Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ronde Tambahan
Cahaya matahari pagi mulai mengintip malu-malu dari balik tirai sutra Presidential Suite, memberikan rona keemasan pada kamar yang masih berantakan dengan kelopak mawar. Laila baru saja keluar dari walk-in closet setelah mandi kilat, tubuhnya terbalut jubah mandi putih tebal. Namun, sebelum ia sempat melangkah menuju meja rias, sebuah lengan kekar menarik pinggangnya dengan sentakan lembut namun pasti.
"Zayn! Kamu sudah bangun?" pekik Laila pelan saat tubuhnya jatuh kembali ke atas kasur yang empuk, tepat di pelukan suaminya yang masih bertelanjang dada.
Zayn tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menyurukkan wajahnya ke leher Laila yang masih lembap dan harum sabun citrus. "Wanginya enak. Kenapa mandi duluan, hm? Kan bisa bareng," gumam Zayn dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar begitu dalam.
"Tamu-tamu keluarga pasti sudah menunggu di bawah untuk sarapan, Zayn. Malu kalau kita turun terlalu siang," protes Laila sambil mencoba melepaskan diri, meski tenaganya tak sebanding dengan kukuhnya dekapan Zayn.
Zayn terkekeh, lalu bangkit sedikit untuk menatap wajah istrinya. "Papa Frank dan Mama Rosa sudah tahu kalau aku tidak akan membiarkanmu keluar kamar sebelum siang. Jadi, berhenti mengkhawatirkan sarapan. Kita bisa pesan room service."
Ia kemudian meraih sebuah kotak kecil dari nakas dan menyodorkannya pada Laila. "Pakai ini. Aku ingin melihatmu memakainya."
Laila membuka kotak itu dan matanya membelalak. Di dalamnya terdapat lingerie sutra berwarna merah marun dengan detail renda hitam yang sangat minimalis. "Zayn, ini... ini terlalu... terbuka."
"Biarkan hari ini kamu memakai lingerie ini tanpa dalaman, Sayang," bisik Zayn tepat di telinga Laila, membuat napas Laila tertahan. "Aku masih belum selesai denganmu. Anggap saja ini 'ronde tambahan' untuk tim sepak bola kita nanti."
Laila akhirnya menyerah pada permintaan suaminya yang posesif. Dengan wajah bersemu merah, ia berganti pakaian di kamar mandi dan kembali keluar dengan lingerie yang melekat pas di tubuh indahnya, dan tentunta tanpa dalaman. Seperti keinginan sang suami. Zayn yang sedang bersandar di kepala ranjang tampak tak berkedip, matanya menggelap penuh pemujaan.
"Kemari," panggil Zayn lembut, menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Laila melangkah ragu, merasa sangat terekspos. "Kamu benar-benar tidak berniat turun? Perutku sudah lapar, tahu."
"Aku juga lapar," sahut Zayn cepat sambil menarik Laila ke dalam dekapannya hingga mereka kembali berbaring bersisian. "Tapi bukan lapar nasi goreng."
"Zayn! Mesumnya dikurangi sedikit, bisa?" Laila mencubit dada Zayn, namun tangannya segera ditangkap dan dicium oleh pria itu.
"Ini bukan mesum, Sayang. Ini apresiasi. Kamu tidak tahu betapa susahnya aku menahan diri selama masa pertunangan kemarin? Menjaga jarak, hanya boleh mencium keningmu... itu siksaan berat," curhat Zayn sambil memainkan jemarinya di atas kulit perut Laila yang rata.
Laila tertawa kecil, rasa canggungnya perlahan mencair berganti dengan kenyamanan yang hangat. "Oh ya? Kasihan sekali Tuan Malik ini. Jadi, ini ceritanya balas dendam?"
"Lebih ke arah... menagih janji yang tertunda," jawab Zayn santai. "Bagaimana perasaanmu pagi ini? Selain pegal-pegal tentunya."
Laila terdiam sejenak, menatap mata Zayn yang kini memancarkan ketenangan. "Bahagia. Sangat bahagia. Kadang aku masih merasa ini mimpi. Mengingat semua yang sudah kulalui... aku tidak menyangka akan berakhir di pelukan pria sepertimu," jawab Laila jujur.
