Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Bryan telah menunggu lama Gaby, ia terduduk sendiri ditaman kampus.
"Hey!!" Sapa Gaby dengan suara keras sehingga membuat Bryan terkejut.
"AAA!!" Teriak Bryan kaget.
Gaby menutup telinganya karena suara Bryan yang keras.
"Aaah... kau ini, bisa tidak jangan mengagetkanku?" Pinta Bryan sedikit marah.
"Ahahaha... maaf, kau sudah lama menunggu?" Ucap Gaby dengan senyum kecil.
"Iya, kau lama sekali." Jawab Bryan sedikit merajuk.
"Hmm... maafkan aku, tadi Shany datang dan membuat keributan," sahut Gaby pelan.
"Duduklah," Bryan menepuk kursi disebelahnya.
"Ngomong-ngomong kau tinggal dimana?" Tanya Gaby dengan tatapan menyelidik.
"Dekat sini saja," jawab Bryan dengan santai.
"Benar, dia menyembunyikan sesuatu dariku!" Batin Gaby.
"Ah baiklah, apa yang akan kau lakukan?" Gaby kembali bertanya.
Bryan mendekatkan wajahnya ke wajah Gaby, namun Gaby dapat melihat bahwa Bryan tidak sedang menatapnya. Bryan menatap kebelakang Gaby, tepatnya memberi kode kearah Shany.
"Kenapa?" Tanya Gaby santai.
Bryan tersenyum kemudian mengangkat tangannya kerambut Gaby, seketika itu juga Shany memotret keduanya.
"Ada daun dirambutmu." Jawab Bryan dengan santai.
Gaby mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia tersenyum manis kearah Bryan.
Sementara itu...
"Kangjian, apa tidak ada informasi lagi mengenai keluarga Shanzoora?" Tanya Ardiaz ketika sedang rehat.
"Tidak ada tuan, sangat sulit untuk masuk kedalam wilayah keluarga Shanzoora. Karena, terdapat sebuah tembok besar menyerupai benteng yang menghalangi dan menutup wilayah mereka!" Jawab Kangjian dengan sangat rinci.
"Benteng? Kenapa terdapat sebuah benteng? Jika benar wilayah mereka ditutup dengan tembok besar, lantas mengapa putri keluarga Shanzoora dapat keluar bebas?" Ucap Ardiaz semakin menyelidik.
"Benar juga, sepertinya nona Shanzoora tidak berada diwilayah tersebut. Melainkan ia tinggal disebuah villa atau semacamnya dekat sini." Jawab Kangjian menyetujui perkataan Ardiaz.
Ardiaz manggut-manggut sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya kemeja.
"Selidiki lebih dalam, sekarang kau pergi kerumah Gaby. Ambil dokumen berwarna biru diruang baca!" Perintah Ardiaz.
"Baik tuan!!" Jawab Kangjian meyanggupi sambil sedikit membungkuk.
Ardiaz mengambil ponselnya, lalu memainkannya untuk melihat data-data yang tersimpan didalamnya. Seketika itu juga sebuah notifikasi masuk kedalam ponselnya.
"Shany Shanzoora?" Pikir Ardiaz setelah melihat nama dari notifikasi tersebut.
Ardiaz membukanya kemudian ia melihat sebuah foto mesra antara Gaby dan Bryan.
"Apa-apaan ini!!" Tegasnya marah.
"Berani-beraninya pria itu menyentuh wanitaku!!" Lanjutnya sambil mendobrak meja dan berdiri.
"Aku tahu dia berpura-pura. Tapi apa harus sambil menyentuh wanitaku, benar-benar keterlaluan!!" Ardiaz meletakan kembali ponselnya.
"Apa aku balas saja ya?" Pikir Ardiaz.
Ia menatap kembali ponselnya dan meraihnya.
"Tidak, terlalu merepotkan!" Ucapnya sembari meletakan kembali ponselnya.
Dirumah Gaby...
"Ah surat nona, aku ingin sekali membacanya. Tapi, ini rahasia nona bagaimana mungkin aku membacanya!" Ucap Anny ketika ia melihat sebuah surat yang ditinggalkan Gaby untuk dibaca nanti.
"Lebih baik aku simpan saja didalam kamarnya," lanjutnya.
Anny mengambil surat tersebut sambil membawa nampan. Tanpa ia sadari surat untuk Gaby terjatuh dan akhirnya ditinggalkan begitu saja.
Kangjian datang dengan terburu-buru. Dengan tak sengaja Kangjian menginjak surat Gaby.
"Ah! Apa ini?" Ucapnya pelan ketika ia merasakan telah menginjak sesuatu.
Kangjian menangkat kakinya lalu membungkuk dan mengambil sepucuk surat untuk Gaby. Tak lama kemudian Anny datang, tampak Anny yang tergesa-gesa saat melihat Kangjian mengambil surat tersebut.
