Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desperate Couple (4) Status Palsu
“Eh lo lagi, ngapain di mobil gue, cepetan keluar!”
“Please bantuin gue, cepetan pergi dari sini sebelum pengawal nyokap gue tahu gue kabur, please.. please.”
Ega melihat pada Adit lalu memberi isyarat untuk jalan. Tapi Adit menggeleng, dia tidak mau terlibat masalah dengan Alea.
“Jalan kang.”
“Ngga.”
Ega melihat Andra dan beberapa pengawal keluar dari hotel. Dia menyuruh Alea bersembunyi. Mau tidak mau Adit menstarter mobil dan segera melaju meninggalkan hotel.
Setelah situasi aman, Alea mengangkat kepalanya.
“Lo mau kemana?” tanya Ega.
“Ke kampus aja, di belakang kampus kan ada kontrakan rumah petak, nah anter gue ke situ.”
Adit langsung mengarahkan mobil menuju kampus Ega. Sejam kemudian mereka sampai di daerah kampus Ega. Roda kendaraan terus masuk ke jalan di belakang kampus dan berhenti di depan deretan rumah petak. Alea turun dari mobil dan berjalan menuju salah satu rumah petak yang di depannya terparkir gerobak ketoprak.
“Assalamu’alaikum.. bang Agi,” panggil Alea.
“Waalaikumsalam” jawab Agi dari dalam rumah.
Tak lama Agi keluar dengan mengenakan kaos singlet dan sarung. Dia terkejut melihat kedatangan Alea. Mereka lalu duduk di depan rumah. Ega masih belum pergi, dia juga Adit masih mengawasi Alea dari dalam mobil. Adit yang melihat sosok Agi langsung berkomentar.
“Cinta emang buta ya.. dijodohin sama dokter nyangkutnya sama yang model beginian.”
“Gue bilang juga apa, dia tuh cewe aneh, sinting, sarap.”
“Gue yakin tuh cowonya anggota ABRI.”
“ABRI dari mana, badan ceking gitu, rambut kriwil, ngaco aja lo kang.”
“Dari penampilannya udah pasti anggota ABRI, yakin gue seratus persen.”
Ega melihat pada Adit, bukan cuma Alea, ternyata asistennya ini ikut-ikutan sinting juga. Dia memegang kening Adit.
“Lo ga sakit kan kang? Mana ada tentara begitu bentukannya.”
“Gue bilang ABRI bukan tentara. Anak Buah Rhoma Irama.”
Ega sontak tertawa mendengarnya, lalu melihat lagi ke arah Agi.
“Bentar.. bentar.. gue kayanya pernah liat nih orang dimana ya.”
Ega berpikir sejenak, lalu teringat kalau Agi adalah pegadang ketoprak yang didatanginya tadi siang bersama Alea.
“Oh iya, inget gue.. dia tukang ketoprak yang mangkal deket kampus. Pantes tadi traktir gue makan ketoprak, jadi itu dagangan pacarnya.”
Alea yang melihat mobil Ega masih terparkir segera menghampiri. Dia mengetuk kaca jendela. Ega menurunkan kaca.
“Ngapain lo masih di sini?”
“Suka-suka gue dong.”
“Udah mending lo pergi, gue bakalan nginep di sini. Thank you ya.”
“Ya udah gue pergi, salam buat pacar lo ya.”
Ega segera menaikkan kaca mobilnya. Alea yang terkejut mendengar ucapan Ega segera menggedor-gedor kaca mobil tapi tak dipedulikaannya. Malah menyuruh Adit segera menjalankan mobil.
❤️❤️❤️
Ega berjalan keluar kampus, sesudah kuliah pagi perutnya terasa lapar. Apalagi tadi dia tidak sempat sarapan di rumah. Ega bermaksud membeli ketoprak Agi, tak bisa disangkal kalau rasa ketoprak buatan Agi memang enak. Dia sampai di tempat para penjual makanan, tapi tak melihat gerobak ketoprak di sana. Dia pun menghampiri penjual minuman.
“Bang.. ketoprak ngga dagang?”
“Ngga tau, kayanya sih ngga udah jam segini belum nongol.”
“Oh, ya udah makasih bang.”
