NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:73.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 32

Hampir tengah malam mereka sampai di rumah, perjalanan yang disertai hujan, membuat Rizal memelankan laju kendaraannya. Meski mobilnya memang dikhususkan untuk jalanan merah yang ekstrim, ia memilih berhati-hati ketimbang kembali mendapatkan pukulan dan ocehan seperti pagi tadi.

Rizal baru saja selesai membersihkan diri, berniat menuju kamar Nadya, mengantarkan barang pesanan yang dia ambil dari tempat Rizka. Ada gurat gelisah yang tak bisa ia sembunyikan begitu laki-laki itu mengetuk pintu kamar Nadya.

Tok … Tok … Tok …

“Nad, boleh Abang masuk?” tanyanya.

Terdengar deheman pelan dari Nadya sebelum Rizal mendorong pintu perlahan. “Langsung tidur lagi dia?” lanjutnya saat melihat Adam tidur miring sambil memeluk guling berbentuk kambing.

Nadya mengangguk tanpa menoleh sambil memilih baju ganti di dalam lemari.

Rizal lalu meletakkan barang yang dibawanya di meja, kemudian duduk dengan santai di kursi yang ada di dekat jendela.

“Ini barang yang dari Rizka, Nad,” ujarnya, matanya terus menatap Nadya yang masih sibuk di depan lemari. “Nyariin apa, sih, dari tadi kaya sibuk bener?” imbuh Rizal saat Nadya masih fokus di beberapa tumpukan baju yang ada di lemarinya.

“Nyari baju yang nyaman buat dipake,” sahut Nadya asal.

“Pake daster aja, nyaman, enak juga,” celetuk Rizal.

Nadya menoleh cepat, sudut bibirnya terangkat sinis. “Ini orang makin kesini makin-makin, ya? tatapannya sedikit menajam. “Ngapain lagi duduk di situ? Udah sana keluar saya mau ganti baju!”

Rizal menunduk sejenak, tarikan napasnya terdengar berat seolah apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang siap menghancurkan.

“Nad, Abang tadi di kantor pusat ketemu Pak Ilyas, beliau manggil Abang ke ruangannya,” ucapnya kemudian.

Nadya sedikit tersentak, namun buru-buru menetralkan pikirannya, ia mengulum bibirnya seraya berujar yang jelas dibuat—santai. “Ngapain? Ngomongin lahan baru?”

“Dia tahu kamu ada disini,” sahut Rizal, cepat.

Nadya tertegun singkat, matanya berkedip pelan, bibirnya terkatup rapat.

Melihat perubahan air muka Nadya, Rizal berjalan menghampiri, namun langkah laki-laki itu terhenti oleh suara datar Nadya.

“Bilang apa orang tua itu ke Abang?”

Rizal dengan lembut meraih pundak Nadya, kemudian membawanya untuk duduk di kursi, sedang dia berdiri di samping jendela.

Sore tadi di pabrik pusat

Rizal baru saja keluar dari ruang rapat saat salah seorang rekannya menghampiri.

“Pak Rizal wijaya, Anda di tunggu Pak Ilyas di ruangannya,” ucap rekan kerja yang merupakan mandor di perkebunan cabang lain. “Kayanya melihat pendapatan lahan yang Anda kelola, naik gaji ini atau malah naik jabatan ke kantor pusat,” imbuh sang rekan sambil menepuk pelan pundak Rizal.

Rizal tersenyum simpul seraya menunduk pelan. “Mudah-mudahan, Pak. Lahan yang Bapak kelola juga mengalami peningkatan sepertinya, aroma-aroma bakal punya saingan ini saya.”

Si rekan Mandor berdecak kecil. “Ck, jauhlah kalau di banding lahan Pak Rizal, punya saya mah recehan.” Tatapannya menyapu sekitar—seolah mencari sesuatu. “Ah, itu … ya sudah Pak Rizal, supir saya sudah datang, saya permisi dulu. Kalau bener dapat promosi jabatan jangan lupa makan-makannya,” lanjut Mandor bergaya necis itu sambil berlalu pergi.

