NovelToon NovelToon
Sayembara Calon Istri Sang Mafia

Sayembara Calon Istri Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

​"Tiga hari untuk melenyapkannya, atau nyawamu taruhannya."
​Kenric Vane, algojo paling mematikan dari klan The Void, tidak pernah gagal dalam misinya. Namun, target kali ini berbeda. Dr. Alana Syahira, seorang psikolog cantik yang seharusnya mati dalam kecelakaan tragis, justru menatap tepat ke matanya tanpa rasa takut di ruang eksekusi.

​Bukannya memohon ampun, Alana justru mulai membedah kegelapan di jiwa Kenric dengan manipulasi kata-kata yang mematikan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang sang predator di sarangnya sendiri.

​Di sisi lain, persaingan takhta klan The Void memanas. Sang ayah memberikan syarat mutlak, siapa pun putra Vane yang memiliki istri lebih dulu, dialah yang berhak berkuasa.

​Kenric memutuskan untuk melindungi Alana dari kejaran musuh, membawanya masuk ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Di bawah perlindungan Kenric, Alana terjebak dalam dunia yang penuh peluru, sementara Kenric terjebak dalam perangkap kata sang psikolog.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISTEM KOKI GILA

Kehidupan Arumi dulu sangat membosankan, seperti garis lurus yang tidak punya ujung. Setiap hari alarm ponselnya yang sudah retak akan berbunyi tepat jam enam pagi. Dia akan bangun, mandi dengan terburu-buru, menyeruput kopi sachet yang rasa manisnya terlalu menyengat, lalu berangkat kerja dengan kereta komuter yang sesak. Arumi bukanlah orang yang punya rencana besar. Dia tidak punya ambisi untuk sukses dengan cepat. Satu-satunya hal yang dia tahu pasti adalah dia benci dapur. Baginya, kegiatan memasak hanyalah membuang waktu. Dapur baginya adalah tempat yang penuh dengan ancaman, bawang putih yang membuat tangan bau, minyak panas yang bisa menciprat kapan saja, dan cucian piring yang menumpuk. Jika lapar, dia lebih memilih untuk membeli makanan di luar atau sekadar menyeduh mi instan. Hidupnya simpel, pas-pasan, dan monoton.

Sore itu, rencananya cuma mau beli sate ayam langganan di depan stasiun. Suasana stasiun sedang ramai sekali, penuh dengan orang-orang yang ingin pulang ke rumah. Bau asap knalpot bercampur dengan aroma minyak goreng dari pedagang kaki lima di pinggir jalan. Arumi berjalan santai di trotoar, pikirannya melayang pada rencana makan malam yang sangat simpel mungkin mi instan dengan telur rebus saja. Saat sedang menunggu giliran, suasana mendadak pecah. Suara ban truk pengangkut material berdecit keras di aspal, disusul jeritan histeris orang-orang di sekitar. Arumi menoleh ke sumber suara dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di depan sana, ada anak kecil berdiri bengong di tengah jalan karena truk itu oleng kehilangan kendali. Tanpa pikir panjang, kaki Arumi bergerak sendiri. Dia lari, melompat, dan mendorong anak itu ke pinggir jalan. Tapi, nasib memang sedang tidak berpihak. Tubuh Arumi tersambar bodi truk yang melaju kencang sebelum ia sempat menghindar. Semuanya gelap.

Arumi membuka mata. Napasnya terasa sangat panjang dan dalam. Aku masih hidup?

Pemandangannya bukan lagi langit-langit kamar kosnya yang penuh retakan, melainkan sebuah ruangan luas dengan belasan ranjang besi tingkat yang ditumpuk rapi. Bau apek keringat, aroma semir sepatu yang tajam, dan debu yang menempel di tembok cat krem yang mulai mengelupas menyeruak masuk ke indra penciumannya. Dia mencoba bangkit, tapi kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada palu yang memukul-mukul bagian dalam tempurung kepalanya. Dia merasakan kasur yang tipis dan keras di bawahnya, jauh berbeda dengan kasur busa empuk miliknya.

"Woi, Bagas! Bengong saja kamu! Cepat pakai bajumu, apel pagi lima menit lagi!"