Ega kembali berjalan, tujuannya tempat kontrakan Agi. Sesampainya di jalan dekat rumah kontrakan terlihat banyak orang berkerumun. Karena penasaran, dia berlari mendekat. Pemandangan di depannya membuatnya terkejut. Nampak empat orang bertubuh kekar memukuli Agi. Sedang Alea berteriak-teriak meminta mereka berhenti memukuli. Tak jauh dari Agi, seorang pria muda sedang menarik tangan Alea menuju mobil. Ega mengenalinya, dia adalah Andra kakak Alea.
“Lepasin! Aku ngga mau pulang! Jangan pukul bang Agi, dia ngga salah apa-apa!”
Teriak Alea pada Andra, tapi dia tak mempedulikannya. Andra terus menarik tangan Alea dengan paksa. Ega tak bisa berdiam diri, dia segera menghampiri.
“Lepasin dia!” teriak Ega pada Andra.
Mendengar suara Ega, Andra menghentikan langkahnya. Dia menatap pada Ega. Alea segera melepaskan diri dari Andra lalu berlari menuju Ega.
“Siapa lo? Ngga usah ikut campur urusan gue, ini urusan keluarga gue!”
Para pengawal Andra berhenti memukuli Agi. Mereka berjalan mendekati Ega tapi segera dicegah oleh bosnya. Andra sendiri yang mendekati Ega.
“Gue tanya lo siapa?”
“Lo ngga tau siapa gue? Bukannya tadi malem lo nyari-nyari gue di acara pembukaan hotel.”
Andra terdiam sebentar, menatap Ega lekat-lekat.
“Oh.. elo anaknya Willy Irawan ya.. punya nyali juga ya lo dateng ke acara kemarin. Untung aja lo udah kabur kalau ngga gue hajar sampe mati lo kemarin.”
“Gue sengaja dateng ke sana buat jemput Alea.”
“Oh jadi elo yang bawa kabur adik gue!”
“Kalau iya kenapa? Bang Agi ngga salah, gue yang nitipin Alea di sini. Jadi lo salah sasaran. Kalau mau bikin perhitungan sama gue!”
“Lo cari mati ya.”
“Sekarang terserah elo, mau beresin masalah sampai di sini atau mau buat urusan jadi panjang. Lo pikir bokap gue bakal diem aja kalau sesuatu terjadi sama gue? Soal Alea tenang aja, gue bakalan bawa dia pulang dengan selamat. Tapi lo dan semua pengawal lo harus pergi dari sini sekarang. Kapan Alea pulang itu terserah sama dia, dia tanggung jawab gue sekarang.”
Alea terdiam, tak menyangka Ega akan berbuat nekad seperti ini. Andra berpikir sejenak, setelah itu memberi kode pada anak buahnya untuk pergi.
“Ok, kali ini gue biarin lo lolos.” ucap Andra pada Ega.
“Dan elo! Gue kasih waktu sampe besok, kalau lo ngga pulang ke rumah, gue bakal bikin patah kaki nih orang,” sambungnya pada Alea.
Setelah itu dia dan semua anak buahnya berlalu pergi. Alea segera berlari menghampiri Agi, wajahnya babak belur. Ega membantu Agi masuk ke dalam rumah, membaringkannya di tempat tidu. Lalu meminta Alea mengambil air dan handuk kecil untuk membersihkan luka-luka Agi.
Alea datang dengan membawa baskom berisi air dan handuk kecil. Ega mulai membersihkan luka Agi. Sesekali Agi meringis menahan sakit.
“Bang, kita ke rumah sakit ya,” saran Ega.
“Ngga usah, gue ngga apa-apa.”
“Ngga apa-apa gimana, abang babak belur begini. Maafin gue ya bang, gara-gara gue abang jadi kaya gini,” sesal Alea.
Terdengar ketukan di pintu. Tak lama masuk pria setengah baya menghampiri mereka.
“Astaghfirullahaladzim.. lo kenapa Gi?” terkejut melihat keadaan Agi.
“Dia habis dipukuli pak, saya mau bawa dia ke rumah sakit,” jawab Ega.
Pria itu memeriksa keadaan Agi, meraba perut, punggung dan lengannya. Dia menghela nafas sebentar.
“Hmm.. kaga usah ke rumah sakit, biar gue yang urus. Alhamdulillah kaga ada tulang yang patah, cuma luka memarnya harus diobatin, takutnya ada luka dalem. Tapi kaga usah khawatir dah, keadaan dia kaga terlalu parah.”
