NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Nasi Goreng

"Tuan tunggu sebentar... Ini untuk Tuan." Deana dari dalam dapur berlari mengejar Reno dengan menenteng tas bekal berwarna biru tua bermotif tiger itu.

Reno berhenti sesaat, ia pikir ada sesuatu yang tertinggal untuk ia bawa ke kantor, "Apa ini? Bekal? Yang benar saja." ucap Reno menatap bawaan yang dipegang Deana.

"I...iya, aku membuatkannya untuk Tuan makan di kantor. Dibawa ya? Please...." Deana menyerahkan tas bekal itu pada Reno.

Sebelum menolaknya, tiba-tiba suara kecil itu terdengar melengking dari belakang, siapa lagi jika bukan Lena.

"Yeayy Daddy lucu bawa itu seperti Len!" ucap Lena kegirangan.

Reno mengangguk, "Iya sayang." balasnya lembut lalu jongkok, menyamakan tingginya dengan Lena, mencium keningnya pelan dan mengelusnya.

"Yes!" Deana tersenyum senang dalam hati. Misinya berhasil, dan semoga saja Reno mencoba masakannya.

"Daddy berangkat dulu ya, Len hati-hati di rumah." Reno berpesan pada putrinya.

Tidak ada drama perpisahan seperti sebelum-sebelumnya, Lena tidak lagi merengek saat Reno berangkat bekerja.

Lena menuntun tangan Deana dan berjalan berasama sampai teras depan rumah. Terlihat supir pribadi Reno sedang membersihkan mobilnya dan memanasinya sampai Reno datang.

Sebelum menginjakkan pedal gas mobilnya, Reno menghela napasnya berat ketika ia menatap Lena dan Deana sedang melambaikan tangannya ke arahnya.

Tin!

Satu klakson Reno bunyikan sebelum benar-benar pergi meninggalkan halaman rumahnya.

***

Mobil hitam itu melaju mulus membelah jalanan pagi.

Di kursi kemudinya, Reno duduk dengan tubuh bersandar, satu tangan memijat pelipisnya pelan. Hari baru, pekerjaan menumpuk, dan... satu hal yang terus mengganggu pikirannya yaitu tas bekal biru tua bermotif tiger itu yang tergeletak di sampingnya.

Sangat tidak cocok dengan citranya, bahkan baru kali ini Reno membawa bekal seperti bocah TK. Reno melirik sekilas, lalu mendengus pelan.

"Kenapa sih perempuan itu selalu saja membuat peruntungan dengan Lena." gumam Reno sedikit memukul stirnya pelan.

Sesampainya di kantor, suasana langsung berubah menjadi lebih formal. Para karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat.

“Selamat pagi, Tuan Reno.”

“Pagi, Tuan.”

Reno hanya membalasnya dengan anggukan tipis, langkahnya tegas menuju ruangannya di lantai atas.

Tak lama kemudian, Jordi menyusul masuk ke dalam ruangan direktur utama sambil membawa beberapa berkas.

“Selamat pagi Tuan. Ini laporan yang kemarin” ucapan Jordi terhenti kala melihat sebuah tas bekal yang ditenteng oleh Tuannya.

Alis Jordi terangkat, “Eh... ini, apa ini Tuan....?” tanyanya, menahan senyum.

Reno yang sedang membuka laptop langsung mendelik, “Jangan mulai Jo, ini bukan kemauanku.” tegasnya lalu menegapkan tubuhnya.

Jordi terkekeh pelan. “Bukan begitu Tuan, saya hanya kaget dan bingung saja, karena Tuan biasanya tidak pernah membawa bekal ke kantor.” ralat Jordi menggelengkan kepalanya pelan.

Reno menghela napasnya yang menderu kesal, "Untukmu saja, Jo."

“Oh....” Jordi mendekat sedikit, “Dari... istri baru?” tanyanya mengulum senyum, mencoba menggoda Tuannya yang masih menjadi pengantin baru itu.

Reno hanya terdiam dan itu sudah menjadi jawabannya.

Jordi tersenyum tipis. “Wah ternyata Nyonya Dea baik dan pintar memasak juga ya Tuan....” pujinya.

“Ambil kalau kamu mau,” balas Reno cuek, tanpa menoleh, “Saya tidak akan memakannya."

Jordi langsung menatap tas itu lagi, “Serius Tuan?”

“Iya. Buang juga tidak apa-apa.” nada suara Reno terdengar dingin dan tidak peduli. Matanya hanya fokus menatap layar laptopnya yang menyala itu.

Jordi hanya bercanda saja, setelah ia menaruh berkasnya, ia langsung keluar tanpa membawa bekal buatan Deana itu. Jordi tahu, Tuannya itu hanya gengsi saja, pasti nanti kalau lapar juga dimakan. Jordi masih menghormatinya.

