Suatu hari Reka jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Zikri, seorang laki-laki yang ia tolong karena memiliki penyakit gula atau diabetes.
Pertemuan kedua mereka berawal dari Reka diterima bekerja di perusahaan milik Zikri. Lalu mengetahui Zikri sudah memiliki istri dan anak perempuan yang menyebutnya "mamah". Namun setelah istrinya meninggal dunia, Zikri semakin ketat mendekati Reka.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Reka? akankah Reka melabuhkan hatinya pada Zikri?
"Maukah kamu menjadi ibu dari anakku?" tanya Zikri pada Reka.
Selamat membaca 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat Turun Ranjang
Agung menghela nafasnya, "sebelumnya pakde mau bilang, setelah kamu tahu ini kamu jangan marah sama bunda ya karena kamu gak denger langsung dari bundamu sendiri. Oke?"
"Oke pakde," Reka pun mengangguk paham dengan jantungnya yang berdetak tak karuan.
Flashback on
Setelah Reka pergi ke Jakarta, bunda pun sibuk mengurus toko rotinya sendiri. Walau terkadang ibunya Dinda membantu bunda walau tidak setiap hari. Tiba-tiba sebuah mobil terparkir tepat di depan Toko Roti Flavor, bunda yang sedang menata roti pun langsung ke depan menghampiri sang pemilik mobil tersebut. Alih-alih ingin memberitahu pemilik mobil untuk tidak parkir di depan toko, namun niatnya langsung diurungkan kembali saat bunda melihat seorang laki-laki yang sangat ia kenal turun dari mobil tersebut. Dia adalah Agung Mahesa, yang tak lain adalah kakak ipar bunda sendiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, eh ya Allah aye kire siape taunye mas Agung, same siape mas kesini? Numa gak ikut?"
"Aku sendiri Tin. Numa gak mau ikut karena emang belum libur kan ini hari biasa bukan sabtu minggu."
"Oh yaudeh kalo gitu kite ngobrolnye didalem toko aje ye mas."
Agung pun menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam toko roti milik bunda kemudian ia duduk di kursi yang telah disediakan. Sedangkan bunda masuk kedalam untuk menyiapkan suguhan untuk Agung.
Agung melihat sekeliling toko roti yang bisa dibilang sudah mulai maju tersebut.
Nakula, istrimu sungguh hebat. Walaupun kamu pergi, tapi ia bisa bangkit kembali.
Tak lama buna pun datang membawa senampan suguhan untuk Agung.
"Silahkan dicicipi mas."
"Terima kasih."
Bunda ikut duduk tak jauh dari Agung.
"Jadi ada ape mas Agung dateng ke mari?"
"Begini Tin, aku kesini mau menyampaikan beberapa hal sama kamu. Pertama soal kematian Nakula setahun yang lalu itu ternyata di sebabkan oleh Amir, pegawai Nakula yang ditugaskan menjadi manager di restoran tersebut. Amir sudah diamankan polisi dan masuk bui. Amir pun telah mengaku kalau dia yang sengaja membuat rem mobil Nakula blong dan kebakaran dapur restoran itu hanya bagian dari rencana liciknya. Dan juga restoran yang sempat kamu jual ke aku, kini aku kembalikan. Karena ini hak kamu dan Reka keponakanku. Maaf aku baru sempat ke sini, karena renovasi bangunan yang telah habis terbakar di restoran, baru aja selesai. Aku sama sekali gak merubah semuanya Walaupun sempat ada yang rusak, kemudian aku perbaiki lagi," kemudian Agung memberikan bunda sebuah amplop coklat yang cukup besar.
Bunda langsung tercekat kaget, dirinya merasa entah bahagia ataupun sedih. Kemudian mengambil amplop itu dari tangan Agung.
"Sejak kapan Amir tertangkap?" seraya membuka isi amplop tersebut.
"Sejak sebulan yang lalu, ia tertangkap basah saat melakukan percobaan bunuh diri disalah satu hotel ternama di Jakarta. Maaf sekali lagi aku baru bisa bilang sekarang, karena Inda baru saja menghembuskan nafas terakhirnya dua minggu yang lalu," Agung yang langsung menunjukkan wajah sedihnya atas kepergian Inda, istrinya.
"Innalillahi wa innaillaihi roji'un. Kenape gak ada yang hubungin aye ataupun Reka mas? lalu Numa?" bunda refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Agung menghela nafasnya, "Numa masih terpukul saat ibunya pergi. Tina, aku mohon mau kah kamu menjadi istriku?"