“Iya.. percaya deh sama dia. Dia itu babe Sabeni, jawara di sini dan tau cara ngobatin orang. Gue ngga apa-apa, mending lo bawa Alea pergi aja.”
Alea menggeleng, dia merasa sangat bersalah pada Agi. Ega melihat pada Alea.
“Bang Agi bener, mending kita pergi dari sini.”
“Gue ngga mau, gue mau ngerawat bang Agi.”
“Kalau lo masih di sini terus kakak lo dan para pengawalnya datang lagi gimana? Lo mau dia pukulin lagi? Mending sekarang lo ikut gue, lebih aman kalau lo sama gue sekarang.”
Ega berusaha membujuk. Alea menatap Agi, dia memberi kode pada Alea agar menuruti Ega. Akhirnya Alea setuju.
Huh giliran pacarnya yang bujuk baru mau. Bener-bener cinta itu buta.
“Lo tunggu di sini, gue ambil motor dulu.”
Ega bergegas menuju kampus. Sepuluh menit kemudian kembali dengan mengendarai motonyar. Ega turun dari motornya, masuk kembali ke dalam rumah.
“Bang, kita pergi dulu ya,” pamit Ega.
“Iye, hati-hati.. tolong jaga Alea.”
Ega menarik tangan Alea. Mereka berjalan menuju motor dan tak berapa lama motor sudah melaju meninggalkan kediaman Agi. Alea memeluk erat pinggang Ega, dia mulai menangis di punggung lelaki itu. Jantung Ega berdesir, ada sesuatu yang menjalari hatinya, entah apa.
❤️❤️❤️
Kawasaki merah milik Ega berhenti di sebuah kios rokok. Dia mengajak Alea duduk sambil menikmati minuman dingin. Alea tampak terdiam, matanya memerah. Sosoknya yang biasa terlihat galak dan menyebalkan kini berganti menjadi sosok wanita lemah yang membutuhkan perlindungan.
“Kita mau kemana?” Alea mulai bersuara.
“Ke rumah gue. Sekarang tempat yang paling aman ya rumah gue.”
Alea menatap tak mengerti, Ega tersenyum.
“Lo pasti bingung kan, nanti kang Adit bakal nerangin lebih jelas hubungan keluarga kita. Tapi percaya deh, rumah gue itu tempat paling aman.”
Setelah menghabiskan minumannya, Ega segera membayarnya. Lalu dia melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Alea.
“Ayo” ajak Ega, tapi Alea tampak ragu.
“Ngga usah takut, jam segini di rumah gue ngga ada siapa-siapa kecuali pembantu.”
Ega naik ke motornya, Alea menyusul naik, motor pun melaju. Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah. Ega mengajak Alea masuk. Kondisi rumah tampak sepi. Ega langsung membawa Alea ke kamarnya.
Alea memandangi kamar Ega, untuk ukuran laki-laki kamarnya terbilang rapih. Dia duduk di sofa, sejenak melihat pada Ega yang sedang menelpon Adit. Dibalik sikapnya yang menyebalkan ternyata Ega adalah lelaki yang baik. Dia tak menyangka Ega akan berbuat sejauh ini untuk membantunya.
Pintu kamar terbuka, Adit masuk dan langsung menghampiri Ega.
“Ada apa sih?”
Ega tak menjawab, jarinya menunjuk pada Alea. Adit menoleh ke belakang dan melihat Alea sedang duduk di sofa. Alea tersenyum padanya. Adit terdiam sebentar lalu buru-buru menutup pintu kamar.
“Ega! lo gila ya, ngapain ngajak dia ke sini, mau cari mati lo.”
“Gue ga punya pilihan kang, terpaksa gue bawa dia ke sini.”
“Maksudnya terpaksa? Gue ga ngerti.”
Ega mengajak Adit duduk, lalu mulai menceritakan apa yang terjadi pada Alea hingga nekat membawa Alea pulang ke rumah. Adit melongo mendengar ceritanya. Kepalanya seperti habis dipukul palu. Dia mengacak-acak rambutnya, kesal dengan keputusan Ega yang sembrono.
“Maaf kang, sebenarnya ada apa dengan keluraga saya dan Ega?” Alea yang sedari tadi penasaran mulai bertanya.
