NovelToon NovelToon
Bakti Suami Derita Istri

Bakti Suami Derita Istri

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Romansa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:168.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."

Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.

​Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.

​Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakti Suami Derita Istri

​Kediaman Mewah Jeng Rini, pukul 17.00 WIB.

​Semburat jingga di langit Jakarta sore itu tidak mampu menghangatkan suasana di dalam ruang tengah rumah megah milik Rini. Jika pagi tadi rumah ini dipenuhi oleh aura kesombongan dan deru mobil BMW baru Amel, kini yang tersisa hanyalah kesunyian yang mencekam.

​Mama Ratna duduk tersandar di sofa beludru impor yang harganya setara dengan biaya hidup Disa selama setahun. Namun, kemewahan itu tidak membuatnya tenang. Selembar handuk kecil berisi es batu menempel di dahinya yang berkerut. Berkali-kali ia mendesah panjang, merutuki nasibnya.

​"Abdi, gimana ini? Rumah mewah Mama, Di... Masak mau disita sama pengadilan?" tangis Mama Ratna akhirnya pecah. Air matanya merusak riasan tebal yang ia pakai sejak pagi. "Itu hasil jerih payahmu bertahun-tahun, hasil kamu menghemat uang makan, masa perempuan iblis itu mau ambil begitu saja? Mama nggak rela, Di! Mama nggak mau balik ke rumah kontrakan lama!"

​Bagi Mama Ratna, rumah mewah itu adalah simbol kehormatannya. Meskipun pengadilan sudah memberikan sinyal penyitaan, dalam otaknya yang penuh ego, ia merasa segalanya masih bisa "dibeli". Ia melirik Rini yang masih berada di dalam kamar. Di mata Mama Ratna, Rini adalah mesin ATM berjalan yang tidak akan pernah habis. Ia yakin selama ada Rini, rumah itu bisa ditarik kembali legalitasnya.

​"Sabar, Mah. Disa itu cuma gertak sambal. Dia mau lihat kita panik saja. Masih bisa diperjuangkan kok di sidang pembuktian nanti," sahut Amel.

​Namun, suara Amel tidak selantang biasanya. Tangannya gemetar memegang ponsel yang sejak tadi terus bergetar. Sebuah pesan dari 'Bos Tio' muncul di layar, singkat tapi cukup untuk meruntuhkan seluruh dunia fantasi Amel:

​'Jangan bawa-bawa nama saya atau fasilitas kantor di urusan pribadimu yang kotor itu. Atau semua fasilitas, termasuk mobil dan kunci apartemen, saya tarik paksa malam ini. Saya tidak butuh asisten yang menjadi beban reputasi.'

​Amel menelan ludah. Ia merasa seperti berdiri di atas seutas benang yang hampir putus. BMW putih yang tadi ia pamerkan dengan angkuh di parkiran pengadilan kini terasa seperti bom waktu yang siap meledak.

​Di sudut lain, Abdi hanya diam mematung. Ia duduk di kursi kayu jati, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Kata-kata Disa di persidangan tadi terus bergema di kepalanya, memantul-mantul seperti peluru yang melubangi harga dirinya.

"Laki-laki rendahan... Barang pajangan..."

​Setiap kata itu terasa nyata sekarang. Ia melihat jas custom yang ia pakai, melihat jam tangan bermerk di pergelangannya, dan ia menyadari satu hal: semua itu bukan miliknya. Jika hari ini Rini membuangnya, ia akan keluar dari rumah ini hanya dengan pakaian yang melekat di badan atau bahkan lebih buruk lagi.

​Tiba-tiba, pintu kamar utama terbuka. Rini keluar dengan pakaian rumah yang elegan namun wajahnya sedingin es. Ia tidak menoleh pada Abdi, melainkan berjalan menuju meja makan dan menuangkan air mineral untuk dirinya sendiri.

​"Mas," panggil Rini tanpa ekspresi.

​Abdi tersentak. "Iya, Rin?"

​"Aku nggak nyangka urusanmu sesampah ini," ucap Rini sambil berbalik, menatap Abdi dengan tatapan yang sangat asing. Tidak ada lagi binar cinta di sana. "Kamu bilang semuanya sudah beres setelah aku bayar lima ratus juta kemarin. Kamu bilang itu tuntutan terakhir dari istrimu yang 'mata duitan' itu. Tapi ternyata? Kamu malah bikin namaku ikut terseret di pengadilan karena masalah audit asuransi dan penggelapan gaji."

