NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 32: "Dua Sisi Takdir: Pelajaran dari Langit"

​Angin sore di Kediri membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di balkon lantai dua rumah mereka, Shania duduk bersila di atas karpet bulu, sementara Zain duduk di kursi kayu sambil memegang sebuah kitab klasik dengan sampul kulit yang sudah mulai memudar.

Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, menciptakan siluet yang indah di antara menara-menara pesantren yang menjulang tinggi. ​Zain menutup kitabnya perlahan, lalu menatap Shania yang sedang asyik memperhatikan burung-burung pipit yang hinggap di dahan pohon mangga.

​"Shania," panggil Zain lembut.

​Shania menoleh, memberikan senyuman terbaiknya di balik cadar tipis yang ia kenakan untuk menghalau angin sore.

"Iya, Mas?"

​"Tadi pagi kita bicara tentang tragedi. Tentang bagaimana darah pertama tumpah di bumi. Tapi, tahukah kamu bahwa di balik setiap duka yang dialami Nabi Adam, Allah selalu memberikan penawar yang lebih indah? Allah tidak membiarkan Adam dan Hawa terus-menerus dalam kesedihan setelah kehilangan Habil."

​Shania mendekat, menggeser posisi duduknya hingga berada di dekat kaki Zain.

"Maksud Mas, ada kisah lain setelah kejadian Qabil dan Habil itu?"

​Zain mengangguk. Ia meletakkan kitabnya di meja kecil, lalu mengisyaratkan Shania untuk mendengarkan. Inilah momen yang paling disukai Shania—saat Zain mulai merangkai kata, mengubah sejarah menjadi untaian hikmah yang meresap ke dalam jiwa.

"​Anugerah yang Menggantikan Luka"

​"Setelah Habil wafat dan Qabil pergi membawa penyesalannya ke tanah yang jauh, rumah tangga Adam dan Hawa diliputi kesunyian. Namun, Allah Maha Pengasih. Tak lama kemudian, Hawa kembali mengandung. Dan kali ini, lahir seorang putra yang berbeda dari sebelumnya. Ia lahir sendirian, tidak kembar. Namanya adalah Syits."

​Zain menatap langit yang mulai meredup.

"Syits artinya 'Hadiah dari Allah'. Ia lahir untuk mengobati luka hati kedua orang tuanya. Syits tumbuh menjadi pemuda yang sangat mirip dengan Nabi Adam, baik wajahnya maupun akhlaknya. Ia adalah cahaya baru di tengah kegelapan yang sempat ditinggalkan oleh Qabil."

​"Jadi, Syits inilah yang melanjutkan risalah Nabi Adam?" tanya Shania antusias.

​"Benar. Dari garis keturunan Syits-lah, para Nabi dan Rasul kemudian dilahirkan. Ini mengajarkan kita satu hal, Shania: bahwa setiap kali Allah mengambil sesuatu yang berharga dari tangan kita—seperti Allah mengambil Habil—Dia pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, asalkan kita bersabar. Syits adalah bukti bahwa badai sehebat apa pun pasti akan menyisakan pelangi."

"​Perintah Sujud: Cahaya di Atas Tanah"

​Zain menarik napas dalam, membawa Shania kembali ke memori masa lalu yang lebih jauh, ke saat-saat di mana kesombongan pertama kali tercipta.

​"Kembali ke pertanyaanmu tadi pagi tentang sujudnya para malaikat. Bayangkan suasana di surga saat itu. Seluruh malaikat, makhluk yang diciptakan dari cahaya dan selalu taat, berdiri berjajar. Di sana juga ada Iblis, yang saat itu kedudukannya sangat tinggi karena ketekunannya beribadah."

​"Lalu Allah berfirman: 'Sujudlah kalian kepada Adam!'. Dalam sekejap, seluruh malaikat tersungkur bersujud. Mereka tidak bertanya 'mengapa', mereka tidak melihat 'dari apa' Adam diciptakan. Mereka hanya melihat 'Siapa' yang memerintah. Itulah cinta yang murni—ketaatan tanpa tapi."

​Suara Zain merendah, menjadi lebih puitis.

"Tapi Iblis berdiri tegak. Ia membiarkan egonya bicara. Ia melihat tanah sebagai kehinaan dan api sebagai kemuliaan. Ia lupa bahwa tanah, meski diinjak, adalah tempat tumbuhnya segala kehidupan, sedangkan api, meski menjulang, adalah sifat yang menghancurkan. Kesombongan Iblis adalah 'dosa batin' pertama, sedangkan pembunuhan Habil adalah 'dosa lahir' pertama."

​Shania terdiam, meresapi setiap kata.

"Berarti, musuh terbesar kita bukan hanya orang lain, tapi diri kita sendiri ya, Mas? Kesombongan kita?"

