Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Selesai ngomongnya?
Saat Alea akan menjawab tiba-tiba saja Rafaell datang menghampiri Ara dan Damian dengan langkah cepat.
“Arabella, lo nggak apa-apa?” tanya Rafaell dengan nada panik, napasnya masih sedikit tersengal seolah baru saja berlari.
Damian dan Ara langsung menoleh bersamaan ke arahnya.
“Gue nggak apa-apa kok,” jawab Ara singkat.
Tatapannya datar seperti biasa, seolah semua kekacauan barusan bukan apa-apa baginya.
Rafaell menghela napas panjang. Dia meraup wajahnya dengan kasar, lalu berkacak pinggang.
“Hah… syukurlah lo baik-baik saja,” katanya, masih mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Beberapa detik dia diam, matanya sempat menyapu kondisi sekitar yang berantakan, lalu kembali tertuju pada Ara.
Rafaell berjalan mendekat, kemudian duduk di samping Ara tanpa banyak bicara.
“Ra,” panggilnya lagi, kali ini nadanya lebih serius.
“Hmm?” Ara menoleh sedikit, menaikkan sebelah alisnya.
“Ayo, kita balik sekarang.”
Ara terdiam sejenak.
Ada sesuatu dari cara Rafaell bicara yang terasa berbeda. Tidak seperti biasanya.
Namun, dia tetap menanggapinya dengan tenang.
“Ada apa sebenarnya?” tanyanya.
Rafaell menghela napas pelan, seolah ragu untuk menjawab.
“Keluarga lo lagi buat drama di rumah dan kalau lo nggak segera balik, lo bakal—”
“Diusir,” potong Ara datar.
Seolah itu bukan hal baru.
Seolah dia sudah tahu dan sudah siap dengan kemungkinan itu.
Suasana langsung mendadak sunyi.Tatapan Rafaell langsung berubah, sedikit terkejut karena Ara bisa menebaknya dengan begitu mudah.
" Ra Lo...."
Sementara di sisi lain Damian yang sejak tadi diam, kini menyipitkan mata menatap ke arah Ara, lebih dalam dari sebelumnya.
“Lea bagaimana lo bisa hidup di tubuh gadis yang malang ini,” gumam Damian dalam hati.
Tatapannya tidak lepas dari sosok Ara di depannya. Ada sesuatu yang mengusik—perasaan yang tidak bisa dia jelaskan. Antara ragu, terkejut dan juga iba.
Damian menghela napas pelan.
Terlepas dari kenyataan bahwa jiwa di dalam tubuh itu adalah Alea, tetap saja yang dia lihat sekarang adalah Ara—gadis yang terlihat rapuh, tapi entah kenapa selalu berdiri di tengah kekacauan.
“Ayo, gue anter lo pulang sekarang,” ucap Damian, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, sembari menarik tangan Ara tanpa memberi banyak pilihan.
“Hmm,” jawab Ara singkat.
Ara lalu menoleh, menatap ke arah Rafaell yang masih berdiri tidak jauh dari sana.
“Rafaell, sisanya gue serahin sama lo,” kata Ara, tangannya terangkat menepuk pundak pria itu dengan santai, seolah semua yang baru saja terjadi bukan hal besar.
Rafaell mengangguk paham.
“Oke, siap,” pungkasnya, sembari mengacungkan jempol.
Di sana, Febby, Derren, dan yang lainnya masih sibuk membereskan markas yang porak-poranda setelah peperangan tadi. Suasana masih dipenuhi sisa ketegangan, tapi perlahan mulai mereda.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Damian langsung membawa Ara pergi.
Keduanya meninggalkan markas itu bersama, berjalan menuju mobil, lalu melaju ke arah Mansion Kalandra—tempat di mana semuanya mungkin akan menjadi jauh lebih rumit.
Di dalam mobil, suasana begitu hening dan terasa canggung.
Arabella terdiam tanpa banyak tingkah. Tatapannya lurus ke depan, kosong, seolah pikirannya sedang tidak benar-benar berada di sana.
Sedangkan Damian, dia menyetir dengan santai. Namun sesekali, matanya melirik ke arah Ara, mengamati setiap gerak-geriknya tanpa terlewat sedikit pun.
“Lo berubah ya, Ra,” ucap Damian, mencoba memecah keheningan di antara mereka.
“Semua orang bisa berubah,” jawab Ara singkat, padat, dan jelas.
Tidak ada nada penjelasan. ataupun juga pembelaan. Damian tersenyum tipis, matanya kembali fokus ke jalan di depan.
Beberapa detik hening, diantara mereka berdua hanya ada helaan nafas dalam lalu—
“Ra, sebenarnya lo itu siapa? Arabella atau Alea?” tanya Damian to the point.
Deg.
Tubuh Ara langsung menegang.
Jari-jarinya yang semula santai di pangkuan, kini sedikit mengepal. Namun wajahnya tetap datar, seolah pertanyaan itu tidak berarti apa-apa.
“Menurut lo?” tanya Ara balik, menoleh menatap Damian dengan tatapan dalam.
Lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Mobil berhenti di tengah jalan.
