Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ada yang Capek
Lova tertegun melihat reaksi pria itu. 'Mungkin dia tak mendengarkan ucapanku barusan,' batin Lova berusaha berpikir positif.
Arnold terlihat menyalami ibunya dan keluar dari rumah tanpa mengajak dirinya. "Kak?" ucapnya berusaha memanggil di saat punggung itu terus menjauh. Ini sungguh berbeda di masa mereka di rumah utama keluarga Darmawan. Genggamannya tak pernah dilepaskan Arnold, tapi kenapa sekarang dia begini?
"Lova, kenapa masih bengong? Suami kamu sudah menunggu kamu tu." Lamunan Lova dibuyarkan oleh colekan sang ibu.
"Ooh, iya Ma. Aku ikut Kak Arnold ya?" Lalu, kepala Lova bergerak berputar menatap setiap sudut rumahnya ini.
"Mama yakin tinggal di sini sendiri? Ikut sama aku saja ya? Atau, aku yang di sini saja sama Mama."
Ibunya tersenyum dan mengangguk mantap. "Jangan! Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Istri harus selalu berada di sisi suaminya." Ibu Lova memutar kepala menatap mobil yang mesinnya telah berderu, siap untuk pergi.
"Buruan gih! Nanti suami kamu bisa kesal karena kelamaan menunggu." Ibunya mendorong Lova agar segera menyusul Arnold.
Lova berjalan dengan berat hati. Entah kenapa tawa hari ini, seketika berubah kelabu dalam waktu singkat. Mobil perkasa yang biasa gagah menyambut dirinya, kini terasa dingin tak mengizinkannya masuk ke dalam sana.
Sejenak, Lova menggigit bibir, bimbang untuk masuk dan duduk di samping Arnold. Akhirnya, ia membelakangi mobil, termasuk Arnold yang sedang terpaku menatap ke jendela depan.
Matanya mulai terasa berat oleh genangan air mata. Namun, ia berusaha untuk menguatkan hati agar cairan bening itu tidak terjatuh di hadapan Arnold.
"Kakak duluan aja!" Lova tak memedulikan ucapannya terdengar atau tidak. Ia memilih berjalan cepat meninggalkan kendaraan itu dan segera menuju jalan utama.
Arnold menatap punggung Lova yang terus menjauh lewat spion. Lova mempercepat langkahnya, mengabaikan denyut nyeri di dadanya yang kian menyesakkan. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh juga, membasahi pipinya yang mendingin diterpa angin sore.
Sialan. Arnold benar-benar keterlaluan. Pria yang baru saja melambungkannya ke langit dengan merenovasi rumah ibunya, lalu sedetik kemudian mengempaskannya ke jurang terdalam tanpa penjelasan.
Langkah kaki Lova melambat begitu ia mencapai trotoar jalan utama. Suasana sekitar mulai sepi, dan siluet beberapa pria asing yang sedang nongkrong di dekat halte bus seketika membuat alarm bahaya di kepalanya berbunyi. Meskipun area ini dekat dengan rumahnya, tetapi Lova begitu jarang keluar dari rumah.
Ketakutan itu ... fobia itu ... mendadak muncul kembali.
Dada Lova naik-turun tak beraturan. Bayangan kelam masa lalu saat usianya dua belas tahun kembali berputar bagai kaset rusak, saat seorang pria dewasa yang menurunkannya di pinggir jalan, menariknya dengan kasar.
Tubuh Lova mulai bergetar, ingatan kelam itu tiba-tiba muncul. Kedua tangannya menegang, berusaha memukul-mukul kepalanya agar bayangan itu segera pergi.
Kakinya terasa semakin lemas, tak mampu lagi digerakkan, tepat saat beberapa pasang mata pria asing di sana mulai menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Lova memejamkan mata erat-erat, meremas ujung blusnya, bersiap menghadapi serangan panik yang mengerikan.
Ckiiiiiitttt!
Suara derit ban mobil yang bergesekan kasar dengan aspal memecah keheningan. Lova tersentak, membuka matanya perlahan. Mobil perkasa milik Arnold sudah terparkir melintang di depannya, menghalangi pandangan para pria asing di halte tadi.
Pintu kemudi terbuka kasar. Arnold keluar dari sana. Wajah datar saat meninggalkan Lova kini sirna, berganti gurat kepanikan yang luar biasa, meski matanya tetap memancarkan kilat amarah. Pria itu melangkah lebar, lalu tanpa permisi menarik lengan Lova, memaksa wanita itu masuk ke dalam kursi penumpang.
