NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23. Keputusan

Ameera lalu mendongak dengan wajah yang sepenuhnya basah oleh air mata. Pertanyaan itu lolos dari bibirnya yang bergetar, terdengar begitu rapuh dan dipenuhi rasa bersalah yang amat besar.

"Apa yang harus kita lakukan, Yang? Apa... apa ide membangun paviliun kembar itu adalah salah besar?" tanya Ameera dengan suara yang nyaris habis, menatap calon suaminya dengan pandangan meminta pertolongan.

Pertanyaan Ameera telak menghantam dada Rayhan.

Ide tentang ‘Paviliun Kembar’ sebuah rencana indah yang mereka susun beberapa waktu lalu. Mereka sepakat untuk membangun dua bangunan paviliun kembar yang berdampingan di atas sebidang tanah luas setelah menikah nanti. Satu paviliun untuk Imam, dan satu paviliun untuk Habibah. Tujuannya begitu mulia: mereka ingin tetap berbakti dan merawat orang tua tunggal mereka masing-masing tanpa harus terpisah jarak. Karena rencana pembangunan itulah, mereka sementara waktu menyewa rumah kontrakan ini bersama-sama demi menghemat biaya.

Rayhan perlahan ikut turun ke lantai, duduk bersimpuh di hadapan Ameera. Ia meraih kedua bahu gadis itu yang terguncang hebat karena tangis.

"Kita tidak salah, Meer. Ide itu tidak salah," bisik Rayhan, suaranya serak menahan gejolak di dadanya sendiri. "Kita melakukannya karena kita sayang sama Ibu dan Papa. Kita tidak pernah tahu kalau niat baik kita justru berubah menjadi ruang penyiksaan bagi batin mereka."

Rayhan menyapu air mata di pipi Ameera dengan ibu jarinya, meski matanya sendiri kini ikut memerah.

"Paviliun kembar itu... awalnya kita rancang sebagai rumah masa tua yang tenang untuk mereka. Tapi sekarang aku sadar, Meer... mendekatkan dua orang yang punya masa lalu sedalam itu, membiarkan mereka hidup berdampingan setiap hari, itu sama saja dengan menaruh bensin di dekat api. Suatu saat, pertahanan mereka pasti akan jebol, dan saat itu terjadi, bukan cuma mereka yang hancur, tapi kita juga."

Ameera mencengkeram erat jaket Rayhan. "Lalu kita harus bagaimana, Yang? Apa kita harus batalkan semuanya? Apa kita harus memisahkan mereka? Tapi Papa nggak punya siapa-siapa lagi selain aku... Tante Bibah juga cuma punya kamu."

Rayhan menarik Ameera ke dalam pelukannya, mendekap gadis itu dengan erat di bawah keheningan kamar lantai atas.

"Kita tidak bisa membatalkan pernikahan kita, Meer. Kita saling mencintai, dan orang tua kita pun ingin kita bahagia. Tapi kita harus merubah rencana," ujar Rayhan tegas, sebuah keputusan mulai terbentuk di kepalanya yang terasa pening.

"Rencana paviliun kembar itu harus kita batalkan. Setelah menikah, kita yang harus mengalah. Kita mungkin harus tinggal terpisah dari mereka, atau kita carikan Ibu dan Papa tempat tinggal yang jaraknya berjauhan. Kita harus memberi mereka ruang untuk bernapas, Meer. Jarak adalah satu-satunya cara untuk menjaga kewarasan mereka... dan menyelamatkan masa depan kita."

Ameera hanya bisa terisak di dada Rayhan, meratapi impian indah mereka.

Ameera kembali mendongak, menatap Rayhan dengan tatapan mata yang begitu terluka. Satu pertanyaan lagi lolos begitu saja, sarat akan dilema moral yang luar biasa berat bagi seorang anak yang berbakti.

"Lalu, kalau kita pisah rumah dari mereka, mereka akan kesepian, Yang? Papa nggak punya siapa-siapa lagi di selain aku. Tante Bibah juga cuma punya kamu. Apa kita bisa beneran bahagia di atas kesepian orang tua kita?" bisik Ameera, air matanya kembali luruh.

Rayhan terdiam, tidak mampu langsung menjawab. Kalimat Ameera telak menghantam nuraninya. Sebagai anak tunggal yang dibesarkan oleh seorang ibu tunggal, ketakutan terbesar Rayhan adalah membiarkan ibunya menua dalam kesendirian dan kesepian. Di sisi lain, melihat Imam dan ibunya tersiksa dalam lingkaran rasa bersalah setiap hari juga bukan sebuah pilihan.

Rayhan mencengkeram jemari Ameera, mencoba menyalurkan kekuatan yang tersisa di dalam dirinya.

"Aku juga tidak tahu, Meer," aku Rayhan dengan jujur, suaranya terdengar berat dan serak. "Pertanyaan itu juga yang sekarang bikin dadaku rasanya sesak sekali."

Rayhan menarik napas dalam-dalam, menatap langit-langit kamar sejenak sebelum kembali menatap calon istrinya. "Tapi coba kita balik logikanya. Kalau kita memaksakan rencana awal, tinggal di paviliun kembar itu apakah mereka beneran nggak kesepian? Mereka mungkin dikelilingi kita, tapi batin mereka akan selalu terisolasi. Mereka harus terus bersandiwara, memakai topeng, dan menahan perasaan yang tidak boleh ada. Itu bukan rumah yang hangat, Meer. Itu bakal jadi penjara bawah tanah buat mereka."

Ameera menyandarkan keningnya di bahu Rayhan, bahunya masih naik turun karena sisa tangis. "Tapi rasanya adil nggak sih buat mereka? Masa muda mereka sudah pahit karena terpisah, masa tua mereka sekarang harus dipisahkan lagi gara-gara anak-anak mereka saling mencintai?"

