Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FARAH
Matanya sembab, untung saja perjalanan tadi tidak membahayakan Sinta. Dengan emosi dan perasaan yang tidak karuan akhirnya janda itu berhasil sampai di rumahnya. Perempuan itu masih belum masuk ke dalam, duduk di teras sedikit menenangkan pikirannya. Terngiang kembali ucapan Dewi yang begitu menyakitkan, Punggungnya menempel di tembok, tangannya menyingkirkan anak rambut yang mengganggu pandangannya. Sinta menatap ke arah pintu masuk yang masih tertutup, dengan langkah gontai akhirnya Sinta memilih untuk masuk. Membersihkan diri lalu beristirahat.
*****
"Benar ini rumahnya Sinta?" perempuan dengan dress di atas lutut dan juga tas bermerk yang tersampir sempurna di lengan itu, Siti menatap heran dengan tamu di pagi buta yang menanyakan boss nya.
"Iya, Mbak ini siapa ya?"
"Aku Farah, teman se kantor Sinta."
Siti menangguk lalu menggeser tubuhnya untuk memberi jalan kepada Farah agar masuk ke dalam, sang tamu meneliti keadaan rumah itu. Pikirnya rumah itu sangat kumuh dan tidak sesuai dengan mobil yang selalu Sinta bawa, mobil merah sport yang terparkir didepan rumah itu. Setelah berhasil dan cukup puas mengamati, Farah duduk dengan gaya sombongnya. Siti yang melihat hanya tersenyum canggung, setelah itu dia berlalu menuju kamar Sinta untuk memberitahu jika ada tamu.
Yang dituju kebetulan sedang menyusui James, perempuan itu terlihat belum mandi. Mengingat ini adalah hari libur dan Sinta sedikit santai untuk tidak terburu-buru dandan rapi.
"Bu Sinta, didepan ada Mbak Farah."
"Farah?"
"Iya Bu, teman se kantor Ibu."
Sinta melepas James dan diberikan kepada Siti, janda itu berlalu keluar dari kamarnya. Terlihat dengan jelas kalau Farah sedang menatap ke arahnya.
"Pagi Sin?"
"Pagi, kamu ngapain kesini?" janda itu sudah duduk di depan Farah.
"Aku cuma main saja kok, mumpung libur."
Sesaat tidak ada lagi percakapan, Sinta yang menatap kosong meja di depannya. Sedangkan Farah seperti biasa, berkutik dengan ponselnya.
"Ini rumah kamu?" Farah kembali memecah keheningan.
"Kontrakan, aku belum lama pindah kesini."
"Oh begitu ya?" Farah mengangguk sambil menatap Sinta yang tidak dibalas menatap balik.
"Kamu pasti belum sarapan, kita sarapan di luar yuk!"
"Aku sarapan di rumah," seolah ditolak dengan ketus Farah mencoba untuk tetap tersenyum kepada perempuan itu.
"Mata kamu bengkak, kamu sedang ada masalah ya?" Sinta yang menyadari penampilannya langsung tercengang, buru-buru dia menggeleng sebelum menjawab pertanyaan Farah.
"Tidak ada, aku hanya tidur terlalu malam."
"Jujur saja, aku akan dengan senang hati mendengar ceritamu," Sinta melirik sekilas ke wajah Farah yang masih dengan senyuman palsu, Sinta bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku baik-baik saja."
"Ya pokoknya kalau kamu butuh teman untuk berbagi cerita aku mau mendengarkan."
"Terimakasih."
"Sama-sama, jangan sungkan ya."
Sinta entah mengapa merasa Farah tidak tulus seperti Natasya, perempuan yang sekarang sedang bersamanya itu terlalu sering mengumbar senyum yang dibuat-buat. Sinta tidak menanggapi lagi hingga James bersama Siti yang lewat di depan mereka untuk bersantai di teras rumah itu.
"Dia anak kamu?"
"Iya."
"Suami kamu?" Sinta melirik ke arah Farah yang benar-benar membuatnya jengah.
"Aku rasa kamu sudah banyak mendengar gosip tentang aku di kantor."
"Maaf Sinta, aku hanya ingin memastikan langsung."
"Lalu?"
"Ya tidak ada apa-apa si."
