NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31:Kidung Tauhid Sangkan Paraning Dumadi

Malam ini, suasana di pendopo utama sangat tenang. Tidak ada pembahasan strategi atau perang batin. Di sana duduk Eyang Wijaya, para Ratu Majapahit yang agung, serta anak-anaknya yang duduk bersimpuh takzim. Di samping Faris, Arjuna Hidayat tampak santai sambil menyeruput kopi jahe.

"Dikmas Faris, daripada kita bahas politik terus, mbok ya sekali-kali menghibur para Eyang dan Ayunda di sini," ucap Arjuna Hidayat sambil menyenggol lengan adiknya.

Faris Arjuna tertawa kecil. Ia mengambil gitar akustik yang tergeletak di sudut ruangan. Para dayang mulai berbisik-bisik kagum melihat sang Satrio Piningit yang biasanya garang, kini tampak begitu lembut.

TRENGGG... TRENGGG...

(Suara petikan senar gitar Faris yang jernih dan bergetar indah).

Faris memejamkan mata, ia mulai bernyanyi dengan suara yang berat namun penuh perasaan.

"Apa ora kelingan... Wingi nggenggem tanganku? Curhat tentang mantanmu... Ning saiki malah ninggal aku..."

(Apa tidak ingat... Kemarin menggenggam tanganku? Curhat tentang mantanmu... Tapi sekarang malah meninggalkan aku...)

SREEESSSS...

(Suara hembusan angin malam yang tiba-tiba masuk ke pendopo, membawa wangi bunga kantil seolah ikut mendengarkan nyanyian Faris).

"Aku pamit, Sayangku... Tak culne genggamanku... Matur suwun uwis mayungi derese udanku, lan ngancani kesepianku wingi..."

Para dayang tampak berkaca-kaca matanya. Bahkan para Ratu Majapahit pun tersenyum getir, teringat akan kisah-kisah asmara di masa lalu yang penuh pengorbanan. Faris semakin dalam menghayati liriknya, suaranya naik satu oktav namun tetap terkontrol.

"Terus nggo ngapa aku ngancani selama iki? Yen akhire kowe mileh bali ning mantanmu..."

"Walah, Dikmas... Jebule batinmu lagi ambyar to?" bisik Arjuna Hidayat sambil tertawa pelan di tengah lagu, mencoba menggoda adiknya.

PLAK!

(Suara tepukan pelan Faris ke paha kakaknya sambil tetap memetik gitar).

"Seka mangan nganti nurut dawane dalan... Tak turuti, berharap isa nduweni... Wis tak korbanke wektuku, iseh wae kalah karo mantanmu..."

(Dari makan sampai menuruti panjangnya jalan... Ku turuti, berharap bisa memiliki... Sudah kuberbankan waktuku, masih saja kalah dengan mantanmu...)

Faris mengakhiri lagunya dengan nada yang rendah dan sangat menyentuh hati. Suasana pendopo mendadak hening. Tidak ada yang berani bicara.

"Ngapurane, Sayangku... Sing menang, masa laluku..."

TRENGGG...

(Suara getaran senar terakhir yang memudar perlahan di udara malam).

"Luar biasa, Dikmas. Lidahmu tidak hanya tajam untuk mengutuk musuh, tapi juga sangat indah untuk melukiskan luka hati," puji salah satu Ratu Majapahit sambil mengusap air mata di sudut matanya dengan sapu tangan sutra.

PROK... PROK... PROK...

(Suara tepuk tangan meriah dari para dayang dan keluarga besar yang merasa sangat terhibur sekaligus baper).

"Kakang Faris, apakah itu kisah nyata?" tanya salah satu kerabat muda dengan polosnya.

Faris menyandarkan gitarnya, kembali ke mode santai namun berwibawa. "Hanya lagu, Dek. Tapi elingo... Sing jenenge masa lalu iku pancen kadang dadi musuh sing paling angel dikalahke, luwih angel tinimbang nglawan dukun ireng."

(Hanya lagu, Dek. Tapi ingatlah... Yang namanya masa lalu itu memang kadang jadi musuh yang paling sulit dikalahkan, lebih sulit daripada melawan dukun hitam.)

Arjuna Hidayat merangkul adiknya. "Wis, ojo sedih. Saiki dudu wayahe mikir mantan, tapi wayahe mikir masa depan Nusantara!"

