Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Karang Hawu Berdarah
Deru ombak Pantai Selatan yang ganas mulai terdengar saat Della, Geri, dan Sasha memasuki wilayah Pelabuhan Ratu. Bau garam laut yang amis bercampur dengan aroma melati yang entah datang dari mana. Jam di dasbor Si Creamy menunjukkan pukul 23:45 nyaris tengah malam Jumat Kliwon.
"Del, beneran kita mau ke Karang Hawu sekarang? Itu tempat 'dalam' pisan, apalagi jam segini," bisik Sasha sambil merapatkan jaketnya. Matanya terus melirik ke arah pepohonan kelapa yang melambai kaku, seolah-olah ada tangan panjang yang mengintai dari atas sana.
Geri mematikan mesin motornya tepat di parkiran yang sepi. Hanya ada satu lampu merkuri yang berkedip-kedip, menerangi sesosok pria tua yang sedang duduk di atas beton pembatas.
"Itu... Mang Asep?" Geri menyipitkan mata.
Mang Asep, tukang parkir yang sering memberi kode pada Della di Sukabumi, kini duduk di sini dengan tatapan kosong menghadap ke laut lepas. Ia tidak menoleh saat mereka mendekat.
"Mang, kok bisa ada di sini?" tanya Della. Mata kirinya mulai berdenyut, warna peraknya muncul tipis-tipis di balik kornea.
"Anu mawi tos dugi, kedah ditampi... (Yang ditunggu sudah sampai, harus diterima...)" ucap Mang Asep tanpa ekspresi. Ia menyerahkan sebutir telur ayam kampung yang dibungkus kain hitam kepada Della. "Pecahkan di lubang karang yang paling dalam. Jangan menoleh kalau ada yang manggil pakai suara ibu kamu."
Sasha merinding hebat. "Kenapa harus suara nyokapnya Della, Mang?"
Mang Asep tidak menjawab. Ia perlahan berdiri, lalu berjalan menuju arah laut. Anehnya, kakinya tidak meninggalkan jejak di pasir, dan tubuhnya perlahan memudar menjadi kabut sebelum benar-benar ditelan ombak yang pecah di karang.
Della melangkah menuju area Karang Hawu yang tersohor angker. Geri dan Sasha mengikuti dari belakang dengan senter yang cahayanya mulai meredup, seolah energinya disedot oleh kekuatan di sekitar situ.
Sreeek... sreeek...
Suara sesuatu yang terseret terdengar di balik salah satu batu karang besar. Della mengarahkan matanya yang berwarna perak ke arah suara itu.
Di sana, ia melihat sesosok wanita dengan kebaya pengantin yang sudah robek-robek sedang merangkak di sela-sela karang tajam. Tangannya yang pucat memegang sebuah potongan jari manusia yang masih berdarah. Saat wanita itu menoleh, wajahnya adalah wajah Della, tapi dengan mata yang sudah dijahit kawat tembaga.
"Della... hayu mulang... (Della... ayo pulang...)"
"ITU APAAN, ANJIR!" teriak Geri sambil spontan mengayunkan kunci pipanya ke arah bayangan itu.
Duar!
Bayangan itu hilang bersamaan dengan deburan ombak yang menghantam karang, menyisakan bau anyir yang luar biasa menyengat di udara.
Della sampai di depan lubang karang yang dimaksud. Lubang itu gelap gulita, seperti mulut raksasa yang siap menelan apa saja. Di dalamnya, terdengar suara bisikan ribuan orang yang sedang menangis.
"Ger, Sha, tunggu di sini. Jaga Si Creamy. Jangan biarkan lampu motornya mati," perintah Della tegas.
Della masuk ke dalam celah karang yang sempit. Di dalam, dinding karangnya terasa basah dan lengket, bukan oleh air laut, tapi oleh cairan hitam seperti oli mesin. Di ujung gua, ia melihat sebuah singgasana karang tempat seorang wanita cantik duduk tenang sambil menyisir rambutnya yang panjangnya nyaris menutupi seluruh lantai gua.
Itu adalah Bibi Mei dalam wujud yang paling sempurna, namun sangat mematikan.
"Bawa telur éta, Della... pecahkeun di luhur batu ieu, lamun manéh hayang nyaho saha nu sabenerna tumbal aslina... (Bawa telur itu, Della... pecahkan di atas batu ini, kalau kamu mau tahu siapa sebenarnya tumbal aslinya...)"
Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang Bibi Mei, muncul sosok Buyut Tan yang matanya berdarah, memegang sebuah rantai motor yang melilit lehernya sendiri.