​"Rini, sayang... tolong dengerin aku dulu. Itu semua cuma taktik kotor pengacara Disa buat jatuhin mental kita. Mereka sengaja bikin skenario seolah-olah aku ini kriminal," Abdi mencoba mendekat, hendak meraih tangan Rini untuk mencari pembelaan.

​Namun, Rini menghindar dengan gerakan cepat. "Taktik atau bukan, data mutasi itu nggak bisa bohong, Mas! Faktanya, kamu memang kasih seluruh gajimu ke Ibumu tanpa sisa buat anak kandungmu sendiri. Itu namanya bukan berbakti, itu namanya bodoh! Dan kamu tahu kan, aku paling benci laki-laki bodoh yang nggak punya perhitungan."

​Rini kemudian beralih menatap Amel yang sejak tadi bersembunyi di balik pundak ibunya. "Dan kamu, Amel... aku dengar bisik-bisik di kantor tadi. Kalau sampai 'bos' kamu itu marah dan namaku ikut terseret karena dianggap menampung keluarga bermasalah, jangan harap kamu bisa injak rumah ini lagi. Aku punya reputasi yang harus kujaga."

​Mama Ratna tersinggung. "Jeng Rini, kok ngomongnya gitu? Kami kan sekarang keluargamu juga..."

​"Keluarga kalau saling menguntungkan, jeng," potong Rini tajam. "Kalau isinya cuma bikin malu dan narik aku ke dalam lumpur hukum, mending aku jalan sendiri."

​Seketika, ruangan itu senyap. Amel dan Mama Ratna bungkam seribu bahasa. Mereka baru tersadar bahwa posisi mereka di istana megah ini sangat rapuh. Mereka hanyalah penumpang yang sewaktu-waktu bisa dilempar ke laut jika sang pemilik kapal merasa bebannya terlalu berat.

​Apartemen Disa, pukul 20.00 WIB.

​Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan suasana mencekam di rumah Rini, di apartemen Disa suasana justru begitu hangat dan penuh tawa. Ruang tengah yang minimalis itu kini dipenuhi aroma martabak manis dan kopi susu yang baru saja dipesan.

​Ada Disa, Rio, Sinta, Rendi, dan satu lagi sosok penting yang baru saja bergabung: Manda. Manda adalah rekan kerja mereka yang memiliki ketelitian luar biasa di bidang akuntansi forensik. Dialah yang membantu Rio membedah tumpukan dokumen mutasi rekening Abdi selama berminggu-minggu.

​"Dis! Gila, tadi pas kamu bilang Abdi nggak tahu ukuran sepatu anaknya, mukanya langsung berubah jadi abu-abu monyet! Aku yang dengar dari kursi belakang saja pengen tepuk tangan!" seru Sinta sambil tertawa puas hingga tersedak martabaknya.

​Disa tersenyum tipis. Ada binar kelegaan di matanya yang selama ini tertutup mendung. "Itu fakta, Sin. Dia memang nggak pernah tahu apa-apa soal Fikri. Dia cuma tahu cara kirim uang ke Mamanya buat beli furnitur jati, sementara aku harus mutar otak buat beli vitamin Fikri."

​"Tapi gongnya adalah soal rumah itu, Dis," sahut Manda sambil menyerahkan sebuah folder kepada Rendi. "Rendi, ini hasil audit tambahan yang aku kerjakan bareng Rio. Kita nemuin bukti kalau Abdi pernah pakai nama sepupunya buat ngalirkan dana pembangunan rumah itu sebelum akhirnya dibalik nama ke Mama Ratna. Jadi, skenario 'uang bakti anak' itu bakal rontok di depan hakim."

​Rendi mengangguk mantap, matanya berbinar melihat data di tangan Manda. "Ini kunci utamanya, Man. Kerja bagus. Kita sudah buktikan kalau rumah itu dibangun pakai harta bersama yang sengaja dilarikan. Kita bakal tekan terus di sidang pembuktian minggu depan. Mereka nggak punya pilihan hanya serahkan rumah itu, atau bayar ganti rugi yang bikin mereka bangkrut seketika."

​"Aku cuma pengen rumah itu kembali jadi hak Fikri," gumam Disa pelan. "Biar mereka tahu, setiap sen yang mereka ambil dari keringatku dan hak anakku, ada harganya."

​Tiba-tiba, ponsel Disa di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Disa membukanya dan seketika wajahnya berubah datar.

​'Disa, tolong cabut tuntutan soal rumah Mama. Aku akan kasih kamu apa saja, aku akan tanda tangan surat cerai secepatnya tanpa syarat, asal jangan usir Mama dari sana. Kasihan Mama sudah tua, dia bisa jantungan kalau rumah itu disita.'

