Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mobil Kama akhirnya berhenti di basement sebuah apartemen mewah. Lampu-lampu terang memantul di lantai yang licin, sementara suara hujan hanya terdengar samar dari kejauhan. Kama mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Kyara. "Kita sudah sampai, Teh."
Kyara menatap keluar jendela dengan ragu. Gedung tinggi itu tampak begitu asing dan terasa jauh dari dunia yang baru saja ia tinggalkan. Ia menelan ludah pelan.
"Kita turun, yuk. Hati-hati, takutnya lantainya licin," ujar Kama sambil lebih dulu keluar. Ia bergegas memutari mobil, lalu membuka pintu untuk Kyara.
Kyara turun perlahan. Tubuhnya masih menggigil, tas lusuh itu tetap ia peluk erat di dada. Ia melangkah mengikuti Kama, berjalan menapaki lantai yang sama menuju lift.
Sepanjang perjalanan, Kyara hanya diam. Matanya sesekali mengamati sekitar ... semua terlihat bersih, rapi, dan mewah. Sangat kontras dengan kondisinya saat ini.
Lift terbuka dengan bunyi ting pelan. Mereka masuk. Kama menekan tombol lantai atas, lalu berdiri di samping Kyara tanpa banyak bicara. Ia tahu perempuan itu sedang menahan banyak hal.
Beberapa detik terasa begitu lama. Hingga akhirnya pintu lift terbuka kembali. Kama berjalan lebih dulu, lalu berhenti di depan sebuah pintu apartemen. Ia memasukkan kartu akses, dan pintu terbuka. "Silakan masuk, Teh."
Kyara ragu sejenak di ambang pintu.
Pandangan matanya menyapu ke dalam. Ruang tamu yang luas dengan pencahayaan hangat, sofa empuk berwarna netral, lantai mengilap, dan aroma ruangan yang bersih serta menenangkan.
Langkahnya terasa berat untuk masuk. Bukan karena takut. Tapi karena ia merasa tidak pantas berada di tempat seperti itu dengan kondisi dirinya yang basah kuyup dan berantakan. "Kama, aku ..." Kyara menunduk, suaranya lirih. "Aku basah kuyup, nanti mengotori tempatmu."
Kama yang sudah lebih dulu masuk, langsung menoleh. Ia melihat keraguan di wajah Kyara dan rasa tidak enak yang begitu jelas. Tanpa banyak kata, ia mendekat. Perlahan, ia menarik tangan Kyara dengan lembut. "Tidak apa-apa, Teh. Jangan malu-malu," ucapnya hangat. "Anggap saja rumah sendiri."
Kyara menatapnya, sedikit terkejut dengan kelembutan itu.
Kama tersenyum tipis. "Ayo, aku antar ke kamar tamu." Ia menuntun Kyara masuk lebih dalam ke apartemen.
Setiap langkah terasa asing bagi Kyara, tapi juga memberi rasa aman yang perlahan tumbuh.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu.
Kama membukanya. "Ini kamar tamunya," katanya. "Teteh bisa mandi dulu. Biar hangat."
Kyara melihat ke dalam. Kamar itu rapi, bersih, dengan tempat tidur yang nyaman dan pencahayaan lembut. Hatinya terasa menghangat.
Kama melangkah ke arah lemari, lalu membukanya. Ia mengambil beberapa pakaian. "Untuk baju ganti," katanya sambil menyerahkan kaus dan celana panjang. "Ini punyaku. Memang agak kebesaran, tapi untuk sementara tidak apa-apa ya, Teh. Sampai baju Teteh kering."
Kyara menerima pakaian itu dengan tangan gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Di tengah kehancurannya malam ini, ada seseorang yang memperlakukannya dengan begitu baik. "Terima kasih, Kama," ucapnya lirih, suaranya penuh haru. "Kamu baik sekali." Ia menatap pakaian di tangannya, lalu kembali menatap Kama. "Kamu sama baiknya seperti Oma Amisha."
Nama itu membuat Kama tersenyum kecil. "Iya, Teh," jawabnya pelan. "Oma memang selalu ngajarin aku untuk tidak menutup mata kalau ada orang kesusahan."
Kyara mengangguk pelan. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena sakit. Melainkan karena merasa masih ada kebaikan di dunia yang belum sepenuhnya hilang.
"Sama-sama, Teh," lanjut Kama lembut. Ia lalu melangkah mundur, memberi ruang. "Teteh mandi dulu saja. Kalau sudah selesai, panggil aku ya. Aku ada di kamar."
Kyara mengangguk. "Iya."
Kama pun keluar dari kamar, menutup pintu dengan pelan.
