NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Sepasang mata Luna melebar, menatap lurus ke arah selasar yang perlahan mulai dipadati mahasiswa. Di sana, di antara langkah kaki yang terburu-buru, Kaizar berjalan menjauh dengan jemari yang masih melingkar protektif di pergelangan tangan Zivara. Pemandangan itu terasa seperti pasak yang dihantamkan tepat ke dada Luna, menyisakan rasa panas yang membakar tenggorokannya.

Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih. Amarah yang bergejolak di dalam dirinya nyaris tak bisa lagi diredam. Di kehidupan yang ia jalani saat ini, segala sesuatunya terasa berjalan di luar kendali. Kaizar Ravindra, pria yang dulu begitu mudah ia setir dengan sedikit air mata dan senyuman memelas, kini berubah menjadi dinding es yang mustahil untuk ditembus. Mengambil kembali hati pewaris tunggal keluarga Ravindra itu ternyata jauh lebih sulit daripada yang pernah ia bayangkan.

Luna mundur selangkah, menyembunyikan separuh tubuhnya di balik bayangan pilar gedung kuliah. Benaknya mulai dipenuhi oleh rupa-rupa spekulasi yang mencemaskan.

Kenapa dia berubah sedingin itu? pertanyaan itu terus berputar, meracuni isi kepalanya.

Pandangan Luna tertuju pada perban yang membungkus bahu kanan Kaizar. Ingatannya mendadak melayang pada insiden di gudang kampus beberapa hari lalu. Sesuatu yang ganjil mulai mengusik logikanya. Sikap Kaizar yang mendadak protektif, penolakan kasarnya yang terang-terangan di depan umum, hingga tatapan penuh selidik yang belakangan sering pria itu tunjukkan... semuanya terasa terlalu runtut.

Apa jangan-jangan Kaizar sudah tahu? Luna membatin, merasakan setitik keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. *Apa dia tahu kalau aku yang berada di balik peristiwa yang menimpa Zivara di gudang itu?*Apa dia tahu zat yang disemprotkan di sana berasal dariku?

Ketakutan mulai merayap, menggerogoti rasa percaya dirinya yang tinggi. Jika Kaizar benar-benar memegang bukti bahwa dirinya adalah dalang di balik petaka yang menimpa Zivara.

Luna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia tidak boleh gegabah. Menghadapi Kaizar saat pria itu sedang bersama Zivara adalah tindakan bunuh diri yang hanya akan mempertegas jarak di antara mereka. Ia butuh kepastian, bukan sekadar tebakan.

"Aku harus memastikannya sendiri," bisik Luna pada kesunyian di sekitarnya, matanya berkilat penuh tekad yang berbahaya.

Ia mulai menyusun strategi baru di kepalanya. Ia harus mencari celah, sebuah waktu yang benar-benar tepat untuk menyudutkan Kaizar secara personal. Sebuah momen di saat pria itu sedang sendirian, terlepas dari pengawasan ketat Zivara ataupun pasang mata mahasiswa lainnya. Luna perlu memancing reaksi Kaizar, mencari tahu sejauh mana pria dingin itu menyelidiki kasus gudang.

**

Angin sore berembus membawa hawa dingin yang menusuk, menyapu dedaunan kering di sekitar area parkir luar gedung fakultas. Kaizar berjalan perlahan, tangan kirinya menggenggam erat tali ransel, mencoba menahan denyut nyeri yang sesekali berontak dari bahu kanannya. Pikirannya masih dipenuhi oleh raut wajah Zivara saat mereka berpisah di koridor tadi pagi.

Langkah kaki Kaizar mendadak terhenti ketika sebuah bayangan muncul dari balik deretan mobil. Luna sudah berdiri di sana, menunggunya dengan sepasang mata yang menyiratkan kecemasan sekaligus obsesi yang tak kunjung padam. Tanpa memperdulikan tatapan beberapa mahasiswa yang melintas, Luna melangkah maju dan langsung mencengkeram pergelangan tangan kiri Kaizar.

"Kai, ikut aku sebentar. Kita perlu bicara," desak Luna, menarik paksa tubuh Kaizar menjauh dari area parkir yang mulai ramai, membawanya menuju sudut selasar sepi di dekat gudang utilitas.