“Siap Pak … siap,” balas Rizal, ramah.

Rizal menatap sejenak punggung rekan sesama mandornya, lalu berbalik menuju lantai dua—tempat ruangan Pak Ilyas Zulkarnaen berada.

Estate manager yang cukup terkenal di pusat karena kecemerlangan kinerjanya itu sedikit ragu begitu sampai di depan pintu ruangan sang bos. Ia menghela napas dalam, matanya terpejam sesaat, lalu dengan mantap mengetuk pintu bercorak hitam pekat di depannya.

Aroma alkohol dan tembakau menyeruak begitu pintu dibuka oleh seorang laki-laki berbadan kekar dengan tato di tangan kiri—Rozali si preman yang mengejar Nadya.

“Selamat datang, Pak Rizal,” sambut Ilyas Zulkarnaen begitu melihat badan Rizal muncul dari balik pintu.

Ia kemudian mengulurkan tangan—mengajak Rizal bersalaman, lalu mempersilahkan laki-laki itu duduk di seberangnya.

Rizal menunduk sopan seraya turut duduk di sofa coklat tua berbahan kulit sintetis. Tatapan laki-laki itu sempat terpaku sejenak pada photo keluarga yang tergantung di dinding sebelah kanan ruangan. Tapi, buru-buru beralih ke arah Pak Ilyas begitu laki-laki paruh baya itu kembali membuka suara.

“Photo anak istri saya itu, ya … untuk pajanganlah biar inget terus kalo sudah punya keluarga,” kelakar Ilyas, ia lalu mengeluarkan sebungkus rokok filter, lalu melempar asal ke meja kaca di depannya. “Rokok, Pak, biar enak kita ngobrolnya.” lanjutnya.

Dari arah belakang, Rozali datang membawa sebotol minuman berwarna ungu dengan gambar orang tua. Tanpa menunggu perintah, pria dengan tato naga itu menuangkan minuman ke gelas yang sudah tersedia di atas meja.

“Ngobrol itu paling enak sambil minum sama ngudut, iya nggak, Bos?” ujarnya sambil tersenyum miring ke arah Ilyas, lalu turut duduk di kursi dengan bertopang kaki.

Ilyas menghisap dalam rokok yang baru disulutnya, lalu menghembuskan asapnya perlahan seraya mengambil gelas minuman yang sudah disiapkan Rozali.

“Silahkan diminum, Pak, santai saja, saya cuma pengen ngobrol-ngobrol biasa, kok.” Nada bicara Ilyas terdengar Ringan, namun jelas ada maksud berbeda di dalamnya.

“Maaf saya tidak minum dan merokok, Pak.” Tolak Rizal, senyumnya masih terjaga meski pikirannya sudah dipenuhi praduga.

Seringai tipis terbit dari wajah Ilyas, tatapannya tenang. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai ke kursi, satu tangannya bersedekap di dada.

“Sampean tau, Pak Rizal, kenapa saya panggil keruangan saya?” tanyanya, kemudian.

“Maaf, apakah ada kesalahan di laporan mengenai lahan yang berada di bawah tanggung jawab saya, Pak,” jawab Rizal, berusaha tetap terlihat profesional sebagai bawahan.

Ilyas terbahak singkat, lalu menegakkan punggungnya. “Rizal.” Tatapannya tajam. “Saya ini bukan orang yang suka basa-basi, kamu pasti tau maksud saya apa?!”

Rizal tetap menunduk hormat, tutur katanya halus, namun ada kehati-hatian di setiap jeda. “Maaf, Pak, saya benar-be—”

“Nadya.” sergah Ilyas. “Saya tau kamu yang menyembunyikan dia.”

Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, satu tangannya menekankan ujung rokoknya di asbak kristal.

“Suruh anak itu pulang baik-baik atau saya akan menjemputnya paksa. Kamu pasti tau ‘kan apa hukumnya melarikan anak gadis orang?” Ancam Ilyas.

“Anda sepertinya salah paham, Pak. Saya tidak pernah membawa kabur Nadya, kami hanya sedang bekerja sama,” sahut Rizal.