Kini Kyara berdiri sendiri di dalam kamar itu. Hening dan hangat. Bertolak belakang dengan dingin dan kejamnya dunia di luar sana. Ia menatap pakaian di tangannya, lalu perlahan bersandar di nakas. Air matanya kembali mengalir. Namun kali ini bukan karena ia kehilangan segalanya. Melainkan karena di tengah kehancuran itu, ia masih diberi tempat untuk berteduh.
______
Pintu kamar tamu terbuka perlahan. Kyara melangkah keluar dengan ragu. Tubuhnya kini terasa jauh lebih hangat setelah mandi, namun ada perasaan canggung yang belum hilang. Pakaian milik Kama yang ia kenakan tampak kebesaran, menutupi tubuh kecilnya hingga hampir tenggelam di dalamnya. Ia sempat menunduk, merapikan ujung kaus yang terlalu panjang.
Lalu ia berjalan kembali ke dalam kamar sebentar, mengambil tasnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan ponsel dan beberapa dokumen penting. "Syukurlah ... semuanya tidak basah. Hanya pakaian saja yang sedikit lembap." Kyara menghela napas lega. Tanpa banyak berpikir, ia memasukkan baju-baju itu ... termasuk yang tadi ia pakai saat kehujanan ke dalam keranjang cucian yang tersedia di sudut kamar.
Setelah itu, ia mengangkat keranjang tersebut dan melangkah keluar dari kamar. Ia berniat, sekadar numpang mengeringkan.
Langkahnya pelan. Matanya menyapu ruang apartemen yang kini terasa lebih sunyi. "Kama?" panggilnya. Tak ada jawaban. "Kama ..." Ia mencoba lagi, sedikit lebih keras. Tetap hening.
Kyara mengernyit kecil. Ia melangkah lebih jauh, mengikuti arah cahaya yang terlihat dari ujung ruangan. Hingga akhirnya ... ia sampai di dapur. Dan di sana, ia melihat Kama berdiri di depan kompor. Pemuda itu tampak fokus, mengaduk sesuatu di dalam panci kecil. Uap hangat naik perlahan, mengisi udara dengan aroma sederhana namun menenangkan. "Kama," panggil Kyara.
Kama langsung menoleh cepat. "Eh, Teh Kya," sahutnya, sedikit terkejut, lalu tersenyum. "Sudah selesai mandinya?"
Kyara mengangguk pelan. "Kamu lagi apa?" tanyanya, masih berdiri di ambang dapur, keranjang cucian di tangannya.
Kama melirik ke arah kompor, lalu kembali menatap Kyara. "Aku lagi masak mie buat Teteh," jawabnya santai. "Sekalian buatin teh jahe hangat biar Teteh nggak masuk angin."
Kalimat itu sederhana. Tapi, langkah Kyara langsung terhenti. Tubuhnya membeku di tempat. Keranjang cucian di tangannya terasa semakin berat. Matanya menatap Kama tanpa berkedip. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Perhatian. Hal kecil yang dulu mungkin sering ia dapatkan dari orang yang ia sayangi, tapi kini terasa begitu jauh. Begitu langka. Begitu ... berharga.
Bibirnya sedikit terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Ia hanya berdiri diam.
Merasakan sesuatu yang pelan-pelan merambat di hatinya yang sejak tadi dingin.
Kama yang menyadari keheningan itu, mengernyit ringan. "Teh?" panggilnya lembut. "Kenapa?"
Kyara tersentak kecil. Ia cepat-cepat menggeleng. "Enggak," suaranya lirih. "Aku cuma ..." Ia menunduk, lalu mengangkat sedikit keranjang di tangannya. "Aku mau numpang mengeringkan baju," lanjutnya pelan. "Bajuku agak basah, sama yang tadi."
Kama langsung mengangguk. "Oh, iya. Taruh saja di sini, Teh," katanya sambil menunjuk ke arah ruang laundry di sebelah kiri dapur, "Nanti aku bantu keringkan."
Kyara melangkah menuju ruangan itu, menaruh keranjang itu perlahan. Namun sebelum ia sempat memasukan baju-baju itu ke dalam mesin, Kama lebih dulu mencegahnya. "Biar aku saja yang keringkan, Teh." Pemuda berambut hitam pekat itu mendekat tanpa ragu, mengambil beberapa pakaian dari dalam keranjang, lalu memasukkannya ke mesin dengan gerakan santai. Seolah itu hal yang sangat biasa. Seolah membantu Kyara adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan dua kali.
Kyara hanya berdiri di sana. Diam, menatap. Dan tanpa ia sadari ... matanya kembali berkaca-kaca. Ia merasa tidak sepenuhnya sendirian. "Ya Allah ... terima kasih sudah mempertemukanku dengan pemuda sebaik Kama," bisiknya dalam hati.
Note: Selamat hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. 🙏🥰
hehehehe tertawa jahat 🤭🤭🤭