“Dia ngga tau kalau elo montague dan dia capulet?” Adit bertanya pada Ega yang hanya dijawab dengan bahu terangkat. Adit tertunduk lemas. Dia mengangkat wajahnya, lalu memandang Alea lekat-lekat.
“Lo dengerin cerita gue baik-baik,” ucapnya pada Alea.
Adit mulai menceritakan sejarah kelam hubungan dua keluarga yang tidak pernah akur sejak tiga puluh tahun lalu. Untuk perihal apa pun hubungan kedua keluarga diharamkan terjadi. Alea terhenyak mendengar cerita Adit, sebelumnya dia tak tahu menahu soal ini. Pantas saja sikap Andra pada Ega tadi seperti itu.
“Lo ngerti sekarang? Kalian berdua tidak boleh mempunyai hubungan apa pun, titik! Sekarang gue bakalan anterin dia pulang dan anggap hal ini ngga pernah terjadi, ok? Itu jalan keluar terbaik.”
Adit bangun dan menarik Alea tapi Ega menahannya.
“Eh entar dulu kang, ngga bisa begitu.”
“Terus lo maunya gimana?” tanya Adit gemas.
“Gini.. Alea kabur dari rumah dia pasti punya alasan, gue rasa alasannya bukan sekedar perjodohan. Bener ngga?”
Alea mengangguk, Ega tersenyum tebakannya benar. Adit masih belum mengerti arah pembicaraan si biang kerok ini.
“Alasan lo kabur sebenarnya apa?”
“Gue ngga suka hidup diatur-atur sama nyokap. Jujur sebenernya keinginan gue jadi artis, main film layar lebar, tapi nyokap gue ngga setuju. Dia selalu ngurung gue di rumah, gue ngga bisa hidup bebas. Dan puncaknya kemarin nyokap mau jodohin gue dengan orang yang ngga gue kenal. Gue udah muak hidup kaya gini. Di mata nyokap gue tuh boneka yang bisa dia mainin seenaknya.”
“See.. sama kaya gue. Gue juga udah muak hidup kaya gini. Sebagai anak gue ngga pernah dianggap ada di rumah ini. Tapi gue juga ngga dikasih kebebasan buat ngelakuin apa yang gue suka, gue mau. Gue tuh ngga lebih kaya pajangan aja, gue cuma punya status sebagai anak mereka tapi ngga ada arti apa-apa untuk mereka.”
“Jadi mau lo apa?” tanya Adit yang masih bingung mengikuti jalan pikiran Ega.
“Gue punya solusi buat keadaan kita berdua.”
“Apa?” tanya Adit dan Alea bersamaan.
“Kita pacaran.”
“Apa?!” lagi-lagi Adit dan Alea bertanya, kali ini diiringi ekspresi terkejut.
“Lo ngga gila kan Ga? Aduh kepala gue pusing.”
Adit semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Ega. Kepalanya langsung berdenyut. Sudah terbayang kekacauan yang akan terjadi jika rencana itu dijalankan.
“Kalau kita pacaran, udah pasti dua keluarga akan bereaksi. Mereka akan berusaha memisahkan kita berdua. Saat itulah kita bisa negosiasi tentang hidup kita. Ketika kita dipaksa untuk berpisah, mereka juga harus memberikan bayaran atas pengorbanan yang kita lakukan. Lo bisa minta kebebasan untuk melakukan yang lo mau, jadi artis atau nikah sama bang Agi terserah elo deh.”
Alea langsung melempar bantal kecil yang ada di sofa pada Ega.
“Bang Agi bukan pacar gue!”
Bantal tepat mengenai wajah Ega. Dia sebenarnya kesal tapi tak bisa juga menahan tawa melihat ekspresi Alea.
“Iya, sorry.. sorry.. lo boleh lakuin apa aja yang lo mau kalau nyokap lo minta kita putus. Begitu juga gue, selain gue bisa ngelakuin apa yang gue mau, gue juga bisa membuka mata mereka kalau selama ini gue hidup dan ada di tengah-tengah mereka. Gimana kang?”