Sret!

Kaizar menyentakkan tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Luna terlepas seketika. Sorot mata elangnya menatap Luna penuh kemuakan.

"Apa-apaan ini, Luna? Jangan pernah lancang menyentuhku lagi. Katakan dengan cepat, untuk apa kamu menarikku ke sini?"

Luna menatap telapak tangannya yang kosong, lalu mendongak dengan tatapan memohon. "Aku hanya butuh waktumu sedikit, Kai. Tolong, dengarkan aku sekali ini saja."

"Untuk apa?" suara Kaizar terdengar datar, begitu dingin hingga mampu membekukan atmosfer di sekitar mereka. "Aku merasa sama sekali tidak memiliki urusan lagi denganmu. Apa yang ada di antara kita sudah selesai."

"Kenapa kamu berubah sejauh ini, Kai?" Luna mulai terisak, sebuah tangisan yang dulu selalu menjadi senjata ampuhnya untuk membuat Kaizar bertekuk lutut. "Aku mohon, menjauhlah dari Zivara. Dia itu tidak cocok untukmu. Kembalilah bersamaku seperti dulu. Kita bisa memperbaiki semuanya."

Kaizar tidak bergeming. Air mata Luna yang dulu terasa seperti permata berharga, kini tak lebih dari sekadar sandiwara murah di matanya. "Kembali bersamamu?" Kaizar mendengus, lalu melepaskan tawa mengejek yang terdengar begitu menyakitkan. "Agar kamu punya kesempatan untuk menyakiti Zivara lagi? Begitu maksudmu, Luna?"

Raut wajah Luna menegang seketika. Ia memundurkan langkahnya, mencoba menyembunyikan keterkejutan yang hampir menguasai dirinya. "Maksudmu apa, Kai? Aku tidak paham. Aku tidak pernah melakukan apa pun pada Zivara."

Kaizar melangkah maju, mengintimidasi Luna dengan tatapannya yang menghujam. "Jangan pura-pura tidak tahu, Luna. Kamu pikir dinding gudang tua kampus itu tidak bisa bicara? Kamu pikir aroma parfum edisi terbatas milikmu yang tertinggal di ventilasi itu bisa menguap begitu saja tanpa jejak?"

Keringat dingin mulai membasahi tengkuk Luna. Ia tetap diam, mencoba mengunci rapat mulutnya dan memasang benteng kewaspadaan. Benaknya berputar liar, menyadari bahwa Kaizar ternyata sudah bergerak jauh lebih cepat daripada dugaannya. Pria itu sudah mengetahui seluruh dalang di balik tersekapnya Zivara di dalam gudang tempo hari.

"Pertunjukanmu sudah selesai, Luna. Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku, atau di hadapan Zivara," desis Kaizar tajam.

Tanpa menunggu kepatuhan dari wanita yang kini mematung dengan wajah pucat pasi itu, Kaizar memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi meninggalkan Luna yang tenggelam dalam ketakutan dan sisa-sisa obsesinya yang mulai hancur.

Kaizar berjalan kembali menuju area parkir dengan langkah yang terasa sangat berat. Rasa sakit di bahunya merambat naik hingga ke dada, menciptakan sesak yang luar biasa. Sepanjang jalan, batinnya terus menghakimi dirinya sendiri. Ia menyadari dengan amat sangat perih, semua serangan keji yang Luna lakukan terhadap Zivara adalah buah dari sikap egoisnya di masa lalu. Dirinya yang dulu selalu memberikan harapan palsu pada Luna, dialah yang menaruh Zivara dalam posisi berbahaya ini. Penyesalan dari masa depannya kini datang menagih tebusan, dan Kaizar tahu, penderitaannya baru saja dimulai.

**

Di area parkir fakultas, Kaizar berdiri bersandar pada pintu mobil milik Zivara. Lengan kirinya terlipat di depan dada, sementara tangan kanannya menggantung kaku demi menjaga posisi bahunya yang cedera agar tidak banyak bergerak.

Sosoknya yang tegap dan setelan kemejanya yang rapi tetap memancarkan aura dominan seorang pewaris tunggal, membuat beberapa mahasiswa yang lewat sengaja memelankan langkah hanya untuk mencuri pandang. Akan tetapi, di balik pembawaannya yang dingin dan karismatik itu, sorot mata Kaizar tampak kosong. Ia melamun, isi kepalanya benar-benar kacau, mengoyak seluruh ketenangannya.

