Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berduka
Setelah menenangkan Radit, Tuan Mahesa mengajak putra sulungnya itu kembali ke rumah. Sebelumnya Tuan Mahesa meminta pada pihak rumah sakit untuk memandikan jenazah Ari serta mengkafaninya. Pria paruh baya itu tak ingin sanak saudara melihat jenazah putra keduanya itu. Bukan karena malu. Ia hanya tak ingin sanak saudara mengingat akhir hidup Ari dengan wajah seperti itu.
Meski sampai akhir Radit tak juga mengakui bahwa jasad itu adalah jasad Ari. Namun ia tak berani mencegah Papanya untuk mengurus segala sesuatunya. Setelah sampai di rumah, Radit mengunci diri di dalam ruang kerjanya.
Di dalam perjalanan pulang, Mama Ariana sempat terbangun sebentar. Wanita itu menangis kembali begitu teringat Ari. Setelah itu ia pingsan lagi.
Yang paling tenang dan ikhlas dari semuanya adalah Tuan Mahesa. Ia tetap menjadi tonggak penyandar bagi seluruh keluarganya. Ia masih tetap sabar dan dapat berpikir dengan tenang.
Kiran sebenarnya masih merasa syok namun ia dapat mengendalikan dirinya dengan baik. Meski di luar ia tak tampak menangis sesenggukan, sesungguhnya hatinya merasakan sakit yang teramat dalam. Sekali lagi ia harus berpisah dengan orang yang ia anggap akan menyayanginya.
Keluarga Makarim berduka. Kedukaan itu bahkan dirasakan oleh para pelayan yang bekerja di sana. Ari terkenal sangat ramah kepada para pelayan maka tak ayal mereka juga merasa kehilangan.
Meski masih berduka, pagi itu rumah keluarga Makarim kembali sibuk. Namun bukan karena perayaan seperti hari sebelumnya. Hari ini tenda didirikan karena mereka sedang berkabung. Berita kematian Ari dibiarkan Tuan Mahesa menyebar. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Deretan papan bunga belasungkawa pun tampak membanjiri pagar rumahnya.
Tak hanya para saudara dekat dan jauh. Para investor, rekan kerja dan rekan bisnis datang untuk mengucapkan ucapan bela sungkawa. Semua tampak menyesalkan jika putra kedua Tuan Mahesa meninggal di usia muda. Tuan Mahesa hanya tersenyum getir mendengarnya. Sementara Mama Ariana yang menguatkan diri untuk tampil ke depan, masih terduduk lemas di bangku para tamu.
Tak lama kemudian jenazah Ari datang dalam keadaan sudah terkafani. Tuan Mahesa meminta para hadirin untuk ikut menyolatkan. Setelah selesai, dengan menaiki mobil ambulan, jenazah Ari di bawa ke pemakaman.
Mama Ariana tidak ikut mengantar ke tempat peristirahatan anaknya yang terakhir. Ia sudah tak sanggup. Tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang. Terlebih hatinya hancur bagai serpihan gelas yang telah hancur berantakan.
Kini ia terduduk lemas di dalam kamarnya menyandar ke kepala tempat tidur. Matanya kosong. Tak ada sinar keceriaan di sana. Kiran yang diminta Tuan Mahesa menemani istrinya, duduk di samping Mama Ariana sembari memegang tangan wanita paruh baya itu.
"Apa seperti ini yang kau rasakan saat kau kehilangan orang tuamu, Kiran?" tanya Ariana menatap Kiran dengan hampa.
Kiran menatap ibu mertuanya itu dengan sendu. "Mungkin tidak lebih sakit daripada yang Mama rasakan. Hanya saja saat itu, setelah kematian Papa, Kiran merasa sendiri. Kiran tidak punya siapa-siapa lagi. Sementara Mama masih punya yang lain di sini. Masih ada Papa dan Radit yang menyayangi Mama."
Ariana tersenyum getir. "Aku terlalu rapuh ya, Kiran."
"Tidak seperti itu, Ma. Bagaimanapun kehilangan anak tentulah berbeda jika dibandingkan dengan kehilangan orang tua. Tapi Kiran berharap Mama tidak larut terlalu lama dalam kesedihan ini. Biarkan Ari pergi dengan tenang. Dia juga butuh doa-doa ikhlas kita. Jangan sampai kita membebani kepergiannya dengan ketidakikhlasan kita. Semua hanya milik Allah, Ma. Dan akan kembali padaNya."
Mama Ariana kembali terisak. Namun tidak meratap seperti sebelumnya. "Kau benar, Kiran. Aku sungguh tidak bisa menyabarkan diriku. Hatiku terlalu sakit, Kiran."
Kiran merangkul Mama Ariana. Membiarkan wanita paruh baya itu menumpahkan tangis dalam pelukannya. "Menangis lah, Ma. Jika itu bisa mengurangi rasa sakit di hati Mama. Tidak ada yang melarang Mama untuk itu. Tapi jangan pernah menyalahkan Allah atas ini. Karena semua sudah menjadi kehendakNya."
