NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Karma di Balik Jeruji Besi

Dinginnya lantai semen penjara mulai menusuk tulang Guntur. Sudah satu bulan ia meringkuk di sel sempit bersama lima narapidana kelas kakap lainnya. Tidak ada lagi kasur empuk, tidak ada lagi pelayan yang membawakan kopi mahal.

.

"Woi, bocah manja! Ndang pel lante kuwi! (Woi, anak manja! Cepat pel lantai itu!)" bentak salah satu narapidana bertato macan di lengannya.

.

Guntur gemetar, tangannya yang halus kini lecet-lecet karena setiap hari dipaksa mencuci baju dan menyikat WC seluruh sel. "Nggih, Mas... sekedhap. (Iya, Mas... sebentar.)"

.

Malamnya, saat semua orang sudah mendengkur, Guntur tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Ia benci pada Arjuna, benci pada Romo yang membiarkannya dipenjara.

.

"Arjuna... bajingan kowe! Kowe sing nggawe aku koyo niki! (Arjuna... bajingan kamu! Kamu yang buat aku seperti ini!)" umpat Guntur dalam hati dengan penuh dendam.

.

Tiba-tiba, suasana sel yang pengap berubah menjadi sangat dingin. Bau harum melati yang tajam menusuk hidung Guntur, disusul suara geraman rendah yang menggetarkan tembok penjara. GRRRRR...

.

Guntur membuka matanya perlahan. Di sudut sel yang gelap, ia melihat sepasang mata merah menyala. Seekor Macan Putih besar milik Arjuna duduk dengan tenang, menatap Guntur seolah ingin mencabik-cabik jiwanya.

.

"Astagfirullah! Tulung! Tulung!" teriak Guntur histeris.

.

Namun, teman-teman satu selnya tidak ada yang bangun. Mereka seperti tertidur dalam sihir yang sangat kuat.

.

Tiba-tiba, sosok kakek tua berjubah putih muncul di samping macan itu. Wajahnya sangat teduh namun tatapannya tajam menembus jantung Guntur. Inilah Sang Wali Mastur, kakek dari garis keturunan Bundanya.

.

"Guntur... kowe kuwi putune simbah, kok atimu koyo asu? (Guntur... kamu itu cucunya kakek, kok hatimu seperti anjing?)" suara kakek itu menggema, membuat telinga Guntur berdenging hebat.

.

"Sinten kowe?! (Siapa kamu?!)" teriak Guntur ketakutan.

.

"Aku sing njogo darah suci neng awakmu, nanging kowe malah milih dadi batur dunya. (Aku yang menjaga darah suci di tubuhmu, tapi kamu malah memilih jadi budak dunia.)"

.

Sang kakek mengangkat tongkat kayunya, lalu memukulkannya ke dada Guntur. DUARR!

.

Guntur merasa jantungnya seperti dihantam gada besi. Ia tersungkur, memuntahkan cairan hitam kental dari mulutnya. Di dalam muntahan itu, keluar jarum-jarum karat dan ulat-ulat kecil—simbol dari dengki dan sihir yang selama ini ia simpan untuk menjatuhkan Arjuna.

.

"Loro tahun neng kene kuwi durung cukup nggo ngumbah dosamu. Nek kowe ora tobat, kowe ora bakal metu seko kene urip-uripan! (Dua tahun di sini itu belum cukup buat mencuci dosamu. Kalau kamu tidak tobat, kamu tidak bakal keluar dari sini hidup-hidup!)"

.

Sosok kakek dan macan putih itu menghilang seketika. Guntur terbangun dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia meraba dadanya yang masih terasa nyeri luar biasa.

.

Di kejauhan, ia mendengar suara sayup-sayup zikir yang sangat ia kenal. Itu suara Arjuna. Meskipun Arjuna berada jauh di pondok, suaranya menembus tembok penjara untuk menenangkan hati adiknya yang tersesat.

.

Guntur menangis sesenggukan di pojok sel. Untuk pertama kalinya, ia bersujud di lantai penjara yang kotor. "Mas Juna... ngapuro, Mas... kulo ngapuro... (Mas Juna... maaf, Mas... saya minta maaf...)"

