NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Geladak Baja dan Jarak yang Membisu

[Dua Hari Kemudian]

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dr. Radjiman Wedyodiningrat, Perairan Laut Banda - Pukul 10.00 WIT.

Deru mesin diesel raksasa dari lambung KRI menggetarkan geladak baja di bawah kaki mereka. Angin laut yang membawa aroma garam dan kelembapan tropis menyapu dek kapal, sementara hamparan biru kelam Laut Banda membentang tak bertepi di segala penjuru.

Di dalam ruang taklimat utama yang benderang oleh layar-layar taktis, udara jauh lebih dingin dari embusan AC sentral. Ketegangan itu bukan berasal dari kedalaman palung empat ribu meter yang menanti mereka, melainkan dari dinamika interpersonal yang sedang mendidih dalam senyap.

Di depan layar interaktif, Mayor Sarah Kamila sedang memaparkan detail penurunan Deep-Submergence Vehicle (DSV). Wanita itu mengenakan seragam tempur AL berwarna abu-abu biru yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Ia bergerak dalam keanggunan seekor Panther, penuh percaya diri dan mendominasi ruangan.

“Arya bawah laut di kedalaman dua ribu meter pertama sangat tidak stabil,” Sarah mengetuk layar, menampilkan grafik pusaran air. Ia kemudian memutar tubuhnya, melangkah pelan mendekati meja tempat Kolonel Rayyan Aksara duduk.

Tanpa ragu, Sarah meletakkan sebelah tangannya di atas bahu Rayyan, sedikit mencondongkan tubuhnya. “Ini mirip dengan arus undertow yang kita hadapi saat misi penyusupan di perairan Somalia lima tahun lalu, Yan. Ingat? Saat kau harus menarikku keluar dari palka yang bocor. Kita berdua nyaris kehabisan oksigen hari itu.”

Sarah tersenyum, sebuah senyum yang secara eksklusif mengisyaratkan sejarah panjang, darah, dan kedekatan fisik yang hanya dipahami oleh sesama prajurit tempur.

Rayyan menggertakan rahangnya. Ia menggeser bahunya dengan gerakan halus namun tegas, menyingkirkan tangan Sarah. Matanya menatap lurus ke layar, dingin, dan tak tersentuh.

“Fokus pada metrik palung saat ini, Mayor. Somalia adalah masa lalu,” potong Rayyan dengan nada bariton yang tajam.

Namun penolakan Rayyan yang dingin tidak menghentikan bisa yang sudah terlanjur disuntikkan Sarah ke udara. Di sudut meja yang berlawanan, Dr. Lyra Andini duduk mematung.

Lyra mengenakan jumper tugas angkatan laut yang sedikit kebesaran di tubuh mungilnya. Di atas meja di hadapannya, sabak digitalnya menampilkan ribuan data seismik. Namun sejak Sarah mulai memaparkan misi—dan terus-menerus menyelipkan anekdot masa lalunya dengan Rayyan—mata Lyra hanya menatap kosong pada layar.

Mendengar cerita tentang Somalia, tentang bagaimana Sarah dan Rayyan saling menyelamatkan nyawa dalam situasi fisik yang ekstrem, dinding pertahanan Lyra runtuh seketika. Sisa-sisa trauma di paru-parunya dan bayang-bayang kelemahannya kembali menghantuinya. Sarah benar. Wanita intelijen itu adalah partner sepadan Rayyan di medan perang. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama, bernapas dalam ritme adrenalin yang sama. Sementara Lyra? Ia hanyalah warga sipil yang harus digendong melewati lantai jebakan.

Rasa insecure yang selama tiga hari berhasil ditenangkan Rayyan di apartemen kaca itu kini kembali bangkit. Bukan amarah yang meledak, melainkan sesuatu yang jauh lebih buruk: Lyra menutup diri. Gadis itu membangun benteng es di sekeliling hatinya untuk melindungi harga dirinya yang terluka.