Brak!
Arnold menutup pintu dengan keras sebelum memutari kap mobil dan kembali ke kursi kemudi. Suasana di dalam mobil seketika terasa mencekam. Hanya ada deru napas Lova yang tersengal-sengal dan tarikan napas berat dari Arnold.
"Zarisha ... Kamu gila ya?!" bentak Arnold, suaranya naik satu oktav. Lova tersentak semakin takut wajahnya tertunduk dan kedua tangan menggenggam lutut dengan kuat.
"Jalan kaki sendirian di tempat sepi begini? Kamu lupa dengan kondisi kamu sendiri, hah?!"
Lova hening ... hening yang panjang. Ia membutuhkan waktu untuk menguasai dirinya sendiri. Ditambah bentakan Arnold yang terus terngiang di kepalanya.
Arnold menyadari, baru saja melakukan kesalahan. Ia berusaha menenangkan diri. Berulang kali menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Sampai, ia merasa berhasil menguasai amarah yang bercampur kepanikan, menjadi lebih tenang.
"Adik Kecil, maafkan Kakak," ucapnya memutar kepala ke belakang menatap Lova yang masih belum bereaksi.
"Adik Kecil? Kamu dengar apa kata Kakak?"
Lova menoleh lambat, menatap Arnold dengan mata yang basah oleh air mata. Alih-alih takut, rasa sakit hati membuat keberaniannya muncul.
"Jangan panggil Adik Kecil lagi?!" suara Lova bergetar hebat.
"Bukannya Kakak sendiri yang meninggalkan aku? Di rumah Mama... Kakak bahkan gak mau menyentuh atau melihat aku! Aku ini apa bagi Kakak? Pasien? Atau hanya pajangan yang sesuka hati dipermainkan?!"
Arnold tertegun. Rahangnya mengeras. Ia membuang muka ke arah jendela depan, berusaha mengontrol debaran jantungnya yang menggila. Ia sengaja menarik diri karena ia merasa, ini semua cepat atau lambat pasti akan berakhir. Dan itu melanggar kode etiknya.
"Apa kamu lupa, pernikahan kita ini hanya metode terapi, Zarisha," ucap Arnold dingin, berusaha kembali memasang topeng profesionalnya.
"Aku harus menjaga jarak agar kamu tidak mengalami transference atau ketergantungan emosional yang berlebihan padaku sebgai dokter jiwamu. Aku melakukan ini demi kesembuhanmu juga."
Lova tertawa hambar di sela tangisnya, merasa jiwanya benar-benar tercabik. "Terapi? Jadi semua sikap manis Kakak selama ini cuma bagian dari ... resep obat?"
Arnold terdiam, tak mampu menjawab. Ia mencengkeram setir lebih dengan sangat erat. Arnold memilih menarik tuas persneling dan melaju tanpa memberikan jawaban. Membuat Lova semakin merasa hampa, sendirian di kursi penumpang.
...****************...
Malam hari, Lova tersandar di kepala ranjang, memeluk lutut. Lampu di kamarnya, mati. Air mata tak berhenti jatuh membasahi pipi.
"Ma, aku ingin pulang," bisiknya lirih.
Sementara Arnold, tanpa sepengetahuan Lova, telah berada di club malam bersama Dev, dan rekan-rekan lamanya, para pria cantik.
"Bro! Sadar Bro! Gak biasanya kamu begini! Bukannya berkali-kali kau larang aku minum?" Dev menepuk pipi Arnold yang tersandar karena mabuk berat.
"Ih, orang gak pernah minum, kok coba-coba, ih?" ucap salah satu teman pria cantik lain, dengan tangan melentik.
Arnold berusaha mengangkat kepalanya, tetapi pandangannya tak fokus. "Ciiiyyn! Nikah itu gak enak! Menjadi laki sejati itu cape syekaleee..." Kepala Arnold pun tertunduk.
Di pojok club, tampak tangan yang sedang merekam Arnold yang sedang mabuk. "Tuh kan? Kau lihat sendiri circle-nya kayak apa? Di sini memang tempat mereka berkumpul," ucap wanita berambut panjang itu menatap pria yang memperhatikan Arnold mabuk dengan sinis.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