Della melangkah mendekati Bibi Mei yang masih asyik menyisir rambut panjangnya dengan sisir dari tulang ikan. Aroma melati yang tadi lembut, mendadak berubah menjadi bau anyir yang menusuk, seolah ada daging yang membusuk di sudut gua karang yang lembab ini.
"Bi... ini telurnya," suara Della bergetar. Ia memegang telur ayam kampung pemberian Mang Asep yang terasa panas di telapak tangannya.
Bibi Mei berhenti menyisir. Ia menoleh perlahan, lehernya bergerak krek... krek... seperti sendi yang sudah lama tidak digerakkan. Mata hitam pekatnya menatap dalam ke mata perak Della.
"Pecahkeun, Della. Tingali saha nu sabenerna nandatangan perjanjian éta... (Pecahkan, Della. Lihat siapa yang sebenarnya menandatangani perjanjian itu...)"
PRAAAK!
Della memecahkan telur itu di atas batu karang datar. Namun, yang keluar bukan kuning telur biasa, melainkan cairan merah kental seperti darah yang di dalamnya terdapat potongan lidah manusia yang masih berkedut.
Seketika, permukaan cairan itu memancarkan gambaran masa lalu. Della melihat bayangan hitam-putih di Pelabuhan Ratu tahun 80-an.
Di sana, bukan Buyut Tan yang sedang memegang sesajen, melainkan Papa Della, Koh Adnan, yang masih muda. Di sampingnya, Bibi Mei sedang menangis histeris sambil dirantai di samping sebuah mesin uap tua.
"Hampura, Mei... usaha urang kudu jalan... (Maaf, Mei... usaha kita harus jalan...)" suara Koh Adnan muda terdengar menggema dari dalam cairan telur itu.
Della terhenyak, Ternyata selama ini ayahnya membohonginya. Bukan Buyut Tan yang mengorbankan Bibi Mei, tapi ayahnya sendiri demi menyelamatkan warisan keluarga.
Tiba-tiba, dari bayangan di dinding gua, muncul sosok Pria Berbaju Pangsi yang tadi di Sukaraja. Kali ini, ia tidak membawa rantai, melainkan sebilah golok yang karatan.
"Geus nyaho? Ayeuna waktuna manéh ganti posisi Mei! (Sudah tahu? Sekarang waktunya kamu ganti posisi Mei!)"
Pria itu menebas ke arah Della.
Della reflek menghindar, namun ujung golok itu sempat merobek lengan jaket varsity-nya. Di saat yang sama, rambut Bibi Mei yang tadinya diam, mendadak bergerak seperti tentakel, melilit leher dan kaki Della.
"Geri! Sasha! Tolong!" teriak Della, tapi suaranya tertelan oleh suara ombak yang menghantam dinding gua dengan keras.
BRAAAKKK!
Geri muncul dari mulut gua, nafasnya tersengal-sengal. Ia melepaskan tembakan dari suar darurat (flare gun) yang entah ia dapat dari mana. Cahaya merah terang menerangi seisi goa, membuat sosok pria pangsi dan rambut Bibi Mei menjerit kesakitan karena terkena cahaya panas.
"Del! Ayo keluar! Si Creamy mulai ngeluarin api dari knalpotnya!" seru Geri sambil menarik tangan Della.
Sasha berdiri di luar gua, memegang senter dengan tangan gemetar. "Del, cepet! Itu di laut... ada ribuan tangan yang mau naik ke darat!"
Della menatap Bibi Mei untuk terakhir kalinya sebelum lari. Bibi Mei tidak marah, ia justru menangis darah, sambil membisikkan satu kata yang membuat jantung Della nyaris berhenti:
"Bapa manéh... anjeunna nuju nunggu di Karang Hawu bagian jero... (Bapak kamu... dia sedang menunggu di Karang Hawu bagian dalam...)"
Saat mereka sampai di parkiran, mereka melihat Koh Adnan sudah ada di sana, berdiri di samping Si Creamy. Namun, tubuh Koh Adnan tidak menapak di tanah. Ia berdiri dengan posisi kaku, dan di belakang punggungnya, terlihat sebuah mesin piston tua yang menempel di punggungnya menggunakan urat-urat daging.
"Papa...?" Della mundur perlahan.
Koh Adnan menoleh. Wajahnya sudah tidak memiliki kulit, hanya otot-otot merah yang berdenyut. "Della... bantu Papa... mesinnya... mesinnya haus..."