Suara mesin mobil yang di matikan dan juga pintu mobil yang di tutup terdengar dengan jelas di telinga Sinta dan juga Farah, mereka tidak bisa melihat siapa yang datang karena ruang tamu di rumah itu tidak terdapat jendela maupun kaca.
Hingga seseorang yang sangat mereka kenal tengah berdiri menjulang di pintu rumah itu, Sinta dan juga Farah sama-sama terkaget. Begitu juga dengan Doni yang mendapati Farah disana, laki-laki itu berlalu keluar dan memanggil Sinta untuk mengikutinya. Sinta berdiri meninggalkan Farah yang tengah menahan amarahnya, sudah bisa dia duga bahwa mantan pacarnya pasti sering datang ke rumah Sinta. Farah ikut berdiri namun di urungkan niatnya untuk menghampiri mereka berdua, akhirnya dia kembali duduk menunggu Sinta kembali.
"Kamu sudah sarapan?" Doni bertanya hal yang menurut Sinta tidak begitu penting jika harus rela datang ke rumahnya, terlebih laki-laki itu sudah mempunyai istri.
"Belum, Pak Doni kenapa ya kesini?"
"Aku mau mengajak kamu sarapan bersama."
"Ah maaf Pak, saya sarapan di rumah saja. Pak Doni silahkan kalau mau pergi sarapan."
Benar tidak bisa Sinta duga, mengapa boss nya tidak sarapan bersama anak dan istrinya malah menghampiri dirinya yang hanya bawahan Doni. Sesaat Doni melirik ke arah rumah Sinta yang tidak ada Farah diluar, sebenarnya laki-laki itu penasaran kenapa bisa Farah ada di rumah Sinta. Melihat Sinta yang sudah berjalan mundur membuat Doni akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu, Sinta masuk kembali ke dalam dan mendapati Farah masih pada posisi yang sama seperti tadi.
"Pak boss ada kepentingan apa datang kesini?"
"Menurutku pak Doni orangnya aneh, dia datang kesini hanya untuk mengajak sarapan bersama," Farah mendelikan matanya tidak percaya dengan yang barusan Sinta katakan, dengan tidak rela Farah berucap, "mungkin pak Doni suka sama kamu?"
"Memangnya aku ini siapa? pak Doni bahkan sudah mempunyai istri dan anak."
"Kalau belum, apa kamu mau?"
"Mana mungkin."
"Baguslah."
Farah menjawab dalam hati yang pasti tidak bisa Sinta dengar, perempuan itu menatap Sinta dengan tidak suka. Sinta sendiri tengah membenarkan kuncir pada rambutnya dan tidak menyadari tatapan Farah.
"Kalau boleh tahu, mantan suami kamu orang mana?"
"Jogja."
"Kamu sempat tinggal juga disana?"
"Aku kuliah sudah tinggal di Jogja, menikah dan cerai lalu kembali ke Bandung."
"Kamu bisa melalui semuanya ya?"
"Kenapa tidak?" Sinta menatap Farah yang tengah menatap ke arahnya, ke dua perempuan berbeda status itu membuang wajah ketika merasa terlalu intens saling memandang.
"Syukurlah, kamu hebat!"
"Terimakasih."
Farah tersenyum menanggapi ucapan Sinta, dia membenarkan letak tasnya dan berdiri. Sinta tetap duduk hanya menatap Farah.
"Maaf mengganggu waktu liburmu, sekarang aku pulang ya."
"Tidak apa-apa."
Kali ini Sinta sudah ikut berdiri mengantar Farah sampai di teras rumahnya, Farah masuk ke dalam mobil dan menjalankan. Tangan kirinya meraih ponsel lalu menekan nama Boss nya dan menelfon. Lama tidak di angkat hingga akhirnya suara besar itu menyapa pendengaran Farah.
"Kamu dimana?"
"Kita ketemu sekarang!"
klik
Sambungan telfon itu diputus oleh Farah, tubuh langsingnya merasakan reaksi kemarahan yang sudah sedari tadi dia pendam. Ditambah melihat wajah Sinta yang sangat ketus membuat darah di ubun-ubun naik. Farah terus melaju untuk menemui Doni dan melampiaskan kemarahan.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih