NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teaser drama

“Cepat bubar dan istirahat!”

Suara sutradara terdengar lebih tegas dari biasanya.

“Satu hari libur.”

“Fokus promosi.”

Ia berhenti sejenak.

“Episode pertama akan mulai diputar teaser-nya malam ini.”

Hening.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Karena semua orang tahu—

ini bukan sekadar tayang.

Ini penentu.

Apakah drama ini akan meledak—

atau tenggelam tanpa jejak.

...----------------...

Suasana Set Berubah, mungkin bertambah dengan sesuatu ketegangan di udara.

Biasanya orang langsung santai saat libur diumumkan.

Tapi kali ini— tidak.

Beberapa kru langsung membuka terminal.

Beberapa aktor saling melirik.

“…kalau rating awal jelek, susah naik.”

“…apalagi banyak saingan bulan ini.”

Bisik-bisik mulai terdengar.

Di tengah semua itu—

Mireya diam.

Tangannya memegang naskah.

Namun— tidak dibaca.

Matanya kosong.

Teaser…

Dia belum muncul.

Bukan belum tapi hanya adegan di tandu itu sekilas.

Tapi— ini tetap menentukan semuanya.

Jika gagal— maka semua kerja kerasnya…

sia-sia.

...----------------...

Luna menyandarkan tubuhnya santai.

“…semoga nggak mengecewakan ya.”

Nada suaranya ringan.

Namun— tatapannya ke Mireya.

Seolah berkata:

“kalau ini gagal… kamu ikut tenggelam.”

Padahal yang ia tidak sadari dirinya juga yang merugi.

...----------------...

Eirian Vale menutup naskahnya.

“…malam ini ya.”

Ia tersenyum tipis.

“menarik.”

Bukan gugup.

Tapi jelas— dia juga menunggu.

...****************...

Perjalanan pulang.

Mobil melaju pelan.

Pixy duduk di samping Mireya.

Gelisah.

“…kak… nanti kita nonton bareng ya?”

Mireya tidak langsung jawab.

“…lihat nanti.”

Jawaban singkat.

"lagi pula kamu mau nginep?"

Tanya ku penasaran.

"Eh... Enggak maksud ku nonton sambil VC"

"Kalau sempet ya..."

"Eh, jangan deh ganggu kakak sama someone hehehe..."

"Kamu ini ya..."

Candaan Pixy membuat tangannya di pangkuannya berhenti bergetar karena cemas.

...****************...

Malam Hari — Saat Semua Dimulai

Lampu kota menyala.

Di berbagai tempat— orang-orang mulai membuka channel drama.

Tv atau sekedar mengecek sosmed lainnya.

Teaser pertama diputar.

Musik megah.

Suara narasi.

“Seorang anak yang ditinggalkan takdirnya…”

“akan membalikkan dunia…”

Cuplikan cepat:

Kaizar kecil yang lusuh

Istana megah

Putri kaisar yang dingin

Pedang yang terhunus

Lalu— sekilas.

Seorang wanita.

Tertutup.

Di dalam tandu.

Matanya saja terlihat.

Hanya satu detik.

Komentar mulai meledak.

“Visualnya gila??”

“Ini budget berapa sih??”

“MC cowoknya keren banget!”

Dan—

“eh yang mata doang itu siapa???”

“itu selir keberapa??”

“kok auranya beda??”

...****************...

Di Penthouse

Mireya duduk diam di sofa.

Layar besar di depannya.

Teaser diputar ulang.

Ia tidak berkedip.

Saat adegan mata itu muncul—

napasnya tertahan.

Sejenak.

Lalu— hilang.

“…cuma segitu.”

Bisiknya pelan.

Entah lega.

Atau kecewa.

...----------------...

Di gedung perusahaan di tempat yang jauh.

Zevran Ardevar berdiri di depan layar.

Tanpa suara.

Menonton.

Tatapannya berhenti—

tepat di satu frame itu.

Mata tertutup kain.

Diam.

“…jadi ini.”

"Bagus..."

...----------------...

Malam itu— angka penonton mulai naik.

Channel mulai memperhatikan.

Platform mulai menghitung.

Dan di balik layar— banyak mata mulai tertuju pada satu hal:

Istri misterius

Yang bahkan—mungkin tidak akan diketahui membuat publikasi gila gilaan.