Lagi-lagi bunda tercekat kaget saat Agung memintanya menjadi istrinya. Itu artinya, keduanya akan turun ranjang.
"Kenape harus aye? aye bahkan masih mencintai mas Nakula."
"Karena cuma kamu yang bisa aku percaya Tina, kita bahagia bersama. Dan mungkin Reka pun tak lama lagi akan menikah, kamu mau ya?"
Bunda pun menghela nafas panjang, "biar nanti aye pikir-pikir dulu mas. Aye bingung, kalo cume rasa percaye, kayaknye mending begini aje mas. Aye juga pan belum tau pendapat Numa."
"Kalau urusan Numa biar nanti aku yang bicara pelan-pelan dengannya."
"Maaf mas, aye belum bisa jawab sekarang. Aye masih butuh waktu buat mikir."
"Iya aku tau, baiklah aku gak bisa lama-lama. Oh iya lusa malam aku jemput ya, kita akan pembukaan restoran kembali."
Bunda pun hanya tersenyum, "Iye."
"Ngomong-ngomong Reka kemana?"
"Reka udeh kerja di Jakarta mas, alhamdulillah udah dapet kos juga disana."
"Oh gitu, baiklah kalau begitu aku gak bisa lama-lama. Aku pulang ya. Salam buat Reka dariku. Aku tunggu jawabanmu, Tina."
"Iye hati-hati dijalan ye mas."
"Assalamualaikum," Agung mengucap salam seraya tersenyum.
"Waalaikumsalam."
Bunda mengantar Agung keluar dari toko rotinya. Kemudian Agung pun masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannya pergi dari kediaman Reka dan bundanya.
Flashback off
Reka tak bergeming setelah mendengar penjelasan Agung.
"Jadi restoran ini masih punya Reka pakde?"
"Iya, ini tetap punyamu dan juga bundamu. Ini hak kalian. Maaf baru bisa pakde kasih sekarang, karena pakde gak mau ngasih kalian beban untuk membiayai renovasi restoran ini."
"Pakde makasih banyak," Reka pun langsung memeluk Agung dengan penuh kasih sayang.
Dari kejauhan Zikri sudah menatap sinis ke arah Reka dan Agung.
Kenapa Reka berpelukan gitu? apa dia gak menghargai ada aku disini? siapa laki-laki tua itu?
"Hansen aku ke toilet sebentar, semuanya maaf saya permisi ke toilet."
Zikri pun berdiri kemudian berjalan mendekat menghampiri Reka.
"Ehem.."
Reka dan Agung tersentak kaget, mata Reka yang masih berkaca-kaca serta bekas aliran air mata pun masih ada di kedua pipinya. Mereka saling melepaskan pelukannya satu sama lain.
"Pak."
"Siapa dia Reka?"
"Pakde, kenalin ini calon suami Reka, kemaren Reka dan mas Zikri baru aje melangsungkan lamaran."
"Benarkah?" Reka pun mengangguk cepat, sedangkan Zikri masih menatap bingung kepada kedua orang yang ada dihadapannya.
"Jadi, laki-laki ini pakde kamu Reka?"
"I-iye," jawab Reka sembari cengengesan.
"Astaghfirullah aku kira kamu selingkuh dari aku."
Ucapan Zikri membuat Reka dan Agung menahan tawanya.
"Kamu tenang aja, keponakan pakde yang cantik ini anaknya setia. Sama seperti ayah dan bundanya."
Zikri langsung mengukir senyum tipis dikedua sudut bibirnya.
"Kenapa kamu disini Reka? bukankah tadi kamu bilang mau ke toilet?"
"Sini duduk dulu, kita ngobrol sama-sama," ucap Reka sembari menepuk kursi kosong yang ada disampingnya. Zikri pun menarik kursinya lalu duduk disebelah Reka.
"Kenalin saya Agung, kakak kandung dari mendiang ayah Reka," kemudian Agung menceritakan kembali tentang perihal yang telah terjadi di keluarga Reka karena menurutnya Zikri berhak tahu sebab Zikri adalah calon suami Reka.
Setelah mendapat penjelasan dari Agung, akhirnya Zikri pun paham.
"Lebih baik kamu resign dari perusahaanku dan membantu bunda serta pakdemu direstoran ini Reka."
Reka tampak berpikir sejenak.
"Ade satu pertanyaan yang harus Reka tanyain ke pakde."
"Apa itu Reka?"
Bersambung..
semangat 💪