.

Sementara itu, di Pondok Al-Hikam, Arjuna yang sedang duduk di depan api unggun tiba-tiba tersenyum tipis. Ia meniupkan asap rokok kreteknya ke arah barat, tepat ke arah penjara tempat Guntur berada.

.

"Wis titi wancine kowe bali, Le... (Sudah waktunya kamu pulang, Dik...)" gumam Arjuna pelan.

Pagi harinya di penjara, teman-teman satu sel Guntur terheran-heran. Guntur yang biasanya manja dan suka mengeluh, tiba-tiba bangun paling pagi. Tanpa disuruh, ia menyikat lantai sel sampai mengkilap dan mencuci semua piring teman-temannya.

.

"Woi, Guntur! Kowe kesurupan opo? (Woi, Guntur! Kamu kesurupan apa?)" tanya si kepala sel yang bertato macan itu dengan heran.

.

Guntur hanya menunduk, matanya sembab bekas menangis semalaman. "Mboten, Mas. Kulo namung pengen ngumbah duso. (Tidak, Mas. Saya hanya ingin mencuci dosa.)"

.

Guntur kini tidak lagi memikirkan mobil mewahnya atau uang di rekeningnya. Setiap kali ia ingin marah, dadanya terasa nyeri bekas pukulan tongkat Sang Wali semalam. Ia sadar, ia sedang diawasi oleh kekuatan yang tidak terlihat.

.

Sementara itu, di Pondok Al-Hikam, suasana mulai ramai secara misterius. Padahal pondok itu berada di pelosok hutan yang sulit dijangkau, tapi tiba-tiba sebuah mobil hitam mewah berhenti di pinggir jalan setapak.

.

Turunlah seorang pria paruh baya yang tampak sangat kacau. Wajahnya pucat, badannya kurus kering, dan matanya melotot ketakutan. Ia adalah Rangga, seorang pengusaha sukses dari Jakarta yang terkenal sombong.

.

"Pundi Gus Arjuna? Tulung kulo... kulo mboten saged turu pitung sasi! (Mana Gus Arjuna? Tolong saya... saya tidak bisa tidur tujuh bulan!)" teriak Rangga sambil merangkak menuju gubuk bambu.

.

Arjuna yang sedang mengaduk semen bersama Romo Wijaya hanya menoleh santai. Ia tetap memakai sarung hijaunya yang ditali tinggi dan kaos kuli yang penuh debu bangunan.

.

"Romo, niki tamune sampun teka. (Ayah, ini tamunya sudah datang,)" ucap Arjuna sambil menyeruput kopi pahitnya.

.

Rangga bersujud di kaki Arjuna yang kotor terkena semen. "Gus... tulung kulo. Kulo sampun kelangan kabeh, nanging kulo malah wedi mati. (Gus... tolong saya. Saya sudah kehilangan semuanya, tapi saya malah takut mati.)"

.

Arjuna menyalakan rokok kreteknya, asapnya mengepul tenang tertiup angin gunung. "Kowe mboten loro, Mas. Atimu mung kakehan sampah. (Kamu tidak sakit, Mas. Hatimu cuma kebanyakan sampah.)"

.

Arjuna menunjuk tumpukan batu kali yang besar-besar di pinggir sungai. "Nek pengen mari, ojo njaluk donga dhisik. Saiki kowe dadi kuli neng kene. Gotong watu kuwi nggo mbangun pondasi masjid. (Kalau ingin sembuh, jangan minta doa dulu. Sekarang kamu jadi kuli di sini. Gotong batu itu buat membangun pondasi masjid.)"

.

Rangga terperangah. Orang sekaya dia disuruh gotong batu? "Nanging Gus... kulo mboten nate kerjo abot. (Tapi Gus... saya tidak pernah kerja berat.)"

.

Arjuna tersenyum tipis, tapi matanya tajam. "Nek mboten kerso, nggih mpun, monggo bali. Nanging ojo kaget nek sesuk mripatmu mboten saged merem selawase. (Kalau tidak mau, ya sudah, silakan pulang. Tapi jangan kaget kalau besok matamu tidak bisa terpejam selamanya.)"

