Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Gerbang
Cahaya keemasan di tubuh Ningsih perlahan meredup namun tetap menyisakan aura yang berat. Wujudnya kembali menyusut menjadi bentuk manusiawi yang biasa dilihat Endric.
Namun, ada perubahan besar pada tatapan matanya. Kini terlihat jelas kedalaman dan usia yang tak terhingga di balik bola mata itu.
"Penjaga Gerbang..." ucap Endric perlahan, mencoba membiasakan diri dengan istilah baru itu.
"Jadi tugas lo yang sebenarnya bukan cuma nemenin gue, tapi jaga pintu penghubung antar dunia?"
Ningsih mengangguk pelan. Ia berdiri tegak dengan penuh wibawa yang baru.
"Betul, Mas. Gerbang itu bukan cuma satu. Ada banyak lapisan dimensi yang terhubung lewat titik di desa ini."
"Tugas saya memastikan Gak ada yang keluar masuk sembarangan. Menjaga keseimbangan agar dunia Gak hancur."
Gandhul yang tadi melayang diam kini berseru kaget.
"Gila! Jadi lo yang jadi kunci puter-puteran itu? Lo yang nahan biar monster-monster di luar gak nyerbu sini?"
"Saya dan segel yang ada di dalam tubuh saya. Selama saya ada, tembok pembatas itu tetap kokoh."
Endric mengusap dagunya, mencoba menyambungkan semua informasi yang masuk.
"Jadi waktu leluhur gue bikin lo, mereka bikin bukan cuma buat temenan, tapi buat jadi benteng pertahanan hidup?"
"Betul. Saya adalah alat perang dan sekaligus penjaga perdamaian. Dua fungsi yang saling bertentangan tapi harus jalan bersamaan."
"Terus kenapa lo ada di sini sama gue sekarang? Kenapa gak tinggal di pos lo?"
"Karena kunci harus bersama pemiliknya. Gerbang Gak akan terbuka atau tertutup sempurna tanpa persetujuan darah yang sah."
Ningsih melangkah mendekat dan menatap lurus ke mata Endric.
"Selama ratusan tahun saya menunggu sendirian di kegelapan. Gak bicara pada siapa pun. Gak merasakan apa pun."
"Saya hanya program yang berjalan sesuai perintah. Hingga Mas datang dan mengubah segalanya."
"Gue ubah apa?"
"Mas membuat saya sadar bahwa saya lebih dari sekadar alat. Saya punya keinginan sendiri. Saya punya pilihan."
Gandhul menggelengkan kepala takjub. "Wah, cerita kalian ini kayak dongeng tapi versi horor dan romantis sekaligus."
"Tapi Neng, jadi kekuatan lo itu level dewa dong? Lo bisa hancurin desa ini cuma dengan jentik jari?"
"Bisa. Tapi itu akan berarti kematian saya juga. Karena saya terikat dengan tempat ini."
"Jadi lo dan desa ini satu paket. Kalau desa hancur, lo ikut hancur. Kalau lo mati, desa ambruk."
"Logika sederhana yang sangat akurat, Mas."
Endric menarik napas panjang dan menghembuskannya keras. Beban di pundaknya terasa bertambah ribuan ton.
Ia Gak hanya menyelamatkan diri sendiri atau Ningsih. Ia memegang nasib seluruh dimensi di tangannya.
"Gue jadi paham sekarang kenapa mereka takut. Kenapa mereka sembunyiin keberadaan lo."
"Karena lo senjata pamungkas. Siapa yang punya lo, dia yang kuasai segalanya."
"Dan karena saya terbuat dari darah Mas, hanya Mas yang punya hak penuh atas diri saya."
Ningsih meraih tangan Endric dan menempelkannya ke dadanya sendiri.
Di sana, Endric bisa merasakan detakan yang bukan irama jantung manusia, melainkan denyut energi yang sangat kuat dan teratur.
