NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Suami Bucin

Menikahi Mantan Suami Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kopii Hitam

Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.

Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.

Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.

Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32.

Seperti biasa, pagi-pagi sekali Fahri sudah bangun dan membuatkan sarapan untuk sang istri tercinta. Tapi kali ini Bella tidak muncul sehingga Fahri harus memanggilnya ke kamar.

Di tepi ranjang, Fahri mengelus pipi Bella dan mencium keningnya. Bella sepertinya masih marah sehingga memilih tidur lebih lama.

"Sayang, bangun! Sarapan dulu yuk, aku sudah buatkan bubur jagung kesukaan kamu." ucap Fahri sambil menangkup pipi Bella, tatapannya nampak sendu.

Bella membuka mata perlahan dan mendengus melihat muka Fahri. "Sarapan saja dulu, aku tidak lapar."

Kruyuuk...

Mendengar perut Bella yang berbunyi, Fahri tersenyum tipis. "Tidak lapar, tapi cacing di perut kamu memberontak sampai bunyinya sekencang itu." seloroh Fahri dengan raut wajah sayu.

Tanpa menunggu jawaban, Fahri mengangkat tubuh Bella dan membawanya ke kamar mandi.

Setelah menurunkan Bella di depan wastafel, Fahri mengambil sikat gigi dan menaruh odol di atasnya. "Ayo, gosok gigi dulu!" suruh Fahri seraya meletakkan sikat itu di telapak tangan Bella.

Sambil menunggu Bella selesai menyikat gigi, Fahri merapikan rambut Bella dan menyanggulnya ke atas. Setelah itu mengambil sabun cuci muka dan menggosoknya di tangan sampai berbusa, lalu membalurnya ke wajah Bella perlahan agar tidak terkena mata.

Setelah Bella selesai menggosok gigi, Fahri menyodorkan gelas berisi air. "Kumur-kumur dulu!" ucap Fahri. Setelah Bella berkumur, Fahri membilas wajah Bella dengan air lalu mengelapnya dengan handuk kecil.

"Sudah, waktunya sarapan!" ajak Fahri, dia menggenggam tangan Bella dan membawanya keluar.

Di ruang makan, Fahri menarik kursi dan menyuruh Bella duduk. Dia masuk ke dapur membuka panci berisi bubur jagung dan menyalinnya ke mangkok.

"Ini, isi perut dulu!" ucap Fahri menaruh mangkok yang ada di tangannya di hadapan Bella, lalu kembali ke dapur mengambil jeruk hangat yang dia bikin tadi.

Setelah menaruh semuanya di hadapan Bella, Fahri ikut duduk mengisi perut. Tatapannya tampak kosong seperti memikirkan sesuatu.

Usai sarapan, Bella kembali ke kamar sedangkan Fahri seperti biasa membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur.

"Biar Bibi saja, Pak." ucap Yanti menghampiri Fahri.

"Tidak apa-apa, Bik. Biar aku saja," kata Fahri dengan suara serak, tanpa terasa air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi.

"Bapak tidak apa-apa," tanya Yanti dengan tatapan iba, hatinya terenyuh melihat Fahri menitikkan air mata.

"Tidak apa-apa, Bik. Bibi istirahat saja!" suruh Fahri kemudian cepat-cepat membilas piring yang sudah disabuni.

Setelah pekerjaannya selesai, Fahri membuka celemek dan menggantungnya di dinding dapur, dia pun berjalan masuk ke ruang kerja.

Dengan laptop yang menyala di atas meja, Fahri menyibukkan diri agar tidak kepikiran pada Bella. Setelah beberapa jam, dia pun menutup laptop dan menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya terasa perih dan berat, semalaman dia tidak tidur memikirkan Bella terus menerus.

Dengan punggung tersandar dan kepala menengadah ke langit-langit, perlahan matanya mulai terpejam, dia akhirnya tertidur.

Siang hari, Bella keluar kamar untuk makan siang. Setelah menunggu cukup lama, Fahri tak kunjung tiba, dia pun bertanya pada Yanti. "Fahri mana, Bik?"

"Bapak di ruang kerja, sejak pagi tadi belum keluar." jawab Yanti.

Mendengar itu, Bella bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang kerja Fahri.

Di dalam sana, Fahri baru saja bangun setelah mendengar ponselnya berdering. Saat ini dia sedang berbicara dengan Reza.

Reza menanyakan apa Fahri baik-baik saja usai kejadian semalam. Dia kepikiran, perasaannya tidak tenang, takut Fahri dan Bella bertengkar hebat sesampainya di rumah.

"Tidak apa-apa, kami baik-baik saja." jawab Fahri dengan suara serak.

"Tapi kenapa suara Bapak serak begitu." tanya Reza penasaran.

"Semalam tidak tidur, makanya jadi serak." jawab Fahri.

"Apa Bu Bella masih marah?" tanya Reza lagi.

"Tidak apa-apa marah, yang penting dia tidak pergi, itu sudah cukup." jawab Fahri dengan suara bergetar, tidak terasa air matanya tiba-tiba menetes membasahi pipi.

"Pak, jangan menangis! Ini salah saya, saya tidak seharusnya mempertemukan Bapak dengan Bu Sinta, saya tidak tau..."

"Tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Saya harusnya lebih peka, saya yang salah karena terlambat menghindar." Fahri tidak kuat menahan diri, air matanya kian jatuh tak terbendung.

"Pak..."

Tut...

Fahri memutus sambungan telepon itu secara sepihak, dia tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan Reza.

Setelah sambungan telepon terputus, Fahri melipat kedua tangannya di meja, menyembunyikan wajahnya di sana dan menangis terisak-isak.