Langkah kaki yang ringan terdengar mendekat. Zivara berjalan menyusuri barisan kendaraan, memeluk beberapa buku sketsa DKV di dadanya. Begitu matanya menangkap siluet Kaizar yang masih setia menunggu di samping mobilnya, langkah Zivara sempat tertahan.

Zivara menatap Kaizar dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Naluri perempuannya menangkap ada sesuatu yang retak dari balik topeng ketegaran pria itu. Ada gumpalan kabut kelam di mata Kaizar yang tidak bisa disembunyikan, membuat Zivara merasa ada hal besar yang tidak beres sedang terjadi.

Zivara melangkah mendekat, menghentikan jarak persis dua langkah di depan Kaizar. "Kak Kaizar?" panggilnya lembut. "Kakak kenapa? Kenapa berdiri di sini sambil melamun seperti itu?"

Kaizar tersentak kecil, buru-buru menarik kembali seluruh kesadarannya yang sempat melayang. Ia menegakkan tubuh, mengabaikan denyut nyeri di bahunya, lalu menggelengkan kepala dengan gerakan perlahan.

"Tidak ada apa-apa, Vara," jawab Kaizar, suaranya terdengar berat dan rendah, mencoba mengembalikan intonasi datarnya yang biasa.

Zivara mengernyitkan dahi. Ia tidak percaya begitu saja. Perubahan sekecil apa pun pada pria di depannya ini selalu bisa ia rasakan, sisa dari kebiasaan bertahun-tahun mencintai dalam diam di kehidupan yang lalu.

"Kakak berbeda. Ada sesuatu yang Kakak sembunyikan dari aku?"

Mendengar kecurigaan Zivara, Kaizar hanya mengulas senyum tipis—sebuah senyuman samar yang dipaksakan agar perempuan itu tidak menyelam lebih dalam ke dalam pusaran masalahnya. Ia tidak menanggapi pertanyaan itu lebih lanjut. Sebaliknya, dengan gerakan yang tenang namun penuh dominasi yang protektif, Kaizar mengambil alih tas sketsa dari dekapan Zivara menggunakan tangan kirinya, lalu membukakan pintu kemudi untuk Zivara.

"Masuklah. Kita pulang sekarang," ujar Kaizar, memberikan perintah halus yang tidak menyisakan ruang untuk berdebat.

Meskipun batin Kaizar sedang berteriak histeris ketakutan akan kehilangan Zivara yang berniat pergi ke luar negeri, ia tetap mempertahankan wibawanya. Ia menolak terlihat lemah di depan perempuan yang ingin ia lindungi dari balik bayang-bayang.

Zivara menatap pintu mobil yang terbuka, lalu beralih menatap wajah Kaizar yang kembali mengeras seolah tidak terjadi apa-apa. Jarak emosional yang Zivara bangun sebagai benteng pertahanan dirinya tidak goyah sedikit pun. Ia tahu Kaizar sedang terluka, ia tahu pria itu mungkin sedang memendam penyesalan yang luar biasa, namun kepercayaan yang sudah hancur lebur di masa depan tidak bisa disembuhkan hanya dengan sikap manis sesaat. Zivara memilih diam, melangkah masuk ke dalam mobil tanpa memberikan kata maaf atau ketenangan yang Kaizar harapkan.

***

1
falea sezi
lanjut entah masih g rela aja balik ke kaisar karena dia di masa lalu jahat oon 😒
Crazy_Girls: setuju 😭
total 1 replies
falea sezi
🤣 orang kaya woy kasih lah anak gadis muda bodyguard bayangan😒 miskin kali. ya kau bapak nyewa orang buat jaga anak gadis kau tak bisa😕
falea sezi
pantes di benci laki. laknat semoga g balik ya thor😒
Sri Murtini
bermainlah yang sportif
Sri Murtini
bersiaplah luna ini pertunjukan blm dimulai baru pemanasan
🤣🤣🤣
Soraya
alurnya bikin bingung🤔
Soraya
mampir thor
Sri Murtini
takdir mempertemukan zivara dg kaisar
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!