NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut Terakhir Tikus yang Terjebak

​Gedung pusat Konsorsium Mahendra yang biasanya tampak angkuh kini berubah menjadi lautan kekacauan. Riuh rendah suara jurnalis yang mencecar pertanyaan di luar gerbang berpadu dengan ketegangan di dalam lobi utama. Di layar televisi yang terus menyala di apartemen kami, terlihat jelas bagaimana beberapa kotak kontainer plastik berisi dokumen dan unit keras komputer diangkut keluar oleh petugas Kejaksaan Agung.

​"Adrian Mahendra terbukti tidak bisa berkutik," ujar Zaidan sembari melipat tangan di dada, matanya tak lepas dari monitor yang menampilkan siaran langsung berita nasional. "Opini publik yang kau giring lewat bab spesial itu membuat pihak Kejaksaan bergerak tanpa beban penundaan. Mereka tahu, jika mereka lambat sedikit saja, jutaan netizen akan menuduh mereka masuk dalam barisan orang-orang yang disuap Adrian."

​Aku mengembuskan napas panjang, bersandar pada sandaran kursi kerja. "Tapi dia belum tertangkap, kan?"

​"Belum," Zaidan menoleh ke arahku, guratan di wajahnya kembali menegang. "Statusnya saat ini masih sebagai saksi yang diperiksa secara intensif di lokasi penggeledahan. Tim hukumnya yang berjumlah belasan orang sedang berusaha keras menyusun benteng pembelaan agar dia tidak langsung dipindahkan ke rumah tahanan hari ini."

​Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh arti. "Benteng itu akan runtuh, Zai. Karena aku belum mengeluarkan kartu as yang sebenarnya."

​Zaidan menaikkan sebelah alisnya, penasaran. "Maksudmu?"

​"Data dari flashdisk perak milik Ayah yang kau duplikat semalam. Di dalamnya ada rekaman suara digital pembicaraan telepon antara Adrian dan mendiang Ayah, tepat beberapa jam sebelum kecelakaan maut itu terjadi. Di sana Adrian mengancam akan 'melenyapkan' seluruh keluarga Hermawan jika Ayah menolak menyerahkan hak paten teknologi itu secara sukarela."

​"Kau menyimpan rekaman itu?" Zaidan tampak terkejut.

​"Ayah yang menyimpannya secara otomatis di server cadangan yang terenkripsi di dalam flashdisk tersebut. Kau yang berhasil membukanya semalam, Zai, tapi kau belum sempat memeriksa bagian folder tersembunyi di lapisan paling bawah," kataku sembari memutar laptop menghadap ke arahnya.

​Jari-jari Zaidan dengan cepat memeriksa folder yang kumaksud. Begitu dia menemukan berkas audio tersebut dan memutarnya lewat penyuara telinga, matanya seketika melebar. Suara bariton Adrian Mahendra yang terdengar dingin dan tanpa ampun terdengar sangat jelas memutus argumen Ayah yang mempertahankan haknya.

​"Jika kau memilih menjadi pahlawan yang mati bersama idealismemu, Hermawan, maka jangan salahkan aku jika istrimu dan anak perempuanmu yang manis itu harus ikut menemanimu di liang lahat."

​Tangan Zaidan mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih setelah mendengar rekaman berdurasi dua menit itu. "Ini... ini bukan sekadar bukti korporasi lagi, Laras. Ini adalah bukti otentik perencanaan pembunuhan berencana. Ini adalah paku terakhir untuk peti mati karier dan kebebasan Adrian Mahendra."

​"Dan aku akan mengunggah potongan audio ini langsung ke dalam bab terbaru novelku dalam bentuk tautan digital yang bisa diunduh oleh siapa saja," ujarku tegas. "Biarkan para pembaca dan publik mendengarnya sendiri. Biarkan suara dari masa lalu ini yang menghakimi dia sebelum palu hakim pengadilan diketuk."

​Sementara itu, di dalam ruang rapat utama lantai teratas gedung Mahendra Group yang tertutup rapat, Adrian Mahendra duduk dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini tampak sedikit acak-acakan. Di sekelilingnya, lima pengacara senior sedang berdebat sengit dengan petugas penyidik Kejaksaan yang bersikeras ingin membawa Adrian ke markas besar untuk pemeriksaan lanjutan.

​"Klien kami kooperatif, Pak. Semua dokumen yang Anda minta sudah kami serahkan. Tidak ada alasan hukum yang kuat untuk melakukan penahanan hari ini!" seru salah satu pengacara dengan nada tinggi.