​"Tepat," Zain mengusap puncak kepala istrinya. "Itulah mengapa dalam pernikahan, kita harus sering-sering 'bersujud' secara maknawi. Bukan sujud menyembah pasangan, tapi sujud merendahkan ego di hadapan kebenaran. Jika suami salah, ia harus malu pada Allah dan meminta maaf. Jika istri khilaf, ia harus rendah hati untuk diperbaiki."

"​Cinta yang Menyeberangi Zaman"

​Zain bangkit dari kursinya, mengajak Shania berdiri di tepi balkon untuk melihat lampu-lampu pesantren yang mulai menyala satu per satu.

​"Shania, kisah Adam dan Hawa bukan hanya soal masa lalu. Itu adalah peta jalan bagi kita. Mereka pernah di surga, lalu jatuh ke bumi, lalu berjuang untuk kembali ke surga. Rumah tangga kita pun begitu. Kita ingin rumah di Kediri ini menjadi miniatur surga, tempat di mana tidak ada api kesombongan seperti Iblis, dan tidak ada darah dendam seperti Qabil."

​Zain memutar tubuh Shania, memegang kedua pundaknya.

"Saya, ingin menjagamu, seperti Adam menjaga Hawa di bumi yang masih asing. Saya ingin mendidik anak-anak kita nanti, agar mereka memiliki jiwa setulus Habil dan kecerdasan seunggul Syits."

​Hati Shania bergetar. Kalimat Zain selalu punya cara untuk menyentuh bagian terdalam dari perasaannya.

"Aku, akan berusaha, Mas. Meskipun aku tahu aku masih jauh dari sifat Ibunda Hawa yang sempurna."

​"Tidak ada yang sempurna, Sayang. Hawa pun pernah khilaf. Tapi ia tahu jalan pulang ke pelukan Tuhan-nya. Itu yang terpenting."

"​Kuis 'Cahaya dan Api'"

​Suasana yang begitu syahdu itu tiba-tiba berubah saat Zain menyunggingkan senyum jahilnya yang legendaris. Shania sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.

​"Nah, karena pembahasan tentang Iblis, Malaikat, dan Syits sudah tuntas... sepertinya otak murid saya ini perlu disegarkan dengan kuis sore hari."

​Shania tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di lengan Zain.

"Silakan, Pak Ustadz. Aku sudah siap lahir batin."

​Zain berdehem, mencoba mengatur suaranya agar terdengar seperti penguji ujian skripsi.

"Pertanyaannya: Iblis menolak sujud karena merasa lebih mulia dari tanah. Malaikat bersujud karena ketaatan. Nah, jika suatu hari nanti aku pulang ke rumah dengan wajah lelah dan sedikit berdebu setelah mengurus sawah pesantren, apakah kamu akan melihat 'tanah' di bajuku sebagai kehinaan, atau kamu akan melihat 'cahaya' ketaatan seorang suami yang sedang menjemput nafkah halal?"

​Shania mencubit pelan pinggang Zain, membuat suaminya itu sedikit mengaduh.

"Itu pertanyaan retoris, Mas! Tentu saja aku akan melihat cahaya pahala yang memancar dari setiap butiran debu di bajumu. Bahkan, aku akan menyiapkan air hangat paling nyaman agar 'tanah' itu luruh dan hanya menyisakan suamiku yang tampan ini."

​Zain tertawa puas, ia menarik Shania ke dalam dekapan yang lebih erat saat azan Magrib mulai berkumandang dari kejauhan.

​"Jawaban yang cerdas. Hadiahnya... nanti setelah salat berjamaah, saya akan membacakan satu surah khusus untukmu."

​Shania tersenyum di balik dadanya. Ia merasa, setiap bab dalam hidupnya bersama Zain adalah pelajaran yang tak ternilai. Jika pagi tadi ia belajar tentang bahaya dendam, sore ini ia belajar tentang indahnya penggantian dari Allah dan pentingnya membunuh kesombongan sebelum kesombongan itu membunuh cinta mereka.

​"Mas," bisik Shania saat mereka berjalan masuk untuk bersiap salat.

​"Ya?"

​"Terima kasih sudah menjadi 'Syits' dalam hidupku. Hadiah terbaik yang pernah Allah kirimkan untuk mengobati segala rasa sepi yang pernah ada."

​Zain tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengeratkan genggaman tangannya, seolah berjanji bahwa selama napas masih berhembus, ia akan terus menjadi pelindung bagi tulang rusuknya, di bawah rida Sang Pencipta yang mempertemukan mereka.

​Malam pun jatuh di Kediri, membawa damai yang hanya bisa dirasakan oleh hati-hati yang berserah, seperti damainya Adam dan Hawa saat pertama kali bersujud bersama di atas tanah bumi yang diberkahi.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!