NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Utusan dari Seberang Samudra

Angin pagi bertiup sejuk namun membawa kelembapan yang khas, menebarkan aroma air laut yang segar hingga jauh ke dalam daratan. Matahari baru saja terbit separuh dari ufuk timur, menyinari puncak-puncak menara istana dengan cahaya keemasan yang memantul indah, seolah seluruh bangunan itu dilapisi emas murni. Di bawah sana, ibu kota kerajaan telah bangun sepenuhnya. Jalan-jalan raya yang lebar dan bersih mulai dipadati oleh lalu lintas pedagang, petani yang membawa hasil bumi, dan rakyat biasa yang berjalan dengan langkah gembira dan wajah berseri-seri. Kehidupan berjalan damai, tertib, dan makmur, buah dari kerja keras puluhan tahun yang lalu.

Di ruang kerja pribadinya yang luas dan berangin sejuk di sisi timur istana, Raja Hunter duduk di balik meja kerjanya yang besar namun sederhana, terbuat dari kayu hutan keras terbaik yang diukir dengan motif-motif sejarah kerajaan. Di atas meja itu, tidak ada tumpukan emas atau perhiasan, melainkan peta besar wilayah kerajaan yang terbentang luas, catatan-catatan pembangunan, laporan panen, dan salinan Buku Besar Kebijaksanaan yang selalu ada di samping tangan kanannya. Di sampingnya, duduk kedua orang tuanya, Taylor dan Elizabeth, yang meski sudah menua, kehadiran dan nasihat mereka tetap menjadi kekuatan utama bagi Hunter dan seluruh pemerintahan.

Suasana pagi itu terasa tenang dan damai. Laporan-laporan yang masuk dari seluruh penjuru negeri semuanya berisi kabar baik. Panen di wilayah utara melimpah ruah, jalur perdagangan di hutan timur berjalan lancar dan aman, pembangunan sekolah dan tempat pengajaran di desa-desa selatan selesai tepat waktu, dan hubungan persaudaraan dengan penduduk asli di pegunungan barat semakin erat. Semuanya berjalan seperti roda yang berputar sempurna, terlumasi oleh rasa keadilan dan persatuan yang kuat.

Namun, ketenangan itu perlahan mulai terganggu oleh langkah cepat seorang pengawal yang berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja itu. Wajah pengawal itu menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan: ada rasa terkejut, ada rasa penasaran, namun juga ada rasa hormat dan kekhawatiran. Dia berhenti di ambang pintu, membungkuk dalam-dalam, dan melapor dengan suara yang jelas namun rendah.

"Yang Mulia Raja Hunter, Yang Mulia Raja Taylor, Ratu Elizabeth... Mohon maaf mengganggu di pagi hari. Ada laporan penting dan mendesak dari Pelabuhan Utama Tanjung Emas, di pesisir timur."

Hunter mengangkat wajahnya, menatap pengawal itu dengan tenang namun tajam. "Kabaran apa yang dibawa? Apakah ada kerusakan atau masalah di sana?"

"Tidak, Yang Mulia. Tidak ada kerusakan atau keributan," jawab pengawal itu, lalu menelan ludah sejenak sebelum melanjutkan. "Namun... sejak fajar tadi, terlihat armada kapal yang sangat besar dan asing mendekat dari arah timur laut, dari tengah samudra. Kapal-kapal itu jumlahnya ada sepuluh buah, ukurannya jauh lebih besar, lebih tinggi, dan lebih megah daripada kapal dagang atau kapal perang yang pernah kita miliki atau kita lihat sebelumnya. Bentuknya unik, layarnya berwarna merah menyala dengan lambang ombak berwarna emas, dan gerakannya sangat cepat dan teratur."

