi ranjang.
"Aduh, aw!" pekiknya.
Haidar menahan tawa melihat Nana yang kikuk, ia sampai menggosok hidungnya dengan jari telunjuk.
"Oh, Nona Nana. Ada apa ke sini?" tanya Haidar masih mencoba menahan tawa.
Nana yang tahu jika Haidar ingin menertawakannya pun merasa kesal sendiri. Mulutnya tampak komat-kamit karena sebal, sedangkan tangannya terlihat mengusap kakinya yang membentur meja.
"Aku mau jenguk ibu kamu, sekalian mau yang aku omongin ke kamu," jawab Nana menatap tajam pada Haidar.
"Oke!"
"Bu, aku izin bicara sama Haidar bentar," pamit Nana kepada Linda.
Linda mengiyakan seraya menganggukan kepala. Nana pun berjalan melewati Haidar menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.
"Dar, jangan nakal!" Linda memperingatkan seakan Haidar adalah anak Sd yang suka membuat masalah.
Haidar mengerlingkan satu mata lantas menunjukkan jemar telunjuk dan jempol yang sudah membentuk huruf 'Ok'.
Nana mengajak Haidar di bangku taman rumah sakit, ia tidak ingin jika mengganggu istirahat Linda. Kini mereka duduk dan sama-sama diam, sudah sekitar sepuluh menit mereka dalam posisi begitu, hingga perawat atau pengunjung yang berlalu-lalang tampak mengamati keduanya.
"Mau omong apa?" tanya Haidar yang akhirnya membuka pembicaraan, pemuda itu menoleh pada Nana.
Nana sedikit berdeham meski tenggorokannya tidak gatal, ia menoleh ke arah Haidar dan terkejut karena ternyata jarak mereka begitu dekat. Nana pun menggeser sedikit posisi duduknya.
"Soal kemarin, lupakan saja! Anggap saja aku khilaf dan tidak sengaja," jawab Nana yang langsung memalingkan wajah dari Haidar.
Haidar mengernyitkan dahi, tidak menyangka jika Nana akan meminta dirinya melupakan itu.
"Kamu ke sini hanya untuk bicara itu?" tanya Haidar yang sebenarnya di luar ekspetasinya. Ia pikir setidaknya Nana menanyakan kenapa dia tidak masuk meskipun sudah tahu kalau dia menunggu ibunya, berbasa-basi tidak masalah, 'kan! Itulah yang ada di pikiran Haidar.
"Ya." Nana langsung berdiri, dia merapikan tepian roknya.
"Aku harus kembali ke kantor," ucap Nana seraya membetulkan tali tas yang tersemat di pundak.
Nana berjalan ke arah pintu keluar rumah sakit, hingga suara Haidar menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
Nana menoleh dan melihat pemuda itu berjalan ke arahnya, Haidar menatap lekat ke arah Nana, membuat jantung gadis itu berdegup dengan kencang.
Haidar berdiri tepat di hadapan nana, membuat gadis itu sedikit mendongak agar bisa melihat wajah Haidar. Haidar bersidekap, ia terlihat santai meski Nana begitu tegang.
Haidar sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Nana, membuat gadis itu memundurkan kepala. Lalu ia pun berkata, "Setelah mencuri ciuman pertamaku, lalu kamu mau kabur begitu saja!"
Kata yang keluar dari mulut Haidar membuat Nana sampai menelan saliva, ia tidak mengerti apa maksud Haidar.
"Me-memangnya aku harus membayarnya? Penjara akan penuh kalau hanya mencuri ciuman saja di laporkan ke pihak yang berwajib." Nana mencoba membela diri meski dirinya sendiri sebenarnya begitu gugup. "Pencuri ayam tetangga saja sudah cukup memenuhi sel penjara, masa iya cuman cium dipermasalahkan," gumam Nana lagi, gadis itu memalingkan wajahnya karena terlalu gugup jika harus menatap Haidar.
Haidar memundurkan kepalanya, berdiri tegap dengan tatapan yang masih tertuju pada Nana.Haidar menahan tawanya, ia merasa gemas dengan tiap ucapan yang keluar dari bibir gadis itu, mengerjai Nana memang hal yang paling menyenangkan untuk pemuda itu.
"Polisi ya? Boleh tuh!" balas Haidar.
"Hah! A-apa?" tanya Nana bingung tidak percaya.
"Aku tidak akan melupakan ciuman itu dan aku akan meminta pertanggung jawaban darimu," ujar Haidar yang tentu saja membuat mulut Nana menganga tidak percaya.
"Sudah, aku mau ngurus ibu dulu," ucap Haidar seraya membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Nana.
Nana yang masih tidak percaya dengan ucapan pemuda itu lantas mengejar dan meraih lengan Haidar. Membuat pemuda itu tertarik hingga hampir membentur tubuh Nana.
"Pertanggung jawaban apa?"
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
lanjut..
tp sbnrnya aq juga masih Penasaran ma kisah cintanya mama SL sama arlan chika.
apa judul nya?
aq lupa.
udh klik profil author juga ga nemu.