.

Ketakutan, Rangga akhirnya melepas kemeja mahalnya. Dengan tangan gemetar, ia mulai menggotong batu kali satu per satu. Anehnya, setiap kali ia menjatuhkan batu ke tumpukan pondasi, hatinya merasa sedikit lebih ringan.

.

Laras dan Mentari melihat kejadian itu sambil geleng-geleng kepala. "Mas Juna pancen aneh, Mbak. Wong sugih kok malah dikon dadi kuli. (Mas Juna memang aneh, Mbak. Orang kaya kok malah disuruh jadi kuli,)" bisik Mentari.

.

Arjuna hanya terkekeh pelan. "Iki dudu nggon nggo pamer bondho, nanging nggon nggo ngasorake awak. (Ini bukan tempat buat pamer harta, tapi tempat buat merendahkan diri.)"

.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tujuh bulan, Rangga tertidur lelap di atas tanah, di bawah rindangnya pohon beringin. Tanpa kasur empuk, hanya ditemani harum asap kretek Arjuna yang menjaga ruhnya dari gangguan setan dunya.

Malam itu, hujan turun rintik-rintik di Pondok Al-Hikam. Arjuna tertidur di atas lincak bambu setelah seharian mengaduk semen. Dalam tidurnya, ruh Arjuna ditarik masuk ke dalam sebuah ruang hampa yang sangat terang.

.

Di sana, duduk seorang kakek tua dengan jenggot putih panjang hingga ke dada. Aura kewibawaannya membuat nyali Arjuna menciut. Inilah Sang Wali Mastur, kakek buyut dari garis keturunan Bundanya yang asli.

.

"Arjuna, putuku... (Arjuna, cucuku...)" Suara kakek itu berat dan bergetar, seolah berasal dari dalam bumi.

.

"Dalem, Mbah Buyut... (Saya, Kek...)" Arjuna bersujud, tak berani menatap wajah Sang Wali.

.

"Kowe wis mbangun Al-Hikam, nanging ilmumu isih cethek. Pangkat kewalimu isih 'rendah' mergo kowe isih ngrasa nyaman neng kene. (Kamu sudah membangun Al-Hikam, tapi ilmumu masih dangkal. Pangkat kewalimu masih 'rendah' karena kamu masih merasa nyaman di sini.)"

.

Arjuna tertegun. "Lajeng kersane simbah pripun? (Lalu keinginan kakek bagaimana?)"

.

"Kowe kudu 'Lelaku' (Menjalani laku prihatin). Klilingono Nusantara iki, ziarah neng makam-makam Wali sing dadi cagake tanah Jawa lan Indonesia. Nanging siji syarate... (Kamu harus 'Lelaku'. Kelilingilah Nusantara ini, ziarah ke makam-makam Wali yang jadi tiang tanah Jawa dan Indonesia. Tapi satu syaratnya...)"

.

Sang kakek menunjuk kaki Arjuna yang telanjang. "Mlakuo! Ojo nggawa dhuwit sithik-sithik wae. Pasrahno uripmu neng Gusti Allah. Nek kowe luwe, njaluko neng Gusti. Nek kowe ngelak, ngombeo banyu udan. (Jalan kaki! Jangan bawa uang sedikit pun. Pasrahkan hidupmu pada Allah. Kalau kamu lapar, mintalah pada Allah. Kalau kamu haus, minumlah air hujan.)"

.

Arjuna gemetar hebat. "Mboten mbeto bondho babar pisan, Mbah? (Tidak membawa harta sama sekali, Kek?)"

.

"Nek kowe isih nggawa dhuwit, kowe isih percoyo karo kertas, dudu percoyo karo Sing Gawe Urip! (Kalau kamu masih bawa uang, kamu masih percaya sama kertas, bukan percaya sama Yang Membuat Hidup!)"

.

DUARR!

.

