Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Konfrontasi Langsung
Diktat Hukum Perikatan setebal lima ratus halaman itu menghantam dinding tripleks dengan keras, memantul, lalu mendarat mengenaskan di atas lantai semen beralas karpet plastik bermotif pudar. Bunyi debuman itu meremukkan kesunyian malam di ruko Glodok. Napas Nara memburu cepat, memotong udara kamar yang terasa pengap tanpa pendingin ruangan.
Di bawah temaram lampu pijar kuning lima belas watt, kedua tangan Nara mengepal di sisi tubuh. Remasan jarinya membuat kuku-kukunya memutih. Tepat di atas kasur kapuknya, lembaran foto hitam putih dan salinan slip Bank Industri Negara berserakan.
Pak Wirawan mengetuk pintu kamar dengan panik dari balik lorong tangga kayu. "Ra? Kamu nggak apa-apa di dalam? Ada barang yang jatuh?"
Nara menelan ludah, mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan sebelum menyahut. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma buku Nara kesenggol dari meja."
"Ya sudah. Jangan kemalaman tidurnya, besok senin kamu harus pagi-pagi ke kampus, kan?" suara langkah kaki bungkuk ayahnya perlahan menjauh, menuruni anak tangga menuju lantai bawah toko elektronik.
Nara menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur. Kepalanya berdenyut nyeri. Di dalam genggamannya, sisa amplop cokelat tipis yang sudah koyak itu terasa kasar. Amarahnya tidak murni karena dikhianati oleh Tomy Pradana. Rasa muak itu lahir karena ia menyadari betapa ringkih pertahanan dirinya. Jika amplop misterius ini tidak terselip di loker perpustakaan siang tadi, ia mungkin sudah menandatangani kontrak kerja sama percetakan palsu milik keluarga Pradana sore ini. Ia mungkin sudah membiarkan Tomy menggandeng tangannya melintasi koridor kampus.
Nara menatap langit-langit kamarnya yang bernoda rembesan air hujan. Pikirannya berputar beringas. Data kliring bank swasta, foto sudut parkiran Hotel Kartika, hingga detail pernikahan siri di pelosok Bogor. Jalur informasi sebrutal ini tidak mungkin dimiliki oleh mahasiswa biasa.
Hanya ada satu pria di Jakarta tahun sembilan puluh tiga ini yang sanggup menelanjangi borok keluarga Pradana dalam waktu semalam.
Pria pendiam yang kemarin siang berdiri di bawah terpal warung kopi kampus, menatap Tomy dengan sepasang mata sedingin es.
Nara menyambar jaket denim kebesarannya di gantungan pintu. Ia memasukkan seluruh lembar bukti perbankan itu ke dalam saku, lalu melangkah turun membelah kegelapan ruko tanpa suara.
Setengah jam kemudian, taksi biru bermesin diesel berhenti dengan decit rem kasar di mulut gang Bendungan Hilir.
Udara malam itu lembap, menyisakan bau got basah dan aroma minyak tanah dari kompor warung rokok yang hampir tutup. Nara berjalan cepat. Sol sepatu kanvasnya menginjak genangan air hujan, mencipratkan lumpur ke ujung celana jeans gelapnya. Langkah kakinya cepat, digerakkan oleh harga diri yang menuntut konfrontasi langsung.
Ia berhenti tepat di depan pintu kayu nomor tiga yang catnya sudah mengelupas.
Nara menghantamkan kepalan tangannya ke papan tripleks pintu sebanyak tiga kali. Ketukannya bertenaga, mengabaikan lolongan anjing liar di ujung gang sempit.
Pintu terbuka lambat. Engsel berkaratnya mengeluarkan derit ngilu yang menyayat kesunyian malam.
Regan berdiri di ambang pintu. Kemeja katun abu-abu pinjaman bapaknya sudah ditanggalkan, menyisakan kaus oblong putih polos yang membungkus postur tubuh tingginya. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Di dalam kamarnya yang berbau obat nyamuk bakar, tumpukan kertas blueprint jaringan komputer CV Net Baru Indonesia masih terhampar di atas meja kayu jengki.
Regan tidak memancarkan keterkejutan mikro sedikit pun. Sepasang matanya yang tenang hampir tidak wajar langsung mengunci iris cokelat terang Nara yang berkilat penuh amarah.
Nara tidak menunggu dipersilakan masuk. Ia merangsek maju, merogoh saku jaket denimnya, lalu mencengkeram tumpukan foto hitam putih dan slip Bank Industri Negara. Dengan satu sentakan brutal, ia melemparkan seluruh kertas berharga itu tepat ke dada Regan.
Kertas-kertas itu meluncur, memukul kain kaus Regan sebelum jatuh berhamburan di atas tikar pandan lantai kontrakan.
"Lu puas, Re?!" suara Nara meninggi, bergetar di ujung tenggorokan menahan badai emosi yang siap pecah. "Lu puas melihat gue kelihatan bego karena hampir kena tipu sama cowok manis kelas sebelah?!"
Regan tidak menunduk untuk melihat kertas yang berserakan di bawah kakinya. Kedua tangannya tetap masuk ke saku celana jeans pudar. Ekspresi wajah mudanya sedingin pahatan marmer, persis seperti raut wajahnya saat mendikte direktur bank di Hotel Thamrin minggu lalu.