Sebuah tamparan keras mendarat di bahunya. Arumi terlonjak kaget. Pria bertubuh tegap berseragam militer dengan wajah kaku menatapnya tajam. Arumi menoleh, mencoba mencerna keadaan. Siapa orang ini? Kenapa dia memukul bahuku?

"Hah? Apa? Siapa Bagas?" tanya Arumi. Suaranya terdengar berat, dalam, dan serak, bukan suara cemprengnya yang biasa.

Pria itu tertawa sambil menepuk pundak Arumi dengan sangat keras. "Masih mengigau rupanya! Kebanyakan makan micin kamu Bagas. Cepat sana, Pelatih sudah di lapangan!"

Arumi turun dari ranjang. Langkahnya terasa mantap, tapi tubuhnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Dia lari ke cermin gantung di sudut barak. Wajah yang menatapnya bukanlah wajahnya. Wajah ini tirus dengan alis tebal yang tegas, hidungnya mancung, dan ada bekas luka kecil di dekat alisnya. Kulitnya kecokelatan bekas terpapar sinar matahari. Ini gila. Aku pasti bermimpi batin Arumi. Dia meraba wajah, leher, dan dadanya. Ini bukan tubuhnya yang biasa. Ini tubuh pria yang terbiasa latihan fisik.

Tiba-tiba, suara dentingan logam nyaring berdering di kepalanya.

Ting!

[Sistem Koki telah terikat dengan Tuan Rumah.]

Arumi memegang kepalanya yang berdenyut. "Siapa itu?! Siapa yang bicara?!" teriaknya. Teman-teman di barak menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. "Bagas, kamu kenapa lagi sih? Masih pagi jangan teriak-teriak." tegur salah satu rekan baraknya yang sedang mengikat tali sepatu.

Arumi mengabaikannya. Dia merasa suaranya tadi seperti menggema tepat di dalam tempurung kepalanya sendiri.

[Selamat datang Tuan Rumah. Sedang memproses data... Koneksi stabil.]

"Hah? Koneksi apa? Aku tidak pakai earphone!" bisik Arumi panik. Dia meraba telinganya, memastikan tidak ada alat aneh yang terpasang di sana.

[Peringatan: Tuan Rumah mengalami disorientasi pasca-migrasi. Harap tetap tenang. Segala bentuk kecemasan berlebihan hanya akan menurunkan efisiensi tubuh.]

"Migrasi? Migrasi apa? Aku mau pulang!" Arumi memejamkan mata erat-erat, berharap saat dia membukanya nanti, dia sudah kembali ke kamarnya. Tapi saat dia membuka mata, dia masih di barak yang sama.

[Analisis lingkungan: Barak Militer. Status: Kritis. Saran: Segera mengikuti rutinitas pagi untuk menghindari deteksi ketidaknormalan.]

Arumi menatap layar transparan berwarna biru neon yang tiba-tiba muncul di udara. Layar itu melayang tepat di depan matanya. Dia mencoba menepisnya dengan tangan, tapi tangannya hanya menembus cahaya biru tersebut. "Gila. Aku benar-benar sudah gila." gumamnya lemas.

Dia tidak mengerti kenapa benda aneh ini ada di kepalanya. Yang dia tahu, dia hanya ingin bangun dari mimpi buruk ini, tapi sistem ini malah terus-menerus mengeluarkan suara dengungan yang mengganggu, seperti lalat yang tidak bisa diusir.

Ting!

[Catatan: Suasana hati Tuan Rumah tidak stabil. Disarankan untuk segera beraktivitas agar sistem dapat mengkalibrasi diri dengan tubuh baru Anda.]

"Diamlah! Jangan bicara di kepalaku!" desis Arumi.

