NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Jarak Yang Tak Terlihat

Malam semakin larut, namun justru di saat seperti itu pergerakan yang paling berbahaya sering kali dimulai, karena ketika sebagian besar orang mulai lengah dan menganggap segalanya telah berakhir untuk hari itu, justru di situlah rencana-rencana yang tersembunyi mulai dijalankan tanpa banyak saksi, dan Lisa yang berdiri di dekat jendela apartemennya memahami hal itu dengan sangat baik, karena sejak awal ia tidak pernah benar-benar berhenti bergerak, bahkan ketika semuanya terlihat tenang di permukaan.

Lampu kota berkelap-kelip di kejauhan, menciptakan pemandangan yang indah namun dingin, dan di balik pantulan kaca, bayangan Lisa terlihat samar, seolah menjadi dua sosok yang berbeda—yang satu adalah wanita yang dulu mudah percaya, dan yang lain adalah seseorang yang kini tidak lagi memberi ruang bagi kelemahan.

Ponselnya bergetar pelan.

Pesan masuk.

Dari Devan.

> Luna mulai bermain dua sisi.

Lisa membaca itu tanpa ekspresi, lalu mengetik balasan dengan cepat.

> Biarkan.

Beberapa detik kemudian, balasan datang.

> Kamu yakin?

Lisa tersenyum tipis.

> Semakin banyak sisi yang dia mainkan… semakin mudah dia jatuh.

Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponselnya tanpa menunggu balasan berikutnya, karena dalam pikirannya semuanya sudah jelas—Luna bukan ancaman utama, melainkan jembatan yang bisa ia gunakan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar, dan selama jembatan itu belum runtuh, ia akan tetap membiarkannya berdiri.

Namun di balik semua itu…

Lisa juga tahu.

Permainan ini mulai memasuki tahap yang lebih berisiko.

Dan kesalahan kecil saja…

Bisa mengubah semuanya.

Di sisi lain kota…

Clara Wijaya berdiri di balkon apartemennya dengan gelas di tangan, namun minuman itu hampir tidak disentuh, pikirannya terlalu penuh dengan berbagai kemungkinan yang terus berputar tanpa henti, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasakan sesuatu yang jarang ia alami—ketidakpastian.

Ponselnya berdering.

Nama yang muncul membuat ekspresinya sedikit berubah.

Arvin Pratama.

Clara mengangkat panggilan itu setelah beberapa detik.

“Ada apa?” tanyanya.

Suara Arvin terdengar serius.

“Kita perlu bicara,” katanya.

Clara tersenyum tipis.

“Semua orang ingin bicara sekarang,” jawabnya, “tentang apa?”

Arvin tidak bertele-tele.

“Lisa,” katanya.

Clara menatap ke depan.

“Apa tentang dia?” tanyanya.

Arvin menarik napas pelan di seberang sana.

“Aku tidak yakin lagi dengan apa yang dia lakukan,” katanya jujur.

Kalimat itu membuat Clara terdiam sejenak.

Namun bukan karena terkejut.

Melainkan karena…

Ia melihat kesempatan.

“Baru sekarang kamu menyadarinya?” katanya pelan.

Arvin mengerutkan kening.

“Maksudmu?” tanyanya.

Clara menyesap minumannya sedikit sebelum menjawab, “Dia berubah, Arvin… dan kamu terlalu lama menutup mata.”

Keheningan terjadi beberapa detik.

Lalu Arvin berkata dengan nada yang lebih rendah, “Kalau begitu… kamu tahu sesuatu?”

Clara tersenyum tipis.

“Tergantung kamu siap mendengarnya atau tidak,” katanya.

Arvin tidak ragu.

“Katakan saja.”

Clara menatap ke kejauhan.

“Dia tidak hanya menjauh dari kamu,” katanya pelan, “dia sedang membangun sesuatu… dan kalau kamu tidak berhenti sekarang, kamu mungkin tidak akan punya apa-apa lagi.”

Kalimat itu…

Sengaja dilebihkan.

Namun cukup untuk menanamkan sesuatu.

Kecurigaan.

Di waktu yang sama…

Di dalam mobilnya yang terparkir di bawah gedung apartemen Lisa, seseorang duduk dengan tenang sambil memperhatikan ke arah atas, matanya tajam dan penuh perhitungan, dan di tangannya terdapat kamera kecil yang sesekali ia arahkan ke jendela tertentu.

Riko Saputra.

Ia tersenyum kecil sambil melihat hasil tangkapan gambarnya.

“Semakin menarik…” gumamnya.

Ia menurunkan kamera, lalu mengambil ponselnya dan mengirim beberapa file.

Penerimanya…

Clara.

Beberapa detik kemudian, ponsel Clara bergetar.

Ia membuka pesan itu.

Foto-foto yang diambil dari kejauhan terlihat jelas—bayangan Lisa di dalam apartemen, aktivitasnya yang tampak tenang, namun bagi seseorang yang sedang mencari celah, itu cukup untuk mulai menyusun sesuatu yang lebih besar.