...****************...

Malam itu, teaser akhirnya rilis.

Dalam hitungan menit, nama drama itu langsung naik ke daftar trending. Para aktor ikut memposting potongan adegan, menambahkan tagar resmi, saling mention—seolah berlomba menarik perhatian.

Dan berhasil.

Para pembaca novel lama… muncul.

Seperti sarang semut yang terganggu, mereka berdatangan dari berbagai forum, kolom komentar, sampai siaran langsung.

“Akhirnya diadaptasi juga!”

“Visualnya gila… ini beneran serius produksinya.”

“Tunggu—itu istri pertama kan? Gak meleset sama sekali!”

Cuplikan demi cuplikan diputar ulang.

Tiga istri utama yang sudah masuk frame langsung jadi pusat perhatian.

Fanbase mereka besar.

Sangat besar.

Dalam waktu singkat, perang kecil dimulai.

“istri pertama tetap nomor satu.”

“Maaf ya, tapi istri ketiga lebih elegan.”

“Eits wanita di tandu itu auranya beda banget, gak ada lawan.”

Komentar saling balas.

Like melonjak.

Editan foto mulai beredar.

Istilah “kapal” kembali hidup—masing-masing memilih siapa yang paling pantas mendampingi Kaizar.

Suasananya panas.

Cepat.

Dan bising.

Namun di antara semua itu—

ada segelintir orang yang memperhatikan hal lain.

Satu adegan singkat.

Hanya beberapa detik.

Seorang wanita di dalam tandu.

Tertutup.

Hanya matanya yang terlihat.

“Eh… itu siapa?”

“Kayaknya bukan selir utama?”

“Di novel ada gak sih yang kayak gitu?”

Beberapa mencoba mengingat.

Membuka ulang halaman lama.

Mencari.

Namun…

tidak ada yang benar-benar yakin.

Karakter itu terlalu samar.

Muncul sebentar.

Lalu hilang.

Bahkan di versi novel pun—

hampir tidak meninggalkan kesan.

Akhirnya—

pembahasan itu tenggelam.

Tertutup oleh perang yang jauh lebih seru:

siapa yang paling cantik, paling kuat, paling layak.

Sementara itu—

wanita di dalam tandu itu—

tetap menjadi bayangan.

Tidak dikenali.

Tidak dipahami.

Dan justru karena itu—

ia lolos dari semua sorotan.

Untuk sementara.

...****************...

Untungnya semuanya berjalan lancar.

Mireya berdiri di depan jendela besar penthouse, menatap gemerlap lampu kota di bawah. Di tangannya, layar masih memutar ulang potongan teaser yang baru saja dirilis.

Adegan itu muncul lagi.

Tandu. Tirai tipis. Sepasang mata.

Ia berhenti di situ.

Menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

Sampai sebuah suara mengejutkan nya.

Seseorang yang katanya sibuk tapi sudah kembali ke sini entah kapan.

“Auramu hebat saat ditandu.”

Suara itu tiba-tiba muncul dari belakang.

Mireya sedikit tersentak dan menoleh. Zevran Ardevar berdiri santai, seolah sudah lama mengawasinya.

“Ah… Anda menyadari itu saya?”

Zevran mendekat beberapa langkah, tatapannya singkat mengarah ke layar di tangan Mireya.

“Aku tidak menyangka kau suka memperhatikan karakter yang misterius.”

Mireya tersenyum tipis, mencoba terdengar biasa saja.

Namun jawabannya datang cepat.

“Bukan begitu.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku hanya mencarimu.”

“…di sana.”

Wajah Mireya langsung memerah. Ia buru-buru mematikan layar, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan.

“Anda ini…”

gumamnya pelan.

Zevran berbalik seolah tidak terjadi apa-apa.

“Mumpung kau libur, ayo makan di luar.”

Mireya berkedip.

“Eh, tapi Zevran…”

“Kau sudah gajian, kan?”

Ia melirik ringan ke arahnya.

“Katamu ingin membalas.”

Mireya terdiam sebentar, lalu wajahnya langsung cerah kembali.

“Ahh jadi itu maksudmu…”

Senyumnya lebar, lebih hidup dari sebelumnya.

“Baiklah! Ayo makan enak!”

Ia berbalik cepat, langkahnya ringan dan penuh semangat.