​Disa hanya menatap layar itu dengan pandangan kosong selama beberapa detik. Tanpa membalas, ia langsung menekan tombol block.

​"Kenapa, Dis? Dari Abdi lagi?" tanya Rio yang menyadari perubahan ekspresi Disa.

​"Iya. Dia masih pakai kartu 'kasihan'. Dia minta aku mikirin Mamanya yang sudah tua," jawab Disa dengan nada suara yang sangat tegas. "Dia lupa, berapa kali aku bilang 'kasihan' waktu Fikri butuh biaya rumah sakit tapi dia malah kirim uang ke Mamanya buat beli sofa mewah. Dia nggak pernah kasihan sama anaknya, jadi kenapa aku harus kasihan sama ibunya?"

​"Betul, Dis! Jangan kasih kendor!" seru Manda mendukung. "Laki-laki kayak gitu kalau dikasih hati, bakal ngelunjak. Biarin dia rasain gimana rasanya hidup dari nol tanpa perlindungan Mamanya atau harta Rini."

​Disa berdiri, berjalan menuju jendela besar apartemennya. Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta berkelap-kelip seperti berlian yang tercecer. Ia menghirup napas dalam-dalam, merasakan udara kebebasan yang semakin nyata.

​"Minggu depan, aku nggak akan cuma ambil rumah itu. Aku akan pastikan topeng 'keluarga terhormat' yang mereka pakai selama ini hancur berkeping-keping di depan hakim. Mereka yang mulai perang ini, jadi aku yang akan menyelesaikannya," bisik Disa pada dirinya sendiri.

​Di balik tawa hangat teman-temannya malam itu, Disa tahu bahwa perjuangan sesungguhnya baru akan dimulai. Namun, ia tidak lagi takut. Ia punya bukti, ia punya sahabat yang setia, dan yang terpenting, ia punya kebenaran yang akan segera terungkap.

​Sementara di kejauhan, di rumah Rini, Abdi mulai menyadari bahwa pesan singkatnya kepada Disa tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Ia mulai meraba-raba masa depannya, dan yang ia temukan hanyalah kegelapan.

1
Sayekti 0519
keren bangett thooor,sukses slalu ya
blcak areng: terima kasih jangan lupa baca novel aku lainya ya kak 🙏
total 1 replies
Sayekti 0519
tragisnya dan kasian banget.tp apa mau d jata semua ada imbal baliknya
Sayekti 0519
dah mati ajalah kauu abdi,abdi nya setannn
Sayekti 0519
hadeeh... makin hancur moral sikawsn,bentar lagi kk nyalah d jual
Sayekti 0519
udah g ketolong LG jln hidupnya
Sayekti 0519
kolong jembatan gubuk reyot g bs ya bikin hari JD bersih
Sayekti 0519
ada tenaga yg BS d pakai kan g harus mulung.pelayan resto,toko sembako
Evy
kejam sih kejam Disa ..tapi tidak gitu juga...dari penjualan rumah itu...ambil saja hak kamu dan anak..tapi sisa nya boleh dikembalikan... rumah itu kan sudah ada sebelum kamu nikahi anaknya... jangan serakah ..
Evy
Jadi curiga dengan senyum misterius nya itu...apa kekayaan nya hasil pesugihan? akan ada tumbal jika iya...
Evy
Keluarga suami ingin hidup mewah dan terlihat wah oleh semua orang tapi tidak punya finansial yang cukup..jadilah keluarga kecil Abang nya yang dikorbankan..
Sulfia Nuriawati
beruntung disa pinter, jd bs d gulung tu si Abdi, penjara bgs msh dpt mkan d buang kerja jd gembel srmua
Sulfia Nuriawati
parasit yg menghisap sampai kering dan mati, dg dalih bakti k ibu, ibunya g pernah tw agama apa y? anak laki memang milik i unya tp stlh nikah lbh utama istri kalo ada lbh dan istri g ada keluhan blh bantu, bantu y bkn memenuhi ambisi nafsu belanja
zee_
aku masih bingung tentang apartemen dan ruko rahasia abdi
zee_
/Angry/
zee_
keren sakaliiiiii
zee_
waaah keren disaa
Heriyani Lawi
othor suka ganti2 nama atau lupa?
blcak areng: lupa kak🤣
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
diawal namanya Adrian skrg kok jd andra Thor 😄
Heni Setiyaningsih
auditor apa arsitek???😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!