“Dr. Andini,” suara Sarah mengalihkan perhatian seisi ruangan. Wanita itu menatap Lyra dengan senyum profesional yang memiliki tepi setajam silet. “Ada yang ingin Anda tambahkan dari sisi… sejarahnya? Tentu saja, Anda hanya perlu menganalisis koordinat akhirnya. Untuk urusan memastikan lambung DSV tidak hancur tergencet tekanan, biarkan militer yang bekerja.”

Lyra mendongak. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi. Tidak ada rona merah malu, tidak ada mata yang membelalak panik. Ia merespons dengan sikap akademis yang sangat kalkulatif.

“Tidak ada, Mayor. Analisis Anda sudah cukup representatif secara fisika,” balas Lyra dengan nada suara yang begitu datar hingga terdengar seperti robot. Ia mematikan layarnya, berdiri, dan merapikan dokumennya. “Saya akan bersiap di ruang dekontaminasi sebelum kita masuk ke DSV.”

Tanpa menatap Rayyan sedikit pun, Lyra melangkah keluar dari tempat taklimat, punggungnya tegak lurus.

Rayyan menatap kepergian Lyra dengan kening berkerut dalam. Ia mengenal Lyra. Ia tahu persis ada sesuatu yang membunyikan alarm bahaya tertinggi di otaknya.

Rayyan berdiri seketika, mengabaikan Sarah yang masih memaparkan slide berikutnya, dan berjalan menyusul Lyra keluar dari ruangan. Letnan Jati yang melihat itu hanya bisa memijat pelipisnya, membatin bahwa perang dunia ketiga tampaknya akan meletus lebih cepat dari yang dijadwalkan.

Selama dua jam berikutnya, proses persiapan memasuki DSV berubah menjadi siksaan mental bagi sang Kolonel.

Di ruang ganti perlengkapan pressure suit, Rayyan berjalan menghampiri Lyra yang sedang berjuang mengaitkan sabuk oksigen di punggungnya.

“Biar kubantu,” ucap Rayyan pelan, mengulurkan tangannya yang besar untuk mengambil alih tali sabuk tersebut.

“Tidak perlu, Kolonel,” Lyra menghindar, mundur selangkah. Tangannya bergerak cepat menyelesaikan kaitan itu sendiri. Wajahnya tidak menoleh menatap Rayyan, matanya fokus pada tabung oksigen. “Saya bisa menyelesaikannya sendiri. Terima kasih.”

Panggilan Kolonel itu terasa seperti tamparan di wajah Rayyan. Di apartemen, Lyra memanggilnya Rayyan, Sayang, atau Komandan dengan nada menggoda. Tapi kini, sebutan itu dilontarkan dengan dinding birokrasi yang tebal.

Rayyan menggertakan gigi, berusaha bersabar. “Lyra, lihat aku…”

“Saya harus mengecek kalibrasi sonar sebelum kita turun, Kolonel. Permisi,” Lyra membungkuk sedikit, bergerak melewati Rayyan begitu saja dan berjalan menuju palka kapal selam mini yang menunggu di geladak.

Rahang Rayyan mengeras hingga ototnya menonjol. Matanya menggelap. Sang predator telah diabaikan.

Situasi semakin memburuk ketika mereka akhirnya masuk ke dalam perut DSV Nanggala-X, sebuah kapal selam mini canggih berkapasitas lima orang. Formasi tempat duduknya sangat ketat. Rayyan duduk di kursi komando di depan, Jati sebagai kopilot, sementara Lyra dan Sarah harus duduk berdampingan di kursi belakang yang menghadap ke panel instrumen masing-masing.

“Dive, dive, dive.”

DSV mulai menyelam. Permukaan air laut yang biru terang berlalu dari balik jendela kaca akrilik raksasa, digantikan oleh kegelapan palung yang perlahan menelan mereka.