Suara petir menggelegar membangunkan Arjuna. Ia terduduk dengan keringat dingin bercucuran. Dadanya sesak, tapi jiwanya merasa terpanggil.

.

Saat fajar menyingsing, Arjuna sudah mengemasi tas ransel kusamnya. Tidak ada emas, tidak ada uang, hanya sepotong sarung cadangan dan sebungkus rokok kretek yang tinggal dua batang.

.

Bunda Siti yang sedang menyapu halaman langsung berhenti. Firasatnya sebagai keturunan Wali tidak pernah meleset. Ia melihat aura "Keberangkatan" di wajah putranya.

.

"Juna... kowe arep 'Laku Musafir', Le? (Juna... kamu mau 'Laku Musafir', Nak?)" tanya Bunda Siti dengan suara bergetar namun bangga.

.

Arjuna mencium tangan ibunya lama sekali. "Nggih, Bun. Kulo diparingi dawuh kaliyan Mbah Buyut kon ziarah keliling Nusantara mlaku dhuwit. (Iya, Bun. Saya diberi perintah sama Kakek Buyut disuruh ziarah keliling Nusantara jalan kaki tanpa uang.)"

.

Pak Wijaya (Romo) yang baru saja mau ngopi, langsung lemas. "Juna! Mlaku? Tanpa dhuwit? Kowe arep mangan opo, Le? Jakarta-Suroboyo wae adoh, opo maneh Nusantara! (Juna! Jalan kaki? Tanpa uang? Kamu mau makan apa, Nak? Jakarta-Surabaya saja jauh, apalagi Nusantara!)"

.

Arjuna tersenyum tenang, senyum yang paling ikhlas yang pernah Romo lihat. "Gusti Allah mboten sare, Romo. Wong kuli wae saged urip, nopo malih musafire Gusti. (Allah tidak tidur, Ayah. Orang kuli saja bisa hidup, apalagi musafirnya Tuhan.)"

.

Laras dan Mentari menangis sesenggukan memeluk kakaknya. Arjuna hanya mengelus kepala mereka. "Jogoen Al-Hikam. Mas Juna pamit golek jati diri. (Jagalah Al-Hikam. Mas Juna pamit cari jati diri.)"

.

Tanpa alas kaki, Arjuna mulai melangkah keluar dari gerbang gubuk bambu. Langkahnya terasa ringan meskipun ia tidak tahu kapan akan kembali. Di pundaknya, tas kusam itu seolah tidak berbobot karena hatinya sudah dipenuhi dengan tawakal yang mutlak.

.

"Bismillah... (Dengan menyebut nama Allah...)" gumam Arjuna sambil menyulut rokok kretek terakhirnya.

.

Sosoknya perlahan menghilang di balik kabut pagi, meninggalkan kemewahan emas dan kenyamanan pondok demi mengejar derajat wali yang sesungguhnya. Perjalanan "Sultan Musafir" tanpa harta pun dimulai.

Arjuna melangkah mantap menyusuri jalan aspal yang mulai panas terpapar matahari pagi. Kakinya yang telanjang tanpa alas kaki terasa dingin saat menginjak embun, namun panas saat menyentuh aspal. Ia benar-benar tidak membawa uang sepeser pun, hanya tas ransel kusam berisi sarung cadangan dan korek kayu.

.

Baru berjalan sekitar sepuluh kilometer, Arjuna sampai di sebuah pasar induk yang sangat ramai dan kumuh. Di sana, tiga orang pria berbadan besar dengan tato di sekujur lengan sedang asyik memalak pedagang sayur.

.

"Woi, bocah sarungan! Mandheg kowe! (Woi, bocah sarungan! Berhenti kamu!)" teriak salah satu preman yang telinganya bolong besar karena tindikan.

.

Arjuna berhenti, wajahnya tenang tanpa rasa takut sedikit pun. "Wonten nopo, Mas? (Ada apa, Mas?)"

.

Preman itu mendekat, mencium aroma melati yang keluar dari tubuh Arjuna namun ia hiraukan. "Kowe sopo? Wong anyar yo? Kene, jatah keamanane! (Kamu siapa? Orang baru ya? Sini, jatah keamanannya!)"

