Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Satu Malam yang Hambar
Rasanya aneh dan hampa saat Satura masuk sendirian ke rumah orang tuanya. Sudah bertahun-tahun ia tidak makan malam tanpa Vandini di sisinya. Ketidakhadiran istrinya terasa sangat menyakitkan. Satura hampir bisa membayangkan Vandini sedang mondar-mandir membantu ibunya menata meja, suara tawanya bercampur dengan obrolan orang tuanya.
Vandini memang selalu tahu cara membuat suasana jadi hangat dan nyaman.
Satura meletakkan jasnya dan melangkah masuk. Rumah itu masih berbau sama, campuran rempah dan wangi masakan ibunya. Tapi malam ini, semuanya terasa hambar. Ada bagian penting yang hilang.
"Aku kangen banget sama kamu, Van," pikirnya. "Aku kangen ketenangan kamu, kangen cara kamu bikin tempat mana pun rasanya kayak rumah sendiri."
Ibu Satura sibuk di dapur. Satura duduk di ruang makan, berusaha mengobrol santai dengan ayahnya.
Namun Dannur, ayahnya, bukan tipe orang yang suka basa-basi. Pria tua itu menatap Satura lekat-lekat, menembus topeng ketenangan yang dipakai anaknya.
Dannur berdeham pelan lalu menunjuk ke arah ruang kerja.
"Masuk, Satura," ucap Dannur pelan tapi tegas. "Ayo kita minum sedikit."
Satura mengikuti langkah ayahnya dengan perasaan campur aduk. Minum-minum bersama ayahnya biasanya berarti pembicaraan yang serius. Ruang kerja itu masih sama, beraroma tembakau dan buku-buku tua. Foto-foto keluarga berjejer rapi di dinding.
Dannur menutup pintu lalu mengangguk ke arah meja bar kecil.
"Anggur Merah?" tanyanya singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menuangkan cairan berwarna keunguan itu ke dalam dua gelas.
Satura menerima gelas itu. Ia merasa sedikit lebih tenang berkat kebiasaan lama ayahnya.
Ruangan ini memang terasa seperti tempat berlindung. Perabotan kayu gelap, sisa aroma cerutu, dan sofa kulit besar yang empuk menyambutnya.
Satura bersandar dan memutar-mutar gelasnya. Ia menanti nasihat yang akan dilontarkan Dannur.
Dannur menyesap minumannya lalu bersandar santai. Tatapannya seolah tahu segalanya.
"Jadi," mulainya pelan, "Ibumu bilang ada masalah sama kamu dan Vandini?"
Satura menghela napas panjang lalu mengacak rambutnya. "Iya ... situasinya emang lagi kacau banget."
Dannur melambaikan tangan seolah masalah itu sepele. "Wanita, emang gitu. Mereka emosian. Sedikit aja ada yang nggak pas di pikiran mereka, dunia rasanya runtuh." Ia terkekeh pelan. "Percaya deh, Bapak juga udah sering ngalamin. Ibumu... dia juga pernah gitu kok. Emang dasar semua wanita begitu."
Satura bergeser tak nyaman di tempat duduknya. Namun ayahnya terus bicara penuh keyakinan.
"Vandini mungkin lagi... ngerasa gak tenang doang, itu aja. Kadang kan mereka suka baperan. Suka memperbesar-memperbesar masalah yang sebenarnya kecil."
Satura menyesap anggurnya dalam-dalam. Hatinya tak sepenuhnya setuju, tapi Dannur tak peduli dan terus asyik dengan omongannya sendiri.
"Kamu harus tegas, tunjukkan siapa yang pegang kendali," lanjut Dannur sambil sedikit mencondongkan tubuh. "Jangan biarkan ini jadi perang gengsi. Kasih aja hadiah kecil, bunga misalnya, kan gampang. Kalau dia masih ngambek juga, naikkan levelnya."
Ia menyesap lagi, matanya menyipit sedang menghitung strategi. "Perhiasan biasanya ampuh banget. Kalung atau anting. Pasti dia luluh."
Satura menatap gelasnya. Rasa hangat anggur di lidah malah berubah menjadi pahit.
"Gak tau Pak, rasanya... nggak sesimpel itu." Ia ragu, tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa apa yang rusak di antara mereka tak bisa diperbaiki hanya dengan bunga atau kado.
Tapi wajah Dannur terlihat bosan dan tak sabar. ia sudah hafal luar dalam isi pembicaraan ini.
"Emangnya apa yang susah?" sahut Dannur sedikit mengejek. "Kamu biarin aja dia meluapkan emosinya, terus ... lanjutkan hidup seperti biasa. Wanita itu nggak suka cowok yang terlalu rendah hati atau merendah, Satura. Mereka justru suka cowok yang kelihatan kuat dan tegas. Belikan sesuatu yang bagus, tunjukkan kalau kamu masih menghargai dia, beres."
Satura menelan ludah dan mengangguk bingung. Jarak antara nasihat kuno ayahnya dan kenyataan pahit yang ia hadapi bersama Vandini rasanya seperti jurang yang dalam.
Ia teringat wajah Vandini saat wanita itu menghadapinya dulu. Ada keputusasaan, amarah, dan getar suara yang penuh luka. Saran Dannur yang hanya mengandalkan materi terasa begitu dangkal, bahkan terasa menghina.