“Kerja sama apa yang dilakukan laki-laki yang baru ditinggal mati istrinya dengan anak perawan orang?” balas Ilyas, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kami ini orang Sumatera, Rizal, kami tidak pernah main-main kalau sudah menyangkut harga diri.”

“Tapi—”

“Hehh, Bengak!” Rozali menyergah sambil menggebrak meja. “Kamu itu nggak usah belagak berkilah, saya inget betul muka tololll kamu waktu bawa kabur Nadya dari parkiran!” imbuhnya berlagak sok seram.

Ilyas meneguk habis minuman di gelasnya, tatapannya menusuk ke arah Rizal. “Saya kasih waktu kamu satu minggu. Antar Nadya pulang atau saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum.”

Rizal merapikan jam tangannya—bersikap tenang, nada suaranya datar. “Saya akan menyampaikan pesan Anda kepada Nadya, Pak. Tapi, saya tidak menjanjikan dia mau pulang atau tidak. Dan sekali lagi saya tekankan, saya tidak pernah membawa kabur anak Bapak.”

Ia kemudian beranjak dari duduknya, menatap tajam ke arah Rozali lalu berpindah pada Ilyas yang tersenyum miring ke arahnya.

“Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin, Bapak bicarakan, saya permisi,” ucapnya sambil menunduk sopan, lalu berjalan keluar dari ruangan itu.

“Bos sawit satu itu punya nyali juga rupanya,” cibir Ilyas sepeninggal Rizal dari ruangannya.

***

Rizal mengakhiri ceritanya dengan helaan napas berat, ia lalu menggeser langkahnya—menghadap ke arah Nadya yang duduk sambil memeluk lututnya.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Nad?” tanyanya kemudian.

Nadya bergeming, tatapannya tertumbuk pada lantai keramik yang mendingin, tangannya mencengkram erat kakinya yang terlipat.

“Nad? Cerita sama Abang siapa tau—”

“Papi itu jahat. Papi sudah menghancurkan hidup Mami, hidup saya, Papi menghancurkan semua!” sergah Nadya.

“Abang tau, Nad. Tapi, apa permasalahannya? Kalau kamu selalu bilang Papimu jahat, bagaimana Abang bisa bantu menyelesaikan ini?” sahut Rizal.

“Papi itu jahat, Bang! Kenapa Abang nggak percaya sama Nadya?!” teriak Nadya, suaranya goyah, napasnya berubah tak beraturan.

Gadis bertato semicolon itu kemudian menunduk dalam, tangannya memegang kepalanya erat, badanya bergetar hebat—seolah ingin mengusir bayangan kelam yang kembali melintas di kepalanya.

Melihat itu, Rizal buru-buru menghampiri Nadya, menariknya ke dalam pelukannya, satu tangannya mengusap lembut kepala gadis itu. Pikirannya dipenuhi ucapan Rizka.

‘Gue titip temen gue, Bos. Jangan di apa-apain, apalagi sampe di sakitin, gue bejek loe. Nadya itu emang galak, kasar, tapi hatinya hello kitty, nggak bisa dibentak apalagi ditekan. Kalo nekennya di bawah badan loe sih lain cerita.’

Rizal mengeratkan pelukannya sambil terus menenangkan Nadya. “Maafin Abang, Nad. Abang nggak bermaksud buat kamu kaya gini, Nadya.”

Suasana sunyi sejenak, hanya lenguhan kecil Adam dan napas Nadya yang masih memburu—menahan emosi yang dipendamnya.

Rizal memejamkan matanya pelan, batinnya berucap lirih.

‘Abang akan cari tau sendiri Nad, dan memastikan kamu bahagia di samping Abang.’