.

Arjuna tersenyum tipis, merogoh saku sarungnya yang kosong melongpong. "Kulo mboten nggadhahi dhuwit, Mas. Kulo namung musafir sing nembe mlaku. (Saya tidak punya uang, Mas. Saya cuma musafir yang baru berjalan.)"

.

"Halah! Rasah kakehan cangkem! Buka tasmu! (Halah! Jangan banyak bicara! Buka tasmu!)" bentak preman satunya sambil mencoba menarik paksa ransel Arjuna.

.

GRRRRRRR...!!!!

.

Tiba-tiba, suara geraman harimau yang sangat keras menggelegar di telinga ketiga preman itu. Suara itu begitu nyata sampai-sampai aspal yang mereka injak terasa bergetar hebat.

.

Ketiga preman itu terlonjak kaget. Di mata mereka yang mulai berhalusinasi, sosok Arjuna tidak lagi tampak seperti kuli dekil, melainkan sesosok pria agung yang di belakangnya berdiri seekor Macan Putih raksasa setinggi rumah. Mata macan itu merah menyala, siap menerkam siapa saja yang menyentuh tuannya.

.

"A-A-Asu... opo kuwi?! (A-A-Anjing... apa itu?!)" teriak si bos preman sambil terjatuh duduk di tanah. Wajahnya yang garang mendadak pucat pasi seperti mayat.

.

Arjuna tetap tenang, ia tidak tahu apa yang dilihat para preman itu, tapi ia tahu khodam kakek buyutnya sedang bekerja. "Sampun, Mas. Mpun wedi. Kulo namung numpang lewat. (Sudah, Mas. Jangan takut. Saya cuma numpang lewat.)"

.

Melihat Arjuna melangkah mendekat, ketiga preman itu justru merangkak mundur ketakutan. Mereka langsung bersujud di atas tanah pasar yang becek.

.

"Ngapuro, Gus! Ngapuro! Kulo mboten ngerti nek jenengan niku 'Wong Wingit'! (Ampun, Gus! Ampun! Saya tidak tahu kalau Anda itu 'Orang Keramat'!)" teriak mereka gemetar.

.

Si bos preman buru-buru mengeluarkan uang hasil palakannya tadi. "Niki Gus... mbeto dhuwit niki nggo sangu! (Ini Gus... bawa uang ini buat bekal!)"

.

Arjuna menggeleng pelan, tangannya menolak dengan halus. "Mboten, Mas. Dhuwit niku balekne neng pedagang-pedagang mau. Jatah kulo dudu dhuwit, nanging dhuwit niku dudu nggon kulo. (Tidak, Mas. Uang itu kembalikan ke pedagang-pedagang tadi. Jatah saya bukan uang, dan uang itu bukan milik saya.)"

.

Arjuna kemudian mengambil sebatang rokok kretek yang tiba-tiba saja muncul di saku sarungnya secara gaib. "Nek kowe pengen slamet, lerenono malak wong cilik. Dosamu wis mumpuk koyo gunung. (Kalau kamu ingin selamat, berhentilah memalak orang kecil. Dosamu sudah menumpuk seperti gunung.)"

.

Setelah berkata begitu, Arjuna melanjutkan langkahnya. Anehnya, meskipun ia berjalan pelan, dalam sekejap sosoknya sudah menghilang di kejauhan, seolah-olah bumi yang ia injak bergeser dengan cepat (Ilmu Lipat Bumi).

.

Ketiga preman itu masih bersujud lama sekali. Mereka langsung membagikan kembali uang palakan tadi kepada para pedagang sambil menangis tobat.

.

Sementara itu, Arjuna mendongak menatap langit. Perjalanannya menuju makam Sunan Gunung Jati di Cirebon masih sangat jauh, tapi hatinya merasa sangat kaya. Ia sadar, tanpa uang sepeser pun, seluruh alam semesta justru tunduk melayaninya.

.

"Gusti Allah pancen sugih... (Allah memang kaya...)" gumam Arjuna sambil tersenyum

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!