Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Erian Yang Sudah Mencapai Level Pro
Suasana di lorong depan kamar Stefani terasa begitu mencekam, dingin, dan sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung Nadya yang berpacu kencang menahan nyeri di perutnya. Nadya masih berdiri mematung, tangannya yang gemetar masih menempel pada kenop pintu kayu yang terkunci rapat itu. Pikirannya kalut. Mengapa pintu kamar asistennya dikunci dari dalam? Dan di mana Erian? Kenapa suaminya tidak menjawab panggilannya di tengah malam buta seperti ini?
Tepat saat kecurigaan mulai merayap naik ke tenggorokannya, sebuah bayangan besar muncul dari arah belakang.
"Sayang.... kamu kok bangun?"
Suara berat dan maskulin itu memecah kesunyian. Nadya tersentak hebat, bahunya berjengit kaget saat merasakan sepasang tangan kekar memegang pundaknya dengan lembut namun posesif. Ia memutar tubuhnya dengan cepat dan menemukan Erian berdiri di sana. Suaminya tampak sedikit berantakan; rambutnya tidak serapi biasanya, dan napasnya agak pendek seolah ia baru saja melakukan aktivitas fisik yang cukup berat. Namun, sorot matanya yang masih menyisakan sisa-sisa kabut gairah itu mencoba terlihat setenang mungkin di bawah cahaya lampu koridor yang redup.
"Mas Erian...?" desis Nadya, napasnya tersengal karena terkejut. "Aku... aku cari kamu. Perutku sakit banget, Mas. Aku ke ruang kerja kamu nggak ada, ke dapur nggak ada. Terus aku dengar suara-suara dari kamar Stefani..."
Erian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dipaksakan untuk menutupi gemuruh di dadanya. "Aku tadi ke depan sebentar, Sayang. Cek gerbang, sepertinya aku lupa kunci tadi. Terus aku masuk lewat pintu utama. Kamu jangan berpikiran macam-macam, mungkin Stefani sedang mengigau atau lagi telepon keluarganya di kampung."
Erian menuntun Nadya kembali ke kamar utama, namun di balik ketenangan palsu itu, jantung Erian sebenarnya nyaris melompat keluar dari rusuknya. Ia baru saja melakukan sebuah aksi nekat yang mempertaruhkan segala harga dirinya.
Flashback: Pelarian Gila di Balik Pintu Terkunci
Hanya beberapa menit sebelum Erian muncul di belakang Nadya, suasana di dalam kamar Stefani adalah sebuah kegilaan murni. Di atas ranjang yang berantakan, Erian dan Stefani baru saja mencapai puncak pelepasan yang paling dahsyat. Erian dan Stefani saling menggigit tangan lawan mereka dengan sangat kuat, sebuah tindakan ekstrem untuk membungkam teriakan nikmat yang bisa saja menghancurkan hidup mereka dalam sekejap.
Saat itulah, suara ketukan pintu dan panggilan lirih Nadya terdengar.
"Mas Erian... apa kamu di dalam?"
Suara itu bagaikan sirine peringatan yang menghantam kesadaran Erian. Obat perangsang di tubuhnya seolah langsung luntur digantikan oleh adrenalin ketakutan yang dingin. Ia menatap Stefani yang masih tersengal-sengal di bawahnya dengan mata membelalak. Stefani pun tampak panik, ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya yang basah menunjukkan kengerian yang nyata jika pintu itu sampai didobrak.
Erian tahu, ia tidak punya waktu untuk memakai pakaiannya dengan benar. Dengan gerakan secepat kilat namun sangat senyap, ia menyambar celana dan kemejanya yang berserakan di lantai. Ia tidak sempat mengancingkan kemejanya, hanya menyampirkannya begitu saja.
Matanya menyapu seisi ruangan yang sempit itu. Keluar lewat pintu adalah bunuh diri; Nadya berdiri tepat di depannya. Satu-satunya jalan keluar adalah jendela kamar Stefani yang menghadap ke arah taman samping rumah.