Suasana malam itu ditutup dengan tawa hangat keluarga Wijaya. Di balik sosoknya yang sakti, Faris tetaplah pemuda yang punya rasa dan cinta, yang membuat semua orang semakin merasa dekat dengannya

Setelah lagu pertama selesai, suasana pendopo bukannya makin ceria, malah makin syahdu. Faris Arjuna membetulkan posisi duduknya, jemarinya kembali menari di atas senar gitar, kali ini dengan tempo yang agak sedikit lebih cepat tapi nadanya tetap menyayat hati.

"Lanjut lagi, Dikmas! Mumpung malam masih muda," goda Arjuna Hidayat yang asyik ngemil kacang rebus.

Faris tersenyum tipis, lalu mulai mendendangkan lirik yang bikin para Eyang langsung saling lirik karena topiknya sangat sensitif: Weton.

"Wes kadung sayang... wes kadung berjuang... ati wes nyaman ra sido bebojoan..."

(Sudah terlanjur sayang... sudah terlanjur berjuang... hati sudah nyaman tak jadi menikah...)

JREEENGGG!

(Suara petikan gitar yang lebih tegas, seolah menekankan rasa kecewa).

"Satuan-ku telu... satuan-mu wolu... jare wong tuamu diitung ra ketemu..."

(Satuanku tiga... satuanmu delapan... kata orang tuamu dihitung tidak ketemu...)

Mendengar lirik itu, Eyang Wijaya yang tadinya memejamkan mata langsung berdehem pelan. Para dayang di belakang tampak menunduk, ikut merasakan ngenesnya nasib kalau sudah terbentur aturan adat.

"Abot sanggane... wong tuo ra marengke... kok koyo ngene nasib seng tak rasakke..."

(Berat bebannya... orang tua tidak merestui... kok seperti ini nasib yang kurasakan...)

Faris menarik napas panjang, suaranya makin serak dan penuh emosi saat masuk ke bagian reff.

"Ngopo awak dewe mbiyen kepetuk? Yen akhire ati iki seng diremukk... Kabeh kui ora seng tak jaluk... jare wong tuamu wetone ora gatuk!"

(Kenapa kita dulu dipertemukan? Jika akhirnya hati ini yang diremukkan... Semua itu bukan yang kupinta... kata orang tuamu wetonnya tidak cocok!)

BRAKK!

(Suara Arjuna Hidayat yang tanpa sadar menepuk meja karena ikut terbawa suasana). "Bener itu, Dikmas! Kadang itungan kertas lebih sakti daripada itungan batin!"

Faris melanjutkan dengan nada yang meratap, seolah mengadu pada langit malam.

"Loro koyo dipateni nanging ora mati... Duh Gusti paringi kuat ati..."

(Sakit seperti dibunuh tapi tidak mati... Duh Tuhan berikan kekuatan hati...)

TRENGGG...

(Suara gitar yang memudar perlahan, menyisakan kesunyian yang mencekam di pendopo).

Para Ratu Majapahit tampak menghela napas panjang. Salah satu dari mereka berkata pelan, "Dikmas Faris, meskipun kamu punya Ilmu Sipait Lidah yang bisa menggetarkan dunia, ternyata urusan Weton tetap menjadi ujian kesabaranmu yang paling nyata."

Faris meletakkan gitarnya, matanya menatap cangkir kopi yang sudah dingin. "Nggih, Ayunda. Kadang Gusti maringi ujian niku mboten saking mungsuh, nanging saking aturan sing kedah dipatuhi. Nanging kulo percoyo, yen pancen jodoh, sepiro abote weton mesthi bakal ono dalane."

(Iya, Kakak. Kadang Tuhan memberi ujian itu bukan dari musuh, tapi dari aturan yang harus dipatuhi. Tapi saya percaya, jika memang jodoh, seberapa berat weton pasti akan ada jalannya.)

"Sabar ya, Kakang Faris! Kami semua mendoakan batin Kakang selalu kuat!" seru salah satu kerabat muda yang matanya sudah sembab karena ikut baper.

Malam itu, nyanyian Faris bukan hanya sekadar lagu, tapi menjadi pengakuan tulus bahwa seorang pemimpin besar pun bisa berlutut di hadapan takdir asmara yang tak sesuai harapan

Setelah tawa dan canda soal masa lalu mereda, Faris Arjuna tiba-tiba meletakkan gitarnya. Suasana pendopo yang tadinya santai mendadak berubah menjadi sangat tenang dan sakral. Faris duduk bersila dengan tegak, memejamkan mata, dan mulai melantunkan dzikir yang menggetarkan setiap sukma yang hadir.