Damian menoleh kali ini, tatapannya benar-benar mengunci Ara lebih dalam dan tajam namun penuh selidik dan tidak main-main. Di saat itu juga, Damian menyadari sesuatu.
Tatapan di mata Ara begitu sangat familiar. Tatapan dinginnya yang tajam begitu sangat menekan.Persis seperti saat Alea saat dia mengintrogasinya dulu.
“Jadi, memang benar lo?” tanya Damian pelan, tapi penuh tekanan.
Ara tidak langsung menjawab.Dia hanya menatap Damian beberapa detik, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
“Gue nggak bisa kasih lo penjelasan,” ucapnya tenang.
“Karena apa yang lo lihat, itu udah jadi jawabannya.”
Suasana kembali hening. Namun kali ini, heningnya terasa lebih berat dan lebih menekan.
Damian menghela napas pelan.Tangannya kembali menggenggam setir, matanya menatap lurus ke depan.
“Oke, gue paham,” ucapnya akhirnya.
“Meskipun jujur aja, gue masih bingung dan nggak ngerti sama semua ini.”
Ara tidak menjawab.Di dalam mobil itu, hanya ada suara napas dan detak jantung yang terasa semakin jelas.
Damian memang sudah yakin.
Bahwa sosok di sampingnya adalah Alea.
Namun tetap saja yang dia lihat sekarang adalah tubuh Arabella adik angkatnya sendiri.Dan itu membuat semuanya terasa jauh lebih rumit dari sebelumnya.
“Apakah memang benar transmigrasi jiwa itu ada?”
Damian menggelengkan kepalanya pelan. Sulit baginya untuk mempercayai semua ini. Tapi jika bukan itu lalu bagaimana dengan Alea dan Ara?
Napasnya terasa sedikit berat.Namun pikirannya belum sempat menemukan jawaban.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di Mansion Kalandra.Ara langsung membuka pintu mobil dan turun tanpa banyak bicara. Langkahnya tenang, seolah tidak ada beban apa pun.
Namun sebelum masuk, dia sempat menoleh ke arah Damian.
“Thanks udah nganterin gue,” ucapnya singkat.
Damian hanya menatapnya beberapa detik, lalu menganggukkan kepala pelan.
Tatapannya masih sama
Penuh tanda tanya.Ara tidak menunggu lama.Dia langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam mansion tanpa menoleh lagi.
Pintu terbuka dengan lebar dan begitu Ara menginjakkan kaki di dalam semua pasang mata langsung tertuju padanya.
Dengan menatapnya tajam dan penuh amarah seolah mereka benar-benar ingin menelannya hidup-hidup.
“Arabella! Apa yang kamu lakukan di luar sana, sialan?!” bentak Andrian, matanya melotot tajam, merah menahan emosi.
Suasana ruang tamu langsung memanas.Kenzo dan Kenzi duduk di kursi dengan posisi bersidekap dada. Tatapan mereka dingin, menilai dan memperhatian Ara. Vania di samping mereka juga tidak kalah tajam.
Sementara Helena—Wajahnya penuh kekecewaan yang berubah jadi amarah.
“Mama nggak nyangka kamu bisa seliar dan sebebas itu. Dasar anak sialan!” timpal Helena, suaranya meninggi.
Ara terdiam.Dia berdiri di sana, tanpa ekspresi, hanya mendengarkan ocehan mereka yang terasa begitu tidak penting.
Matanya bahkan tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Tepat saat itu beberapa lembar foto dilempar begitu saja ke arahnya.
“Lihat apa yang kamu lakukan di luar sana, bajingan!” suara Andrian kembali terdengar.
Foto-foto itu jatuh berserakan di lantai.Ara menurunkan pandangannya.Dengan tenang, dia mengambil salah satunya.
Menatapnya dengan seksama dan
terdiam beberapa detik.
Lalu kemudian senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Senyum yang terlihat sangat dingin dan meremehkan.
“Dasar bodoh.” gumam Ara pelan.
Namun cukup jelas untuk terdengar. Dan itu langsung menyulut api.
“Apa yang kamu bilang?!” tunjuk Helena dengan tangan gemetar, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.
“Anda berdua bahkan nggak bisa bedain mana yang asli dan mana yang editan.” lanjut Ara santai, masih menatap foto itu.
Nada suaranya datar tapi menusuk.Helena dan Andrian semakin emosi. Kata-kata kasar terus keluar tanpa henti, menghujani Ara tanpa jeda.
Namun Ara tetap diam dia tidak membalas dan terpancing sampai akhirnya di menghela napas pelan.
Mengangkat kepalanya menatap mereka satu per satu. Tatapannya langsung berubah total menjadi dingin dan tajam bahkan aura yang dia keluarkan begitu sangat menekan.
Aura di sekelilingnya terasa berbeda menekan siapa saja yang berhadapan dengannya.
“Sudah selesai ngomongnya?” ucap Ara pelan.
Suasana yang tadinya ramai mendadak menjadi sunyi seketika.
“Sekarang… giliran gue.”
kenapa ya mereka bisa begitu sama Ara??
lanjut baca 😍😍😍