NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Panggung Para Pemangsa

Lampu sorot berwarna biru neon membelah kegelapan Suntec Singapore Convention Centre. Suara dentuman musik elektronik yang berat bergetar hingga ke ulu hati setiap penonton yang memenuhi arena. Di tengah panggung raksasa, dua set meja komputer tercanggih di dunia berdiri saling berhadapan, dipisahkan oleh layar LED raksasa yang menampilkan logo *World Invitational*.

"Selamat datang di hari pertama!" teriak pembawa acara melalui pengeras suara yang menggelegar. "Pertandingan pembuka kita hari ini adalah pertemuan yang sudah ditunggu-tunggu oleh jutaan penggemar di seluruh dunia. Antara sang penguasa lama, *Apex* dari tim Stars and Stripes, melawan sang penantang baru yang datang dari Jakarta, *Phantom* dari Black Viper!"

Reno berjalan keluar dari lorong pemain. Wajahnya tetap datar, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket timnya. Ia bisa merasakan ribuan pasang mata menatapnya, mencari tahu apakah "Anak Genius" ini benar-benar sehebat yang dibicarakan internet, atau hanya sekadar sensasi sesaat.

Di sisi lain panggung, Apex keluar dengan gaya yang jauh berbeda. Ia melambaikan tangan dengan sombong, sesekali menunjukkan gestur jempol ke bawah ke arah barisan pendukung Black Viper. Saat mereka bertemu di tengah panggung untuk sesi jabat tangan formal, Apex menarik Reno sedikit lebih dekat agar suaranya tidak tertangkap mikrofon panggung.

"Nikmati lima menit ketenaranmu, Kid," bisik Apex dengan senyum meremehkan. "Setelah ini, aku akan memastikan namamu tidak akan pernah terdengar lagi di panggung internasional. Singapura adalah tempat pemakaman bagi amatir sepertimu."

Reno tidak melepaskan tatapan matanya. Ia justru memberikan senyum tipis yang terasa sangat dingin. "Simpan bicaramu untuk di dalam game, Apex. Aku tidak datang ke sini untuk mendengarkan dongeng seorang pemain yang takut posisinya tergeser."

Suasana seketika memanas. Apex tampak terkejut dengan keberanian Reno, namun ia hanya tertawa keras sebelum kembali ke mejanya.

Begitu Reno duduk di kursinya dan memasang *headset*, seluruh kebisingan arena seolah lenyap. Ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri dan suara napas rekan-rekan setimnya di saluran komunikasi. Ia mulai melakukan kalibrasi cepat. Jarinya bergerak lincah memastikan sensitivitas *mouse* berada di angka yang sempurna.

"Reno, kamu dengar itu? Mereka terus menyoraki nama Apex," suara Leo terdengar sedikit gemetar.

"Abaikan suara mereka, Leo. Fokus pada monitor," sahut Reno dengan nada stabil. "Ingat latihan kita di Arctic Base. Gunakan badai sebagai perisai, bukan sebagai penghalang."

Pertandingan dimulai. Peta yang terpilih adalah *Shattered Peak*, sebuah medan pegunungan bersalju dengan banyak celah sempit dan tebing curam. Apex segera mengambil inisiatif serangan. Sebagai penembak jitu utama, ia bergerak dengan sangat agresif, menjatuhkan Bimo di menit-menit awal dengan tembakan jarak jauh yang sangat presisi.

"First Blood untuk Apex! Dia benar-benar menunjukkan siapa bos di arena ini!" teriak komentator disambut sorak-sorai penonton.

"Satu jatuh. Jangan panik," instruksi Reno. "Marco, ambil posisi di balik bongkahan es kiri. Biarkan mereka mendekat. Mereka pikir kita sedang terpojok."

Apex, yang merasa di atas angin, terus merangsek maju. Ia ingin mengakhiri ronde pertama dengan cepat untuk menghancurkan mental Black Viper. Ia membidik ke arah posisi Reno yang tampak terekspos di balik dinding kayu tipis.

*Dor!*

Tembakan Apex meleset tipis. Di saat itulah, Reno melakukan gerakan yang tidak terduga. Ia tidak membalas menembak, melainkan melemparkan sebuah alat taktis yang menciptakan pantulan cahaya silau di permukaan es.

"Visual Anchor: Aktif," bisik Reno pada dirinya sendiri.

Dalam kondisi Apex yang sedikit terganggu penglihatannya karena pantulan cahaya, Reno melakukan lompatan taktis ke arah samping, memutar tubuhnya di udara, dan melepaskan satu tembakan presisi tepat saat kakinya menyentuh tanah.

*Klik.*

Nama Apex muncul di log eliminasi. Seluruh arena yang tadinya bising mendadak hening total selama beberapa detik.

"Apa?! Apex terjatuh! Oleh Phantom! Dalam satu ketukan di tengah guncangan visual!" teriak komentator dengan nada tidak percaya.

Reno tidak merayakan. Ia langsung berpindah posisi sebelum rekan tim Apex lainnya bisa melakukan serangan balik. Di monitornya, ia bisa melihat karakter Apex yang kini hanya bisa menunggu *respawn* di ronde berikutnya.

"Trik murahan!" Apex berteriak di *all-chat*, kemarahannya mulai meluap.

"Ini bukan trik," balas Reno melalui pesan singkat di layar. "Ini adalah akhir dari zona nyamanmu."

Ronde pertama dimenangkan oleh Black Viper secara dramatis. Meskipun baru satu poin, pesan yang disampaikan Reno sangat kuat: Sang "One Tap God" tidak datang ke Singapura untuk bermain-main. Ia datang untuk mengambil takhta.

Di kursi pemainnya, Reno menyeka keringat tipis di pelipisnya. Ia tahu Apex akan bermain jauh lebih gila di ronde selanjutnya. Namun, Reno juga tahu satu hal yang belum disadari Apex: Predator yang paling berbahaya adalah predator yang tetap tenang saat lawannya mulai kehilangan kendali.

"Baru saja dimulai," gumam Reno sambil menunggu ronde kedua dimulai. Badai yang sesungguhnya di Singapura baru saja mencapai puncaknya.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!