NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Sejak saat itu, akses Sekar terhadap Sea semakin dipersempit, seolah keberadaannya benar-benar ingin dihapus dari kehidupan anaknya. Pesan-pesannya mulai diabaikan, panggilan teleponnya tidak lagi diangkat, bahkan alasan-alasan sederhana seperti “Sea lagi sibuk” atau “Sea sudah tidur” terdengar semakin sering dan semakin dibuat-buat.

Hingga suatu hari, kabar lain datang lebih dingin, lebih kejam, dan lebih menusuk dari yang sebelumnya. Sea dipindahkan sekolah. Tanpa pemberitahuan. Tanpa diskusi. Tanpa izin dari Sekar sebagai ibu kandungnya. Saat itulah sesuatu dalam diri Sekar yang selama ini beku akhirnya retak dengan cara yang paling keras.

Tangannya gemetar hebat saat membaca pesan itu, napasnya memburu, dan untuk pertama kalinya sejak perceraian, emosinya meledak tanpa bisa ditahan. Ia melempar ponselnya ke dinding, suara benturannya menggema di kamar yang sunyi, seolah menjadi satu-satunya saksi bahwa ia masih punya amarah, masih punya hak untuk merasa terluka.

Namun kemarahan itu tidak bertahan lama. Ia runtuh secepat ia muncul, digantikan oleh kehampaan yang jauh lebih dalam dan melelahkan. Sekar terduduk di lantai, punggungnya bersandar lemah pada dinding, matanya menatap kosong ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Ia lelah bukan hanya secara fisik, tapi secara emosional, secara mental, secara keseluruhan. Ia lelah harus terus kuat di saat dunia seolah terus mengambil sesuatu darinya tanpa henti. Ia lelah menjadi ibu yang tidak diizinkan hadir, menjadi manusia yang tidak diberi ruang untuk merasa. Hari-harinya setelah itu terasa seperti berjalan dalam kabut tebal semua samar, semua berat, semua sunyi.

Dalam kondisi itu, Sekar kembali ke ruang terapi, satu-satunya tempat di mana ia tidak harus berpura-pura baik-baik saja.

0Lita menyambutnya dengan tatapan tenang yang tidak menghakimi, memberi ruang bagi Sekar untuk sekadar duduk dan bernapas. Ketika Lita bertanya apakah ia marah, Sekar tidak langsung menjawab. Ia butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya ia rasakan, karena emosinya sendiri terasa asing baginya.

Pada akhirnya ia mengangguk pelan, tapi jawabannya tidak berhenti di situ. Ia juga mengaku lelah—lelah harus bertahan, lelah harus terlihat kuat, lelah harus terus berjalan meski tidak tahu lagi ke mana arah hidupnya.

Lita tidak membantah, tidak menyuruhnya untuk “lebih kuat”, justru sebaliknya, ia memberi izin pada Sekar untuk tidak selalu kuat, untuk menjadi manusia yang boleh hancur, asalkan tidak berhenti hidup.

Saran itu terdengar sederhana, bahkan hampir sepele: menulis. Tapi bagi Sekar, itu adalah sesuatu yang asing sekaligus menakutkan, karena berarti ia harus berhadapan langsung dengan semua perasaan yang selama ini ia tekan mati-matian.

Malam itu, dengan tangan yang masih terasa berat dan pikiran yang penuh sekaligus kosong, Sekar membuka laptopnya dan menatap layar putih yang terasa begitu luas dan sunyi. Ia tidak tahu harus mulai dari mana, tidak tahu apakah ia mampu menuangkan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia rasakan dengan utuh.

Namun setelah waktu yang terasa sangat lama, ia akhirnya mengetik satu kalimat, kalimat yang terasa seperti membuka luka yang selama ini ia tutup rapat: “Aku adalah seorang ibu yang masih hidup, tapi tidak diberi kesempatan untuk menjadi ibu.”