Di dalam kabin yang sempit dan remang-remang itu, Rayyan mencoba menjangkau Lyra. Ia mengulurkan tangannya ke belakang sandaran kursinya, bermaksud menggenggam tangan Lyra yang biasanya selalu mencari kehangatannya saat ketakutan.

Namun saat ujung jari Rayyan nyaris menyentuh tangan Lyra di atas lutut gadis itu, Lyra langsung menarik tangannya. Gadis itu meraih sabak digitalnya, pura-pura sibuk membaca grafik sonar, membiarkan tangan Rayyan menggantung kosong di udara.

Dada Rayyan terasa sesak oleh rasa frustasi yang mendidih. Ia mengepalkan tangannya dan menariknya kembali.

“Tekanan di kedalaman dua ribu meter, struktur lambung stabil,” lapor Sarah dari kursi belakang, memecah kesunyian. Wanita itu kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, di antara kursi Rayyan dan Jati. “Rayyan, kau ingat saat tekanan oksigen kita drop di simulator dulu? Kau memecahkan kaca panelnya dengan tangan kosong.”

“Saya ingat, Mayor,” jawab Rayyan sangat singkat, nyaris berupa geraman. Matanya melirik ke arah cermin pantau kabin, melihat Lyra yang sama sekali tidak bereaksi mendengar obrolan Sarah. Gadis itu menatap layar dengan pandangan kosong.

Sepanjang tiga jam penyelaman yang menegangkan, Lyra membisu. Ia hanya membuka suara ketika Letnan Jati menanyakan arah navigasi berdasarkan peta hologram.

“Ubah haluan ke arah dua-lima-nol, Letnan. Ada formasi termal di sana,” hanya itu. Singkat, padat, tanpa satu pun emosi.

Rayyan merasa seperti sedang diikat di kursi interogasi. Ia adalah seorang pria yang terbiasa memegang kendali. Ia bisa melumpuhkan musuh dari jarak jauh, ia bisa menghentikan ledakan bom, tetapi ia benar-benar buta menghadapi keheningan wanita yang dicintainya. Hukuman bisu Lyra jauh lebih menyiksa daripada luka tembak di perutnya.

Ketika DSV akhirnya mencapai dasar palung—empat ribu meter di bawah permukaan laut—lampu sorot eksternal kapal selam itu menyala terang, membelah kegelapan abadi.

Di depan mereka, bukan hamparan pasir laut yang terlihat. Melainkan sebuah struktur balok-balok batu obsidian masif yang disusun membentuk gerbang raksasa di dasar laut, persis seperti peninggalan Atlantis yang terlupakan. Arsitekturnya sama persis dengan piramida Sumatera, namun jauh lebih besar dan terjaga sempurna oleh tekanan laut dalam.

“Kita sudah sampai,” gumam Jati kagum. “Strukturnya memiliki sistem airlock (ruang kedap udara) otomatis. Meyelaraskan dok palka sekarang.”

KLANG!

DSV menempel pada gerbang batu itu dengan bunyi logam yang berat. Sistem palka hidrolik mendesis, menyeimbangkan tekanan udara.

“Kita bergerak masuk. Pastikan tabung oksigen kalian penuh. Udara di dalam sana mungkin beracun,” perintah Rayyan, melepaskan sabuk pengamannya.

Rayyan langsung memutar tubuhnya. Ia berdiri dan menghalangi langkah Lyra yang hendak menuju palka luar.

“Jati, Mayor Sarah, amankan airlock pertama dan cek perimeter awal. Aku dan Dokter Andini akan menyusul dalam dua menit,” perintah Rayyan, nada suaranya sangat rendah dan tidak menerima kompromi.

Sarah mengerutkan kening. “Rayyan, sesuai protokol taktis, aset utama harus diawasi oleh—“

“Aku komandan misinya, Mayor. Laksanakan perintahku,” potong Rayyan dengan tatapan yang bisa membekukan air laut di luar sana.