Taylor dan Elizabeth saling berpandangan sejenak. Di mata mereka terlihat kilatan ingatan akan catatan sejarah yang pernah mereka baca. Hunter mengerutkan keningnya, rasa penasaran mulai tumbuh di hatinya. Kapal dari tengah samudra? Selama ini, hubungan laut kerajaan mereka hanya sebatas dengan pulau-pulau kecil di sekitar pesisir atau negeri tetangga yang terletak di seberang selat sempit di selatan. Tidak ada yang berani atau mampu menyeberangi samudra luas yang ganas itu, yang kabarnya penuh badai dahsyat dan arus yang mematikan.

"Apakah mereka menunjukkan tanda-tanda permusuhan? Apakah mereka mengacungkan senjata?" tanya Hunter lagi.

"Tidak, Yang Mulia. Justru sebaliknya," jawab pengawal itu. "Mereka mengibarkan bendera putih tanda damai di tiang tertinggi, dan saat mereka berlabuh, hanya sedikit orang yang turun ke darat dengan pakaian yang sangat rapi, bersih, dan penuh kehormatan. Pemimpin rombongan itu mengaku sebagai Utusan Agung dari Kerajaan Samudera Biru, sebuah negeri besar yang terletak di seberang lautan sana. Mereka membawa surat resmi dari Kaisar mereka, serta banyak sekali barang-barang hadiah yang nilainya tak terkira. Mereka meminta izin untuk menghadap Yang Mulia, menyampaikan salam, dan membicarakan hal yang sangat penting."

"Kerajaan Samudera Biru..." gumam Taylor pelan, nama itu bergema di ruangan itu. Dia bangkit berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela yang menghadap ke arah timur, menatap jauh ke cakrawala samudra yang biru membentang tak berujung. "Aku pernah membaca tentang mereka di dalam catatan kuno yang ada di perpustakaan istana, bahkan ada sedikit catatan di dalam Buku Besar milik leluhur kita. Dikatakan bahwa di masa lalu, berabad-abad yang silam, mereka adalah bangsa yang sangat maju, sangat kaya, dan menguasai perairan dunia. Namun, hubungan kita terputus total karena letak mereka yang sangat jauh dan bahaya laut yang tak terlewati. Selama ratusan tahun, mereka hilang dari pengetahuan kita, seolah negeri itu tidak ada. Dan sekarang... mereka datang kembali."

Elizabeth mengangguk, ikut bangkit berdiri di samping suaminya. Wajahnya tenang namun matanya waspada, menilai situasi ini dengan kecerdasannya yang tajam. "Ini bukan kedatangan biasa, Hunter. Jika mereka mampu menaklukkan samudra yang selama ini dianggap tak tertaklukkan, berarti kemampuan dan kekuatan mereka tidak bisa dianggap remeh. Mereka tidak datang sembarangan. Ada tujuan besar di balik kedatangan ini. Bisa jadi ini adalah awal dari persahabatan yang akan memperkaya kita, atau bisa jadi ini adalah awal dari tantangan terbesar yang pernah kita hadapi, karena selama ini kita merasa kita adalah satu-satunya pusat peradaban di wilayah ini."

Hunter menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mengumpulkan seluruh ketenangan dan kewibawaan yang dimilikinya. Dia sadar, sejak dia resmi memegang tampuk pemerintahan penuh, ujian pertamanya yang sesungguhnya akhirnya datang. Negeri ini sudah damai dan makmur cukup lama, namun dunia di luar sana sangat luas dan penuh variasi.

"Kalau begitu," kata Hunter dengan suara tegas dan mantap, "Kita akan menyambut mereka dengan kehormatan setinggi-tingginya, sesuai dengan tingkatan bangsa yang mereka wakili. Kita harus menunjukkan bahwa negeri ini memiliki peradaban yang tidak kalah tinggi, kebijaksanaan yang tidak kalah dalam, dan kekuatan yang tidak kalah kokoh. Suruh para pejabat upacara bersiap. Bersihkan dan hias jalanan dari pelabuhan hingga ke gerbang istana. Pasukan pengawal harus hadir dengan pakaian terbaik dan barisan yang rapi, menunjukkan disiplin namun tidak mengancam. Dan siapkan Ruang Tamu Agung, tempat pertemuan paling megah di istana. Aku ingin menyambut mereka sendiri, didampingi Ayah dan Ibu serta para penasihat kerajaan."

