NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 24 Hari Pertama Program Percepatan Cucu

Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak malam itu.

Gavin akhirnya tidur di sisi kanan ranjang. Rania di sisi kiri.

Jarak aman.

Dengan benteng bantal di tengah.

Namun entah kenapa— justru itu terasa jauh lebih mengganggu.

Karena setiap kali bergerak sedikit— Rania terlalu sadar ada seseorang di dekatnya.

Dan Gavin— terlalu sadar perempuan itu masih menjaga jarak bahkan saat tidur.

Tidak ada yang bicara lagi.

Tapi juga— tidak ada yang benar-benar bisa tidur.

Lalu pagi datang terlalu cepat.

Rania Azarina terbangun karena suara ketukan brutal di pintu kamarnya.

TOK. TOK. TOK.

“Bangun!”

Suara Ratna Mawarni.

Disusul suara Ambar Mahendra yang tak kalah bersemangat.

“Pasangan harmonis tidak boleh bangun kesiangan!”

Rania membuka mata perlahan.

Butuh beberapa detik untuk mengingat semua tragedi hidupnya secara berurutan.

Pernikahan kontrak.

Pertanyaan Gavin yang belum terjawab.

Dan sekarang—

Program percepatan cucu.

Ia menutup wajah dengan bantal.

“Mending saya resign dari hidup,” gumamnya.

TOK TOK TOK.

“Rania! Mama hitung sampai tiga!”

Ia langsung bangkit.

Karena jika ada satu hal yang lebih menakutkan daripada CEO psikopat bernama Theo Santoso, itu adalah ibunya sendiri saat sedang punya misi.

Sepuluh menit kemudian, Rania keluar kamar dengan hoodie abu-abu longgar dan rambut masih acak-acakan.

Lalu ia berhenti.

Di meja makan, Ratna dan Ambar sudah duduk manis seperti dua kepala badan intelijen.

Di depan mereka tergeletak—

sebuah papan tulis kecil.

Lengkap dengan spidol warna-warni.

Di bagian atas tertulis besar:

PROGRAM PERCEPATAN CUCU – HARI 1

Rania mematung.

“Oh, Tuhan.”

“Bukan Tuhan,” koreksi Ratna ceria.

“Ini Mama.”

Ambar berdiri elegan, memegang pointer kecil entah dari mana asalnya.

“Baik. Berdasarkan observasi kami semalam, progres kalian lambat.”

Rania nyaris tersedak udara.

“Observasi?”

Ratna mengangguk bangga.

“Kami lihat kalian tidur jam sebelas malam dan tidak ada suara mencurigakan sampai jam satu.”

Sunyi.

Wajah Rania perlahan memerah.

“Mama nguping?”

“Bukan nguping,” bela Ratna.

“Memonitor.”

“Itu lebih buruk!”

Saat itulah Gavin keluar dari kamar.

Kaos hitam.

Celana training.

Rambut sedikit berantakan.

Rania refleks menegang. Karena mereka tidur satu kamar semalaman— dan pembicaraan tadi malam masih menggantung.

Gavin berhenti melihat papan tulis.

Dan ekspresi datar khas seseorang yang baru bangun lalu langsung menyesali eksistensinya.

Ia memejamkan mata sebentar.

“Saya harap itu halusinasi.”

“Sayangnya tidak,” gumam Rania.

Ratna menepuk meja antusias.

“Bagus! Semua sudah kumpul. Kita mulai briefing.”

Gavin duduk di samping Rania.

Terlalu dekat.

Bahunya nyaris bersentuhan dengan bahu Rania.

Dan entah kenapa, setelah kejadian semalam, jarak sekecil itu terasa jauh lebih mengganggu.

Rania refleks bergeser sedikit.

Gavin melirik.

Hanya sekilas.

Namun cukup untuk membuat Rania mendadak merasa bersalah.

Sial.

Kenapa ia merasa bersalah?

Ambar mulai presentasi.

“Agenda hari ini.”