Sarah menelan ludah, menangkap aura membunuh di mata Rayyan. Wanita itu akhirnya mengangguk kaku, memberi isyarat pada Jati. Keduanya melangkah keluar melalui palka, menutup pintu logam transisi itu di belakang mereka.

Kini, hanya tersisa Rayyan dan Lyra di dalam kabin DSV yang remang-remang.

Lyra mencoba melangkah menyamping untuk menghindari tubuh besar Rayyan yang memblokir lorong sempit tersebut. “Tolong minggir, Kolonel. Saya harus mengevaluasi struktur batu di depan sana.”

Rayyan tidak bergeser satu milimeter pun. Alih-alih minggir, pria itu melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Memaksa Lyra berjalan mundur hingga punggung gadis itu membentur dinding kabin baja yang dingin.

Rayyan mengangkat kedua tangannya, meletakkannya dengan bunyi bam pelan di dinding baja tepat di kedua sisi kepala Lyra, mengurung gadis itu sepenuhnya di antara lengan kokohnya dan dinding kapal selam.

Dada Rayyan naik turun dengan cepat, napasnya memburu oleh rasa frustasi yang akhirnya meledak. Ia menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata cokelat Lyra yang membelalak kaget di balik kacamatanya.

“Apa yang sedang kau mainkan, Lyra?” Desis Rayyan, suaranya serak, penuh penuntutan dan keputusasaan yang tertahan.

“Saya tidak memainkan apa-apa,” Lyra memalingkan wajahnya, menolak menatap mata Rayyan. Dinding esnya masih berdiri, meski jantungnya kini berdegup liar akibat jarak mereka yang terlalu intim. “Tolong lepaskan saya. Operasi ini membutuhkan—“

“Persetan dengan operasi ini!” Geram Rayyan, memotong kalimat Lyra dengan kasar.

Tangan kanan Rayyan terlepas dari dinding, menangkup rahang Lyra dengan paksa namun sangat berhati-hati, memaksa gadis itu mendongak dan membalas tatapannya.

“Kau mendiamkanku selama tujuh jam, Lyra. Tujuh jam!” Suara Rayyan bergetar, ibu jarinya menekan pelan rahang Lyra. “Kau menarik tanganmu dariku. Kau menolak menatap mataku. Kau kembali memanggilku dengan pangkat bedebah itu. Jika ada sesuatu yang kulakukan dan membuatmu marah, pukuli aku, maki aku, tapi jangan… jangan pernah menatapku seolah aku adalah orang asing!”

Melihat keputusasaan di mata Rayyan, dinding es Lyra perlahan retak. Rasa cemburu dan rendah diri yang membebani dadanya sedari pagi akhirnya mencuat keluar dari tenggorokannya.

“Untuk apa aku berbicara padamu, Rayyan?” Suara Lyra bergetar hebat, air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang di pelupuk matanya. “Kau punya Mayor Sarah untuk mengobrol. Dia teman ceritamu. Dia partner perangmu. Dia tidak butuh digendong, dan dia pasti tidak akan nyaris mati karena masker oksigen sialan!”

Lyra mencoba mendorong dada Rayyan, namun pria itu bergeming seperti patung beton.

“Aku melihat bagaimana dia menatapmu, Rayyan,” isak Lyra tertahan, air matanya akhirnya jatuh membasahi jari Rayyan yang masih menangkup rahangnya. “Dia sempurna untuk duniamu. Dia bisa melindungimu di bawah laut ini, sementara aku? Aku hanya seonggok beban yang menyusahkanmu, yang terus-menerus membuatmu luka!”

Mendengar pengakuan yang dipenuhi oleh luka dan keraguan itu, amarah Rayyan seketika menguap, digantikan oleh rasa nyeri yang tak kasat mata di dadanya.

Rahang sang komandan mengeras. Bukan karena marah pada Lyra, melainkan marah pada dirinya sendiri yang membiarkan wanita intelijen sialan itu menanamkan benih insecure ini dikepala Lyra.

