NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan di Meja Perundingan

Pagi itu, suasana di kamar rumah sakit terasa sangat tegang. Isaac memaksa untuk duduk di tepi ranjang, meskipun rasa pening masih sesekali menghantam kepalanya. Di hadapannya, seorang dokter dan suster tampak keberatan dengan keputusannya untuk keluar secara paksa. Namun, Isaac tetap pada pendiriannya. Dengan bantuan Hendra yang membawakan setelan jas hitam yang rapi, Isaac menyembunyikan selang infus yang baru saja dilepas di balik lengan kemejanya.

"Pak Isaac, Anda masih sangat lemah," bisik Hendra sembari membantu Isaac mengancingkan jas.

"Aku punya waktu tiga jam, Hendra. Hanya tiga jam untuk menentukan masa depan perusahaan dan panti," jawab Isaac dengan nada rendah namun penuh penekanan. Ia menatap cermin, menyapukan sedikit air ke wajahnya agar tidak terlihat terlalu pucat. Ia harus tampil sebagai arsitek visioner, bukan pasien yang baru bangkit dari ranjang.

Apartemen pribadi Isaac di pusat kota telah disulap menjadi ruang rapat yang sangat eksklusif. Zaki telah menyiapkan segalanya; mulai dari dokumen teknis hingga proyektor yang menampilkan portofolio terbaik IL Architecture & Associates. Tepat pukul sepuluh pagi, bel pintu berbunyi. Tiga sosok berpengaruh dalam dunia properti internasional masuk dengan aura yang sangat kuat.

Regan, pria paruh baya dari Singapura dengan setelan jas abu-abu yang tajam. Carissa, wanita asal Swiss dengan rambut pirang yang terikat rapi dan tatapan mata yang sangat analitis. Serta Valencia, pengusaha wanita dari Surabaya yang tampil elegan dengan batik modern dan pembawaan yang tenang namun berwibawa.

Rapat dimulai dengan suasana yang sangat formal. Isaac duduk di kursi utama, menahan rasa nyeri di punggungnya. Ia membuka presentasi dalam bahasa Inggris yang fasih untuk menyambut tamu internasionalnya.

"Welcome, Mr. Regan and Ms. Carissa. Also, selamat datang Ibu Valencia. I appreciate your time to meet me here privately," [Selamat datang, Tuan Regan dan Nona Carissa. Juga, selamat datang Ibu Valencia. Saya menghargai waktu Anda untuk menemui saya di sini secara pribadi,] buka Isaac dengan suara yang dipaksakan stabil.

Regan langsung membuka map dokumen di depannya. "I've heard about the conflict with your previous investor. I need to know, is this company stable enough for a long-term commitment?" [Saya sudah mendengar tentang konflik dengan investor Anda sebelumnya. Saya perlu tahu, apakah perusahaan ini cukup stabil untuk komitmen jangka panjang?]

Isaac menjawab dengan tenang, "Conflict is part of growth, Mr. Regan. I didn't fire him because of money, I fired him because of integrity. My designs are not just buildings, they are legacies," [Konflik adalah bagian dari pertumbuhan, Tuan Regan. Saya tidak memecatnya karena uang, saya memecatnya karena integritas. Desain saya bukan sekadar bangunan, tapi warisan.]

Carissa yang sejak tadi hanya diam memperhatikan slide demi slide desain panti asuhan dan proyek residensial Isaac, akhirnya angkat bicara. "Your architectural style in 'The Dendra Foundation' is fascinating. It blends nature with modern functionality. But, can you scale this concept for a luxury resort in the Alps?" [Gaya arsitektur Anda di 'The Dendra Foundation' sangat mempesona. Itu memadukan alam dengan fungsi modern. Tapi, bisakah Anda mengembangkan konsep ini untuk resor mewah di pegunungan Alpen?]

Isaac tersenyum tipis. "Architecture is a universal language, Ms. Carissa. The soul of a building remains the same, no matter the location. I don't just build walls; I build experiences that breathe with the environment," [Arsitektur adalah bahasa universal, Nona Carissa. Jiwa sebuah bangunan tetap sama, di mana pun lokasinya. Saya tidak hanya membangun dinding; saya membangun pengalaman yang bernapas dengan lingkungan.]

Di tengah pembicaraan bahasa Inggris yang intens, Valencia memperhatikan interaksi itu dengan senyum kecil. Ia kemudian menyela dengan bahasa Indonesia yang santun namun tajam.