Ia menunjuk poin pertama.

Memasak romantis berdua

Ratna tersenyum lebar.

“Kalian masak bersama.”

Rania mengangkat tangan seperti murid protes.

“Kenapa harus masak?"

“Karena bonding,” jawab Ratna mantap.

Ambar menunjuk poin kedua.

Aktivitas fisik pasangan

Rania mengernyit.

“Maaf?”

"Couple yoga.”

Ratna mengangkat sebuah matras yoga dari bawah meja.

Gavin langsung batuk.

“Tidak.”

“Kenapa tidak?” tanya Ambar.

“Karena saya masih menghargai martabat saya,” kata Gavin.

Ratna mengabaikannya dan lanjut menunjuk poin ketiga.

Quality time tanpa gadget

“Mulai jam delapan malam,” katanya,

“semua laptop, tablet, dan ponsel disita.”

Kini Gavin dan Rania kompak membelalak.

“Itu pelanggaran HAM,” kata Rania.

“Itu investasi masa depan,” balas Ratna.

Lalu tibalah poin terakhir.

Ratna tersenyum penuh kemenangan.

Tidur sekamar tanpa benteng bantal

Sunyi.

Rania tersedak kopinya.

Gavin nyaris menjatuhkan cangkir.

“Maaf?” suara mereka bersamaan.

Ratna melipat tangan.

“Mama cek kamar tadi pagi.”

Jantung Rania drop.

“Mama ngapain masuk kamar?!” pekik Rania.

“Inspeksi.”

Ambar mengangguk setuju.

“Kami menemukan dua bantal tersusun di tengah ranjang.”

Ratna menatap mereka tajam.

“Itu sabotase biologis.”

Rania ingin pindah planet.

Benar-benar pindah planet.

Tiga puluh menit kemudian, entah bagaimana, mereka benar-benar berada di dapur.

Berdua.

Memakai apron.

Dengan Ratna dan Ambar mengawasi dari meja makan seperti juri acara kompetisi memasak.

Rania menatap telur di tangannya dengan tatapan penuh ancaman.

“Saya tidak pernah masak."

Gavin menoleh.

“Kamu hidup dari apa?”

“Delivery app dan keberuntungan.”

“Masuk akal.”

Ratna bertepuk tangan.

“Ayo mulai!”

Maka dimulailah tragedi kuliner terbesar abad ini.

Rania memecahkan telur terlalu keras sampai kulitnya masuk semua ke mangkuk.

Gavin menyalakan kompor hingga api menyembur terlalu besar.

Rania refleks mundur dan menabrak Gavin.

Tubuhnya terhuyung.

Namun sebelum jatuh, tangan Gavin sigap menangkap pinggangnya.

Deg

Tubuh mereka membeku.

Tatapan bertemu.

Canggung.

Aneh.

Sial.

Kenapa tubuhnya masih hafal rasa aman begini?

Ini buruk. Sangat buruk.

Jantung Rania langsung berdebar kacau.

Ia buru-buru menjauh.

“Lepas.”

Gavin langsung menarik tangannya.

“Maaf.”

Nada suaranya datar.

Terlalu datar.

Tatapan Gavin sempat turun ke wajahnya.

Lalu menjauh lagi.

Seolah mengingat sesuatu.

Kontrak.

Dan itu entah kenapa membuat dada Rania terasa sedikit sesak.

Di belakang mereka, Ratna berbisik keras pada Ambar.

“Lihat nggak? Chemistry-nya ada.”

“Ada. Tapi denial.”

“Mereka butuh dorongan.”

Rania memejamkan mata.

Ia benar-benar mempertimbangkan kabur lewat balkon.

Entah bagaimana— proses memasak akhirnya selesai.

Dengan Gavin yang lebih banyak bergerak— karena Rania ternyata benar-benar tidak pintar memasak.

Mereka akhirnya sarapan bersama.

Gavin duduk di samping Rania.

Tidak terlalu dekat.

Tidak juga jauh.

Ia beberapa kali terlihat ingin bicara.