Adit menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sangat tidak menyetujui usulan gila ini. Perasaannya tidak enak, Willy Irawan dan Hilman Wijaya bukanlah orang biasa yang bisa dipermainkan oleh anak ingusan seperti Ega dan Alea. Dia berusaha menentang dengan berbagai macam alasan. Termasuk memperkirakan skenario terburuk yang mungkin akan menimpa mereka jika bersikeras menjalankan rencana gila ini. Namun Ega bergeming dengan keputusannya.
“Lo sendiri gimana Al?” tanya Ega pada Alea.
Adit melihat pada Alea, memintanya untuk tidak mengikuti rencana konyol Ega. Alea tak langsung menjawab, dia berpikir sejenak, melihat sebentar pada Ega, lalu,
“Ok gue setuju.”
“Ok deal.. kita pacaran. Mulai sekarang kita harus sering pergi berduaan kaya orang pacaran. Kita harus bisa meyakinkan orang tua masing-masing kalau kita bener-bener saling cinta.”
“Tapi lo ngga boleh modus ya. Ngga ada acara peluk-pelukkan apalagi ciuman. Kalau ngelanggar nih.”
Alea mengepalkan tangannya. Ega hanya tersenyum. Adit terduduk lemas di atas kasur, kedua orang di depannya ini benar-benar sudah gila.
“Satu lagi, telpon kakak lo, Andra. Bilang ke dia besok gue mau ketemu, terserah tempat dan waktunya dia yang tentuin.”
“Bentar.. bentar.. kenapa lo mau ketemu Andra? Lo ngga tau orang seperti apa dia?” ucap Adit dengan nada cemas.
“Gue perlu dia untuk memperlihatkan kalau hubungan gue dan Alea serius. Dan satu lagi, Alea tidur di sini malem ini, jadi gue tidur di kamar lo ya.”
Adit tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya mampu menepuk-nepuk tengkuknya yang mendadak terasa berat.
❤️❤️❤️
Motor Ega memasuki sebuah gudang kosong. Ega menghentikan motornya, dia melihat Andra dan lima orang pengawal sudah menunggunya. Tak lama Ega turun dari motor diikuti Alea. Ega berjalan menghampiri Andra.
“Salut gue, punya nyali juga lo ngajak ketemuan. Alea! Sini lo!”
Alea tak bergerak, dia tetap berdiri di samping Ega. Sikap diam Alea membuat Andra kesal. Dia berjalan menuju adiknya. Saat hendak menarik tangannya, Ega langsung menahannya.
“Eits santai bro.. tenang dulu.”
“Lo ada hubungan apa sama Alea?”
“Gue pacar Alea.”
Andra terkejut mendengarnya. Wajahnya tampak memerah, rahangnya mengeras. Dia tak menyangka Alea berani menjalin hubungan dengan Ega, anak dari musuh keluarganya.
“Cari mati lo pacaran sama adek gue!”
“Kita ngga bisa milih sama siapa kita bakal jatuh cinta. Kalau nurutin akal sehat, gue pasti bakal pilih cewe lain. Tapi gimana dong, gue cintanya sama Alea.”
Jantung Alea berdegup kencang mendengar perkataan Ega.
Jangan terbawa perasaan Alea, ini cuma akting.
Alea melihat pada Ega. Lelaki itu terlihat begitu santai. Berbeda Andra yang mulai terpancing emosinya.
“Jangan berharap gue bakal setuju soal ini. Sampai kapan pun gue ngga pernah setuju kalian berdua pacaran, ngga akan pernah!”
“Gimana kalau kita buat kesepakatan?” Ega mulai menjalankan rencananya.
“Kesepakatan apa?”
“Kita duel, satu lawan satu. Kalau gue kalah, gue bakal ngelepas Alea. Tapi kalau gue menang, lo harus biarin kita pacaran, gimana?”
Alea terkejut, diantara kakak-kakaknya Andra adalah yang paling beringas. Dia tak pernah kenal ampun pada siapa pun. Kekerasan adalah makanannya sehari-hari. Alea memegang lengan Ega, menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Lagi-lagi Ega hanya menjawab dengan senyuman.
Andra senang dengan tantangan Ega, berarti dia punya kesempatan untuk menghajarnya habis-habisan.
“Ok, gue setuju. Maju lo!”