"Pak Isaac, saya tidak peduli dengan Alpen atau Singapura untuk saat ini. Saya ingin tahu, kalau saya taruh dana di proyek Surabaya, apakah Bapak bisa menjamin desainnya tidak akan 'pasaran'? Saya ingin sesuatu yang punya nilai seni tinggi, tapi tetap fungsional untuk pasar lokal," ujar Valencia sembari menyesap tehnya.

"Ibu Valencia," jawab Isaac beralih ke bahasa Indonesia. "Anda tahu gaya kerja saya. Saya tidak pernah melakukan duplikasi desain. Setiap proyek adalah sidik jari yang berbeda. Proyek Surabaya akan menjadi landmark baru, bukan sekadar gedung tinggi biasa."

Rapat berlanjut selama hampir tiga jam. Diskusi menjadi sangat teknis dan terkadang memanas ketika membicarakan pembagian royalti dan kendali desain. Isaac mulai merasa keringat dingin membasahi punggungnya. Penglihatannya sesekali mengabur, namun ia mencengkeram tepian meja di bawah sana agar tetap tegak. Ia tahu, satu detik saja ia terlihat goyah, kepercayaan mereka akan hilang.

Regan tampak sangat puas dengan penjelasan Isaac mengenai efisiensi biaya material tanpa mengurangi kualitas. "Your vision is sharp, Isaac. I like how you manage the risks," [Visimu tajam, Isaac. Aku suka caramu mengelola risiko.]

Setelah perdebatan panjang mengenai detail kontrak, Carissa berdiri dan mengulurkan tangannya. "I’m not looking for just a place to put my money. I want a partner. I propose a strategic cooperation between my firm and yours for the Swiss project," [Aku tidak mencari tempat sekadar untuk menaruh uangku. Aku ingin seorang mitra. Aku mengajukan kerja sama strategis antara firmaku dan firmamu untuk proyek di Swiss.]

Isaac menjabat tangan Carissa dengan mantap, meskipun telapak tangannya terasa dingin. "It’s an honor, Ms. Carissa." [Ini sebuah kehormatan, Nona Carissa.]

Melihat Carissa sudah mengunci posisi sebagai mitra kerja sama, Regan tidak mau ketinggalan. "In that case, I will take the position as a primary investor for your regional expansion. Your integrity convinced me," [Kalau begitu, aku akan mengambil posisi sebagai investor utama untuk ekspansi regionalmu. Integritasmu meyakinkanku.]

Valencia pun ikut berdiri, merapikan tasnya. "Pak Isaac, saya ikut jadi investor juga untuk proyek domestik. Saya suka cara Bapak melindungi bawahan Bapak dari fitnah kemarin. Pemimpin yang punya hati biasanya tidak akan mengkhianati rekan bisnisnya. Kirimkan berkasnya ke Surabaya besok, tim saya akan pelajari detail akhirnya."

Begitu ketiga tamu penting itu keluar dari apartemen, Isaac perlahan merosot ke kursinya. Napasnya terengah-engah. Hendra dan Zaki segera menghampirinya dengan cemas.

"Pak! Bapak baik-baik saja?" Zaki segera memberikan air hangat.

"Kita berhasil..." bisik Isaac dengan bibir yang pucat. "Carissa mengajak kerja sama... Regan dan Valencia jadi investor. Masalah dana tuntas hari ini."

Hendra menatap atasannya dengan rasa bangga sekaligus ngeri melihat kondisi fisik Isaac. "Bapak hebat. Bapak benar-benar membalikkan keadaan dalam sekejap. Tapi sekarang, Bapak harus kembali ke rumah sakit."

"Tidak," Isaac menggeleng tegas. Ia mengambil ponselnya, jarinya gemetar saat melihat foto profil Luna. "Siapkan mobil. Sesuai janjiku... aku pulang ke bukit sekarang juga. Aku tidak bisa membiarkan Luna menunggu lebih lama lagi."

"Tapi Pak, perjalanan ke bukit itu dua jam lebih!" protes Hendra.

"Antar aku pulang, Hendra. Itu perintah," tegas Isaac dengan sisa tenaga terakhirnya.

Meskipun tubuhnya berada di titik terendah, semangat Isaac melambung tinggi. Ia telah menyelamatkan perusahaannya, ia telah menyelamatkan masa depan anak-anak panti, dan kini, ia siap pulang untuk menyelamatkan hatinya yang sedang terluka karena kesalahpahaman. Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan kota menuju perbukitan yang sunyi, Isaac memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak sebelum ia harus menghadapi pelukan—atau mungkin amarah—dari istrinya yang tercinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!