"Iya, nanti aku pikirin lagi," gumamnya sambil memaksakan senyum tipis. Ia tak ingin memperpanjang diskusi itu.
Dannur tampak puas dan kembali menyesap minumannya. Ia yakin telah memberikan nasihat terbaik.
Namun saat Satura duduk diam di sana, ia sadar betapa sedikit ayahnya mengerti. Mengerti tentang Vandini, tentang dirinya, dan tentang seberapa parah kerusakan yang telah ia perbuat.
...***...
Bayangan kamar hotel yang dingin dan tak berjiwa itu terasa begitu menyedihkan. Daripada masuk ke sana, Satura malah berjalan menuju bar hotel.
Ia berharap segelas minuman bisa meredakan ketegangan yang menumpuk di dadanya sepanjang hari. Sebesar apa pun ia berusaha mengabaikannya, perasaan itu tak bisa hilang. Ia merasa gagal.
Pernikahannya sedang hancur. Tanpa Vandini di sisinya, apakah ia pantas disebut ayah yang baik?
Rasanya ia nyaris tak sanggup menopang hidupnya sendiri. Terus-menerus diterpa tekanan yang seolah tak ada habisnya. Ia duduk tegak dan meneguk White Wine kali ini. Pikirannya berkecamuk antara stres dan rasa gagal.
Satura selalu dikenal sebagai pria berpenghasilan tinggi. Itu satu-satunya hal yang bisa ia jamin. Uang menjadi benteng pertahanannya. Janji pada dirinya sendiri bahwa apa pun yang terjadi, keluarganya akan tercukupi. Tapi sekarang, ia tak yakin apakah itu benar-benar hal yang paling mereka butuhkan darinya.
Bayangan untuk menjadi sosok ayah yang dibutuhkan anak-anaknya terasa begitu berat. Beban yang rasanya tak sanggup ia pikul.
Namun rasa takut mengecewakan mereka jauh lebih menakutkan. Seharusnya ia tahu apa yang harus dilakukan. Lalu ada soal pernikahannya. Rasa sakit yang familiar itu kembali menyayat hati saat ia mengingat Vandini.
Ia mengecewakan Vandini, mengecewakan keluarganya. Rasa malu itu bercampur dengan hangatnya Wine yang masuk ke kerongkongan, membuatnya merasa hampa dan kalah.
Terbenam dalam lamunan, ia hampir tak sadar ada seorang wanita yang duduk di bangku sebelahnya. Sampai suara lembut dan hangat itu terdengar.
"Hari yang melelahkan?"
Satura menoleh dan mengerjap perlahan saat menatap wajahnya. Wanita itu menarik perhatian, terlihat percaya diri, dengan senyum yang mudah terulas.
Seolah-olah ia sudah bisa membaca isi pikiran Satura dan menemukan pemahaman di sana. Rasa lega karena teralihkan seketika menyelimuti dirinya.
"Ya begitu lah," jawab Satura disertai tawa kecil seraya kembali menyesap minumannya.
Satu gelas berubah menjadi dua, lalu tiga. Satura mulai merasa masuk ke dalam zona yang sangat ia kenal. Wanita itu mendekat. Tawanya renyah, dan tangannya sempat menyapu tangan Satura dengan keakraban yang begitu familiar.
Ia sudah pernah berada di situasi seperti ini berkali-kali.
Sebuah minuman, obrolan ringan, ajakan halus, dan tawaran untuk tidur bareng. Itu adalah pelarian, jalan keluar yang sudah ia hafal di luar kepala. Obat penenang dari tuntutan hidup yang tak tahu caranya ia harus hadapi.
Saat wanita itu mengajaknya naik ke kamarnya, Satura tak ragu sedikit pun. Pikirannya bahkan tak sempat memprotes.
Ia tahu alasannya, ia ingin sesuatu yang mudah, bebas dari tumpukan tanggung jawab dan rasa tak mampu yang selalu menghantuinya.
Wanita itu tidak mengenalnya. Tidak tahu kegagalannya atau kekecewaannya, dan tidak menuntut apa-apa selain momen itu.
Itu adalah kesepakatan yang ia pahami betul. Sehingga ia pun mengikutinya tanpa menoleh ke belakang.
Di kamar itu, segalanya berjalan sesuai ekspektasi. Ada kedekatan, sentuhan-sentuhan yang justru membuatnya bisa lepas sejenak dari keraguan dirinya sendiri.
Dia orang asing yang tak akan bertanya, yang tak peduli apakah Satura sempurna atau tidak. Dan untuk sesaat, Satura membiarkan dirinya terbawa perasaan itu. Menikmati pelarian yang membiarkannya menitipkan semua kekhawatirannya, walau hanya untuk satu jam.
Namun setelah itu, saat ia menjauh, beban itu perlahan kembali menghimpit. Rasa hampa itu muncul lagi, bahkan lebih perih dari sebelumnya.
Ia menatap langit-langit kamar, dadanya terasa sesak.
Pikirannya melayang pada Vandini, pada anak-anak, pada kehidupan yang seharusnya ia jalani.
Ia mencari pelarian cepat, tapi yang ia dapat justru rasa kosong yang makin dalam. Ia sadar bahwa ia justru makin tenggelam ke tempat yang selama ini ia coba hindari.
Satura menyelinap keluar kamar dan berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi menuju kamarnya sendiri. Ia merasa sangat dihantui rasa penyesalan karena terus lari dari kenyataan yang seharusnya ia hadapi.