"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: JEJAK BERDARAH DI GUDANG TUA
Bab 19: Jejak Berdarah di Gudang Tua
Hujan gerimis mulai membasahi aspal saat Aruna, Adrian, dan dua orang mantan tentara bayaran yang direkrut Adrian dalam waktu singkat—Raka dan Bara—berhenti di sebuah kawasan industri terbengkalai di pinggiran kota. Di sana, di antara barisan gudang-gudang tua yang atapnya sudah berkarat, diduga Tyas disekap.
"Ingat, Aruna," bisik Adrian sambil memeriksa alat pelacak di tabletnya. "Siska yang sekarang bukan lagi wanita yang cuma haus harta. Dia sudah tidak punya beban. Orang yang tidak punya beban adalah orang yang paling berbahaya."
Aruna mengencangkan jaket kulit hitamnya. Rambut pendeknya ia tutupi dengan topi beanie. Di pinggangnya terselip sebuah alat kejut listrik berkekuatan tinggi. "Aku tidak peduli seberapa gila dia, Adrian. Dia mengancam Kenzo. Itu adalah kesalahan terakhir yang akan dia buat."
Mereka bergerak dalam senyap. Raka dan Bara memimpin di depan, bergerak seperti bayangan di antara kontainer-kontainer kosong. Suara tetesan air yang jatuh ke seng tua menciptakan irama yang menegangkan.
Tiba-tiba, Raka mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti. Di depan sebuah gudang dengan nomor pintu 4-B, terlihat dua orang pria dengan jaket *hoodie* hitam sedang berjaga. Mereka merokok sambil sesekali tertawa pelan, memegang tongkat pemukul kasti di tangan mereka.
"Itu orang-orang suruhan keluarga Siska," bisik Bara. "Tipe preman bayaran. Tidak terlalu terlatih, tapi mereka brutal."
"Lumpuhkan mereka. Jangan sampai ada suara," perintah Aruna dingin.
Dalam hitungan detik, Raka dan Bara bergerak. Dengan gerakan yang presisi, kedua penjaga itu dijatuhkan sebelum mereka sempat membuang puntung rokoknya. Aruna melangkah maju, jantungnya berdegup kencang saat ia mendorong pintu besi yang berat itu hingga terbuka sedikit.
Bau amis darah dan bau lembap langsung menyerang indra penciumannya. Di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu pijar yang berkedip, Aruna melihat sosok itu. Tyas masih terikat di kursi, namun kepalanya tertunduk lemas. Lantai di bawahnya sudah memerah.
"Tyas!" Aruna hendak berlari maju, tapi Adrian menahan lengannya.
"Tunggu, Aruna. Ini terlalu mudah," peringat Adrian.
Benar saja. Dari kegelapan di sudut gudang, suara tepuk tangan terdengar bergema.
Prok... prok... prok...
"Luar biasa. Sang pahlawan wanita datang menyelamatkan anjing setianya," suara itu bukan milik Siska. Itu suara pria, berat dan penuh wibawa, namun sangat tidak asing.
Seorang pria paruh baya keluar dari kegelapan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi, kontras dengan suasana gudang yang kotor. Aruna tersentak. Pria itu adalah Hendra, ayah Siska, yang selama ini dikenal sebagai pengusaha dermawan.
"Pak Hendra?" Aruna menatapnya tak percaya. "Jadi Anda yang berada di balik semua ini?"
Hendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dingin daripada es. "Bimo itu bodoh. Dia pikir dia bisa menguasai hartamu sendirian tanpa melibatkan keluargaku lebih dalam. Siska adalah putriku, dan apa pun yang dia inginkan, akan aku berikan... termasuk kepala mantan istri suaminya."
"Di mana Siska?" tanya Aruna, matanya liar mencari-cari.
"Siska sedang melakukan persiapan untuk 'pertemuan keluarga' yang sebenarnya," Hendra memberi kode ke atas. Tiba-tiba, beberapa lampu sorot dari lantai dua gudang menyala, menyorot tepat ke arah Aruna dan timnya. Di sana, sudah berdiri lima orang pria dengan senjata api yang diarahkan ke bawah.
"Kalian masuk ke sarang singa tanpa membawa senjata api?" Hendra tertawa mengejek. "Aruna, kamu terlalu emosional. Itulah kelemahanmu."
"Dan Anda terlalu sombong, Pak Hendra," balas Aruna. Ia meraba sakunya dan mengeluarkan sebuah pemantik api, namun bukan pemantik biasa. "Anda pikir aku datang ke sini hanya dengan dua orang pengawal?"
Aruna menekan sebuah tombol di pemantik itu. Seketika, suara sirine polisi meraung-raung dari segala arah, dan lampu-lampu biru-merah mulai memantul di jendela-jendela gudang yang pecah.
"Aku sudah membagikan lokasi live ini ke tiga unit kepolisian berbeda sejak kita masuk ke kawasan ini," ucap Aruna dengan senyum kemenangan. "Dan tablet yang Anda berikan di rumahku? Itu punya pelacak GPS yang sangat akurat. Terima kasih sudah menuntun kami langsung ke markas Anda."
Wajah Hendra yang tadi tenang seketika berubah merah padam. "Kurang ajar! Habisi mereka!"
"Jangan!" teriak seorang wanita dari lantai dua. Siska muncul, wajahnya tampak kacau, matanya merah. Ia memegang sebuah jerigen bensin. "Kalau aku tidak bisa memiliki hidup yang tenang, maka tidak ada satu pun dari kalian yang bisa!"
Siska menyiramkan bensin itu ke arah Tyas dan tumpukan kayu di bawahnya.
"SISKA, JANGAN!" teriak Aruna.
Siska menyalakan korek api. "Selamat tinggal, Aruna!"
Wush! Api langsung berkobar hebat.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bab 20: Taruhan Nyawa di Tengah Kobaran Api.
...Author Note:...
...Gila! Siska bener-bener sudah kehilangan akal sehatnya! Dia membakar gudang itu padahal ayahnya sendiri masih ada di sana. Gimana nasib Tyas yang masih terikat? Dan apakah Aruna bisa keluar hidup-hidup dari kepungan api dan anak buah Hendra?...