Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertandingan
Keesokan harinya, matahari bersinar terik menyinari seluruh penjuru Kadipaten Galungan. Suasana di alun-alun begitu meriah dan hiruk pikuk. Bendera-bendera berkibar, para penonton memadati setiap sudut tempat, dan sorak sorai terdengar tak henti-henti. Hari ini adalah hari penentuan juara umum lomba keprajuritan yang diadakan oleh Adipati Singo Barong.
Jaka melangkah dengan kudanya, Jaliteng, lomba kuda hanya beberapa orang saja yang ikut, bukan tak ada yang mau ikut, tetati kuda mereka tak sehebat yang sekarang ikut bertanding
Di dalam kediamannya Adipati Singa Barong, mengepalkan tinjunya saat melihat Jaka datang, ia telah menyuruh beberapa orang untuk mencuri kuda itu tetapi selalu gagal, di pertandingan ini ia juga sudah menyuap beberapa peserta agar menghabisi Jaka
Delapan Kuda berdiri gagah di belakang garis star, Jaliteng terlihat gagah dengan kulit hitamnya.
Melihat semua telah siap juri yang di beri kekuasaan memulai pertandingan segara berteriak
"MULAI!"
Hap!
Hap!
Jaliteng meringkik keras lalu melesat bagai anak panah lepas dari busurnya. Kuda-kuda lain tertinggal jauh di belakang. Namun, satu peserta seperti mengincar Jaka. Ia memacu kudanya mendekati sisi kiri Jaka,
Wush
Cletar
lalu dengan sengaja mengayunkan cambuknya ke arah kaki kuda Jaka, berniat membuat kuda itu meronta dan menjatuhkan penunggangnya.
Tap
wuuut
Braaak
Namun Jaka lebih cepat. Dengan gerakan luwes, ia menangkis cambuk itu dengan gagang cambuknya sendiri, lalu menendang dada peserta itu hingga ia hampir terlempar dari kudanya.
"Cari mati!" seru Jaka dingin.
Jaka mengira hanya lelaki itu saja yang mengincarnya, ternyata dia salah, saat di sebuah tikungan, dua kuda mendekat, dan menjepit Jaka dari dua sisi
"Haha! Turunlah kau dari sana!" teriak salah satu.
Jaka tersenyum miring.
"Kalau begitu lihat ini!" gumam Jaka dalam Hati
Jaka memegang leher kuda,
"Lompat, Liteng!"
Hiyaaaa!
Jaliteng melompat tinggi melampaui pagar pembatas dan mendarat di jalan depan, meninggalkan kedua penjahat itu ternganga. dan lupa mengendalika kuda mereka , keduanya saling bertabrakan dan jatuh
Jaka dengan Jalitengnya melesat terus mencapai garis finis
"Yeeee" kuda hitam menang
rakyat yang menonton bersorak senang
Sedangkan Adipati Singa Barong menatap Jaka dengan kesal, rupanya mereka yang ingin menjatuhkan Jaka orang suruhan Adipati Singo Barong
setelah Lomba balap kuda, kini mereka di haruskan memanah sasaran sambil berlari, beberapa orang mencoba terlebi dahulu namun semua gagal, kini tinggal Jaka yang terakhir, Jaka dengan kecepatan tinggi mulai bergerak, busur besinya di rentangkan saat ia melihat sasaran itu
Wush
Clap
anak panah yang di lepas Jaka melesat dan menembus sasaran dengan tepat
"Yeeeeee!"
Penonton bersorak gembira ada yang berhasil dengan tepat menembak sasaran
Adipati Singa Barong menjadi kesal, jika saja Jaka tidak menunggang kuda Jaliteng yang ia tahu milik Wira Bumi, ia pasti bersorak, kini ia hanya bisa bertaruh dengan menerima Jaka sebagai Panglima perang, namun ia juga akan mengawasi dengan ketat jika saja memang benar Jaka mata mata yang di kirim oleh Wira Bumi.
Saat Jaka berhasil mengenai sasaran dengan tepat, salah satu peserta yang ternyata mata-mata Adipati membidik punggung Jaka.
Sreeet!
Anak panah itu meluncur ke punggung Jaka
" Awaaaas!"
Penonton berteriak kaget. Namun Jaka seolah memiliki mata di belakang, ia membalikan badan dan menangkap anak panah itu dan dengan cepat melemparkan kembali
Ta
Syuuuut
Anak panah itu melesat dua kali lipat, karena di lepas dengan pengerahan tenaga dalamnya
Aaaaargh
Mata mata Singa barong itu menjerit dan tewas seketika
pnonton bersorak melihat itu yang mereka dukung tak sampai terkena serangan anak panah
Suasana semakin memanas. Panitia mengumumkan bahwa untuk menentukan juara umum, akan diadakan sistem gugur dengan Enam Putaran Pertandingan.
Pertandingan pertama dua pendekar tangguh bertanding. Pendekar satu menggunakan ilmu Cobra Mematuk, lawannya menggunakan ilmu Badai berputar. Pertarungan berlangsung sengit, namun akhirnya pendekar pengguna ilmu Badai Putar yang menang dan melaju ke putaran selanjutnya.
Giliran Jaka turun tangan. Lawannya adalah seorang pendekar bertubuh kekar yang terkenal dengan pukulan petirnya.