Mama Ariana menatap Kiran dalam kemudian mengangguk pelan. " Kau benar, Kiran."
"Jangan pernah tinggalkan Mama, Kiran. Kau lah pengganti Ari. Jangan pernah tinggalkan rumah ini. Jadilah istri Radit, Kiran. Anggaplah dia sebagai Ari," ucap Mama Ariana kemudian. Kiran mengangguk meski sebenarnya hatinya merasa berat untuk itu.
❇❇❇
Radit menyibukkan diri dengan laporan meski di luar setiap orang sibuk pada pemakaman. Hingga adiknya itu dibawa menuju pemakaman, Radit masih mengurung diri di dalam ruang kerjanya. Ia tak mau hanyut pada fakta bahwa Ari memang telah meninggal dunia. Sejujurnya ia belum siap akan itu. Meski sekarang ia sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Masuk!" pekik Radit ketika terdengar ketukan dari luar. Bara memasuki ruangan.
"Tuan Mahesa memintaku untuk menghentikan semua pencarian," ucapnya melapor.
Radit mengalihkan tatapannya dari tumpukan laporan yang ada di depannya, melihat Bara. "Ada lagi yang ingin kau laporkan? Jika tidak, kau boleh keluar."
Bara menatap Radit ragu. Sinar kecemasan muncul dari sorot matanya. Ada yang ingin disampaikannya, namun ia takut jika Radit kalap lagi seperti kemarin. Sahabatnya ini jika sudah marah maka akan sangat mengerikan.
"Apa lagi?!" tanya Radit menatap tajam Bara.
"Aku ingin mengatakan sesuatu. Hal ini harus kukatakan agar kau tau. Tapi jika kau tak mau mendengarnya, aku tidak akan mengatakannya," jawab Bara.
"Katakanlah!"
"Ditemukan dua buah peluru di dalam ban mobil Ari. Peluru itu diduga berasal dari pistol jenis revolver berkaliber 22. Pelurunya kecil namun memiliki daya rusak yang tinggi. Asumsiku, pada malam itu ada seseorang yang menembak ban mobil Ari sehingga mobilnya oleng kemudian masuk ke dalam sungai. Ari sempat keluar dari mobil karena pintu mobil dalam keadaan terbuka sewaktu diangkat dari air. Namun karena arus air deras, ia pun terseret arus ke hilir setelah sebelumnya menabrak beberapa bebatuan besar hingga wajahnya rusak parah. Jasadnya pun tertimpa batu besar itu, sehingga tidak muncul ke permukaan. Dokter yang mengotopsi jenazah Ari mengatakan bahwa terdapat air dan pasir di lambung dan usus Ari. Selain itu ada diatom dalam paru-paru Ari. Artinya ia masih sempat bernafas ketika masuk ke dalam air," ucap Bara menjelaskan.
"Jika kau perkenankan maka aku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Itu pun jika kau menyetujuinya," ucapnya melanjutkan setelah terdiam beberapa saat.
Radit menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya terpejam beberapa saat. Bara menarik nafas, kemudian ia melanjutkan ucapannya.
"Aku juga sudah meminta Tuan Mahesa untuk tes DNA jika kau masih ragu. Namun karena jasad Ari ditemukan di dalam air dan sudah berada di sana selama tiga hari maka tes itu akan membutuhkan waktu lebih lama. Bisa empat sampai delapan hari. Tapi Tuan Mahesa menolaknya."
Hening beberapa saat.
"Maafkan aku Radit. Aku tau kau belum bisa menerima kematian Ari seperti itu. Tapi kau juga tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Bukan kah kau yang mengatakan bahwa setiap kematian itu sudah ditentukan oleh Allah. Kita manusia hanya bisa berencana dan berdoa. Itu kan yang kau katakan padaku ketika aku kehilangan nenekku."
Tidak ada jawaban, mata Radit masih terpejam. Kemudian ia duduk kembali dengan tegak. Mencoba menyibukkan diri dengan laporan-laporan tadi yang menyita perhatiannya.
"Jadi bagaimana, apakah kita lanjutkan penyelidikan itu?" tanya Bara lagi.
"Lakukanlah yang menurutmu benar," ucap Radit tanpa menoleh.
"Itu saja yang ingin aku katakan. Aku permisi dulu," ucap Bara kemudian melangkah keluar ruangan.
"Bara!" panggil Radit menghentikan langkah Bara yang sudah berada di depan pintu.
"Aku minta maaf."
Bara tersenyum kecil. "Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau mengatakan itu," ucapnya tanpa menoleh kemudian melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
Setelah Bara keluar dari ruangan, Radit menundukkan kepalanya. Telapak tangannya bersatu di depan dahi. Mencerna setiap kata yang Bara ucapkan. Matanya terpejam kuat. Giginya bergemeratak menahan geram. Setelah itu, bahunya berguncang. Buliran bening mengalir turun dari wajahnya.
❤❤❤💖