***

Karena pekerjaan menumpuk, Reno bahkan melupakan makan siangnya. Bunyi perutnya sudah terdengar meminta segera diisi.

Reno mendesah pelan, ia menggebrak pelan mejanya, sedikit frustasi karena terlalu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.

Reno menegakkan tubuhnya lalu meraup wajahnya kasar.

Mata Reno menatap pada tas bekal yang dibawakan oleh Deana, karena ia cukup penasaran, tangannya terulur ke depan untuk mengambilnya.

Perlahan, Reno membukanya. Ternyata Deana tidak membawakan makanan beratnya saja, tapi ada buah potong, yougurt, dan kentang goreng.

"Apa benar-benar dia yang menyiapkannya? Atau hanya akal-akalannya saja." gumam Reno pelan. Ia membuka kotak yang berisi nasi goreng itu.

Aromanya sangat sedap, Reno sampai ingin mencicipinya, "Ini menu yang sama dengan Lena." ucapnya menggeleng pelan.

Karena sudah lapar, Reno yang gengsi setengah mati itu tetap memakannya.

"Eum... Not bad." Reno menganggukkan kepalanya pelan merasakan rasa dari nasi gorengnya.

Satu suap... Dua suap... Sampai suapan terakhir. Nasi goreng itu habis tak tersisa.

"Enak." pujinya mengangguk lalu mengambil tisu dan membersihkan mulutnya yang sedikit berminyak.

Ceklek~

"Tuan." Jordi memasuki ruangan Reno tanpa permisi.

Jordi membawakan makan siang untuk Reno. Tapi yang dilihat Jordi, Tuannya sedang makan siang lebih dulu dengan bekal buatan istrinya itu.

"Jo." Reno tergelak melihat Jordi datang. Ia berusaha untuk cuek agar tidak terlalu malu.

Jordi tersenyum, "Tuan sudah makan siang? Ah ya...."

Reno membuang wajahnya ke samping, "Kamu terlalu lama membawa makan siangnya kemari, jadi... aku harus memakan bekalnya." tegasnya menyalahkan Jordi.

Jordi mengulum senyum, ia tahu jika diposisi ini, tuannya tidak ingin disalahkan dan ia mesti mengalah, "Yah... Padahal saya ingin mencobanya juga. Bagaimana rasanya Tuan? Apa masakan Nyonya Dea enak?"

Reno mengedikkan kedua bahunya acuh, "Pergilah, saya ingin sendiri." ucap Reno dengan datar.

Jordi menahan tawanya, ia mengangguk lalu keluar setelah menaruh makan siang untuk Reno di atas meja.

***

Sementara itu, di rumah, Deana sedang membantu para pelayan untuk membersihkan halaman belakang, pun dengan kolam renangnya yang sedang dikuras.

"Mbak, pasti seru ya kalau ada taman bunga di sini." ujar Deana pada pelayan yang sedang menemaninya di sana menyapu dedaunan kering itu.

"Iya Nyonya. Nyonya Ellen juga menyukainya, tapi karena sering bolak-balik luar negeri jadi Nyonya Ellen lelah dengan hobinya. Dulu... Di sini memang banyak tanaman bunga, tapi sudah dijual semuanya." jelas pelayan itu pada Deana.

Deana mengangguk, "Iya Mbak."

Deana lebih nyaman berkumpul dengan para pelayan daripada harus berhadapan dengan para keluarga rumahnya.

Lena sedang tidur siang, karena pagi tadi bangun pagi, jadi bocah kecil itu sudah mengantuk lagi.

Selesai dengan pekerjaannya, Deana mencuci tangan dan kakinya di bawah air keran lalu masuk ke dalam rumah.

"Astaga Tante, Kak Reno itu bagaimana sih? Wanita jelek seperti itu kok mau dinikahi?!" jerit seorang perempuan seksi kala melihat Deana dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Siapa lagi jika bukan Fiona.

Ya, hari ini Fiona bertamu ke rumah Tuan Samuel. Perempuan muda itu berpakaian mini dan seksi sekali, rambut panjang bergelombang berwarna coklat membuatnya semakin terlihat menawan.

"Tante juga tidak tahu, ah sudahlah! Ayo duduk sayang di depan. Deana, buatkan minuman untuk kita." ujar Nyonya Ellen menyeru.

Fiona menatap jijik pada Deana, ia berdecak pelan, "Ck, Fio pikir, Deana itu model internasional." ucapnya lalu memutar bola matanya malas.

Deana menghela napasnya berat, ia tidak menyangka bisa menatap jelas seorang Fiona yang terkenal sebagai selebgram itu, bahkan Fiona menjadikan dirinya sebagai saingannya? Sangat lucu.

Tanpa berkomentar panjang, Deana memasuki dapur dan membuatkan minuman untuk mereka berdua. Deana juga membuka kulkas dan mengambil beberapa kue untuk dihangatkan.

1
🇮🇩
tau hamil kabur aja nanti ya..
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!