Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu mantan
Sejak tahu jika ia sedang mengandung, Angkasa meminta istrinya untuk cuti kuliah. Bukan tanpa alasan. Masa kehamilan adalah fase yang berat, dimana seorang wanita bukan hanya mangalami yang namanya perubahan bentuk tubuh. Tapi juga perubahan mood yang sering tidak stabil.
Angkasa tahu bagaimana beratnya menjalani status sebagai mahasiswa yang sering mendapatkan tugas menumpuk dengan deadline waktu yang singkat. Dan... ia tidak mau Leya berada di dua posisi sulit itu.
Angkasa ingin istrinya fokus pada kehamilannya dulu, dan setelah melahirkan nanti... keputusan untuk lanjut kuliah atau tidak ada di tangan Leya.
Sejak pagi Leya sudah merasa kebosanan. Nonton, tidur, makan... hanya kegiatan itu yang terus ia lakukan dari hari ke hari. Hari ini ia ingin keluar, jalan-jalan di mall atau setidaknya menghabiskan waktu sampai sore hari sambil menunggu Angkasa pulang.
Ya, belakangan ini pekerjaan pria itu di kantor sedang padat-padatnya. Ia bekerja seperti biasa, fokus, dan penuh dedikasi. Tetapi kemampuannya itu terdengar sampai ke telinga sang pemilik perusahaan, yang tertarik dan ingin bertemu dengannya.
"Sayang, hari ini sepertinya Mas pulang telat! karena Mas diajak makan malam oleh bos besar," tulis Angkasa pada pesan yang baru saja Leya baca.
Leya menghela nafas panjang. Hari ini akan terasa makin lama dan makin membosankan.
"Ok Mas! tapi aku izin ke mall ya? bosen!" balas Leya.
Untungnya Angkasa mengizinkan. Pria itu tentu memberikan berbagai peringatan demi keselamatan istri dan calon anak mereka.
"Pokoknya nanti Mas jemput ok!" balas Angkasa untuk yang terakhir kalinya.
Leya gegas bersiap. Rasanya ia sudah lama sekali tidak pergi ke pusat perbelanjaan itu.
Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu mau ngapain disana. Tapi hal itu ia pikirkan nanti saja, yang penting ia sampai dulu melihat keramaian yang tidak akan ia temukan di apartemen.
Sampai disana, awalanya Leya hanya berkeliling. Dari lantai dasar naik ke lantai berikutnya dan begitu seterusnya, untuk melihat apakah ada hal yang menarik perhatiannya atau tidak.
Tapi sayangnya ia sedang tidak ingin membeli apapun. Hingga ia memutuskan untuk nonton beberapa film yang ia inginkan, lalu makan di salah satu resto untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Ya, sudah sejauh ini ia pergi. Tapi kegiatan yang ia lakukan tetap makan dan nonton. Tapi setidaknya disini ia tidak sendirian.
Tak terasa waktu cepat berlalu. Malam sudah menjelang, dan Leya menunggu Angkasa untuk menjemputnya pulang di halte dekat mall.
"Mas Angkasa kok lama sih!" gumam Leya sambil mengirim pesan ke sang suami.
Tak lama balasan datang dari Angkasa.
"Maaf sayang, mobilnya mogok. Tapi Mas akan tetap jemput kamu, jangan kemana-mana ya?" balas Angkasa.
Leya kembali duduk sambil mengurut pelan kakinya yang pegal. Satu persatu mereka yang tadinya sama-sama menunggu di halte mulai pergi dengan kendaraan mereka masing-masing. Hingga tertinggal Leya seorang diri sana.
Leya mengusap perutnya yang sudah tidak bisa lagi disembunyikan, 6 bulan usia kehamilannya. Bayi mungil yang ada di dalam sana sudah bergerak dengan aktifnya. Tak jarang, Leya sering kaget oleh gerakan tiba-tiba dari calon buahnya.
"Apa kabar Leya?" ucap seorang wanita, yang suaranya sangat familiar di telinganya.
Leya menoleh. Setelah pertengkaran itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan Ibunya.
Ia sedikit menegang. "Baik!" jawabnya singkat.
Tidak ada lagi binar kerinduan dimatanya. Tidak ada lagi kasih sayang yang dulu terlihat besar dimatanya. Yang tertinggal sekarang hanyalah rasa kosong dan kecewa.