"Dunia ini kadang memang sekejam itu, Meer," jawab Rayhan lirih, tangannya bergerak mengusap rambut Ameera dengan lembut. "Tapi berpisah rumah bukan berarti kita menelantarkan mereka. Kita masih bisa jenguk Papa bergantian, kita masih bisa bawa Ibu tinggal sama kita beberapa bulan, lalu gantian kita temani Papa. Kita hanya memisahkan mereka berdua, bukan membuang mereka dari hidup kita."

Rayhan menjeda kalimatnya, meresapi setiap perkataannya sendiri. "Bahagia atau tidaknya kita nanti, itu tergantung bagaimana kita menyikapinya setelah sah. Tapi yang jelas, malam ini kita berdua sudah tahu kebenarannya. Kita tidak bisa lagi pura-pura buta dan tuli melihat ketegangan di bawah atap rumah ini. Kita harus bersikap dewasa, demi menjaga kehormatan Ibu, kesucian Papa, dan masa depan pernikahan kita sendiri."

Ameera tidak lagi membantah. Di kamar lantai atas yang semakin larut itu, kedua anak muda tersebut hanya bisa saling mendekap, mencoba menguatkan hati yang mendadak patah sebelum kelopak pernikahan mereka bahkan sempat mekar sempurna.

*

*

Di dalam kamar lantai bawah yang remang-remang, Habibah duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Mukena putih yang dikenakannya tampak kontras dengan wajahnya yang kuyu dan basah oleh air mata. Samar-samar Ia bisa mendengar suara isak tangis Ameera dari lantai atas, juga suara rendah Rayhan yang sedang memberikan penjelasan karena malam sudah larut dan sepi.

Habibah memejamkan mata erat-earat. Dadanya terasa seperti dihimpit bongkahan batu besar.

“Mereka sudah tahu... anak-anak sudah tahu,” batinnya meratap.

Kehancuran yang paling ia takuti akhirnya terjadi. Bukan kemarahan yang ia dengar dari lantai atas, melainkan suara patah hati yang teramat dalam dari dua orang yang sangat ia sayangi. Habibah merasa dirinya adalah sumber bencana. Kehadirannya di rumah ini, cintanya di masa lalu pada Imam, kini telah berubah menjadi racun bagi kebahagiaan putra tunggalnya.

Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai melipat mukenanya. Matanya tertuju pada tas koper kecil di sudut lemari. Sebuah keputusan drastis mulai mengeras di dalam kepalanya yang terasa pening.

Ia tidak bisa membiarkan Rayhan dan Ameera mengorbankan impian "Paviliun Kembar" mereka. Ia tidak bisa membiarkan anak-anak itu hidup dalam dilema untuk terus memisahkannya dengan Imam. Baginya, ada satu jalan keluar yang paling masuk akal agar semua orang bisa bernapas lega, kecuali dirinya sendiri.

Habibah mengambil secarik kertas dan sebuah pena dari laci meja kecil di samping tempat tidur. Ia mulai menuliskan sesuatu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

“Rayhan, putra Ibu tersayang... Ameera, calon menantu Ibu yang baik...”

Ia berhenti sejenak, air matanya menetes mengenai kertas itu.

“Ibu tidak ingin menjadi beban bagi masa depan kalian. Ibu tidak ingin kalian melihat Ibu dengan rasa kasihan atau rasa bersalah. Ibu sudah memikirkan ini matang-matang. Setelah kalian menikah nanti, Ibu ingin tinggal di panti jompo saja. Ibu sudah mencari beberapa tempat yang tenang dan punya banyak kegiatan ibadah. Di sana Ibu akan punya banyak teman seusia, dan kalian tidak perlu lagi khawatir soal kenyamanan atau siapa yang menjaga Ibu.”

Habibah mengusap air matanya dengan ujung bajunya. Ia tahu Rayhan pasti akan menolak mentah-mentah ide ini, tapi baginya, ini adalah cara terakhir untuk "menebus dosa" masa lalunya.

“Jangan anggap ini sebagai pembuangan. Anggap ini sebagai cara Ibu untuk mencari ketenangan di sisa usia Ibu. Ibu ingin melihat kalian bahagia di rumah kalian sendiri, tanpa harus terganggu oleh bayang-bayang masa lalu yang sudah seharusnya Ibu kubur. Tolong, jangan tolak permintaan terakhir Ibu ini.”

Habibah berjalan menuju jendela kamarnya, menyibak sedikit gorden dan menatap keluar. Di sana, di halaman depan yang sepi, mobil SUV milik Imam masih terparkir.

Ia membayangkan Imam di kamar sebelah, mungkin sedang mengalami pergulatan batin yang sama hebatnya. Habibah menyadari satu hal: selama ia dan Imam masih berada dalam jangkauan pandangan satu sama lain, selama itu pula Rayhan dan Ameera tidak akan pernah tenang.

"Hanya dengan aku pergi jauh... kalian bisa bahagia," bisik Habibah pada kegelapan malam.

Rencana panti jompo itu terdengar menyedihkan bagi orang lain, tapi bagi Habibah, itu adalah benteng perlindungan terakhir untuk menjaga martabatnya sebagai seorang ibu, sekaligus menjaga kesucian pernikahan anaknya dari bara api masa lalu yang ternyata masih sanggup membakar segalanya.

Ia meletakkan surat itu di atas nakas, tepat di bawah lampu tidur, bertekad untuk menyampaikannya pada Rayhan esok pagi, tak peduli betapapun kerasnya putra tunggalnya itu akan menentang.

*****

1
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
Safitri Agus
jeng nya dihilangkan 🤭
yuli mamah
😬😬😬😬😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!