Lantas, Anny merebutnya dan menyembunyikannya dibalik badannya. Sontak saja hal itu membuat Kangjian curiga dan bertanya-tanya.
"Apa isi surat itu?" Tanya Kangjian dengan tatapan menyelidik.
"Bukan apa-apa, hanya saja ini sebuah surat tagihan." Jawab Anny dengan santai.
"Lalu, kenapa anda merebutnya dari saya?" Kangjian kembali bertanya.
"Tidak apa-apa, saya hanya tidak ingin anda repot membayar tagihan ini. Lagipula saya sudah membayarnya," lagi-lagi Anny menjawab dengan santai sehingga kecurigaan Kangjian menghilang setelah ia tersada bahwa Ardiaz menyuruhnya untuk mengambil dokumen.
"Baiklah, saya mau naik ketas dan mengambil dokumen." Pamit Kangjian sebelum menaiki tangga.
"Iya!" Jawab singkat Anny dengan senyum ramah.
Kangjian berjalan menaiki tangga sementara Anny menghela nafas lega karena Kangjian tak lagi membahas mengenai surat yang ia rebut.
"Syukurlah sudah berlalu, untung saja surat ini tidak dibaca sekertaris Kang," batin Anny lega.
Anny berjalan mengikuti Kangjian menaiki tangga namun dengan arah yang berbeda. Anny masuk kedalam kamar Gaby lalu meletakan surat tersebut dimeja belajar Gaby.
Suasana kelas yang begitu ramai dan bising membuat kepala Gaby seakan ingin pecah. Ketibutan yang ditimbulkan siswa laki-laki yang heboh mambahas game terbaru. Sementara siswi perempuan sibuk membicarakan setiap tuan muda tampan yang ada dikota mereka.
"Berisik sekali. Tuan muda inilah, tuan muda itulah. Hais...," ucap Gaby sebal.
"Tapi, kenapa sekarang aku jadi terpikirkan dengan tuan Ardiaz?" Batinnya sambil menatap cincin cantik dijari manisnya.
"Sampai sekarang, aku belum menemukan jawabannya." Lanjutnya dengan sambil mengusap pelan cincin tersebut.
Gaby membung nafas gusar, setelahnya dengan tiba-tiba Shany datang dan membuat keributan.
"Hey, apa kau tahu siapa aku?" Tanya Shany dengan berlagak sombong.
"Tidak tahu dan tidak peduli!" Jawab Gaby malas.
"Cih! Oh ya, kudengar kau dekat dengan seorang pria." Ucap Shany memanas-manasi Gaby.
"Kau ini memang seperti kompor!" Batin Gaby.
"Lalu? Apa masalahnya denganmu?" Sahut Gaby tegas.
"Tidak ada sih, hanya saja apakah tuan Ardiaz akan marah atau tidak setelah mendengar kalau kau punya lelaki lain dibelakangnya?" Shany melirik Gaby dengan tatapan menantang dan senyuman lebarnya.
"Kenapa kau tanya padaku? Kenapa tidak tanya langsung saja pada tuan Ardiaz?" Jawab Gaby membalas senyuman Shany.
"Gadis ini pintar berbicara juga ya." Batin Shany.
"Sebentar, aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau berpikir kalau aku ini pintar berbicara, bukan?" Tebak Gaby yang memang benar tebakannya tersebut.
"Ah! Bagaimana kau tahu?" Tanya Shany terkejut setelah mendengar tebakan Gaby.
"Ah kau ini, tentu saja aku tahu. Kau itu memang sangat baik sampai memujiku seperti itu," jawab Gaby dengan senyum puas.
"Keterlaluan! Mana ada aku memujimu!!" Bantah Shany dengan keras.
"Tentu saja ada. Barusan kau memujiku pintar!" Jawab Gaby.
Semua siswa dan siswi dikelas Gaby terdiam setelah mendengar ucapan Gaby, mereka saling memandang Shany dengan tatapan menyelidik.
"Apa benar Shany memuji Gaby?" Bisik para siswi.
"Bukankah Shany itu tidak pernah memuji orang lain?" Lanjut para siswa.
"Mungkin karena popularitasnya dikalahkan Gaby, jadi dia memuji Gaby dan mendekatinya untuk mengembalikan populasritasnya!" Jawab yang lain.
"Keterlaluan!!" Tegas Shany marah.
"Kau yang memulai, kau sendiri yang malu!" Ucap Gaby pelan.
"Dengar ya, kalian sedang berurusan dengan seorang Shany Shanzoora. Lihat saja nanti apa yang akan aku perbuat kepada kalian semua!!" Lanjutnya dengan marah, lalu pergi meninggalkan kelas.
"Aku tahu dia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Tapi, aku akan menghadapinya dengan hati-hati!" Batin Gaby sambil menatap kepergian Shany.