Tidak menyadari—

Zevran mengambil selimut tipis dari sofa.

Dengan gerakan pelan, ia mendekat dan menyampirkan nya ke bahu Mireya.

Begitu halus, hampir seperti angin lewat.

Mireya hanya merasa sedikit hangat.

Ia tersenyum, mengira itu karena suasana hatinya yang sedang baik.

Sementara di belakangnya, Zevran memperhatikan sejenak.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

Tanpa perlu diberi tahu—

ia sudah tahu bagaimana cara menjaganya.

...****************...

Hari libur berlalu begitu cepat.

Mireya bahkan tidak sempat benar-benar merasakannya sebelum kembali ke rutinitas yang padat.

Naskah, latihan, syuting.

Hari demi hari berjalan tanpa jeda.

Tidak terasa—

mereka sudah mendekati akhir bulan kedua.

Efek teaser yang sempat panas perlahan mulai mereda.

Namun bukan berarti perhatian hilang.

Sebaliknya—

itu hanya… menunggu.

Produksi berjalan cepat.

Delapan episode sudah selesai diproses.

Cukup untuk mulai tayang.

Dan akhirnya keputusan itu diumumkan:

Bulan depan, tanggal satu—

episode pertama akan dirilis.

Satu episode setiap minggu.

Artinya—

tidak ada jalan mundur lagi.

Namun di saat yang sama—

perubahan besar datang.

Mulai bulan Desember,

lokasi syuting dipindahkan.

Bukan lagi set buatan di kota.

Melainkan—

alam asli.

Pegunungan.

Air terjun.

Hutan lebat yang masih liar.

Dan dengan itu—

aturan baru diberlakukan.

Seluruh aktor diwajibkan untuk tinggal di lokasi.

Mireya awalnya tidak keberatan.

Baginya, tinggal bersama kru atau berbagi kamar dengan aktris lain bukan masalah.

Ia bahkan sudah hampir menyetujuinya begitu saja.

Sampai Pixy mendengar.

Dan seperti biasa—

informasi itu naik satu per satu.

Dari Pixy— ke Rhea.

Dari Rhea— ke zevran.

Keesokan harinya—

keputusan berubah.

“Mireya akan tinggal di rumah terpisah.”

Bukan sekadar kamar.

Bukan asrama.

Satu rumah.

Pribadi.

Di lokasi yang sama—

namun terpisah dari yang lain.

“Bersama Pixy saja sudah cukup.”

Keputusan itu turun tanpa banyak penjelasan.

Dan… tidak bisa ditolak.

Biayanya?

Di luar anggaran produksi.

Keputusan itu dengan cepat menyebar di antara kru.

“Rumah pribadi?”

“Serius?”

“Wah… beda level ya.”

Bisik-bisik mulai muncul lagi.

Lebih pelan.

Tapi lebih tajam.

Tentang “backing”.

Tentang “perlakuan khusus”.

Tentang hal-hal yang tidak pernah diucapkan terang-terangan.

Namun kali ini—

tidak ada yang benar-benar berani mempermasalahkan.

Karena di balik keputusan itu—

ada nama yang terlalu besar.

Zevran.

Dan juga—

Rhea.

Kombinasi yang cukup untuk membuat orang memilih diam.

Saat Mireya mendengar kabar itu,

ia sempat terdiam cukup lama.

“…rumah sendiri?”

Pixy mengangguk cepat, jelas senang.

“Iya kak! Lebih nyaman kan! Lebih aman juga!”

Mireya menghela napas pelan.

Bukan tidak bersyukur.

Hanya saja—

ia tahu.

Mulai sekarang,

jarak antara dirinya dan yang lain…

akan semakin terlihat jelas.

Seolah menegaskan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia tunjukkan.

Malam itu—

hanya berkata singkat saat ditanya.

“Tenang saja.”

“Aktor penting lain juga melakukan hal yang sama.”

Nada suaranya tetap datar.

Seolah itu hal biasa.

Namun Mireya tahu—

tidak semua orang…

punya pilihan seperti itu.

Dan dari jauh—

beberapa mata mulai melihatnya berbeda.

Bukan lagi sekadar aktris.

Tapi seseorang—

yang berada di posisi…

yang sulit dijangkau.

Dan itu—

akan membawa konsekuensi baru.

Pelan.

Tapi pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!