Beberapa jam kemudian, iring-iringan utusan dari seberang samudra bergerak menuju ibu kota. Pemandangan itu sungguh mempesona dan membuat seluruh rakyat yang berkerumun di pinggir jalan menahan napas kagum. Rombongan itu berjalan dengan tertib dan anggun. Di depan, berjalan para pembawa panji yang mengenakan pakaian berwarna biru tua dan emas, membawa lambang kerajaan mereka: seekor naga laut yang melingkar mengelilingi matahari. Di tengah-tengah iringan itu, berjalan pemimpin utusan itu, menunggangi seekor kuda berwarna putih bersih dengan hiasan pelana dari kain sutra berwarna-warni cerah.

Laki-laki itu bernama Panglima Argan. Berusia sekitar lima puluh tahun, perawakannya tegap, berotot, dan berkarisma, wajahnya berukiran garis-garis pengalaman hidup yang keras di lautan luas. Kulitnya sawo matang, terbakar sinar matahari samudra, matanya tajam dan cerdas seolah bisa melihat ke dalam hati orang yang dia tatap. Di sampingnya berjalan para penasihat dan pengawal utamanya, semuanya berwajah cerdas, berpenampilan bersih, dan membawa aroma kewibawaan yang kuat. Barang-barang hadiah yang mereka bawa diangkut dengan kereta-kereta indah, tertutup kain sutra, namun sekilas saja sudah terlihat kilauan logam mulia dan keindahan kerajinan yang luar biasa.

Hunter, Taylor, dan Elizabeth telah menunggu di tangga utama istana, berdiri tegap namun ramah, diapit oleh para pejabat dan tetua kerajaan. Saat rombongan utusan sampai di depan gerbang, Panglima Argan turun dari kudanya dengan gerakan luwes dan gagah. Dia berjalan mendekat, lalu membungkuk dalam-dalam dengan cara khas negerinya, menempelkan kedua telapak tangan di depan dada sambil menundukkan kepala. Penghormatan itu dalam, namun tidak merendahkan diri, menunjukkan kesetaraan dan rasa hormat yang tinggi.

"Aku membawa salam paling hormat dan kasih sayang dari Yang Mulia Kaisar Agung Liora, Penguasa Seluruh Perairan dan Tanah di Seberang Samudra, kepada Yang Mulia Raja Hunter, penguasa tanah indah yang damai dan bijaksana ini," ucap Argan dengan suara lantang dan berwibawa. Bahasa yang dia gunakan sedikit memiliki aksen yang berbeda, namun cukup jelas dan mudah dimengerti, seolah dia telah mempelajarinya bertahun-tahun lamanya demi perjalanan ini.

Hunter membalas penghormatan itu dengan cara kerajaan mereka, anggun dan berwibawa, lalu mengulurkan tangan menyambutnya. "Kami menyambut kedatanganmu dan saudara-saudaramu dengan hati yang paling terbuka, Panglima Argan. Perjalanan kalian pasti sangat panjang, melelahkan, dan penuh bahaya menyeberangi samudra yang luas dan ganas itu. Segala sesuatu yang ada di negeri ini adalah milik tamu kami yang terhormat. Silakan masuk dan istirahat, nanti kita akan berbincang lebih leluasa."

Di dalam Ruang Tamu Agung yang luas, berlantai marmer berkilau dan berdindingkan ukiran sejarah, pertemuan penting itu akhirnya dimulai. Setelah hidangan penyambutan disajikan dan obrolan ringan mengenai perjalanan selesai, suasana perlahan berubah menjadi lebih serius dan khidmat. Argan mengisyaratkan kepada anak buahnya, yang kemudian menyerahkan sebuah gulungan surat yang dibungkus kain sutra biru dan disegel dengan lilin berwarna emas bermeterkan lambang kerajaan mereka. Argan sendiri berdiri tegak, wajahnya menjadi lebih serius dan penuh ketulusan saat dia mulai menyampaikan pesan utama dari Kaisarnya.