"LAA ILAAHA ILLALLOH... LAA ILAAHA ILLALLOH... LAA ILAAHA ILLALLOH... MUHAMMADUR ROSULULLOH..."

DEEEESSSSSS...

(Suara angin malam yang tiba-tiba berhenti berhembus, seolah alam semesta ikut menahan napas mendengarkan kalimat tauhid dari lisan Faris).

Faris melanjutkan dengan suara yang rendah namun berwibawa, setiap katanya mengandung energi yang membuat bulu kuduk para Dayang dan keluarga besar meremang.

"Sirrulloh krenteke ati... Dzatulloh urip pribadi... Sifatulloh cahyo kang suci... Wujutulloh sejatining diri..."

(Rahasia Allah dalam niat hati... Dzat Allah dalam hidup pribadi... Sifat Allah cahaya yang suci... Wujud Allah sejatinya diri...)

Eyang Wijaya dan para Ratu Majapahit langsung membetulkan posisi duduk mereka menjadi sikap sembah takzim. Mereka menyadari bahwa Faris sedang membabarkan ilmu tingkat tinggi tentang hakikat manusia.

"Subhanallah sucining ati... Alhamdulillah muji ning Gusti... Laa ilaaha illalloh... Ono rupo urip sejati... Allohuakbar mung ono Gusti..."

(Maha suci Allah sucinya hati... Segala puji bagi Tuhan... Tiada Tuhan selain Allah... Ada rupa hidup sejati... Allah Maha Besar hanya ada Tuhan...)

DHEEEEEMMMMM...

(Suara gema batin yang muncul dari lantai pendopo, seolah bumi ikut berdzikir bersama Faris).

Faris membuka matanya yang kini memancarkan cahaya ketenangan. Ia menatap para kerabat muda dan kakaknya, Arjuna Hidayat, lalu memberikan wejangan lewat lirik yang sangat dalam.

"Yen siro pengen urip mukti... Mongko siro kudu sesuci... Noto ati akal lan budi... Njur cetho sangkan paraning dumadi..."

(Jika kamu ingin hidup mulia... Maka kamu harus bersuci... Menata hati, akal, dan budi... Biar jelas asal dan tujuan hidupmu...)

"Gusti iku baguse ati... Ati iku omahe Gusti... Roso putih rupane ati... Mongko wes genah ajining diri..."

(Tuhan itu kebaikan hati... Hati itu rumahnya Tuhan... Rasa putih rupa hati... Maka sudah jelas harga diri itu...)

Suasana benar-benar hening. Arjuna Hidayat menunduk dalam, ia merasakan getaran hebat di dadanya. Faris menutup kidungnya dengan pengingat tentang kematian dan kembalinya ruh kepada Sang Pencipta.

"Siro kabeh kudune ngaji... Manunggaling kawulo Gusti... Sowan Gusti ojo nunggu mati... Siro kabeh seng ati-ati... Menuso urip bakale mati... Kudu biso balik marang lillahi..."

(Kalian semua harus mengaji... Manunggalnya hamba dengan Tuhan... Menghadap Tuhan jangan menunggu mati... Kalian semua harus hati-hati... Manusia hidup bakal mati... Harus bisa kembali kepada Allah...)

LAA ILAAHA ILLALLOH... MUHAMMADUR ROSULULLOH...

TRENGGG...

(Suara petikan satu senar gitar terakhir sebagai penutup yang syahdu).

Hening. Tidak ada yang berani bertepuk tangan. Kesucian kalimat itu menyelimuti seluruh pendopo. Eyang Wijaya perlahan berdiri dan mendekati Faris, lalu mengusap kepalanya dengan bangga.

"Dikmas Faris... Kau bukan lagi sekadar ksatria lisan, tapi kau adalah cermin bagi jiwa-jiwa yang haus akan Tuhan. Malam ini, kau sudah menyempurnakan tugasmu di pendopo ini," ucap Eyang dengan suara haru.

Faris Arjuna bersujud syukur di lantai kayu tersebut. "Sedaya amargi kersane Gusti, Eyang. Faris namung dados perantara."

(Semua karena kehendak Tuhan, Eyang. Faris hanya jadi perantara.)

Malam itu, di bawah lindungan kalimat Tauhid, Trah Wijaya menemukan kekuatan yang jauh lebih besar daripada senjata apa pun di dunia ini. Kekuatan yang bersumber dari kejernihan hati dan penyerahan diri secara total kepada Sang Maha Pencipta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!