Andra menggerak-gerakkan tangannya, bersiap-siap untuk bertarung. Ega melepas jaketnya, memberikannya pada Alea. Dengan langkah mantap dihampirinya Andra. Lelaki itu melayangkan tinjunya, Ega mengelak dengan cepat kemudian menendangnya. Andra terjatuh, dia kembali bangun lalu melayangkan tinjunya ke arah wajah. Ega menangkis, namun tangan kirinya berhasil meninju perutnya. Ega terhuyung memegangi perutnya. Andra semakin bersemangat.
Jual beli pukulan terus terjadi. Ega yang memiliki kemampuan bela diri dapat mengimbangi Andra. Bahkan beberapa kali Andra terjatuh terkena tendangan dan pukulannya. Alea melihat pertarungan dengan cemas. Sesekali dia menutup wajahnya, tak sanggup melihat perkelahian mereka.
Lima belas menit berlalu, mereka masih bertarung. Tenaga keduanya sudah mulai terkuras. Pukulan Andra mulai tak akurat, beberapa kali Ega berhasil menghindarinya. Andra kembali melayangkan tinjunya. Dengan cepat Ega menangkap tangannya, lalu menarik tubuhnya dan membantingnya ke lantai. Andra mengerang kesakitan, dia sudah tak sanggup bangun. Ega mendekati, mencengkeram baju Andra hendak menghajarnya lagi. Namun diurungkannya saat melihat Andra sudah terkulai lemas. Dia pun melepaskannya.
Melihat Andra tergeletak, para pengawalnya mendekati Ega bermaksud mengeroyoknya. Namun Andra memberi aba-aba agar mereka tak ikut campur, mereka pun berhenti. Ega mengulurkan tangannya pada Andra namun ditepis dengan kasar. Dengan susah payah dia bangun.
“Gue menang, jadi tepatin janji lo. Jangan ganggu hubungan gue dengan Alea.”
Sambil menyeringai Andra menjawab.
“Kalaupun gue ngga ganggu, bukan berarti hubungan kalian aman. Sampai kapan pun papa ngga akan ngerestuin elo! Ingat itu Al!”
Andra membuang ludahnya, cairah merah keluar dari mulutnya. Dia menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya, lalu dengan langkah gontai pergi meninggalkan Ega diikuti para pengawalnya.
Ega terduduk lemas. Alea langsung menghampiri. Bibir Ega juga terluka dan mengeluarkan darah. Alea mengeluarkan tisu dari tasnya dan mengelap bibirnya. Beberapa bagian wajah Ega nampak memar. Membuat hati gadis itu miris melihatnya. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan. Dengan kesal Alea memukul lengan Ega.
“Kamu gila ya! Kalau terjadi sesuatu sama kamu gimana hah! Bagaimana kalau kamu ngga bisa mengalahkan kak Andra?!”
“Tumben ngomongnya kamu, biasanya lo gue,” Ega terkekeh.
Alea bertambah kesal mendengarnya. Dia kembali memukuli lengannya. Ega meringis kesakitan meminta Alea berhenti.
“Kamu keterlaluan! Kamu ngga tahu gimana cemasnya aku tadi!”
Alea berteriak kesal, dia masih memukuli Ega. Perlahan pukulannya berhenti, berganti dengan tangis. Ega kebingungan melihat Alea menangis, dia menepuk-nepuk pelan bahu Alea, mencoba untuk menenangkannya.
Setelah Alea tenang, Ega mengajaknya pergi. Alea membantu Ega memakai jaketnya. Tak berapa lama mereka pergi. Selama perjalanan Alea tak melepaskan pelukannya sedikit pun dari pinggang Ega. Entah mengapa dia merasa nyaman dan aman bersama dengannya.
Motor Ega memasuki perumahan tempat Alea tinggal. Ega melambatkan laju motornya dan berhenti di depan rumah mewah bercat putih. Alea turun dari motor. Ega membantu melepaskan helm yang dikenakannya. Alea memberikan helm pada Ega.
“Simpen aja di sini. Sekarang kita resmi pacaran, nanti kirimin jadwal kuliah lo. Mulai besok gue bakal antar jemput lo ke kampus, ok.”
Ega mengedipkan matanya pada Alea. Tanpa menunggu jawabannya, Ega langsung menstarter motornya dan pergi meninggalkan Alea yang masih terdiam memandangi kepergiannya.
❤️❤️❤️
Gimana masih mau lanjut???
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, comment dan vote nya😉