"Tomy Pradana itu hama, Ra," ucap Regan pelan. Nada suaranya datar, stabil, tanpa ada sedikit pun kepanikan. "Dan hama harus disingkirkan sebelum merusak halaman rumah lu."
"Jangan pakai analogi sampah itu buat membenarkan tindakan lu!" Nara maju satu langkah, memangkas jarak privasi di antara mereka. Jarak dada mereka kini hanya tersisa satu jengkal. Hembusan napas Nara yang memburu panas menerpa dagu Regan. Aroma sabun mandi melati murahan yang khas dari kulit gadis itu memenuhi rongga penciuman Regan, memicu desir nyeri nostalgia yang pekat di balik otak tua pria lima puluh delapan tahunnya.
"Gue bukan boneka catur lu, Regan Saputra!" Nara menunjuk dada Regan dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Lu atur stok barang di toko bapak gue dari balik layar. Lu hancurkan beasiswa Vera Santoso lewat dekanat. Sekarang lu kirim kurir rahasia buat selundupkan dokumen rahasia bank ini ke loker gue! Lu pikir lu siapa, hah?! Dewa yang berhak mengatur siapa yang boleh dekat sama gue?!"
Regan membiarkan jari telunjuk Nara menekan dadanya keras-keras. Siksaan fisik itu tidak ada artinya dibanding rasa sepi selama tiga dekade yang ia tanggung di kehidupan pertamanya dulu. Di ruangan sempit yang gerah ini, di bawah dengung kipas angin meja yang berputar patah-patah, Regan menatap badai di mata Nara dengan kesabaran takdir yang murni.
Ini momen napas tenang yang ia butuhkan. Dopamin terbesar bagi para pembaca di platform manapun bukanlah melihat ML menang mutlak di meja bisnis, melainkan saat ia merendahkan keangkuhannya di bawah kaki satu-satunya perempuan yang bisa membuatnya lemah.
"Gue nggak mengatur hidup lu, Ra," suara Regan mengalun rendah, berat, beresonansi dengan otoritas mental yang masif di udara pengap kamar. "Gue cuma memastikan lu tidak perlu merasakan patah hati karena bajingan yang punya istri simpanan di kampung."
Nara menarik tangannya kembali dengan sentakan kaku. Semburat merah muda mendadak muncul di kedua pipinya, bertarung dengan sisa pucat kemarahannya. Logika Regan selalu berhasil mengurungnya tanpa sisa ruang untuk membantah. Jiwa kompetitif hukumnya meronta, namun dasar hatinya mengakui keakuratan perlindungan pemuda ini.
"Lu tahu dari mana detail itu, Re?" suara Nara melemah setengah oktaf. "Data mutasi perbankan itu... orang dalam Bank Industri Negara sekalipun nggak bakal berani cetak slipnya buat mahasiswa miskin kayak kita. Lu main gila sama siapa di belakang gue?"
"Gue pakai jalur Soegeng, Ra. Mantan bankir tua yang kemarin lu temui di Cikini," Regan berbohong dengan ritme napas yang sangat konstan. "Keluarga Pradana punya utang macet di konsorsium Surabaya. Membongkar borok Tomy siang ini adalah bagian dari cara gue memotong jalur likuiditas logistik bokapnya senin besok."
Nara terdiam kaku. Ia menatap garis rahang Regan yang kokoh. Rasa takjub yang menakutkan merayap kembali di lehernya. Cowok ini mencairkan modal sepuluh juta, mendirikan infrastruktur internet sebelum zamannya, dan menghancurkan dinasti bisnis keluarga Pradana seakan semuanya hanya barisan angka yang mudah ia hapus dari papan tulis.
"Jadi... semua ini murni karena hitungan bisnis lu?" Nara menatap lurus ulu hati mental Regan. Sorot matanya bergetar, menyiratkan retensi emosi romantis yang pekat dan lambat laun mengikat erat (slow burn romance). "Lu selidiki Tomy Pradana cuma karena dia mau caplok cetak biru agensi iklan Mangga Dua milik gue?"
Regan melangkah maju setengah tindak. Postur tubuh tingginya memayungi seluruh visual Nara, mengunci fokus gadis itu mutlak. Campuran cynicism masa tua dan amarah dingin masa muda bergolak di balik pupil matanya yang hitam.
"Gue menghancurkan Tomy karena dia berani membuat kaset pita murahan itu menyentuh meja belajar lu, Nara," bisik Regan rendah, kalimat possessive-nya keluar tanpa sensor. "Konsep agensi iklan lu itu urusan bisnis. Tapi keselamatan lu dari gangguan cowok sampah... itu urusan pribadi gue."
Nara menelan ludah pelan. Paru-parunya mendadak kekurangan pasokan oksigen. Keangkuhan keras kepalanya patah tuntas digiling oleh intensitas pernyataan Regan. Pola relasi mereka naik level mutlak malam ini. Dinding batas antar teman kuliah itu lebur, menyisakan keterikatan emosi yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduknya meremang ganjil.
Gadis itu mundur setengah langkah, meraih map jepit hitamnya di atas meja dengan gerakan kikuk yang gagal menyembunyikan getaran di jemarinya.
"Gue... gue udah kirim faks penolakan resmi ke rumah Tomy satu jam lalu," ucap Nara gagap, mengalihkan pandangan ke tumpukan kertas blueprint di lantai. "Gue juga udah tanda tangan surat kemitraan modal sepuluh juta dari CV Net Baru lu. Herman bakal terima dokumennya besok pagi jam delapan."