Viora Zealodie Walker, seorang gadis cantik yang memiliki kehidupan nyaris sempurna tanpa celah, namun seseorang berhasil menghancurkan segalanya dan membuat dirinya trauma hingga dia bertekad untuk mengubur sikap lemah, lugu, dan polosnya yang dulu menjadi sosok kuat, mandiri dan sifat dingin yang mendominasi.
Bahkan dia pindah sekolah ke tempat di mana ia mulai bangkit dari semua keterpurukan nya dan bertemu dengan seseorang yang diam-diam akan mencoba merobohkan tembok pertahanan nya yang beku.
Sosok dari masa lalu yang dia sendiri tidak pernah menyadari, sosok yang diam-diam memperhatikan dan peduli pada setiap gerak dan tindakan yang di ambilnya.
Agler Emilio Kendrick ketua geng motor besar yang ada di jakarta selatan sana... Black venom.
Dia adalah bad boy, yang memiliki sikap arogan.
Dan dia adalah sosok itu...
Akankah Agler berhasil mencairkan hati beku Viora dan merobohkan dinding pertahanan nya, atau cintanya tak kunjung mendapat balasan dan bertepuk sebelah tangan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARQ ween004, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi di apartemen
Pagi tiba, dibawa oleh cahaya matahari yang menembus celah tirai apartemennya.
Selama beberapa detik, Agler hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar.
Biasanya, setiap kali pertengkaran dengan ayahnya terjadi, pagi selalu terasa berat. Tubuhnya dipenuhi rasa lelah, pikirannya kacau, dan amarah yang belum selesai akan menemaninya selama berhari-hari.
Ia mengenal pola itu dengan sangat baik. Mengurung diri. Menghilang.
Menghantam samsak hingga buku-buku jarinya robek dan napasnya nyaris habis.
Seolah rasa sakit fisik mampu menutupi segala hal yang tidak pernah bisa ia ungkapkan.
Namun pagi ini berbeda.
Tidak ada sesak yang biasa menekan dadanya.
Tidak ada dorongan untuk menghancurkan apa pun.
Ia menoleh ke arah kedua tangannya.
Buku-buku jarinya masih utuh___Tidak ada luka baru. Tidak ada darah.
Agler mengembuskan napas pelan.
Lalu, bayangan kejadian semalam kembali melintas di benaknya. Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran hebat dengan Daniel, ia tidak masuk ke ruang latihan.
Tidak ada suara pukulan yang menghantam samsak.
Tidak ada buku jari yang berdarah.
Tidak ada napas terengah yang memenuhi ruangan hingga dini hari.
Semalam, setelah memutuskan pulang dari markas, ia hanya duduk di tepi ranjang apartemennya, memandangi langit-langit yang masih diselimuti gelap.
Hingga tatapan mata Zea terlintas dengan begitu jelas.
Mata yang tenang, mata yang tidak memandangnya dengan rasa takut, mata yang tetap terasa hangat di tengah dinginnya malam.
Dan tanpa ia sadari, Agler tertidur dengan pikiran yang jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya.
"Aneh," gumamnya lirih.
Pikirannya kembali berkelana. Pada bangunan tua itu. Pada seekor kucing hitam.
Dan pada seorang gadis yang tersenyum di tengah dinginnya malam, seolah dunia tidak pernah menyakitinya.
Untuk sesaat, sudut bibir Agler terangkat tipis___Senyum kecil yang bahkan tidak ia sadari.
Tak ingin terus terlarut dalam pikirannya sendiri, Agler bangkit dari tempat tidur dan membuka tirai apartemennya. Jakarta pagi itu tampak sibuk seperti biasa. Deretan gedung berdiri di bawah langit yang cerah, sementara suara kendaraan mulai memenuhi jalanan.
Biasanya, ia datang terlambat ke sekolah.
Atau bahkan tidak datang sama sekali.
Namun pagi ini, tanpa alasan yang benar-benar bisa ia jelaskan, Agler justru bersiap lebih awal.
Seragam Starlight dikenakannya meski jauh dari kata rapi. Jaket hitam disampirkan di bahu, sementara helm berada dalam genggamannya.
Beberapa menit kemudian, motor sport hitam-merah miliknya melaju membelah jalanan Jakarta menuju Starlight School.
Deru mesin motornya terdengar jelas menembus hiruk-pikuk pagi di area parkir sekolah. Di antara deretan sedan mewah dan mobil para siswa lainnya, suara berat knalpot Ducati Panigale hitam-merah miliknya sukses menarik perhatian hampir semua orang yang baru tiba.
Ia memperlambat laju motornya sebelum berhenti mulus di area parkir barat sekolah, tepat di bawah cahaya matahari pagi.
Ketika mesin dimatikan, suasana di sekitarnya justru menjadi semakin riuh.
Beberapa siswi yang tengah berjalan menuju gedung utama spontan berhenti dan menoleh dengan tatapan terpaku.