Clara tersenyum.

“Kalau kamu pikir aku akan diam…” katanya pelan.

Matanya menyempit.

“Kamu salah besar.”

Kembali ke apartemen Lisa…

Lisa masih berdiri di tempat yang sama, namun kali ini matanya sedikit menyipit, seolah merasakan sesuatu yang tidak terlihat, dan tanpa sadar ia menoleh ke arah jendela lain yang menghadap ke bawah, namun dari sudut itu ia tidak bisa melihat apa pun dengan jelas.

Namun instingnya…

Tidak pernah salah.

“Ada yang mengawasi…” gumamnya pelan.

Ia tidak panik.

Tidak juga langsung bereaksi.

Justru ia tersenyum tipis.

Karena kalau benar ada yang mulai mengawasi…

Berarti tekanannya sudah mulai terasa.

Ia berjalan perlahan menjauh dari jendela, lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat.

> Mulai sekarang, kita percepat.

Pesan itu ditujukan untuk Devan.

Balasan datang hampir seketika.

> Aku sudah menunggu itu.

Lisa menarik napas pelan.

Matanya kembali berubah tajam.

“Kalau kalian ingin bermain lebih cepat…” katanya pelan.

Tangannya mengepal ringan.

“Aku akan membuat kalian tidak sempat bernapas.”

Keesokan paginya…

Kantor kembali dipenuhi aktivitas seperti biasa, namun di balik kesibukan itu, beberapa orang sudah mulai bergerak dengan tujuan yang tidak diketahui oleh orang lain, dan Lisa yang baru saja memasuki ruangannya langsung disambut oleh Nina yang terlihat sedikit lebih tegang dari biasanya.

“Ada sesuatu yang perlu Anda lihat,” kata Nina.

Lisa mengangkat alis sedikit.

“Apa?” tanyanya.

Nina menyerahkan tablet.

“Beberapa saham perusahaan mulai berpindah tangan sejak semalam,” jelasnya.

Lisa menerima tablet itu, matanya bergerak cepat membaca data yang ditampilkan, dan dalam beberapa detik ia sudah memahami pola yang terjadi.

Serangan.

Halus.

Namun jelas.

Lisa tersenyum tipis.

“Akhirnya…” gumamnya.

Nina terlihat bingung.

“Anda tidak kaget?” tanyanya.

Lisa menggeleng pelan.

“Tidak,” jawabnya, “aku justru menunggu ini.”

Ia mengembalikan tablet itu.

“Siapkan rapat darurat,” katanya, “dan pastikan semua orang yang berkepentingan hadir.”

Nina mengangguk cepat.

“Baik.”

Begitu Nina keluar, Lisa berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela, menatap ke luar dengan sorot yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.

“Jadi kalian memilih menyerang lebih dulu…” katanya pelan.

Senyumnya perlahan muncul.

“Bagus.”

Di ruang rapat beberapa saat kemudian…

Suasana terasa tegang meskipun semua orang berusaha terlihat profesional, dan di ujung meja, Lisa duduk dengan sikap yang tenang namun jelas menguasai situasi, sementara beberapa direktur mulai membicarakan pergerakan saham yang tidak biasa.

“Kita harus segera mengambil tindakan,” kata salah satu dari mereka.

“Kalau tidak, kita bisa kehilangan kendali,” tambah yang lain.

Lisa mendengarkan tanpa menyela.

Hingga akhirnya…

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Dan ruangan langsung hening.

“Biarkan,” katanya.

Semua orang terdiam.

“Biarkan?” ulang salah satu direktur.

Lisa mengangguk pelan.

“Semakin mereka merasa berhasil…” katanya dengan tenang, “semakin dalam mereka masuk.”

Semua orang saling berpandangan.

Tidak semua mengerti.

Namun tidak ada yang berani membantah.

Lisa menatap mereka satu per satu.

“Dan saat mereka sudah terlalu jauh untuk mundur…” lanjutnya.

Matanya menyipit sedikit.

“Kita tutup jalannya.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Namun kali ini…

Bukan karena bingung.

Melainkan karena…

Mereka mulai menyadari sesuatu.

Wanita di depan mereka…

Tidak hanya bertahan.

Ia sedang berburu.

Di tempat lain…

Devan berdiri di kantornya dengan ponsel di tangan, membaca pesan terakhir dari Lisa, dan perlahan senyum tipis muncul di wajahnya.

“Sekarang ini jadi lebih menarik…” katanya pelan.

Ia menatap ke luar jendela.

Matanya tajam.

Karena ia tahu…

Apa yang akan terjadi selanjutnya…

Tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun.

Dan di tengah semua itu…

Permainan tidak lagi berjalan pelan.

Ia mulai berlari.

Dan siapa pun yang tidak siap…

Akan terinjak tanpa ampun. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!