"Awas kau anak muda, aku akan menghancurkan tulang-tulangmu!" teriak lawan.
"Jangan banyak bicara, serang saja!" jawab Jaka santai.
Pertarungan dimulai. Lawan menyerang dengan ganas, namun Jaka mengeluarkan gaya Elang Hitam. Gerakannya luwes dan cepat.
Hiaaaaat
Wush!
Bugh!
Plak!
Hanya dalam belasan jurus, Jaka berhasil menotok titik vital lawan hingga ia lemas dan tak bisa melawan.
di pertarungan ke tiga, Kali ini mempertemukan ahli senjata cambuk dan ahli tombak. Pertarungan berlangsung alot, namun akhirnya ahli tombak yang berhasil menang dan lolos
Kembali Jaka bertanding. Lawan kali ini adalah juara dari daerah sebelah yang memiliki reputasi tak terkalahkan.
"Namaku Raga Gede! Bersiaplah kalah!" seru lawan.
"Mari kita lihat," jawab Jaka tenang.
Hiaaaat
Wush
syuuut
Lawan menyerang dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang sangat cepat dan kuat. Jaka awalnya hanya bertahan, menunjukkan keluwesan yang luar biasa. Melihat lawan mulai lelah, Jaka mulai menyerang balik.
Dang!
Bugh!
Braaak
" aku mengaku kalah" teriak lawan jaka saat Jaka hendak memukulnya
Lawan itu terpental mundur dan akhirnya mengakui kekalahan.
Ini adalah perebutan tempat terakhir di babak semifinal. Dua pendekar tersisa bertarung habis-habisan. Akhirnya, seorang pendekar tua yang ahli ilmu putih berhasil mengalahkan lawannya dan berhak maju ke final.
Akhirnya tibalah di pertandingan penentuan. Yang bertanding adalah Jaka melawan Pendekar Tua pemenang putaran kelima.
Penonton bersorak gegap gempita. Pendekar tua itu menatap Jaka dengan tatapan tajam. "Anak muda, kau memang hebat. Tapi menghadapiku, kau harus mengeluarkan seluruh kemampuanmu."
"Aku siap," jawab Jaka hormat.
Hiaaat
Pendekar tua itu ternyata sangat hebat, gerakannya halus namun mematikan, setiap serangan selalu membidik titik vital. Jaka benar-benar dituntut bermain serius. Mereka saling serang puluhan jurus. Debu beterbangan, suara benturan tangan dan kaki terdengar nyaring.
Plaak
wuuut
"Bagus! Sungguh anak muda yang berbakat!" seru pendekar tua itu sambil menyerang.
"Kau juga hebat ," balas Jaka.
Namun sehebat apapun lawannya, Jaka yang memiliki dasar ilmu kerajaan tetap berada di atas angin.
"Cukup! Terima kasih untuk ilmunya!" seru Jaka.
Jaka mengubah gaya, serangannya menjadi secepat kilat.
Wush!
Bugh!
Duar!
Dengan satu tendangan melingkar dan satu pukulan telak ke dada, Jaka berhasil menjatuhkan lawannya dengan sportif. Pendekar tua itu bangun lalu menepuk bahu Jaka.
"Bagus, kau memang hebat. aku mengakui kekalahanku" ucap Pendekar tua itu sambil tersenyum
" Hidup Jaka!"
Sorak sorai penonton mengguncang langit.
Adipati Singo Barong yang melihat Jaka menang keluar dari rumahnya, Wajahnya tampak senang melihat Jaka menang, namun di balik senyum itu tersimpan niat jahat yang sangat dalam. Ia berdiri dan mengangkat tangan meminta perhatian seluruh rakyat.
"Rakyat Galungan! Dengarkanlah!!" teriak Adipati Singo Barong dengan suara lantang yang bergema. "Lihatlah pemuda di hadapanku ini! Ia adalah juaranya! Sesuai janjiku, mulai saat ini ia akan kujadikan Panglima Perang tertinggi pasukan Galungan!"
" Yeee!"
hidup panglima Jaka!
Rakyat bersorak, namun sorakan itu segera terhenti saat Adipati melanjutkan ucapannya dengan nada yang berubah menjadi keras dan angkuh.
"Dan dengan kekuatan yang kita miliki ini! Saatnya kita melepaskan diri dari belenggu Kerajaan Wijaya Kesuma! Kita tidak mau lagi diperintah! Mulai hari ini, Kadipaten Galungan akan berdiri sendiri! Kita akan merdeka!!"
Ucapan itu membuat suasana menjadi hening sejenak, lalu gempar. Rakyat mulai merasa takut dan bingung.
Melihat waktu yang tepat sudah tiba, Jaka melangkah maju, menatap tajam ke arah Adipati Singo Barong.
"Jangan bermimpi! Kau tidak berhak memisahkan diri! Kau hanyalah pemimpin sementara yang lupa diri!" teriak Jaka lantang.
"Tangkap dia! Tangkap pemberontak ini!!" bentak Adipati Singo Barong panik.
Seketika itu juga, ratusan pengawal istana dan pasukan rahasia Adipati yang bersembunyi di antara penonton langsung mengeluarkan senjata dan menyerbu ke arah panggung.