Bersambung

1400 kata ... Menyala jari saya. Kasih like, komen, sama bintang 5 , yokk biar semangat OTW 1500 kata. 😖

1
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Bu Sartini mau mati ?
kapan Bu pengennya Bu , nanti aku bersiap dlu
buat datang ke pemakaman
🤣🤣
しょへい
Nopel Kereeen 👍🏾👍🏾👍🏾

Urip ceritane, penak diwoco walaupun kudu nambahi "yang" ng akeh kalimat 😅 kudune kalimat majemuk bertingkat, gandeng ra ono "yang" dadi kalimat majemuk awur awuran 😂 soritusaiit thor, mirip othor sebelah sg padangan opo medanan kae loh kalimate podo ilang "yang"e, nanging yo tetep apik ceritane ramasalah lah moco karo nambahi dewe 😆

terus berkarya thor ✊🏾 nasibmu koyo hayisa aaron, nopele apik apik tapi sepii like sepii komen, sayang sungguh sayang..
eee.. nek deweke latihan nulis ng sebelah, ng kene wis apik tulisane..
nak awakmu, aku pernah moco sulastri urung seluwes nadya iki, ora popo, berproses, mugo mugo bakal sukses ✊🏾
Anna: Kak, matur suwun sanget ulasannya. Betul kulo ancen sedikit mencontoh tulisan beliau, tapi menawi dereng saget rapi, tasek butuh sinau meleh. Insyaallah next karya kulo perbaik pelan-pelan sinambi pados seng paling nyaman dan khas damel karya kulo. Sepindah maleh matur suwun, lepat ee lak bahasa tasek amburadul. 🫶
total 1 replies
Samsiah Yuliana
lanjut lagi Thor,,,
double up Thor 🥰🥰🥰🙏
Anna: sedang di usahakan, Kak.🫶
total 1 replies
しょへい
witing ~ wiwiting permulaan 😭 weteng ki perut 🤣
Anna: Makasih koreksinya, Kak. Harap maklum jari kaum jompo 😭😭😩
total 1 replies
Ummi Sulastri Berliana Tobing
y ampun
sudah pun kek gitu penyakit nya masih aja nyalahin orang 😡😡🙂‍↔️🙂‍↔️
Anna: pengen disadarin malaikat kayaknya.
total 1 replies
Yessi Kalila
memang harusnya dimatikan aja tuh Bu Sartini... 😄
Anna: disiksa dikit dulu, sapa tau mau tobat.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
heeyy , mulut nenek Sartini bener yaa
bukan nya taubat masih aja nyalahin nadya , yg doa in jelek yaa netizen buuu
gimna siihhh
buruan lah nyusul Sukma
biar bisa curhat 🤣
Anna: Adu nasib 😭
total 1 replies
Linceu thea
ya bu sur masih aja jelek itu pemikiran
Anna: terlanjur mendarah daging
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor. semangat
Anna: makasih, Kak.🫶
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
nahh , Sartini Nunggu di jemput malaikat mautt
Anna: jangan buru-buru, biar sadar dulu. 🫢
total 1 replies
Samsiah Yuliana
yuk lanjut lagi cerita Thor 🙏🙏🙏🙏🥰
Anna: makasih, Kak. 🫶
total 1 replies
Vera Dewiaryani
up up
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Drama Mulu Sartini
cepet lahh nyusul anak mu Sukma
biar tak kau ungkit jasa nya waktu melahirkan Adam
Anna: Di siksa dulu sebentar. 🤭
total 1 replies
Samsiah Yuliana
lanjut Thor,,,
ngapa pulak itu Bu Sartini 😌
Anna: Terkejod dengan fakta yang ada 😭
total 1 replies
Yessi Kalila
kenapa pula yu Sar... 😄
Anna: tak siap menerima kenyataan. 😭
total 1 replies
Vera Dewiaryani
ko blm ada up nya lagi☹️
Anna: barusan up, Kak. Maaf baru kembali sehat. 🙏
total 1 replies
Yessi Kalila
ehh.... umur panjang deh si Sartini... baru aja diomongin langsung nongol dia...😄😄😄
Anna: sejenis jaelangkung dia 🤭
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
di gass poll sampee megap megap
kiraa² jooss kagaa pasukan abangg rizall
Linceu thea
hajar terus bang rijal 🤣🤣
Linceu thea
lanjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!