Zayn mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Laila. "Semua masa lalu itu cuma latihan sabar, Laila. Sekarang, kamu punya aku. Kamu punya Mama Rosa, Papa Frank, dan nanti... sepuluh kurcaci kecil yang akan lari-larian di rumah."
"Masih bahas sepuluh anak? Satu-satu dulu, Zayn!"
"Makanya, kita harus banyak latihan," goda Zayn lagi, tangannya mulai bergerak nakal di balik kain tipis lingerie Laila.
Ketukan di pintu kamar sempat menghentikan aksi Zayn. Room service mengantarkan sarapan mewah yang mereka pesan lewat aplikasi internal hotel. Laila bersiap ingin memakai jubah mandinya lagi untuk mengambil makanan, namun Zayn menahannya.
"Biar aku saja. Kamu tetap di sini, di bawah selimut," perintah Zayn.
Zayn kembali dengan meja dorong berisi berbagai hidangan: croissant hangat, omelet, jus jeruk segar, dan kopi aroma robusta. Mereka akhirnya sarapan di atas tempat tidur, saling menyuapi dengan sesekali diselingi candaan ringan.
"Zayn, ada sisa selai di sudut bibirmu," ujar Laila menunjuk wajah suaminya.
"Mana? Di sini?" Zayn sengaja mengarahkan jarinya ke tempat yang salah.
"Bukan, di sini..." Laila mendekat untuk mengusapnya dengan tisu, namun Zayn justru menarik tengkuk Laila dan menciumnya dalam-dalam, mengambil 'selai' itu dengan caranya sendiri.
"Manis," gumam Zayn setelah melepas tautan bibir mereka. "Tapi kamu lebih manis."
Laila hanya bisa menggelengkan kepala, wajahnya sudah semerah lingerie yang ia kenakan. "Kamu benar-benar tidak punya urusan bisnis hari ini?"
"Bisnis paling pentingku hari ini adalah memastikan istriku tidak bisa berjalan dengan tegak besok pagi," jawab Zayn dengan seringai nakal yang membuat jantung Laila berdebar cepat.
Setelah sisa sarapan disingkirkan, suasana di dalam kamar kembali berubah intens. Lilin-lilin kecil yang sempat padam kini seolah menyala kembali di dalam hati mereka. Zayn menatap Laila dengan intensitas yang berbeda, bukan lagi sekadar candaan, melainkan keinginan murni untuk memiliki seutuhnya.
"Laila," panggilnya lirih. "Terima kasih sudah memilihku."
"Terima kasih sudah menemukanku, Zayn," balas Laila tulus.
Zayn mulai menanggalkan selimut yang menutupi mereka. Di bawah cahaya pagi yang semakin terang, kecantikan Laila terpampang nyata. Jemari Zayn menelusuri garis leher Laila, turun ke bahu, dan berhenti di detak jantung istrinya yang berpacu cepat.
"Siap untuk ronde kedua, Nyonya Malik?" bisik Zayn seraya menindih tubuh Laila dengan lembut, memastikan berat badannya tidak menyakiti wanita itu.
Laila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengalungkan lengannya di leher Zayn, menarik pria itu lebih dekat, dan menyambut ciuman panas yang kembali membakar pagi mereka. Pengkhianatan masa lalu benar-benar telah terkubur, digantikan oleh gairah dan janji setia yang akan mereka rajut setiap harinya.
Malam tadi memang telah berlalu, namun bagi Zayn dan Laila, ini hanyalah awal dari malam-malam panjang lainnya yang akan mereka habiskan dalam dekapan satu sama lain. Di ruangan itu, hanya ada suara napas yang memburu dan detak jantung yang seirama, menjadi saksi bisu betapa cinta bisa menyembuhkan sekaligus membakar dalam waktu yang bersamaan.
Laila benar-benar merasakan awal yang bahagia. Bagaimana pun Zayn, benar membuktikan bahwa Laila memang pantas dicintai.