Namun setiap Rania mengalihkan pandangan— pria itu memilih diam lagi.

Setelah sarapan yang secara teknis bisa dikategorikan layak konsumsi, bencana berikutnya dimulai.

Couple yoga.

Rania berdiri kaku di atas matras.

Memandang video instruktur yoga pasangan yang diputar Ratna di TV.

“Ini ilegal.”

“Ini sehat,” kata Ambar.

Pose pertama sederhana.

Masih aman.

Pose kedua mulai absurd.

Pose ketiga mengharuskan Rania bersandar penuh ke tubuh Gavin.

“Nggak bisa,” katanya cepat.

“Bisa,” sahut Ratna.

“Tidak mau.”

“Justru itu masalahnya.”

Gavin mengembuskan napas panjang.

“Sudahi saja.”

Namun Ratna menyilangkan tangan.

“Kalau gagal, malam ini kalian nonton maraton film romantis pilihan Mama.”

Sunyi.

Rania menoleh ke Gavin.

Gavin menoleh balik.

Tatapan mereka bertemu.

Ancaman itu nyata.

“Lakukan,” kata Gavin akhirnya.

Dengan sangat terpaksa, Rania melangkah mendekat.

Terlalu dekat.

Tangannya bertumpu di bahu Gavin.

Tangan pria itu otomatis menopang pinggangnya.

Dan tubuhnya langsung menegang.

Hangat.

Kokoh.

Terlalu familiar.

“Rileks,” kata Gavin pendek. Masih terdengar sedikit datar.

“Kalau saya jatuh?”

“Saya tangkap.”

Pendek. Refleks. Seolah tubuhnya menjawab lebih dulu daripada egonya.

Kalimat Gavin sederhana.

Namun entah kenapa, nadanya terdengar berbeda.

Lebih lembut.

Dan sialnya, jantung Rania langsung kehilangan ritme

Ia mendongak.

Mendapati Gavin juga sedang menatapnya.

Terlalu fokus.

Terlalu dekat.

Waktu seolah melambat.

Mungkin—

Mungkin kalau tidak ada gangguan—

“Bagus!”

Teriakan Ratna memecah momen itu.

Rania refleks kaget.

Keseimbangannya hilang.

Dan detik berikutnya—

BRAK.

Ia benar-benar jatuh.

Menimpa Gavin.

Kini mereka tergeletak di atas matras.

Rania tepat di atas tubuh pria itu.

Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.

Napas keduanya memburu.

Sunyi.

Sangat sunyi.

Gavin tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertahan pada wajah Rania yang terlalu dekat. Napas perempuan itu masih terasa di wajahnya. Dan untuk alasan yang sangat mengganggu— ia tidak buru-buru menyuruhnya menjauh.

“Kamu nggak apa-apa?”

Pelan.

Hampir seperti refleks.

Ratna menjerit girang.

“AMBAR, CEPAT FOTO!”

FLASH.

Realitas menghantam.

Rania langsung melompat berdiri seperti tersengat listrik.

Wajahnya merah padam.

Sementara Gavin masih berbaring di lantai, menatap langit-langit dengan ekspresi seseorang yang sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya.

Ambar memandangi hasil foto dengan bangga.

“Bagus sekali. Ini bisa kita print.”

“Jangan,” kata Gavin datar.

Ratna tersenyum licik.

“Oh, ini baru hari pertama.”

Ia menatap mereka penuh arti.

“Masih ada dua hari lagi.”

“Kalau sampai hari ketiga progres kalian nol, Mama perpanjang program ini seminggu,” sambung Ratna.

Hening.

Rania menoleh. Gavin sudah lebih dulu menatapnya.

"Saya mulai mengerti kenapa orang-orang pindah ke luar negeri,” kata Gavin.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, mereka memiliki pikiran yang sama persis.

Mereka harus bertahan hidup.

Di atas meja— papan “Hari 2” sudah mulai ditulis.

Dan Rania mendadak takut.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!