Entahlah, dia sendiri bingung pada dirinya yang gampang sekali menitikkan air mata akhir-akhir ini. Dia yang dulunya tegas dan cuek, sekarang berubah jadi melow. Apalagi menyangkut Bella, sulit menyembunyikan perasaannya.

Kata orang jika laki-laki menangis karena seorang wanita, itu berarti lelaki itu benar-benar mencintai wanitanya. Mungkin Fahri termasuk salah satu diantara mereka.

Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Bella berdiri menyaksikan Fahri yang menangis tersedu-sedu. Hatinya mencelos, tidak seharusnya dia terlalu keras pada Fahri. Bagaimanapun Fahri tidak sengaja melakukan itu, Bella seharusnya percaya pada suaminya.

Dengan langkah pelan, Bella mendekat. Fahri mengangkat kepala dan cepat-cepat menyeka pipi ketika menyadari keberadaan Bella.

"Fahri..." panggil Bella.

"Ya... Ada apa, sayang?" sahut Fahri sembari bangkit dari tempat duduk.

"Kamu nangis?" tanya Bella yang kini sudah berdiri di hadapan Fahri.

"Tidak, untuk apa aku nangis?" alibi Fahri sambil geleng-geleng kepala.

"Yakin gak nangis?" tanya Bella lagi.

"Yakin," angguk Fahri mengedarkan pandangan ke arah lain.

"Bohong," ucap Bella sambil menangkup pipi Fahri.

Merasakan sentuhan tangan Bella yang begitu lembut, mata Fahri kembali berkaca-kaca. Rasanya sudah lama sekali Bella tidak menyentuhnya seperti ini, padahal baru kemarin tapi Fahri merasa asing begitu lama.

"Dasar pembohong," imbuh Bella dan mencubit pipi Fahri.

Meski sedikit sakit, Fahri tetap diam di tempat. Dia tidak berani mengeluh apalagi membalas, dia takut Bella semakin marah dan membencinya.

"Ngapain masih diam, sini peluk!" sergah Bella yang membuat Fahri terperanjat, Fahri tampak kebingungan seperti orang linglung.

Aish...

Karena kelamaan, Bella pun mencengkram leher kaos yang dikenakan Fahri dan menariknya kuat.

Ah...

Terlalu kuat hingga dada keduanya saling membentur.

"Kamu sudah tidak marah?" tanya Fahri dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari jawaban di mata Bella.

"Kalau aku marah, aku sudah pergi..."

"Tidak sayang, jangan pergi!" Fahri cepat-cepat memeluk Bella. "Marah saja, tidak apa-apa." imbuhnya sambil mendekap tubuh Bella dengan erat, Bella sampai kesulitan bernafas.

"Siapa yang mau pergi, hah?" Bella mengacak rambut Fahri hingga berantakan, dia nyaris tertawa melihat Fahri yang seperti orang bingung.

Fahri merenggangkan pelukannya. "Tadi katanya pergi,"

"Astaga, Fahri. Makanya rajin-rajin bersihin kuping," keluh Bella sambil menarik telinga Fahri.

"Aduh, aduh, aduh... Sayang, sakit..." rengek Fahri dengan manja. Sedetik kemudian dia tersenyum. "Jadi tidak marah lagi?" tanya Fahri mencari tau.

"Tidak..." geleng Bella.

Cup...

Fahri senang mendengar itu, dia pun mengecup kening Bella dengan sayang.

"Ini..." Bella menunjuk bibir.

Ehm...

Tanpa ragu Fahri mengecup bibir Bella dengan lembut kemudian me1umatnya sebentar.

Pertikaian diantara mereka berakhir. Fahri meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama, lain kali dia akan berhati-hati berhadapan dengan wanita manapun.

1
Uthie
Begitulah laki tuhh,.. sendiri nya gak nyadar udah bikin istrinya cemburu dengan interaksi nya pada wanita lain, sedang saat istrinya interaksi juga dengan laki2 lain sendiri nya lebih terbakar lagiii oleh api cemburu 😁😁
Kopii Hitam: huahaaa, benar ya kk🤣
total 1 replies
Uthie
akhiiirrnyaaa.. buka puasa juga yaa 😂
Kopii Hitam: asekkkk😄
total 1 replies
Uthie
Bahagia selalu yaaa kalian berdua 👍👍😍🤗🤗🤗
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Bella tanda-tanda Hamidun kahh 😁😍
Uthie: 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Uthie
Duhhh.. dasar orang tua lucknut bisa nya cuma cari-cari Masalah aja 😡😡
Kopii Hitam: bikin kesel ya kk🤭
total 1 replies
Uthie
niceee 👍😍
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
muhammad ihsan
kok cuma satu bab thor
Kopii Hitam: besok ya KK 2 bab
total 1 replies
Uthie
Bagussss.. Hama emang harus di bersihkan 👍👍👍🤩
Kopii Hitam: bersihkan 🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Nahhh....bagus itu 👍😡
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡
Kopii Hitam: ok kak👍👍
total 1 replies
Uthie
Nahhh....gitu dong 👍👍😁
Kopii Hitam: siap🙏🙏🙏
total 1 replies
Uthie
senyum-senyum bacanya
Kopii Hitam: hmm😄🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Waowwww😂😂
Kopii Hitam: kak🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
Kasihan nya Bu Sari 😢
Kopii Hitam: iya /Sob//Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
Uthie
terlalu lemah 😌
Kopii Hitam: iya kak🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
coba mampir 👍🙏
Kopii Hitam: siap makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!