Dan saat helm full-face hitam itu dilepas, jeritan kecil dan gumaman kagum pun langsung pecah.
"Oh my God, itu Kak Agler, kan?" bisik seorang siswi dengan mata membesar.
"Dia makin ganteng aja," sahut temannya tak percaya.
"*Gila, tiap hari kayak makin nggak manusiawi sih mukanya*."
Seperti biasa, Agler seolah tak mendengar.
Rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin, jatuh menutupi sebagian dahinya. Kemeja putihnya dibiarkan keluar dari celana, jas abu-abu khas Starlight dilipat hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan dan jam hitam di pergelangan kirinya.
Dasi abu-abu itu tergantung longgar di lehernya.
*Tidak rapi*.
Namun justru itulah yang membuatnya semakin memikat.
Ia turun dari motornya, meletakkan helm di atas tangki, lalu menyibak rambutnya ke belakang dengan gerakan santai.
"*Ya ampun, Kak Agler*!" seru seorang siswi.
"Dia definisi sempurna yang sesungguhnya, nggak sih?" sahut yang lain.
"Kalau kayak gini terus, gue bisa mimisan. Ganteng banget."
Jeritan-jeritan kecil itu terdengar tertahan, namun cukup jelas.
Di sisi lain parkiran, Zea baru saja turun dari mobil sport hitamnya. Tatapannya menyapu suasana yang riuh dengan kening sedikit berkerut, sebelum akhirnya mengikuti arah pandang para siswi dan menemukan sosok Agler di sana.
Dan tanpa peringatan, tatapan mereka bertemu.
Mata Agler yang biasanya dingin dan tajam tampak sedikit melunak saat berhadapan dengan tatapan Zea yang tenang dan datar.
*Tak ada kata*.
*Tak ada senyum*.
*Tak ada sapaan*.
Hanya dua sosok yang sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Tidak ada yang lebih dulu berpaling.
Mereka seolah sedang membaca satu sama lain dalam diam.
Namun momen itu pecah seketika.
“Agleeer~!”
Suara cempreng bernada manja memotong keheningan.
Dari sisi kanan, seorang gadis berambut panjang dengan pita biru muda melangkah mendekat sambil tersenyum genit.
Haura.
Salah satu siswi populer yang sudah lama berusaha menarik perhatian Agler, meski selalu gagal.
"Kok tumben kamu nggak bareng Arvin sama Elva? Mereka ke mana?" tanyanya manja sembari mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan Agler.
Namun dengan cepat Agler menepis tangan itu. Kasar.
Tatapannya berubah dingin dalam sekejap. "Bisa berhenti gangguin gue nggak?" ujarnya rendah sambil menatap Haura tajam.
Haura mengernyit, masih berusaha tersenyum meski suaranya mulai bergetar.
"Ganggu apaan sih? Aku cuma nanya doang..."
Agler melangkah maju satu langkah___Cukup satu langkah untuk membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat.
Tatapannya menghunus, membuat Haura secara refleks ingin mundur. Namun niat itu terhenti ketika bisik-bisik mulai terdengar dari para siswa di sekitar mereka.
"Gila, cuma Kak Haura yang bisa sedeket itu sama Kak Agler."
"*Gue iri, sumpah. Kalau gue di posisi dia mungkin udah pingsan*."
"Iya, secara tatapan Kak Agler aja udah bikin ngeri."
"Tapi katanya mereka di jodohin tau. Gue lihat story Kak Haura yang lagi ngadain acara formal gitu di rumah Kak Agler kemarin."
"*Serius*? *Gue pikir cuma rumor doang. Ternyata beneran ya*?"
"Ihh... Keren deh bisa dapetin cowok kayak Kak Agler."
Haura menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Namun rahang Agler justru mengeras. "Lo tau?" katanya pelan, nyaris berdesis, sementara tatapannya semakin tajam. "Semua tindakan lo bikin gue muak."
Senyum Haura perlahan memudar.
Tanpa menunggu jawaban, Agler melangkah pergi___Dingin. Tegas.
Tanpa menoleh sedikit pun.
Suara langkahnya menggema di antara decak kagum dan bisik-bisik yang masih terdengar di belakang.
Namun sebelum berjalan lebih jauh, matanya sempat menelusuri sisi parkiran tempat deretan mobil para siswa terparkir.
Termasuk mobil sport milik Zea. Sayangnya, pemilik mobil itu sudah lebih dulu berjalan santai menuju gedung sekolah dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya.
Agler mengembuskan napas pelan sambil menyipitkan mata. "Cepat banget jalannya..." gumamnya lirih.
Kemudian ia kembali melangkah menuju gedung sekolah dengan wajah datar, sementara di belakang beberapa siswi masih menatap punggungnya dengan pandangan penuh kekaguman.
lanjut Thor ceritanya