"Bahagia hidup sebagai pelakor?" sinis Sukma, menatap Leya tidak seperti anak kandungnya.
"Jaga ucapan Mama!" sahut Leya cepat.
Sukma melipat kedua tangannya di dada. "memang begitu kenyataannya kan? kamu berhubungan dengan ayah tiri kamu, bahkan... " mata Sukma turun, melihat perut Leya yang membuncit. "udah hamil anaknya! dasar murahan!"
Hati Leya yang baru sembuh beberapa bulan kini kembali tersakiti. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat. Ia makin tak menyangka, jika Ibunya sudah bukan lagi ibu kandungnya.
"Terserah Mama mau bilang apa! Intinya aku tidak pernah merebut Mas Angkasa dari siapapun. Karena sejak awal dia kekasihku... Dan aku... Satu-satunya wanita yang dia cintai!" balas Leya sengit.
Sukma yang awalnya ingin membuat Leya kesal malah dia yang jadi kesal. Entah mengapa, mendapati kenyataan jika dalam hal cinta ia kalah dari putrinya... membuat jiwa pesaingnya tidak terima. Dan ingin membuat Leya harus kalah darinya.
"Kamu...." Sukma menggeram.
"Kenapa? gak terima? Dalam hal lain Mama boleh lebih unggul dari aku... tapi dalam memperebutkan cinta Mas Angkasa, Mama pasti kalah dariku!" lanjut Leya.
Dada Sukma makin panas. Mengingat bagaimana manisnya Angkasa saat memperlakukan Leya.
"Dasar pelakor!" Sukma susah mengangkat tangan, siap menampar Leya yang masih menantang.
---
Di dalam mobil...
"Terima kasih ya Pak sudah mau mengantarkan saya?" ucap Angkasa tak enak hati. Karena bosnya, Dimas menawarkan diri atau lebih tepatnya memaksa untuk mengantarkan Angkasa pulang. Padahal Angkasa sudah berkata jika ia ingin menjemput istrinya terlebih dahulu.
"Tidak masalah Angkasa! kamu ini seperti sama siapa saja!" jawab Dimas.
Padahal mereka baru bertemu hari ini. Tapi Dimas merasa ada sesuatu hal menarik yang membuat ia terasa dekat dengan karyawannya itu!
Mobil mereka terus melaju. Menuju ke titik dimana Leya menunggu.
"Itu istri saya Pak!" jawab Angkasa membujuk ke arah Leya yang sedang bertengkar dengan Sukma. "Tapi dia sedang bersama siapa?"
Mata Angkasa menyipit. Posisi lampu yang remang-remang membuat ia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Sukma!" kaget Angkasa. "Lebih cepat Pak!" pinta Angkasa panik. Takut mantan istrinya itu akan berbuat hal yang tidak-tidak pada istri dan calon anaknya.
Angkasa menahan tangan Sukma yang hampir menyentuh wajah istrinya.
"Jangan sentuh istriku!" Angkasa memeluk istrinya, melindungi wanita yang ia cintai.
"Segitu cintanya kamu sama bocah ini ya?" Sukma tersenyum sinis melihat mereka.
"Kamu gak apa-apa kan sayang?" Angkasa memastikan istrinya tidak terluka sedikitpun.
Sukma masih menatap mereka. Banyak gejolak yang ia rasakan di dalam sana. Tapi yang paling terasa adalah rasa marah dan tidak terima, karena ia harus kalah dari anaknya sendiri.
"Hebat ya pelakor! berhasil bahagia diatas penderitaan orang lain!" ucap Sukma.
Angkasa menatap tajam. "Jaga bicara kamu Sukma! Leya bukan pelakor. Sejak awal dia memang kekasihku!"
"Tapi faktanya dia memang pelakor! pelakor yang merebut suami ibu kandungnya sendiri!"
Tidak ada. Tidak ada sedikitpun sisa kasih sayang yang terlihat dari mata wanita paruh baya itu. Yang terlihat hanyalah sorot persaingan dan rasa tidak mau dikalahkan.
"Sukma!" Dimas memanggil. Atasan Angkasa di kantor itu mendekat. Setelah memastikan beberapa kali jika wanita itu adalah mantan istrinya.
Sukma berbalik. Ia terkejut melihat mantan suami yang sudah belasan tahun tidak bertemu. "Dimas!"