"Yang Mulia Raja Hunter, Raja Taylor, Ratu Elizabeth, dan para tetua sekalian," mulai Argan, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum kembali menatap pemimpin negeri ini. "Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa setelah ratusan tahun kedua bangsa kita terpisah dan tidak saling mengetahui keberadaan, kami tiba-tiba datang menempuh bahaya besar hanya untuk bertemu dengan kalian. Jawabannya sederhana namun sangat mendasar. Kabar tentang negeri ini telah sampai ke telinga Kaisar kami, dibawa oleh para pelaut pemberani yang tersesat, oleh pedagang yang berani menjelajah jauh, dan oleh angin yang membawa cerita kebijaksanaan ke seluruh penjuru dunia."

Dia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang mengandung rasa iri namun juga rasa hormat yang besar. "Kami mendengar bahwa di sini, di tanah ini, kalian telah berhasil membangun sesuatu yang menurut kami hampir mustahil ada di dunia ini. Kami mendengar bahwa kalian telah menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda latar belakang menjadi satu persaudaraan yang kokoh. Kami mendengar bahwa kalian telah menegakkan keadilan yang sama rata bagi semua orang, tanpa memandang kaya atau miskin, pangkat atau derajat. Kami mendengar bahwa kalian hidup makmur namun tetap menjaga alam, bahwa kalian kuat namun tetap damai, dan bahwa kalian memiliki sebuah kebijaksanaan kuno yang menjadi akar dari semua kebaikan itu."

Di seberang samudra sana, lanjut Argan, Kerajaan Samudera Biru sebenarnya adalah kekuatan yang sangat hebat. Wilayahnya sangat luas, kekayaan alamnya melimpah ruah, ilmu pengetahuannya sangat maju, dan kekuatan militernya ditakuti oleh seluruh tetangganya. Namun, di balik kemegahan dan kekuatan itu, tersembunyi luka yang perlahan menggerogoti tubuh kerajaan mereka, penyakit yang berbahaya dan sulit disembuhkan.

"Selama beberapa generasi terakhir," jelas Argan dengan nada sedih dan berat, "kami terlalu sibuk mengejar kekayaan dan kekuasaan. Kami menguasai lautan, kami mengumpulkan emas dan permata sebanyak buih di lautan, kami membangun istana-istana yang megah tak tertandingi. Namun, dalam proses itu, kami lupa akan hal-hal yang paling mendasar. Kami terbelah. Yang kaya semakin menumpuk harta, sementara yang miskin semakin terpinggirkan dan hidup dalam kepahitan. Hukum kami sering kali bisa dibeli dengan uang. Rasa saling percaya antarwarga hilang, digantikan oleh rasa curiga dan persaingan. Dan yang paling mengkhawatirkan, laut yang menjadi sumber hidup kami mulai rusak parah. Kami mengambil terlalu banyak, mengeksploitasi berlebihan, dan tidak mau memberi kembali. Ibu pertiwi kami mulai marah, memberikan tanda-tanda bencana yang semakin sering terjadi."

Mata Argan berkaca-kaca saat menatap Taylor dan Elizabeth, lalu ke arah Hunter. "Kaisar Agung Liora adalah penguasa yang bijaksana dan berhati mulia. Dia sadar bahwa kekuatan pedang dan tumpukan emas tidak akan mampu menyelamatkan kerajaan kami dari kehancuran yang perlahan mendekat. Dia telah mencari solusi ke segala arah, mendatangkan banyak cendekiawan dan ahli, namun tidak ada yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Sampai akhirnya, dia mendengar kabar tentang negeri ini. Tentang kalian. Tentang warisan kebijaksanaan leluhur yang kalian temukan dan kalian terapkan."