​Petugas penyidik paruh baya itu hanya tersenyum tenang. "Kami hanya menjalankan prosedur, Pak. Mengingat eskalasi massa di luar gedung dan indikasi adanya upaya penghilangan barang bukti siber yang dilaporkan masyarakat, kami harus memastikan Tuan Adrian berada di tempat yang aman untuk dimintai keterangan."

​Tiba-tiba, ponsel milik salah satu pengacara bergetar hebat. Pria paruh baya itu mengangkatnya dengan kening berkerut, mendengarkan suara di seberang telepon selama beberapa detik sebelum wajahnya mendadak berubah pucat pasi seolah seluruh darahnya baru saja disedot keluar.

​"T-Tuan Adrian..." bisik pengacara itu, tangannya agak bergetar saat menurunkan ponselnya.

​"Ada apa lagi?!" bentak Adrian, emosinya sudah berada di ubun-ubun sejak pagi tadi.

​"Gadis Hermawan itu... dia baru saja merilis bab baru. Dan kali ini... dia menyertakan rekaman suara Anda. Rekaman pembicaraan Anda dengan Januar Hermawan tiga tahun lalu sebelum kecelakaan itu terjadi."

​DEGG!

​Jantung Adrian seakan berhenti berdetak. Seluruh ruang rapat mendadak hening seketika. Para pengacara yang tadinya berteriak lantang kini saling berpandangan dengan tatapan mata yang penuh ketakutan. Mereka tahu, jika bukti audio tentang perencanaan pembunuhan sudah tersebar luas dan keasliannya dikonfirmasi oleh publik, tidak ada satu pun celah hukum di dunia ini yang bisa menyelamatkan klien mereka.

​Petugas penyidik Kejaksaan yang melihat perubahan drastis di wajah Adrian langsung berdiri dari kursinya. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah surat berlogo resmi dengan garis merah di pinggirnya.

​"Tuan Adrian Mahendra," ucap sang penyidik dengan suara yang lantang dan tegas, menggema di dalam ruangan yang sunyi itu. "Berdasarkan bukti baru yang baru saja terverifikasi dan demi mencegah Anda melarikan diri, mulai menit ini, status Anda resmi dialihkan menjadi Tersangka. Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana dan kejahatan korporasi tingkat tinggi."

​Sepasang petugas kepolisian militer yang berjaga di depan pintu segera melangkah masuk, mengeluarkan sepasang borgol besi yang dingin.

​Adrian menatap benda berkilau itu dengan mata yang membelalak tak percaya. Kekaisaran yang dibangunnya di atas darah dan air mata orang lain selama puluhan tahun, runtuh total hanya dalam hitungan jam. Dan yang paling menyakitkan baginya adalah, kehancurannya tidak dipicu oleh serangan dari kompetitor bisnis yang setara, melainkan oleh rangkaian kalimat dan kebenaran yang ditulis oleh seorang wanita yang pernah ia remehkan.

​Di apartemen kami, aku menyaksikan detik-detik saat Adrian Mahendra berjalan keluar dari lobi gedungnya dengan tangan yang tertutup kain hitam—sebuah tanda bahwa dia telah diborgol. Kilatan lampu kamera wartawan menyala bergantian, menerangi wajah sang mantan penguasa yang kini tertunduk lesu di bawah kawalan ketat petugas.

​Aku mematikan layar televisi, lalu berjalan menuju jendela besar, menatap langit Jakarta yang perlahan mulai cerah setelah didera mendung sejak subuh.

​Sebuah beban berat yang selama tiga tahun ini menghimpit dadaku seolah terangkat begitu saja, menyisakan rasa lega yang teramat sangat, bercampur dengan kerinduan yang mendalam pada Ayah dan Ibu.

​"Kita berhasil, Laras," suara Zaidan terdengar lembut di belakangku. Dia berdiri selangkah di sampingku, ikut menatap pemandangan kota.

​"Ya, Zai. Kita berhasil," jawabku lirih, air mata kemenangan perlahan mengalir di pipiku, namun kali ini tanpa rasa sakit. "Keadilan itu memang kadang datang terlambat, tapi dia tidak pernah lupa jalan untuk pulang."

​Aku membuka draf novelku untuk terakhir kalinya pada hari ini, menuliskan baris kalimat penutup yang akan menandai akhir dari perjalanan panjang yang melelahkan ini:

​“Ketika halaman terakhir dari sandiwara ini ditutup, sang serigala akhirnya menempati tempat yang semestinya di balik jeruji besi. Dan sang wanita, yang pernah dibuang dan dihancurkan, kini berdiri tegak di atas puing-puing kebohongan mereka... bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai penulis dari takdirnya sendiri yang merdeka.”

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!