Kalimat itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak ia duga. Setelah satu kalimat, muncul kalimat berikutnya, lalu paragraf, lalu halaman demi halaman. Sekar menulis tanpa benar-benar memikirkan struktur atau keindahan bahasa, ia hanya menuangkan semuanya. Ia menulis tentang Sea, tentang pelukan yang hilang, tentang rumah yang bukan lagi miliknya, tentang pengkhianatan yang datang dari orang-orang terdekat, tentang rasa hampa yang membuatnya takut pada dirinya sendiri. Setiap kata terasa seperti menarik sesuatu keluar dari dalam dadanya, sesuatu yang selama ini membeku dan menyesakkan. Dan di tengah proses itu, perlahan sesuatu mulai berubah.

Awalnya hanya rasa sesak yang berbeda, lalu hangat yang asing di dada, hingga akhirnya—air mata. Satu tetes jatuh tanpa ia sadari, lalu diikuti oleh yang lain, hingga tak lagi bisa dibendung. Sekar menangis dalam diam di depan layar laptopnya, tubuhnya bergetar, tangannya sesekali menutup wajahnya, seolah tidak percaya bahwa ia akhirnya bisa merasakan ini lagi.

Tangisan itu bukan hanya tentang kesedihan, tapi juga tentang pelepasan—tentang semua yang selama ini ia tahan sendirian. Untuk pertama kalinya sejak hidupnya runtuh, Sekar tidak lagi merasa kosong sepenuhnya. Ia terluka, sangat terluka, tapi luka itu kini terasa nyata dan entah bagaimana, itu membuatnya merasa hidup kembali.

Di usia tiga puluhan, saat banyak orang merasa hidup mereka sudah mulai stabil, Sekar justru harus memulai dari nol. Ia kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, kehilangan perannya sebagai ibu dalam keseharian, bahkan hampir kehilangan dirinya sendiri.

Tapi dari reruntuhan itu, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Suaranya sendiri, yang selama ini tenggelam di balik peran-peran yang ia jalani. Menulis bukan hanya menjadi pelarian, tapi perlahan berubah menjadi jalan untuk bertahan, untuk memahami dirinya, dan untuk tetap terhubung dengan Sea meski terpisah jarak.

Ia mungkin belum tahu bagaimana cara membawa putrinya kembali. Ia mungkin masih harus menghadapi kenyataan pahit melihat kebahagiaan Aji dan Mila dari kejauhan. Tapi kini, Sekar tidak lagi sepenuhnya kosong. Di antara luka yang masih terbuka, mulai tumbuh sesuatu yang rapuh namun nyata. Dan selama harapan itu masih ada, Sekar tahu ia belum benar-benar kalah.

***

Sekar berjalan pelan menyusuri lorong mall yang terang dan ramai, namun dunia di sekitarnya terasa jauh dan teredam, seolah semua suara hanya menjadi gema samar di kepalanya. Tangannya menggenggam tas kecil, sementara matanya berhenti di sebuah etalase toko anak-anak yang dipenuhi warna-warna cerah.

Ia terdiam cukup lama di depan deretan tas kecil yang tergantung rapi, hingga akhirnya pandangannya jatuh pada satu tas berwarna pink lembut dengan gambar bunga kecil di sudutnya. Seketika ingatannya kembali pada suara Sea yang manja dan penuh harap, “Ibu, aku mau tas warna pink, ya…” Sekar menelan ludah, dadanya menghangat sekaligus perih. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil tas itu, mengusap permukaannya pelan, seolah sedang menyentuh pipi putrinya. “Ibu janji… kita bakal ketemu,” bisiknya lirih, lebih seperti janji untuk dirinya sendiri daripada untuk siapa pun.

Setelah membayar, Sekar keluar dari toko dengan langkah pelan, masih tenggelam dalam pikirannya tentang bagaimana cara bisa bertemu Sea tanpa harus bersembunyi seperti pencuri di kehidupan anaknya sendiri. Ia terlalu sibuk dengan isi kepalanya hingga hampir tidak menyadari seseorang berdiri di depannya.

“Sekar?” suara itu membuatnya tersentak. Ia mendongak dan mendapati Rendi berdiri dengan ekspresi terkejut sekaligus lega.

Rekan bisnisnya itu tampak sama seperti dulu, hanya saja kini ada gurat lelah di wajahnya. Sekar sempat kaku, lalu memaksakan senyum tipis.

Rendi dengan cepat mengajaknya makan siang, seolah tidak ingin melewatkan kesempatan bertemu setelah sekian lama.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!