Dengan otot-otot yang masih tegang setelah "pergulatan" hebat tadi, Erian memanjat bingkai jendela tanpa suara. Ia berbisik pada Stefani lewat isyarat mata agar tetap diam dan berpura-pura tidur. Erian melompat keluar, mendarat di atas rumput basah dengan posisi berguling untuk meredam suara benturan tubuhnya dengan tanah.
Dinginnya angin malam menyapu kulitnya yang masih panas membara. Erian berlari memutar menuju area depan rumah dengan kaki telanjang, menghindari lampu sensor gerak yang terpasang di garasi. Ia mencapai pintu utama rumah, mengambil kunci cadangan yang selalu ia simpan di bawah pot bunga, dan membukanya dengan tangan yang gemetar hebat.
Begitu berhasil masuk ke dalam rumah lewat pintu depan, ia mengatur napasnya yang memburu. Ia merapikan kemejanya secara kilat, mengancingkan beberapa bagian secara asal, dan mengusap keringat di dahinya. Dengan langkah kaki yang disenyapkan—nyaris seperti pencuri di rumahnya sendiri—Erian menyelinap melewati ruang tengah, melewati dapur, hingga akhirnya ia sampai di lorong tempat Nadya berdiri mematung di depan kamar Stefani.
Ia muncul dari arah belakang, seolah-olah ia baru saja kembali dari halaman depan, memberikan alibi yang paling masuk akal dalam kondisi genting tersebut.
Kembali ke masa sekarang, di dalam kamar utama, Erian membantu Nadya berbaring. Ia mengambilkan obat pereda nyeri dan segelas air hangat. Nadya menatap suaminya dengan tatapan penuh syukur, sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang sedang mengusap keningnya ini baru saja melakukan pengkhianatan paling kotor hanya beberapa meter dari tempatnya berada.
Namun, saat Erian menyerahkan gelas air itu, Nadya sempat mengernyitkan dahi. Ia melihat sesuatu di tangan kanan suaminya.
"Mas... tangan kamu kenapa?" tanya Nadya sambil memegang pergelangan tangan Erian.
Erian membeku. Di sana, di punggung tangannya, terdapat bekas gigitan manusia yang sangat jelas, memerah dan sedikit membiru, hasil dari gigitan Stefani saat mereka mencapai klimaks tadi.
"Oh, ini..." Erian mencoba menarik tangannya dengan tenang. "Tadi waktu aku cek gerbang, ada kucing liar yang berkelahi. Aku coba usir, eh malah tanganku digigit. Sakit juga ternyata."
Nadya hanya mengangguk lemas karena pengaruh rasa sakit di perutnya mulai berkurang setelah meminum obat. "Lain kali hati-hati, Mas. Kucing liar bisa bawa penyakit."
Erian hanya mengangguk pelan, sementara di dalam hatinya ia menarik napas lega yang luar biasa panjang. Ia mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka. Di tengah keheningan malam, Erian menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang berkecamuk. Ia selamat malam ini, tapi ia tahu, bekas gigitan di tangannya dan bayangan tubuh Stefani di bawahnya tidak akan pernah bisa dihapus dari ingatannya.
Sementara itu, di kamar sebelah, Stefani duduk di pinggir ranjangnya yang berantakan. Ia menyentuh bibirnya yang bengkak dan menatap jendela yang masih terbuka. Ia tersenyum sinis. Erian mungkin bisa kabur dari Nadya malam ini, tapi dia tidak akan pernah bisa kabur dari jeratan yang sudah Stefani pasang.
pdhl Nadya blm punya anak masa gk bisa muasin suami nya terlalu lempeng ya bosen lah.
sdng Nadya wanita gk tau gimana nyenengin suami pdhl blm punya anak. sakit perut saja tinggal minum obat ndadak kluar Kamar oalah manja nya.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