Dia berlutut satu kaki di hadapan Hunter, sebagai tanda penghormatan tertinggi bangsanya. "Maka, Kaisar mengutus kami menempuh bahaya samudra ini dengan satu tujuan utama. Dia tidak mengutus kami untuk berperang, tidak untuk menuntut upeti, dan tidak untuk merebut tanah. Dia mengutus kami untuk datang memohon dengan sangat rendah hati... agar kalian bersedia membuka pintu kebijaksanaan kalian bagi kami. Agar kalian bersedia mengajarkan kami cara menyatukan kembali hati rakyat kami, cara menegakkan keadilan yang sejati, dan cara hidup selaras dengan alam seperti yang kalian lakukan. Kaisar kami ingin belajar dari kalian. Dia ingin menjalin persahabatan abadi, persaudaraan sejati, dan pertukaran ilmu pengetahuan. Dia percaya, hanya dengan bersatu dan saling melengkapi, kedua bangsa besar ini bisa bertahan dan bersinar terang selamanya."

Keheningan seketika menyelimuti ruangan besar itu. Para penasihat dan pejabat kerajaan saling berpandangan dengan takjub dan bangga. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa nama baik negeri mereka telah meluas sampai sejauh ini, sampai ke bangsa besar di seberang samudra, dan justru bangsa besar itu datang memohon bimbingan.

Hunter terdiam sejenak, hatinya bergetar mendengar permohonan itu. Dia menoleh ke arah ayah dan ibunya, mencari pandangan dan petunjuk mereka. Taylor dan Elizabeth tersenyum lembut, di mata mereka terlihat kebanggaan yang luar biasa, namun juga ketenangan yang dalam. Taylor mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa keputusan ada di tangan putranya, namun juga mengisyaratkan bahwa jalan kebaikan adalah jalan untuk berbagi.

Hunter bangkit berdiri, melangkah maju menghampiri Argan, lalu menuntunnya berdiri kembali. Dia menatap mata utusan itu dengan tulus dan tegas. "Panglima Argan, dan melalui kamu, kepada Kaisar Agung Liora... Ketahuilah bahwa kebijaksanaan sejati tidak pernah dimiliki untuk disimpan sendiri, dan kebaikan sejati tidak pernah ada batas wilayah atau samudra. Apa yang kami miliki di sini, apa yang kami pelajari dari leluhur kami, dan apa yang kami terapkan dalam hidup kami... semuanya adalah milik siapa saja yang mau menerima dan menjalankannya dengan hati yang bersih."

"Kami menyambut tangan persahabatan dan persaudaraan itu dengan sangat gembira," lanjut Hunter, suaranya bergema penuh kekuatan dan kebaikan. "Kami tidak menganggap kalian orang asing atau bangsa lain. Kami menganggap kalian saudara kami yang terpisah oleh jarak dan waktu. Masalah yang kalian hadapi... kami pernah merasakannya dulu, bertahun-tahun yang lalu, sebelum kami menemukan kembali jalan yang benar. Kami akan berbagi segala yang kami punya: ilmu, pengalaman, dan nasihat. Dan sebagai timbal balik, kami pun ingin belajar dari kalian. Kalian memiliki ilmu bahari, kekuatan penakluk ombak, dan pengetahuan tentang dunia luas yang belum kami ketahui. Mari kita saling melengkapi, saling menguatkan, dan bersinar bersama-sama."

Saat itu juga, di Ruang Tamu Agung itu, terjalinlah ikatan baru yang bersejarah. Ikatan antara dua kerajaan besar yang dulu terpisah, kini bersatu dalam tujuan mulia. Namun, di balik kebahagiaan dan harapan baru itu, ada hal lain yang mulai bergerak di balik bayang-bayang. Di seberang samudra sana, masalah yang dihadapi Kerajaan Samudera Biru tidak sesederhana yang diceritakan. Ada kekuatan-kekuatan gelap, ada kelompok-kelompok yang tidak menyukai kedatangan mereka ke negeri ini, dan ada ambisi-ambisi tersembunyi yang perlahan mulai menampakkan taringnya.

Dunia Hunter dan seluruh rakyatnya kini semakin luas, semakin kaya, namun juga semakin berbahaya. Babak baru telah dimulai, babak di mana kebijaksanaan mereka akan diuji di panggung dunia yang lebih besar.

 Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!