“Beban?” Bisik Rayyan parau. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menghapus jarak yang tersisa di antara mereka. Tubuh kerasnya kini menekan tubuh mungil Lyra ke dinding baja.

“Apa kau tidak mendengarkanku di apartemen, Lyra?” Rayyan menempelkan dahinya ke dahi Lyra. Napasnya menyapu bibir Lyra yang gemetar. “Mayor Sarah adalah prajurit. Jika dia mati di medan tempur, aku akan memberikan hormat senjata dan melanjutkan misi. Tapi jika kamu yang terluka…”

Tangan Rayyan yang berada di rahang Lyra meluncur ke belakang tengkuk kekasihnya, mencengkerammnya dengan posesif.

“Jika kamu terluka, Lyra, aku akan membakar seluruh laut ini hingga kering,” sumpah Rayyan dengan suara yang luar biasa rendah dan mematikan. “Aku tidak butuh wanita yang bisa memegang senapan. Aku sudah menjadi senjata terkuat di militer. Aku butuh alasan untuk kembali dari medan perang. Dan kamu adalah alasannya. Jangan pernah… jangan berani-beraninya kamu meragukan posisimu di hidupku lagi.”

Lyra tersedu, matanya terpejam. Semua keraguannya dihancurkan oleh deklarasi dari sang pria baja, kekasihnya. Ia mengangkat kedua lengannya, merengkuh leher Rayyan dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya sambil menahan tangis.

“Aku takut, Rayyan…” bisik Lyra di sela isakannya. “Dia membuatku merasa sangat tidak berguna untukmu.”

Rayyan memejamkan mata, menghela napas panjang dan lega. Ia memeluk pinggang Lyra dengan kedua tangannya, mengangkat tubuh gadis itu sedikit agar tidak kedinginan menyentuh dinding baja. Rayyan mengecup puncak kepala Lyra berulang kali.

“Dia tidak tahu apa-apa tentangku, Sayang,” bisik Rayyan lembut, mencium kening Lyra yang basah oleh air mata. “Kau satu-satunya yang tahu. Kau satu-satunya yang memegang kunci kewarasanku.”

Rayyan memundurkan wajahnya, mengusap air mata di pipi Lyra dengan ibu jarinya, dan memberikan senyum miring paling memikat yang pernah Lyra lihat.

“Sekarang,” ucap Rayyan dengan nada yang sedikit menggoda, “bisakah kamu kembali memanggilku dengan nama depanku? Telingaku gatal mendengar panggilan ‘Kolonel’ keluar dari bibir ini dengan nada sedingin es.”

Lyra tertawa kecil di sela tangisnya. Rona merah kembali menghiasi pipinya. Ia berjinjit sedikit dan mengecup bibir Rayyan dengan singkat namun penuh perasasan.

“Maafkan aku… Rayyan,” bisik Lyra membalas senyum kekasihnya.

“Dimaafkan,” Rayyan membalas dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh kepemilikan, seolah memastikan bahwa dinding keheningan di antara mereka telah benar-benar dihancurkan.

1
nur atika
aaah kurang thorr 🤣🤣🤣 lagi Thor lagiii
NP
Hehehe.. UP yaa
nur atika
KA tumbn sih blum up🤭
Chie
Lanjut kak
nur atika
up lagi thorr😍😍😍
NP
Makasih kak, lagi mau ubah genre jadi romcom bucin Rayyan wkwk
nur atika
semnagtt yah Thor ngehalunyaaa😍😍😍😍🤣🤭
NP
Ehehehe.. sehari satu Chapter aku uplod kak,
nur atika
cpt bngt rasanya bc 3eps🤭
nur atika
trnyata aku gk THN nabung eps🤣🤣🤣
NP
Hehhe🥰 siang ya aku update
nur atika
lagi thorrr😍
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NP: Kak, makasih Love nya 🤗
total 1 replies
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!