Dia berusaha mengabaikan suara itu dan fokus pada sepatu botnya. Meskipun bingung setengah mati, dia sadar satu hal, kalau dia diam saja seperti orang gila di tengah barak, dia pasti akan jadi pusat perhatian. Dia meraih seragam yang tergantung di loker besi. Bahan kain seragam itu terasa kasar dan kaku di tangannya. Dia mulai mengancingkan baju, tapi kancingnya terasa sulit dipasang karena jarinya yang besar dan kaku. Dia merutuk setiap kancing yang harus dia pasang. Kenapa kancing baju Militer sekaku ini? Lalu tali sepatu botnya, dia hampir frustrasi karena talinya terus tersangkut dan kusut. Dia menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memastikan sepatu itu terikat kencang. Dia menatap cermin lagi, mencoba memperbaiki kerah bajunya agar terlihat seperti tentara sungguhan. Dia memperhatikan setiap detail seragamnya, mulai dari bet nama hingga emblem yang menempel di lengannya. Semuanya terasa asing.

Dia harus bertahan dulu. Hidup di tubuh tentara ini sepertinya bakal jauh lebih menyebalkan daripada hidupnya yang dulu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi satu hal yang pasti, dia harus keluar dari barak ini sebelum pria yang menampar bahunya tadi kembali lagi dan menaruh curiga. Dengan langkah yang masih ragu, Arumi melangkah keluar dari lorong barak. Dia melewati deretan loker dan ranjang yang tampak seragam. Suara langkah kaki tentara lain yang bersiap-siap terdengar begitu sinkron, membuat jantungnya semakin berdebar tidak keruan. Dia berjalan ke arah pintu keluar. Di luar, cahaya matahari pagi sudah mulai menyengat kulitnya. Tuhan, tolong aku, aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal menjadi tentara!

Saat dia sampai di lapangan, dia melihat barisan tentara yang sudah berdiri rapi. Dia terdiam. Dia benar-benar harus melakukan ini. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus berakting, dia harus beradaptasi, dan dia harus mencari tahu apa sebenarnya sistem koki ini. Hidupnya yang dulu sebagai karyawan kantoran yang malas sekarang telah resmi berakhir, dan sebagai gantinya, dia terjebak di tubuh seorang Bagas yang harus bangun pagi setiap hari.

Hayyy mampir yok.ke karyaku yg baru netes ini terimakasih...❤️

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
dah mampir aku
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
lahhh, digantung /Right Bah!//Right Bah!/ tau ah.. mau ngambek /Right Bah!//Right Bah!/
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: yaudah, aku mau ngambek aja/Right Bah!//Right Bah!/
total 4 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
suka2 kau lah kak... mau kau tamatkan di tengah hutan pun aku diam duduk manis di sini😉 aku masih save kok no wa mu biar ku maki kau lewat wa
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: cihhhh laki mu emang sesat... nyaranin gantung di tengah hutan
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤣🤣🤣 naif kamu Alana.... orang klo dah menilai buruk akan terus menilai buruk ke depan nya juga... jaman sekarang penampilan itu akan di pandang sebelah....
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
cih, hanya pelayan aja sombongnya minta ampun, lebih baik pecat aja tuh pelayan daripada merugikan butik itu sendiri/Drowsy/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣🤣 11 12 dasarrr
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Sepertina bibit2 cinta mulai anu 😅
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kasian juga si Cene
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kandidatna ga ada yg bener 🤣🤣 dah lah balik lagi ke Alana aja
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Maaf kamei aku lupa 😅🤭
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Joyful//Joyful//Facepalm/🤣🤣🤣 Alemong si Alana 🤣🤣/Facepalm//Facepalm/
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
Mangat bayang2 dada bidang nya
°RhaiKen™
ahayyy... kerasukan hantu bucin kak...🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kerasukan hantu cinta
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
nda pp kok bobo berdua🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kamu cinta dia juga ngga PP.... buat apa coba menyelamatkan nyawa target kalau ngga ada love love🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤭🤭🤭 boleh ku sebut kasar ngga si Celana itu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: ngeselin
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤣🤣🤣 Ken kalau kata aku mah ya... kontrak Author mu dulu, dia pas kok
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: bantuin loh ya🤭 bukan selingan 🏃🏃🏃😉
total 4 replies
°RhaiKen™
/Curse//Curse//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ astagaa...sakit perut aku ikut ketawa...
kak semangat trz up nya y...✌️
°RhaiKen™: Iyah kak gpp.. semoga sehat selalu 🥰
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
/Shy//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ entah aku harus kasihan atau tertawa Ken🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: dihhh kau nda terima? sini majuuuu...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!