"Rasakan itu, Mas. Itu jantung gerbang. Selama ini berdetak untuk menahan kekacauan."
"Sekarang, detak itu ikut berirama sama darah di tubuh Mas. Kita sudah sinkron."
"Berarti mulai saat ini, apa yang lo rasain, gue juga rasain. Apa yang gue pikirin, lo juga ngerti?"
"Betul. Kita jadi satu sistem yang utuh."
Gandhul tiba-tiba terbang kencang ke atas seolah melihat sesuatu yang mengerikan.
"Woy! Kalian berdua bisa ngobrol romantis nanti aja! Lihat tuh di belakang!"
Endric dan Ningsih serentak menoleh ke arah yang ditunjuk Gandhul.
Di kejauhan, langit yang tadinya hitam pekat kini berubah menjadi warna ungu tua yang menyala.
Sebuah celah besar terbuka di angkasa. Dari celah itu, terlihat mata-mata raksasa yang mengawasi ke bawah.
"Gerbang lain terbuka..." bisik Ningsih dengan wajah pucat.
"Itu bukan gerbang yang saya jaga. Itu pintu yang salah. Pintu yang seharusnya tetap terkunci mati."
"Siapa yang buka? Musuh kita?" tanya Endric cepat.
"Bukan. Mereka Gak punya kekuatan sebesar itu. Yang membuka gerbang itu..."
Ningsih menatap wajah Endric dengan tatapan ketakutan yang jarang terlihat.
"...adalah kehadiran Mas sendiri. Darah Mas bereaksi dan memanggil semua yang terhubung dengannya."
"Jadi sekarang... semua yang selama ini dikurung... bakal keluar?"
"Ya, Mas. Dan mereka semua datang bukan untuk menyapa. Mereka datang untuk menuntut hak."
Suara gemuruh dahsyat terdengar lagi. Kali ini lebih dekat dan lebih menggetarkan tulang.
Bayangan hitam mulai berjatuhan dari celah langit itu, berjumlah ribuan bahkan mungkin jutaan.
"Selamat datang, Tuan Baru..." suara bergema dari segala arah.
"Kami para terbuang dan yang terlupakan akhirnya bisa melihat matahari lagi lewat tanganmu."
"Dan sekarang... kami akan membebaskanmu... atau menghancurkanmu bersama dunia ini."
Endric mencabut belati hitamnya dan berdiri di samping Ningsih.
"Oke, jadi gak ada waktu buat pelan-pelan lagi ya?"
"Siapin diri lo Ningsih. Gandhul, siapin tenaga lo."
"Kita baru aja buka pintu depan. Sekarang kita harus hadang tamu yang gak diundang."
"Dan ingat... kita gak sendirian. Kita satu kekuatan!"
Tapi sebelum mereka sempat bergerak, tanah di bawah kaki Ningsih tiba-tiba mengeluarkan akar-akar raksasa yang melilit kakinya kuat-kuat.
"Mas! Tolong saya! Ini bukan sihir musuh!" teriak Ningsih panik.
"Ini perintah dari sistem desa! Mereka mau ngunci saya lagi sebelum kita sempat gabung!"
Akar itu menarik Ningsih ke bawah dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, tubuhnya sudah setengah tertelan tanah.
"NINGSIH!!" teriak Endric sambil melompat ingin menangkap tangan perempuan itu.
Namun tangannya hanya menggenggam udara kosong.
Ningsih menghilang ditelan bumi, meninggalkan hanya satu kalimat terakhir yang bergema di kepala Endric.
"Cari saya di pusat desa, Mas! Di bawah pohon tua! Hancurkan segelnya atau saya akan hilang selamanya!"
Endric terdiam mematung di tengah dataran sunyi.
Di sekelilingnya, ribuan bayangan monster mulai mendarat dan mengurungnya rapat-rapat.
Sendirian. Tanpa Ningsih. Dan waktu yang hampir habis.